
Setelah kemenangan melawan Deli United di putaran pertama FSI Cup, Rizaldi dan pemain Pengambangan Cananga yang lain mulai berlatih lagi untuk persiapan melawan Jeonbuk Hyundai Motors FC di ronde pertama fase grup Liga Champion Asia. Mereka akan bertamu ke Jeonju World Cup Stadium yang merupakan markas dari klub yang berjuluk Green Warriors itu.
Jeonbuk Hyundai Motors FC sendiri adalah klub asal Korea Selatan yang memiliki sederet prestasi yang sudah tidak diragukan lagi. Mereka mendapatkan K-League titel sebanyak 10 kali, 5 kali juara piala FA Korea Selatan, 3 kali juara Korea Super Cup dan bahkan mereka pernah 3 kali mengangkat trofi Liga Champion Asia sebanyak 3 kali.
Tentu saja level Jeonbuk Hyundai Motors berada di atas level Pengambangan Cananga, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa dikalahkan. Setidaknya bagi Rizaldi Fatah dan yang lain, mereka berpikir untuk mengalahkan Jeonbuk Hyundai Motors di kandang mereka sendiri adalah suatu hal yang sangat bagus untuk mereka semua.
Untuk itulah mereka semua berlatih dengan keras hari ini, bahkan semangat mereka membuat Coach Satria Hutama yang mengawasi mereka hari ini sedikit terkejut karena mereka semua. Coach Giovanni yang melihat itu hanya bisa tertawa saja melihat rasa semangat anak-anak didiknya yang seperti terbakar api semangat itu, Coach Giovanni meramu strategi untuk kemenangan mereka nantinya maka dari itu dia menugaskan Coach Satria untuk mengawasi mereka semua.
Selama 90 menit Rizaldi mengikuti latihan hari ini dan akan dilanjutkan dengan latihan fisik di fasilitas gym milik klub nantinya, sebelum itu Rizaldi mencari angin terlebih dahulu dengan duduk santai di ruang ganti. Sambil mendinginkan tubuhnya, Rizaldi membuka panel sistem miliknya sambil sedikit bercakap-cakap dengan Boro-555 soal Kartu Pemain, fitur baru yang ia coba di pertandingan kemarin.
Secara keseluruhan Rizaldi sangat puas dan suka dengan fitur baru itu, bahkan menurutnya fitur itu lebih bagus dari fitur sebelumnya, mendengar itu Boro-555 jadi senang.
Tetapi ada beberapa kekurangan juga di dalam fitur itu, tidak ada hal yang benar-benar sempurna menurut Rizaldi bahkan fitur sistem yang dimiliki oleh Boro-555 pun. Fitur kartu pemain itu memang membuat Rizaldi akan menjadi seperti pemain yang ia gunakan kartunya itu, namun juga ada beberapa efek bagi tubuhnya. Misalnya ketika Rizaldi menggunakan kartu pemain grade B mendapatkan Toni Kross musim 2022/23 di dalamnya yang dimana musim itu Toni Kross sudah berusia 33 tahun, jadi kondisi fisik Rizaldi seperti orang yang berumur 33 tahun juga.
Itu yang terjadi pada Rizaldi pada hari kemarin pada saat pertandingan melawan Deli United. Rizaldi pada saat menggunakan kartu pemain Juraj Kucka musim 2014/15. Pada saat itu Juraj Kucka berusia 28 tahun, sehingga Rizaldi sempat merasakan bagaimana fisik Kucka di usia 28 tahun.
Bahkan Coach Giovanni saja terkejut, masalahnya dia tidak pernah melihat Rizaldi begitu kelelahan pada saat digantikan di babak pertama, padahal biasanya Rizaldi tampil begitu enerjik dan seperti tidak pernah kelelahan sama sekali walaupun bermain dengan sangat-sangat enerjik. Melihat Rizaldi yang begitu kelelahan di akhir babak pertama itu membuat Coach Giovanni bertanya-tanya apakah dia sedang tidak fit atau lagi tidak enak badan, namun Rizaldi bilang dia baik-baik saja dan membuat Coach Giovanni semakin bingung.
Untuk itulah Rizaldi kali ini berpikir dua kali sebelum memilih kartu pemain yang akan digunakannya, dia tidak mau lagi ada kasus dimana ada orang yang mencurigai dirinya. Coach Giovanni kemarin menurut Rizaldi sudah terlalu, dia tidak mau lagi hal itu terjadi atau kedoknya terbongkar. Dia tidak bisa membayangkan jika ada orang yang tahu kalau dirinya dibantu oleh sebuah sistem untuk menjadi pemain hebat seperti sekarang ini, mungkin ada orang yang mulai menghujatnya dan berkata kepada dirinya kalau lebih baik dia mati saja karena dirinya tidak berguna tanpa bantuan sistem.
__ADS_1
"Fitur ini memang bagus, tetapi sepertinya sangat riskan untuk terbongkar jika aku tidak berhati-hati menggunakannya" ujar Rizaldi.
"Lalu, mengapa tidak kau berterus terang saja pada semuanya master?" sebuah ide brilian tiba-tiba muncul, diucapkan oleh Boro-555. Sampai-sampai membuat Rizaldi tidak tahu lagi harus berkata apa. "Sepertinya itu tidak mungkin ya?"
Rizaldi lalu memikirkan sebuah cara untuk mensiasati hal itu, lalu Boro-555 kembali memberikannya sebuah saran. "Bagaimana master membeli kartu pemain yang lain di sistem shop, mungkin saja master mendapatkan kartu pemain yang lebih baik dari yang sudah ada" saran Boro-555 kali ini lebih baik dari yang sebelumnya.
Rizaldi langsung membuka sistem shop seperti yang disarankan oleh Boro-555. Dia memiliki poin sebanyak 1.500 poin, sedangkan harga pack kartu pemain begitu beragam. Seperti harga pack kartu pemain grade B yang berharga 500 poin untuk satu pack nya yang berisi 5 kartu pemain, pack kartu pemain grade A berharga 800 poin dan yang paling tinggi yaitu grade S dengan harga 1.200 poin. Selain itu ada juga kartu pemain Youth, kartu ini berisi kartu pemain para pemain muda yang masih hijau segar, harganya memang murah namun isinya belum tentu menjanjikan, harganya 400 poin selisih 200 poin dari kartu pemain grade D.
Rizaldi tentu kebingungan memilih kartu yang mana, karena mengumpulkan poin itu tidaklah segampang yang ia kira. Andai saja setiap misi dia mendapatkan poin dan banyak, mungkin dia sudah bisa memborong semua kartu pemain itu dengan mudah.
"Apa aku perlu membeli kartu pemain Grade S lalu membeli kartu pemain Grade C untuk menghabiskan semua poin ku? Atau aku harus menghemat biaya dengan membeli kartu pemain Grade B saja?" Rizaldi bimbang.
"Jadi misalnya aku membeli kartu pemain Grade S dan membukanya, terus aku membeli kartu pemain grade C untuk menghabiskan semua poin ku. Aku hanya punya satu kartu Grade S yang bisa ku simpan nanti?" Rizaldi kembali menegaskan peraturan itu. Dan dijawab singkat saja oleh Boro-555.
Karena hal itu Rizaldi merasa rugi untuk menghabiskan semua poinnya begitu saja, karena itu Rizaldi lebih memilih membeli kartu pemain Grade A yang berharga 800 poin dan menyimpan poinnya untuk kapan-kapan.
"Sebelum membuka pack kartu Grade A yang baru saja master beli, master harus memilih satu kartu pemain yang ingin master simpan yang ada di inventori master" Boro-555 lalu menampilkan tiga kartu pemain yang dimiliki oleh Rizaldi sebelumnya.
Ada kartu pemain Morgan Schneiderlin, Bastian Schweinsteiger, Kevin Strootman dan Martin Demichelis musim 2014/15 yang ada di dalam inventori miliknya dan Rizaldi hanya bisa menyimpan satu yang bisa ia simpan untuk dipakai nanti. Dan pilihan Rizaldi jatuh ke Bastian Schweinsteiger musim 2014/15. Pada saat itu karir Bastian Schweinsteiger sudah ada di penghujung karirnya, dia pindah ke Manchester United namun performanya tidak sebagus selama berkostum Der Bavarian. Bukan tanpa alasan mengapa Rizaldi lebih memilih Bastian Schweinsteiger, dia sendiri tahu betul sosok pemain gelandang itu dan bagaimana cara bermainnya, menurut Rizaldi cara bermain Bastian Schweinsteiger sangat cocok dengan dirinya, itulah mengapa dia memilih Bastian Schweinsteiger daripada pemain yang lain.
__ADS_1
"Kalau master sudah memilih pilihan anda, saatnya kita membuka kartu pemain yang baru saja anda beli" ujar Boro-555.
Rizaldi mengangguk, pack kartu pemain Grade A sudah ada di hadapan matanya. Rizaldi langsung saja membuka pack itu dan setelah beberapa saat setelah animasi membuka pack kartu pemain Grade A itu, muncullah beberapa kartu pemain yang membuat Rizaldi langsung terperanjat. Kali ini tingkat hoki yang ia miliki meningkat dengan tajam.
[Selamat Anda Mendapatkan Kartu Pemain]
Khvicha Kvaratskhelia 2022/23
Allan Saint-Maximin 2022/23
Brahim Diaz 2022/23
Rafael Varane 2022/23
Isco 2022/23
"Aku menang lotre!" Rizaldi langsung berteriak heboh begitu membuka kartu pack.
Teriakan Rizaldi langsung membuat Derry, Anan, Axel dan Martin langsung bergegas menuju ruang ganti. Mereka mengira Rizaldi sedang mengalami masalah, namun setelah mereka sampai di ruang ganti mereka hanya mendapati Rizaldi yang berteriak seperti orang kesurupan.
__ADS_1
"Kau ini kenapa? Apa pagi tadi kau salah makan?" ujar Martin yang sedikit kesal karena ulah Rizaldi kali ini.