
Marcel : "Kenapa Stella?"
Stella :"Dia mau ke sini, boleh kan?"
Marcel :"Sekarang?"
Stella :"Iya. Ini aku share lock dulu."
Marcel :"Ooh. Dia tinggal di kota ini juga?"
Stella :"Gak, di xx. Ada mau yang di kasih katanya. Eh, dia boleh nginap sini kan hari ni?"
Marcel :"Boleh lah." Memberi senyuman. "Berarti besok kamu gak kerja?"
Stella :"Kalau dia besok pagi Uda pulang, ya aku kerja aja siangnya." Menutup matanya.
Stella tertidur menunggu kedatangan Milka, sahabatnya.
Satu jam kemudian Bi Murti mengetuk pintu kamar Marcel. Marcel pun membuka nya.
Bi Murti :"Tuan di luar ada tamu. Katanya teman Stella tuan." Berdiri di depan pintu.
Marcel :"Oh, suruh masuk aja bi."
Bi Murti pun berjalan menuruni tangga menyuruh Tamu itu untuk masuk, Marcel menutup pintu kamar nya dan membangun, kan Stella.
Marcel :"Stella. Itu teman kamu sudah datang." Memegang bahu Stella.
Stella langsung membuka matanya dan turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuruni tangga bersama dengan Marcel. Milka dan seorang lelaki sudah duduk di ruang tamu.
Stella : "Hai." Berteriak dari kejauhan dan berlari menghampiri Milka.
Mereka berpelukan .
Stella menyalam pria yang datang bersama dengan Milka.
Stella :"Eh, Abang." menyalam pria itu. "Ini nih yang menabrak aku waktu masih sekolah dulu terus kabur hahaha." Tertawa.
"Ya ampun, masih di ingat aja haha. Aku benar benar gak sengaja Stell." Ucap lelaki yang bernama Gilang itu.
Marcel menyalam Milka dan Gilang.
Marcel :"Marcel" menyalam Gilang.
Gilang:"Gilang" menyalam Marcel. "Ini suami kamu Stella?" melihat Stella.
Stella :"Iya." Memberi senyuman.
Mereka pun kembali duduk bersama di sofa.
Stella :"Ini anak siapa?" menunjuk anak bayi yang ada di sofa.
__ADS_1
Gilang :"Anak aku." melihat Stella.
Milka :"Ini Stella, kami mau ngasih undangan pernikahan." Mengambil undangan dari dalam tas nya.
Stella dan Marcel makin kebingungan mendengarnya.
"Uda ada anak tapi baru mau menikah? Apa apaan sih Milka nih." Ucap Stella dalam hatinya.
Stella : "Aku gak ngerti, sumpah." Mengambil undangan pernikahan.
Stella langsung membuka undangan pernikahan itu, ia melihat dan membacanya.
Stella :"Loh, yang mau nikah bukan kalian?" melihat Milka."Kenapa kalian yang antarin?"
Milka :"Bukan, Dara yang mau nikah. Dia minta tolong bantu bagikan undangan."
Stella :" Ya ampun, kan bisa telfon aja Milka. Jadi jauh-jauh ke sini."
Milka :"Ih, kurang seru lah. Aku juga kangen loh sama kamu haha." Tertawa.
Stella :"Kalian Uda nikah?" Memelototi matanya melihat Milka dan Gilang.
Milka :"Udah Stell, sori banget ya gak undang kalian kemarin. Aku sediakan undangan hanya untuk keluarga sama tetangga Stell."
Stella :" Ooh, kapan?" Mengambil minuman yang di bawakan bi Murti.
Milka :"3 bulan yang lalu Stell, seminggu setelah pernikahan kamu."
Gilang :"Anak aku Stell, tapi karena aku nikah sama Milka jadi anak Milka juga, kan?"
Stella :"Apa sih haha, gak ngerti. Berarti Milka hamil dulu baru nikah?"
Milka :"Ini anak Gilang. Istri Gilang meninggal waktu melahirkan anak ini. Terus dia menikah sama aku jadi anak aku juga, kan?" memberi senyuman.
Stella :"Ooh, bilang lah. Meninggalnya berarti baru ya? Masih bayi banget dia." Melihat anak bayi yang tidur di atas sofa.
Gilang :"Iya, sekitar 5 bulan yang lalu lah."
Stella :"Ooh, usia kandungan kamu uda berapa bulan?" melihat perut Milka yang besar.
Milka :"4 bulan Stell." Memegang perut nya. " Ini juga bukan anak Gilang." Matanya berkaca-kaca.
Gilang :"Eh udah. Nanti nangis lagi."Mengelus punggung Milka.
Milka :"Enggak lah. Lagian Stella ini sahabat aku bang, sedangkan Marcel itu suami Stella. Aku udah anggap semua kayak keluarga." Memberi senyuman. " Ini anak mantan pacar aku Stell. Aku tau waktu usianya bayi ini uda sebulan, aku kasih tau dia kalau aku hamil dia bilang ini bukan anaknya, terus dia suruh aku untuk menggugur, kan setelah itu dia pergi seperti di telan bumi." Mengelus perutnya."Terus di waktu yang sama Bang Gilang datang sama aku, mungkin dia dapat berita dari mama aku kan. Dia bilang dia mau nikahi aku, dia terima aku dalam keadaan hamil anak orang. Ya gitulah Stell." Menghapus air mata di pipinya.
Gilang :"Udah Milka," menghapus air mata Milka.
Milka :"Aku terima karena aku malu Stell. Aku hamil dengan kondisi tidak punya suami, anakku juga bakal kasihan karena perilaku bapaknya yang tidak bertanggung jawab. Di sisi lain aku juga melihat Kalau Salsa butuh sosok ibu, aku juga menghargai kebaikan Bang Gilang. Mama aku juga sangat mendukung aku buat nikah sama bang Gilang." Menggendong anak bayi yang menangis.
Marcel :"Uda coba cari mantan pacarnya?" Melihat Milka.
__ADS_1
Milka :"Gilang uda pernah cari, aku gak mau. Lagian kalau ketemu bang aku gak mau liat dia. Uda jijik banget gitu." Melihat Marcel.
Marcel :"Ooh." Menganggukkan kepalanya.
Stella :"Salsa itu adik ya?" menunjuk anak bayi.
Milka :"Iya Tante." Menunjukkan wajah Salsa kepada Stella.
Anak bayi itu terbangun dari tidur nyenyak nya.
Stella :"Menginap di sini saja ya?" melihat Milka.
Gilang :"Eh, tidak usah Stella."
Stella :"Is, apalah." Mengerutkan dahinya. "Aku jumpa sama Milka uda jarang loh bang. Masa sekali aja gak boleh nginap di sini?"
Gilang :"Hahaha, ini lah kelebihan si Stella nih bang." Melihat Marcel. "Selalu pandai merayu orang sampai setuju hahaha."
Marcel :"Hahahaha." Tertawa sejenak.
Milka :"Kita menginap di sini aja ya sayang." Melihat Gilang.
Gilang :"Iya, adek kenapa bangun," menggendong anaknya.
Stella :"Ayok naik ke atas. Aku tunjuk, kan kamar nya.
Mereka ber- empat menaiki tangga. Stella mengantar, kan mereka ke kamar yang kosong di lantai 2, Marcel masuk ke kamarnya.
Stella :"Ini kamarnya ya." Membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya, Stella langsung menghidupkan AC.
Milka :"Makasih ya Stella." Melihat Stella. " Uda ngantuk belum?"
Stella :"Belum, tadi aku baru bangun tidur itu."
Milka :"Nanti kita ngobrol sebentar ya, uda lama gak bicara berdua kita juga uda jarang ketemu."
Stella :"Oh iya-iya. Itu si Abang udah ngantuk kayaknya."
Gilang :"Iya Stella, capek kali bawa mobil tadi."
Milka :"Eh, jagain Salsa dulu lah, aku mau mandi loh bang." Meletakkan anak bayi itu di atas tempat tidur.
Stella :"Eh biar aku aja yang jagain sini. Aku belum ada gendong dari tadi." Mendekati tempat tidur.
Gilang :"Eh, eh tidak usah Stell, biar aku aja." Menggendong Salsa.
Stella :"Ih, gak apa-apa bang. Aku bawa ke kamar aku ya. Tidak bakal aku apa-apain."Mengambil Salsa dari tangan Gilang.
Milka :"Makasih ya Stell, nanti aku jemput Salsa nya ya setelah mandi."
Stella :"Iya, itu gedor aja pintunya ya. Kamar ku yang itu." Menunjuk kamar Marcel.
__ADS_1
Stella pun berjalan keluar kamar dan memasuki kamar Marcel.