Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 34: Bola Mati


__ADS_3

Kemenangan melawan Mining Way Tanjung minggu lalu membuat skuad anak asuh dari Coach Dodi Surian semakin bersemangat menyambut laga selanjutnya, namun sebelum itu mereka mendapatkan jeda selama satu minggu sebelum melawan tim posisi ke 7 di klasemen mereka saat ini.


Namun walaupun jeda, tetapi yang namanya latihan harian tetap dilaksanakan oleh anak asuh Coach Dodi Surian yang bermain untuk Pengambangan Cananga Youth-B.


Sama seperti yang mereka lakukan saat ini, mereka semua sedang berlatih servis bola-bola mati. Servis bola mati itu bisa termasuk tendangan sudut, tendangan bebas ataupun tendangan penalti juga termasuk kedalam servis bola mati. Mengapa disebut demikian? Karena bola yang akan ditendang dalam keadaan diam di tempat, tidak bergulir seperti saat diarahkan dari kaki ke kaki.


Coach Dodi Surian sudah menyuruh beberapa nama yang menurut beliau cukup bagus untuk mengambil servis bola mati ini, diantaranya adalah sang kapten tim Ardi, bek kanan mereka yang bernama Andito, serta Rizaldi Fatah sendiri.


Menurut pengamatan dari mata coklat nan tajam Coach Dodi Surian, setelah melakukan beberapa kali skenario tendangan sudut dan penalti, beliau sudah tahu siapa sosok yang begitu cocok- begitu pas- begitu sempurna untuk mengambil servis bola mati. Yaitu si Rizaldi Fatah.


"Semakin hari progres perkembangannya semakin bagus, entah aku harus senang ataupun takut melihatnya" Coach Dodi Surian membatin sambil melihat data-data statistik milik Rizaldi Fatah yang menurutnya berkembang begitu pesat, dibandingkan dengan yang lainnya.


Setelah puas melihat data statistik yang menurutnya tidak masuk akal itu, Coach Dodi Surian langsung menutupnya dengan penuh gaya. Lalu beliau menarik tali peluitnya yang ia kira adalah Revolver yang sering dipakai oleh koboi. Beliau tiup peluit itu hingga bunyinya mengentikan aktivitas anak asuhnya yang sedang melakukan skenario sepak pojok.


"Kemari!" Coach Dodi Surian memberikan perintah dan tidak ada satupun yang mengabaikannya, mereka langsung berlari kecil menuju ke arah Coach Dodi Surian dan mulai bersusun rapi seperti yang sering mereka lakukan.


Beliau menatap satu persatu anak asuhnya terlebih dahulu, keringat yang bercucuran dari wajah mereka sudah menandakan kalau mereka sudah berlatih dengan sungguh-sungguh hari ini. Coach Dodi Surian mengangguk puas, puas akan kinerja dari anak asuhnya dan kali ini beliau ingin memberikan satu menu latihan lagi hari ini.


"Kita sudah melakukan skenario tendangan penalti, tendangan sudut. Ardi, Andito dan Rizaldi adalah tiga orang yang paling menonjol di sesi latihan kali ini. Namun, di dua sesi itu kemampuan Rizaldi memang sedikit melampaui kemampuan Ardi dan Andito" Lalu semua mata tertuju ke arah Rizaldi dan mereka memberikan tepuk tangan yang cukup meriah pada Rizaldi.


Coach Dodi Surian memberikan isyarat untuk menghentikan keributan itu, lalu setelah semuanya diam beliau kembali melanjutkan penilaian beliau yang sedikit terpotong tadi. "Ada hal yang paling mendasar yang menjadi faktor pembeda dari mereka bertiga, yaitu visi bermain mereka. Visi bermain Rizaldi sudah melampaui kalian semua, mungkin seluruh pemain yang bermain di tim B"

__ADS_1


Kembali, rekan-rekan Rizaldi Fatah di tim B langsung menghujani dirinya dengan tepuk tangan dan pujian-pujian setinggi langit kepadanya, sama seperti yang dilakukan oleh Coach Dodi Surian. Sampai-sampai, orang yang dipuji itu pun merasa kurang enak dan sedikit malu karena ulah mereka semua.


"Coach berlebihan, saya juga masih banyak perlu berlatih dan belajar Coach!" ucap Rizaldi mencoba membuat mereka sedikit lebih tenang, namun sayangnya rekan-rekannya malah semakin tidak terkendali, bahkan ada yang terang-terangan mulai mengidolakan sosok Rizaldi dan akhirnya Rizaldi pun hanya bisa berpasrah akan keadaan yang dialami olehnya.


"Rizaldi! Kami semua tahu, bapak tahu, seluruh orang-orang disini tahu betapa kerasnya latihan dan kemauan mu itu. Itulah yang membuatmu menjadi seperti sekarang ini dan jangan kamu minder dengan kemampuanmu, kami semua tahu betapa hebatnya kamu Rizaldi!"


Anak-anak yang lain semakin bericauan layaknya seekor burung di pagi hari, mereka semua memang melihat sendiri seberapa jauh perkembangan sosok Rizaldi Fatah. Dari yang asalnya hanya pemain biasa yang bahkan baru memulai bermain sepakbola sampai menjadi pemain kunci di tim B dan bukan tidak mungkin dirinya akan dipanggil ke tim A dalam waktu dekat. Menyusul sosok teman-temannya yang lain yaitu Derry, Axel dan Zaki yang sudah lebih dulu berada di tim A.


"Ayo sekarang kita lanjut ke menu latihan berikutnya yang masih berkaitan dengan servis bola mati, yaitu tendangan bebas alias free-kick." ujar Coach Dodi Surian, lantas mereka semua kembali berpencar dan bersiap melakukan sesi latihan selanjutnya. "Untuk eksekutornya saya ingin melihat kemampuan dari Rizaldi lagi, jika Rizaldi bisa mengambil tendangan bebas maka kemungkinannya untuk kita bisa membuka ruang akan semakin bertambah lagi"


"Siap coach!" Rizaldi menjawab perintah dari sang pelatih dengan sangat mantap.


Saat tubuhnya berpaling, dirinya melihat sosok Ardi yang sedang memegang bola. Ardi memberikan bola itu kepada Rizaldi dan langsung diposisikannya ke titik yang sebelumnya sudah ditentukan oleh pelatih sebelumnya, sebelum latihan di mulai.


Kiper memberikan instruksi kepada pagar betis agar benar-benar menutupi ruang yang bisa dimanfaatkan oleh Rizaldi untuk memasukkan bolanya, pagar betis sudah siap untuk menghalau bola yang datang, dan bola pun sudah ditaruh di titik yang memang ditentukan oleh Coach Dodi Surian sebelumnya. Rizaldi Fatah juga sudah bersiap untuk melakukan tendangan bebas.


Peluit berbunyi, aba-aba untuk Rizaldi agar segera menendang bola.


Dia mengambil beberapa langkah kecil sebelum menendang, dan menendang bola dengan menggunakan punggung kaki. Bola menukik dengan sangat tajam ke sisi atas gawang dan membuat kiper hanya bisa melongo melihat bola masuk ke dalam gawangnya.


Rizaldi penuh kegirangan melihat tendangan bebas pertamanya masuk dengan mulus, bahkan pagar betis pun tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Coach Dodi Surian juga cukup senang dengan hasil itu, namun beliau masih belum puas jika hanya melihat sekali percobaan saja.

__ADS_1


"Lakukan sekali lagi Rizaldi!" Coach Dodi Surian berteriak dan Rizaldi memberikan jempol ke arah beliau dan kembali bersiap melakukan tendangan bebas lagi.


Masih dengan jarak yang sama, Rizaldi juga menendang bola dengan cara yang sama pula. Namun bola kini tidak menukik tajam, melainkan terbang deras ke sisi kanan gawang, walaupun kiper sempat bereaksi tetapi karena derasnya bola, dia tidak bisa menjangkau bola itu dan kembali masuk.


"Gooollll lagi!" Rizaldi berteriak, dia tersenyum sambil melompat-lompat kegirangan.


Rizaldi terus melakukan tendangan bebas, dia berhasil memasukkan 10 gol dari 15 kali percobaannya. Dengan hasil seperti itu, dia sudah bisa dianggap sebagai spesialis tendangan bebas di tim. Coach Dodi Surian pun tidak masalah juga akan hal itu, Ardi juga senang kalau melihat Rizaldi yang menjadi tumpuan utama di tim kali ini.


Karena merasa tendangan bebas dari Rizaldi yang sangat bagus dan hebat. Coach Dodi Surian pun sedikit penasaran, beliau lantas bertanya pada Rizaldi bagaimana caranya melakukan tendangan bebas seperti dirinya tadi.


"Gimana ya Coach? Ya seperti biasanya juga Coach"


"Seperti biasanya?" Coach Dodi Surian penuh kebingungan dengan kata-kata itu.


"Ya, saya merasa bermain seperti biasanya jadi saya juga tidak tahu supaya bagaimana caranya agar masuk terus menerus Coach!" perkataan ini langsung membuat Coach Dodi Surian berhenti bertanya dan sedikit merasa kecewa sekaligus penasaran.


Tentu saja Rizaldi harus sedikit berbohong untuk menutupi kemampuannya, kemampuannya yang mungkin hanya dirinya yang memilikinya.


Alasan mengapa Rizaldi berhasil memasukkan 10 bola dari 15 kali percobaannya adalah, pertama karena statusnya yang semakin bertambah tinggi. Ibarat kata Rizaldi adalah seorang petualang dengan pekerjaan Palladin yang memiliki level 200 yang baru saja membunuh satu monster dengan level 10.


Lalu kedua adalah karena skill yang dimiliki kali ini, sebuah skill yang seperti cukup berguna baginya, yaitu skill servis bola mati khas pemain asal Brazil yang pernah bermain di Olimpique Lyonnais di medio 2001-2009. Yaitu Juninho Pernambucano.

__ADS_1


Dan yang terakhir, yang paling penting dan yang harus ia rahasiakan dari siapapun itu, bahkan ibu dan adiknya saja tidak boleh tahu akan hal ini. Yaitu keberadaan sistem yang dimiliki oleh Rizaldi Fatah. Dengan sedikit bantuan dari sistem inilah, Rizaldi bisa berkembang lebih cepat dan itu harus selalu ia simpan sampai kapanpun walaupun ada banyak orang yang akan bertanya kepada dirinya.


__ADS_2