
Sehabis pertandingan yang sangat menyita tenaga dan mental itu, seluruh pemain diperbolehkan oleh Coach Satria untuk bersantai dengan cara mereka masing-masing.
Ada yang bermain game semalaman seperti yang dilakukan oleh Martin dan kawan-kawannya, ada juga yang melakukan tur dengan menggunakan motor gede seperti yang dilakukan oleh Dery, atau berdiam dirumah sambil sedikit berlatih agar membuat badan tidak terlalu kaku sama seperti yang dilakukan oleh Axel Raihan.
Tetapi ada pula yang menghabiskan waktunya dengan hanya berdiam diri di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan pekarangan rumah, mencuci dan menyapu dan mengepel seluruh rumah.
Hari adalah hari libur nasional, namun Rizaldi malah hanya dirumah saja dengan mengerjakan pekerjaan rumah sampai akhirnya Keisha kesal sendiri dengan saudaranya itu. "Abang! Abang tidak ada rencana pergi jalan-jalan gitu? Inikan hari libur"
"Jalan-jalan?" Rizaldi sejenak berpikir, tongkat sapu di tangannya dia gunakan sebagai tempat berpijak, seperti seorang pendekar Shaolin. "Tidak ada!" jawabnya sepersekian detik setelahnya.
Keisha hanya bisa membuang nafas panjang, dia tidak habis pikir dengan pola pikir abangnya itu. Sebenarnya Keisha sedang merencanakan jalan-jalan santai dengan abangnya itu di hari libur ini. Sudah banyak kegiatan yang ingin dia lakukan bersama dengan abangnya hari ini, Keisha bahkan membuat catatannya yang bisa sepanjang jalan kenangan.
Namun ternyata, abangnya malah memilih dirumah saja dengan menggunakan waktu luang ini untuk melakukan bersih-bersih, karena itulah dia sedikit kesal dengan abangnya. Namun Keisha tidak menyerah, catatan kegiatan yang panjang sepanjang jalan kenangan itu tidak ingin dia sia-siakan begitu saja, butuh waktu lama untuk menulis jadwal kegiatan itu dan itu harus dibayar dengan kesuksesan menurut Keisha.
Keisha sedang mencari-cari alasan agar bisa keluar dan jalan bersama abangnya, dan ia terpikirkan satu ide cemerlang. "Abang!" panggilnya dan Rizaldi pun kembali menoleh ke arahnya.
"Abang merasa gerah gak? Keisha merasa gerah banget kak" kata Keisha sambil menggerakkan tangannya seperti kipas tangan agar membuat abangnya tambah yakin kalau memang gerah sekali.
Rizaldi diam sejenak, dia menyeka keringat di wajahnya. "Kamu benar dek" Rizaldi juga merasa gerah, senyuman kemenangan terlukis di wajah Keisha.
"Kita jalan-jalan yuk bang, Keisha mau beli eskrim!" Keisha menunjukkan wajah imut-imut seorang adik kecil, namun sepertinya Rizaldi tidak terlalu terpengaruh dengan itu.
Rizaldi malah diam saja, dia lebih memilih untuk melanjutkan menyapu dan membiarkan Keisha yang masih memasang wajah imut. Karena diabaikan oleh Rizaldi, Keisha pun langsung melompat ke punggung Rizaldi dan mulai menggelitik dan menggigit tubuh abangnya itu hingga Rizaldi mau membelikannya eskrim.
Pada saat itu mereka berdua seperti mendengar ketukan pintu dari arah depan, namun suaranya terlalu pelan dan mereka menganggap itu cuma kucing liar yang sering mencakar-cakar pintu depan mereka. Keisha melanjutkan siksaan untuk abangnya, namun mereka berdua kembali mendengar suara ketukan pintu dan kini lebih keras dari yang pertama.
"Kamu lihat gih siapa yang datang dek" Rizaldi menyuruh Keisha untuk pergi ke depan melihat siapa yang mengetuk pintu.
__ADS_1
Keisha langsung berdiri dan pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang, begitu sampai dia langsung membuka pintu itu dengan pelan dan perlahan-lahan Keisha bisa melihat siapa sosok orang yang mengetuk pintu rumah mereka.
Belum sempat sosok itu menyapa, Keisha sudah lebih dulu menutup kembali pintu rumah dengan sangat rapat.
"Keisha kenapa pintunya kamu tutup lagi? Siapa tadi yang datang?" Rizaldi bertanya pada Keisha yang berlagak sedikit aneh.
"E-engak kok bang, tadi cuma kang panci kredit aja kok bang" jawab Keisha dengan sedikit gugup, karena itu Rizaldi semakin curiga dengan Keisha.
Terlebih lagi, pintu kembali diketuk-ketuk kali ini cukup keras sehingga terlihat seperti digedor. "Halo! Apa Rizaldi-nya ada di rumah?" sosok itu berteriak dari luar.
Rizaldi semakin bingung. "Keisha buka pintunya!" perintah Rizaldi dengan suara yang agak tinggi.
Keisha tidak berani melawan abangnya, akhirnya dia membuka pintu dan ternyata sosok yang bertamu ke rumahnya itu adalah Salma.
"Salma? Kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang?" ucap Rizaldi saat melihat Salma ada di depan rumahnya, namun ada yang tidak disadari oleh dirinya.
Satu hal yang dilewatkan oleh Rizaldi lewatkan adalah, kemarin pada saat sehabis pertandingan yang melelahkan itu. Salma menyuruh pak Teguh untuk mengikuti Rizaldi dan Keisha. Karena itulah Salma jadi tahu alamat rumah Rizaldi dengan sangat tepat.
"Yasudah masuk dulu!" Rizaldi menyuruh Salma masuk, dan tentu saja Salma sangat bergembira sampai-sampai dia masuk ke rumah Rizaldi sambil mengeluarkan senyuman gembira yang lebih dari soda gembira.
"Maaf kalau agak sedikit berantakan ya, aku baru habis bersih-bersih rumah tadi" kata Rizaldi.
"Kamu bersih-bersih rumah sendiri?" Salma sedikit terkejut mendengar itu, dia tidak menyangka kalau Rizaldi sangat rajin.
"Ya begitulah, karena ibuku bekerja jadi aku harus mengerjakan tugas rumah. Kadang Keisha bantu-bantu juga" jawab Rizaldi dengan santai, dia lalu pergi ke dapur untuk mengambil beberapa camilan dan meninggalkan Salma dan Keisha di sana.
Salma masih terpukau dengan bersih dan rapinya ruangan yang baru saja dibereskan oleh Rizaldi. Salma tidak menduga kalau Rizaldi sudah biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, karena dia berasal dari orang yang memiliki harta berlebih Salma pun tidak pernah melakukan pekerjaan rumah selama hidupnya ini.
__ADS_1
Seluruh pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan dan setiap bidangnya beda-beda pula orangnya. Tugas cuci piring, bersih-bersih serta mencuci pakaian sudah ada orang yang menghandle. Potong rumput, supir, juru masak, semuanya sudah ada yang mengerjakannya dan hampir tidak ada lagi kegiatan yang bisa dilakukan oleh Salma di rumahnya.
Karena itu dia sedikit merasa iri dengan Rizaldi yang hidup sederhana saja, apalagi pemikirannya yang terlalu sederhana itu membuatnya merasa nyaman saat berada di dekatnya.
Kalau Salma sedang dimabuk oleh kasmaran, Keisha malah sedang dimabuk oleh rasa kesal dan marah. Dia kesal dengan sosok Salma yang bisa dengan tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan dirinya dan abangnya yang sudah sangat nyaman itu. Kehadiran Salma menurut Keisha, kehadiran sosok Salma adalah suatu halangan untuk dirinya dan dia ingin menyingkirkan halangan itu.
Sikapnya yang seperti itu terbentuk karena masa lalunya bersama dengan abangnya. Karena suatu waktu Keisha pernah melihat kakaknya yang dijahili oleh perempuan paling cantik di sekolahnya dulu.
Jadi pada saat itu, perempuan itu mendatangi Rizaldi dan menyuruh Rizaldi untuk menemuinya di halaman belakang sekolah. Begitu mereka bertemu, ternyata perempuan itu menyatakan perasaan suka kepada Rizaldi. Rizaldi juga sangat menyukai perempuan itu, bukan hanya Rizaldi tetapi seluruh laki-laki di sekolahnya sangat mengidolakan sosok perempuan itu.
Rizaldi yang begitu polos pada saat itu mau-mau saja mengiyakan ajakan pacaran dari sosok perempuan tadi, padahal hal yang sebenarnya sangat buruk. Perempuan itu hanya bermain-main saja dengan Rizaldi karena dia kalah taruhan dengan teman-temannya yang lain, sehingga dia harus berpacaran dengan orang 'cupu' selama satu minggu, orang itu adalah Rizaldi.
Begitu mendengar kenyataan pahit itu Rizaldi hanya bisa terdiam bahkan saat dirinya ditertawakan olehnya dan juga teman-temannya, seluruh sekolah juga mulai melakukan bullyan kepada Rizaldi dan Rizaldi hanya diam saja menahan semua perasaan yang bisa saja meledak kapanpun itu.
Keisha pada saat itu menyadari kesedihan yang kakaknya rasakan, namun dia tidak bisa melakukan apapun kecuali memberikan rasa kasih sayangnya sebagai seorang adik. Maka dari itulah muncul rasa protektif yang begitu kuat dari dalam hatinya.
Jadi Keisha masih tidak percaya dengan sosok Salma, dia takut kejadian itu akan berulang lagi pada kakaknya yang polos itu.
"Camilannya sudah datang!" Rizaldi membawa beberapa kaleng yang berisi wafer coklat kesukaannya.
"Ah pas sekali lagi, aku juga membawa ini" Salma mengeluarkan benda yang ada dalam tas keranjangnya. Isinya adalah es krim gelato yang dilihat saja bisa membuat orang meneteskan air liur, apalagi pada saat gerah.
Keisha saja langsung mengambil es krim gelato itu tanpa permisi terlebih dahulu, dia mengambil yang rasa strawberry. Rizaldi langsung memukul tangan Keisha dan sedikit memarahinya karena sikapnya yang kurang sopan itu. "Yang sopan dong, Salma membawakan makanan itu jadi paling tidak ucapkan terima kasih" ucapnya.
"Terima kasih" ujar Keisha dengan wajah cemberut, Rizaldi kembali mengomelinya.
Tidak mau melihat kakak-beradik itu bertengkar, Salma pun langsung menengahinya. "Sudah-sudah santai saja, lagian ini buat kita juga kok"
__ADS_1
Rizaldi hanya bisa menghela nafas panjang, lalu mereka bertiga menghabiskan waktu dengan mengobrol santai sambil menyantap es krim gelato pada saat panas tengah hari yang menusuk-nusuk bagai pedang menusuk kulit.