
Rizaldi Fatah benar-benar mengejutkan semua pihak. Setelah berhasil menyelesaikan latihan dengan sangat baik padahal dirinya masih dalam keadaan cidera. Kemarin Rizaldi berhasil menyelesaikan latihan terpisahnya, padahal sebelumnya dirinya sudah kesakitan dan bahkan harus dihentikan paksa oleh Coach Satria latihannya.
Namun di latihan fisik terakhir hari ini, Rizaldi diperbolehkan untuk latihan bersama yang lain dan itu mengejutkan semua rekannya yang lain. Rizaldi memang berjalan masih sedikit tidak normal karena sesekali rasa sakitnya kembali terasa, karena sebenarnya lututnya masihlah belum sembuh. Item salep yang dibeli oleh Rizaldi di toko sistem itu hanyalah krim salep untuk meredakan rasa nyerinya saja, bukan menyembuhkan.
Batas efeknya pun juga ada, setelah Rizaldi mengoleskan krim itu atau salep itu, efeknya bisa bertahan selama 7 jam saja. Setelah itu Rizaldi akan kembali merasakan nyeri yang luar biasa sakit setelah dirinya memaksakan diri untuk bergerak. Sejatinya, obat salep itu seperti doping yang sering dipakai atlet untuk meningkatkan adrenalin sehingga mereka akan terfokus dengan satu titik saja dan tidak menghiraukan hal yang lain, bahkan itu rasa sakit sekalipun.
Namun menurut Boro, sang sistem yang dimiliki oleh Rizaldi. Rizaldi aman menggunakan obat salep itu dan tidak akan ketahuan kalau itu adalah sebuah doping. Entah datang dari mana rasa percaya diri si Boro mengucapkan itu namun Rizaldi juga percaya begitu saja dengan Boro tanpa memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.
Rizaldi tidak memikirkan hal itu, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar dia bisa bermain di babak final, itu saja. Apapun akan ia lakukan demi hal itu, walaupun dia harus mengorbankan lututnya yang sudah berteriak menyerah, tetap ia akan memaksa lututnya untuk terus bergerak.
Di latihan fisik terakhir hari ini, Rizaldi juga berhasil mengikuti semua sesi latihan dengan sangat baik. Mulai dari latihan hot potato yang merupakan latihan passing-passing pendek cepat, lalu latihan adu sprint, hingga latihan shooting skenario, semuanya dilibas oleh Rizaldi Fatah.
Setelah latihan fisik, mereka berkumpul di ruang rekreasi di hotel tempat mereka menginap. Sekarang mereka masuk ke pembahasan taktik dan formasi yang akan mereka pakai di pertandingan final nanti. Walaupun masih ada jeda 1 hari, namun Coach Satria Hutama ingin besok meliburkan semua pemainnya sebelum menjalani laga, sehingga pikiran para anak didiknya sedikit lega dan dalam keadaan yang baik untuk bertanding.
__ADS_1
Coach Satria juga ingin mental anak asuhnya sedikit terjaga, sehingga dia lebih memilih untuk memberi jatah libur untuk esok hari, dari pada harus menggenjot mereka semua untuk terus berlatih dan berlatih dan malah mendapatkan hasil yang kurang maksimal, dan mereka bisa kelelahan karenanya.
"Tidak diragukan lagi, Wildan Hutami dan kapten mereka, Raffi Putra bukanlah pemain kelas B. Mereka di atas daripada itu, mereka pemain kelas A!" ucap coach Satria Hutama memulai pembahasan taktik. "Aku yakin mereka masih akan menggunakan formasi 4-4-2 flat sama seperti sebelumnya"
Coach Satria masih menjelaskan. "Dua pemain tengah mereka akan berfokus untuk mengcover lini tengah mereka, lalu dua pemain sayap akan melakukan pergerakan bebas dan Wildan Hutami akan menjadi sosok motor serangan sekaligus juru gedor mereka. Namun jangan lupakan kemampuan bertahan dan menyerangnya Raffi Putra. Dia bisa menjadi salah satu roda penggerak tim jika tim sedang buntu"
Setelah menjelaskan singkat tentang pemain Batavia Fort FC yang patut untuk diwaspadai, Coach Satria lalu mulai memperlihatkan papan skema formasi tim Pengembangan Cananga Youth yang sudah mereka pakai selama beberapa pertandingan terakhir ini.
Mereka sering menggunakan formasi 4-2-3-1 di beberapa pertandingan terakhir, dengan rincian formasi Derry Yanuar di bagian kiper, duet Galih dan Bagas di posisi bek central, Ahmad Sahuri di bagian full back kanan yang sering ikut membantu serangan, Jordi Sapta di full back kiri, lalu ada Zaki Iskandar dan Romeo yang mengcover lini tengah, yang berperan sebagai playmaker yaitu Rizaldi Fatah. Lalu di bagian lini serang ada Axel Raihan, Fauzi Rizqon, dan Martin.
Coach Satria seperti mempertimbangkan pilihannya itu, lalu dia berdiskusi dengan stafnya dan pada akhirnya terdapat sebuah kesimpulan yang jelas. Coach Satria mulai mengutak-atik papan skema formasi itu.
"Mulai sekarang kita akan menggunakan formasi 4-2-1-3 dengan dua pemain sayap bergerak lebih kedepan dan terus melakukan gerakan free roaming. Martin berperan sebagai Target Man kali ini!" ujar Coach Satria menjelaskan sistem baru yang akan dirinya terapkan.
__ADS_1
Itulah peran sosok pelatih, jika ada sistem yang dirasa tidak berjalan di timnya maka dirinya harus memiliki berbagai macam rencana lain yang sudah dipersiapkan sebelum-sebelumnya. Tugas pemain di lapangan adalah mencocokkan diri dengan sistem yang sudah disiapkan oleh pelatih, jikalau tidak cocok pun itu bukan salah para pemain.
Memang para pemain dituntut untuk memiliki pemahaman yang bagus untuk mengerti taktik dan strategi yang sudah disiapkan oleh pelatih, namun pelatih juga harus sadar dan tidak boleh memaksakan kehendaknya jika tim kesulitan untuk beradaptasi dengan sistem yang ingin diterapkan olehnya.
Coach Satria tahu akan hal itu, dirinya tahu kalau pemain-pemainnya sudah sangat mengerti dengan sistem yang ingin dia terapkan dan dia yakin anak-anak didiknya bisa beradaptasi dengan cepat. Keyakinan itu dilihatnya setelah cukup lama memperhatikan mereka semua.
"Gaya permainan kita tetap tidak berubah, kita akan tetap menerapkan umpan-umpan pendek cepat. Sesekali boleh saja memberikan umpan direct pass tapi ketika menurut kalian itu akan menjadi peluang yang bisa dimaksimalkan dengan baik. Kalian semua mengerti?"
"Mengerti coach!" jawab mereka bersamaan.
"Baiklah itu saja kali ini, besok usahakan kalian semua harus beristirahat karena kita memiliki pertandingan terakhir kita. Pertandingan yang akan menentukan apakah kita akan menjadi juara bertahan, atau malah kita kalah dan harus melihat cahaya perak yang berkilauan itu dari jauh" ucapan Coach Satria membuat mereka semua langsung terdiam, saat Coach Satria membubarkan mereka semua pun, mereka tetap terdiam seperti sedang merefleksikan diri mereka masing-masing.
Rizaldi Fatah sendiri sudah terlelap dengan alam bawah sadarnya, dirinya merefleksikan sedang berada di lapangan hijau dan dalam keadaan yang menegangkan. Saat pertandingan hampir berakhir dan hanya tersisa beberapa detik sebelum peluit akhir berbunyi, dia membayangkan dirinya mencetak gol penentu di menit-menit akhir babak kedua dan menjadi sang savior di pertandingan final nanti.
__ADS_1
Setelah khayalannya berakhir itu, Rizaldi langsung cepat-cepat mengambil smartphone miliknya dari kantong celananya. Dirinya langsung mengabarkan kepada Salma dan juga keluarganya bahwa malam minggu nanti dia akan bertanding di laga final dan dia sangat berharap kehadiran sosok orang-orang yang dirinya anggap istimewa itu sebagai bahan bakar tambahan untuk dirinya.