
Besoknya di sekolah, Rizaldi mendapati tamu hebat yang berkunjung ke sekolahnya. Coach Giovanni, beliau datang langsung untuk meminta izin kepada sekolah Rizaldi, khususnya kepada kepala sekolah tentang kegiatan yang akan dilakukan oleh Rizaldi selama beberapa pekan nantinya.
Sebelumnya, karena tim Pengambangan Cananga Youth berhasil lolos ke fase gugur 32 besar. Mereka pun akan pergi ke Jakarta. Jakarta adalah kota tempat diselenggarakannya fase gugur musim ini, yang finalnya akan diadakan di Stadion Jakarta Internasional yang begitu besar dan megah seantero Nusantara itu.
Karena itulah, Rizaldi yang sudah menjadi bagian penting dari klub dan tim mau tidak mau harus melewatkan sekolahnya. Walaupun sekarang sudah hampir ujian akhir semester yang tinggal kurang dari sebulan lagi, Rizaldi harus tetap pergi ke Jakarta. Sebab itu, Coach Giovanni Almeida menyambangi SMA 1 Pengambangan yang merupakan tempat Rizaldi dan Dery bersekolah untuk meminta izin agar mereka berdua bisa pergi ke Jakarta dan mengikuti fase gugur.
Kedatangan Coach Giovanni ini membuat heboh jagat warga SMA 1 Pengambangan, karena tampang Coach Giovanni yang tampan bagai seniman Italia terkenal pada masa renaisans dahulu itu langsung membuat banyak orang terbius akan pesonanya. Coach Giovanni layaknya Cassanova di mata para murid-murid perempuan, tampan dan penuh kesan misterius, walaupun di umurnya yang sudah 40 tahunan namun mereka tidak bisa memalingkan wajah dengan ketampanan beliau. Sedangkan di mata murid laki-laki, Coach Giovanni layaknya Mussolini yang penuh kharismatik dan disegani para pendukungnya.
Gaya pelatih berkepala empat itu tidak terlalu formal, kasual namun sangat rapi sekali. Beliau memakai kaos polo berwarna hitam yang ada lambang seorang laki-laki mengendarai kuda yang berlari kencang seakan mengejar angin itu, celana jeans denim dengan sentuhan robekan kecil di bagian-bagian yang terlihat bagus, sepatu kets berwarna kebangsaan para anak muda yaitu hitam dan putih. Kacamata hitam yang dipakai oleh beliau menambahkan kesan misteriusnya, rambut panjang sedikit ikal di bagian samping itu semakin membuatnya terlihat maskulin.
Para dewan guru yang ada di ruangan kerja saat beliau menemui kepala sekolah saja sampai melupakan semua pekerjaan mereka, mereka semua menatap ke arah pelatih berdarah Itali itu. Memandanginya dengan penuh kagum dan takjub.
"Jadi bagaimana pak? Apakah Rizaldi dan Dery bisa izin tidak masuk untuk beberapa minggu pak?" suara berat Coach Giovanni menggema di ruangan dewan guru dan kepala sekolah.
Kepala sekolah tidak langsung mengiyakan, dirinya masih menimbang-nimbang yang terbaik untuk murid yang bersekolah di sekolah yang dirinya kelola itu. Sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang kepala sekolah untuk mendukung murid-muridnya agar berprestasi, namun tidak berarti semua kegiatan bisa dilakukan dengan sangat mudah.
Walaupun membawa nama sekolah sekalipun kadang ada pergulatan batin yang dialami oleh seorang kepala sekolah untuk memutuskan mendukung atau menghambat apa yang ingin dilakukan oleh para siswanya, ini bagai memakan buah simalakama. Apalagi kompetisi I-Youth League fase gugur ini selalu dijadwalkan dekat dengan akhir tahun, agak sedikit susah untuk mengatur bagaimana para siswanya untuk bisa tetap fokus menghadapi ujian akhir semester yang juga biasanya berada di akhir tahun, untuk semester awal.
__ADS_1
Kepala sekolah masih kalut, dia memanggil seorang guru muda untuk membuatkan dia dan tamunya kopi untuk meringankan beban pikiran untuk sejenak. Si guru muda kembali datang dengan membawa teko berukuran kecil yang berisi kopi hangat, dia tuangkan kopi itu ke gelas milik kepala sekolah tanpa ada yang jatuh ke atas meja. Tetapi, saat dia menuangkan kopi ke gelas Coach Giovanni, dia tidak sengaja menumpahkan kopinya karena saat menuang kopi itu dia sambil memandangi wajah tampan Coach Giovanni secara diam-diam.
"Aduh kan jadinya kotor, kamu ini bagaimana sih" Kepala sekolah kesal karena anak buahnya yang tidak bisa menjaga imejnya sama sekali.
"Tidak apa pak, ini bisa diatasi pakai selembar tisu" Coach Giovanni mencoba menenangkan kepala sekolah yang sedikit kesal itu, lalu beberapa saat kemudian si kepala sekolah langsung menyeruput kopi itu dan pikirannya mulai rileks lagi untuk sekarang.
Dery dan Rizaldi yang juga ada di dalam ruangan itu, tepat di bawah ketiak Coach Giovanni hanya bisa menunggu jawaban pasti dari kepala sekolah mereka. Jika si kepala sekolah tidak merestui mereka, sudah kandas harapan mereka untuk bermain di fase gugur 32 besar dan pergi ke Jakarta.
Kepala sekolah menatap ke arah kedua muridnya, Rizaldi dan Dery yang sedang menunggu dengan sangat tegang akan keputusan beliau, apakah beliau akan mengijinkan mereka atau tidak. Mulut mereka sedang komat-kamit, membaca doa untuk memperlancar urusan mereka.
Rizaldi dan Dery sedikit kebingungan, namun mereka langsung mengiyakan permintaan dari bapak kepala sekolah.
"Kalau begitu saya ucapkan terimakasih sebagai pengawas mereka berdua pak, saya pastikan mereka tetap belajar walaupun harus bertanding di sana" Coach Giovanni lalu berdiri dan menyalami bapak kepala sekolah.
Rizaldi dan Dery ikut berdiri, mereka lalu bersalaman dengan bapak kepala sekolah yang juga memberikan sedikit wejangan untuk mereka berdua. "Berjuang di sana ya nak, bapak doakan kalian bisa menang"
"Amin pak!" ucap mereka berdua cengengesan, lalu mereka berdua pergi ke luar ruangan mengikuti Coach Giovanni yang sudah pergi lebih dulu.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka kalau Coach yang malah kesini untuk minta izin" ucap Rizaldi yang mengira kalau orang utusan dari klub bukanlah Coach Giovanni.
"Apa kau sudah bilang pada ibumu soal ini?" Coach Giovanni langsung menanyakan hal penting pada Rizaldi.
Rizaldi lalu teringat dengan hal itu, dia belum memberitahukan hal ini kepada ibu dan adiknya. Dia harus memberitahu mereka, namun dia bingung apakah dia bisa melakukan itu atau tidak. Rizaldi belum pernah pergi terlalu jauh dari rumah, dia yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah saat ibunya sibuk bekerja untuk menyambung hidup, cukup kebingungan apakah dia bisa meninggalkan itu semua untuk sementara.
Dia tidak enak dengan Keisha yang harus menggantikannya, dan juga tidak yakin apakah Keisha bisa melakukan hal itu seorang diri. Beban itulah yang dipikirkan oleh Rizaldi semenjak kemarin, karena itu dia masih belum memberitahukan hal ini kepada ibu dan adiknya.
Hanya melihat dari ekspresi wajahnya saja, Coach Giovanni sudah mengerti dan memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Rizaldi, lalu beliau pun menawarkan sebuah bantuan. "Apakah kau ingin ku temani untuk bicara pada ibumu soal ini Ward Prowse?" ujar beliau.
Rizaldi diam saja, dia masih memikirkan hal yang terbaik untuk mengatasi masalah yang ia hadapi saat ini. Lalu dengan wajah yang sedikit cerah dia menjawab. "Tidak usah Coach, biar saya yang bicara pada ibu dan menyelesaikan masalah ini" ucapnya dengan ketegasan terlihat di matanya.
Sedikit terlihat senyuman sepintas di wajah Coach Giovanni setelah melihat kepercayaan diri Rizaldi yang kembali, dia sudah tidak khawatir lagi dengan anak itu.
......................
Note: Kalau mau tahu seberapa ganteng dan tampannya Coach Giovanni itu. Search aja di Google, Totti masih muda. The Real Prince
__ADS_1