Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Siang


__ADS_3

Tepat pada pukul 12.00 Stella berjalan keluar gedung perusahaan, ia memasuki mobil. Sudah ada Marcel di dalam yang sejak tadi menunggu kedatangannya.


Marcel :"Lama banget." Menyalakan mesin mobil


Stella :"Ini masih jam 12 loh, kamu nungguin dari tadi?" Memasang seat belt.


Marcel :"Dari jam 11.30 aku sudah di sini," melajukan mobilnya


Stella :"Ha? Kok cepat banget? Istirahat jam 12 kan? Melihat ponselnya.


Marcel :"Jam 11.30,"


Stella :"Oh pantesan tadi sebelum jam 12 orang sudah pada keluar ruangan." Melihat Marcel, " tapi kemarin Mila bilang istirahat jam 12,"


Marcel :"Apa-apaan? Dia buat peraturan baru?"


Stella :"Entah lah, mungkin mau ngerjain aku."


Marcel :"Kelihatannya dia benci banget ya sama kamu, kamu ada masalah apa sama dia?"


Stella :"Aku punya masalah sama dia? Idih aku saja baru mengenalnya, lagian aku bukan tipe orang yang suka mencari masalah ya. Masalah data kantor yang di hapus itu sudah kamu bahas?"


Marcel :"Belum, nanti akan aku bahas. Makan di sini saja ya?"


Stella memandangi luar bangunan restoran itu, dan melihat spanduk yang tertempel didepannya. Stella menatap Marcel lama, ia tidak ingin makan disini, namun ia tidak tau harus berkata apa.


Marcel :"Ayok turun," membuka seat belt.


Stella pun membuka seat belt, mereka turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki restoran dan mengambil meja yang kosong, pelayan restoran datang membawakan menu.


Marcel :"Nanti saya panggil saja." Mengambil buku menu.


Lalu pelayan itu pergi meninggalkan mereka.


Marcel :"Kamu mau makan apa?" Melihat Stella.


Stella :"Kamu saja dulu." Meletakkan buku menu.


Marcel :"Kamu apa? Aku mau panggil pelayan nya ni." Meletakkan buku menu.


Stella :"Kamu saja yang makan, aku tidak makan." Melihat Marcel


Marcel :"Kenapa? Jangan begitu Stella, nanti maag mu kambuh."


Stella :"Aku tidak mau makan disini."


Marcel :"Astaga," memegang kepalanya." Kenapa tadi tidak bilang Stella? Tadi kan aku sudah bertanya. Ya sudah ayok kita pergi." Berdiri


Stella :"eh jangan, kamu makan saja."


Marcel :"Lah kamu tidak makan kan? Ayok kita cari tempat lain."


Stella :"Tidak usah Marcel, kamu makan saja dulu nanti setelah kamu makan baru cari maka lagi untukku. Tidak enak lah, kita belum makan sudah pergi."


Marcel :"Kamu pun aneh, kalau tidak mau makan di sini ya bilang." Kembali duduk.


Stella :"kenapa kamu berhenti di sini? Berarti karena kamu mau makan disini kan? Kalau aku bilang aku tidak mau berarti aku egois dong. Kamu begitu saja marah." Mengalihkan pandangan matanya.


Marcel :"Aku tidak marah," memberi senyuman sambil memegang kedua tangan Stella. "Aku pesan makanan dulu ya? Nanti kita cari makanan buat kamu. Tidak apa kan? Kamu sudah lapar?"


Stella :"Tadi kan aku juga bilang begitu. Kamu makan saja dulu, aku belum lapar" Memainkan ponselnya.


Marcel memanggil pelayan memesan makanan,lalu pelayan itu pergi ke dapur restoran memberikan pesanan agar cepat dihidangkan di meja Marcel.


Stella :"Sel, aku rasa kamu tidak usah mendirikan cabang lagi di sini." Melihat Marcel.


Marcel :"Alasannya?" Menaikkan kedua alis matanya


Stella :"Tidak ada alasan sih, ini hanya saran dari aku."


Marcel :"Saran yang baik seharusnya harus di Sergai dengan alasan yang tepat," memberi senyuman. "Jika alasannya tidak tepat maka aku tidak bisa menuruti mu"


Stella :"Apa kamu punya alasan untuk mencintai ku?" Menatap Marcel.


Marcel terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Stella.

__ADS_1


Stella :"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mendengarkan pertanyaan dari ku?"


Marcel :"Ya, kamu menang melawan aku." Memberi senyuman, "aku tidak punya untuk mencintai mu, aku membangun cabang agar semua pekerjaan dapat selesai tepat waktu Stell, karena sekarang ini perusahaan tidak bisa menyelesaikan yang harus di selesaikan tepat waktunya, lagian jika cabang berkembang uang nya aku serahkan untuk mu, keputusan aku akan tetap membuka cabang baru Stell. "


Stella :"Ya, semua terserah mu sih Sel. Semua keputusan memang ada di tangan mu, aku sebagai istri mu hanya memberikan saran dan sudah seharusnya sih suami menaati perkataan istrinya. Ya, jadi terserah mu saja." Melihat Marcel.


Marcel :"Apa kamu sekarang sudah menjadi istriku?" Melihat Stella dengan tatapan serius.


Stella :"Dari 3 bulan yang lalu, atau bahkan saat janji pernikahan di ucapkan aku sudah menjadi istrimu-"


Marcel :"Namun kamu tidak melakukan apapun untukku?" Melihat Stella dengan tatapan serius.


Pelayan membawakan makanan yang sudah di pesan Marcel, ia meletakkan makanan di atas meja Marcel. Lalu ia pergi meninggalkan kembali menuju dapur.


Marcel :"Stella, apa kamu mendengar ku?" Melihat Stella yang menunduk.


Stella :"Aku mau ke mobil." Berdiri


Marcel :"Stella, hei." Memanggil Stella


Stella :"Kenapa?"membalikkan badannya melihat Marcel.


Marcel :"Ini kunci mobilnya," memberikan kunci mobil.


Stella :"Makasih." Mengambil kunci mobil.


Stella berjalan menuju parkiran mobil dan memasuki mobil.


"Aku memang salah, ya aku salah. Aku tau aku salah, tapi kenapa dia selalu mengulang ulang pertanyaan seperti itu? Aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik, perjuangan ku baru bisa sejauh ini. Aku belum bisa menjadi seutuhnya, seharusnya dia bisa memahami aku. Setiap saat dia bilang dia akan menungguku sampai siap, tapi dia juga selalu mengungkit kesalahan ku." Ucap Stella dalam hatinya, air matanya mengalir di pipinya perutnya juga sudah terasa sakit lagi.


Beberapa menit, Marcel masuk ke dalam mobil. Ia melihat Stella sedang melamun namun pipinya terlihat matanya merah seperti habis menangis.


Marcel :"Stella," menutup pintu mobil. "Tadi aku lapar Stell, jadi kebawa emosi. Aku minta maaf Stell." Melihat Stella.


Stella :"Aku salah Sel, aku tau aku salah-"


Marcel :"Stell, kamu tidak salah, tapi keadaan yang salah. Keadaan yang membuat aku seperti ini, sudah ya. Kita tidak usah membahas itu lagi." Membelai rambut Stella.


Stella :"Tapi aku memang salah Sel." Melihat Marcel.


Stella :"A aku tau aku salah, aku juga sedang berusaha untuk menjadi istri mu seutuhnya tapi saat ini aku memang belum siap Sel, aku sudah coba menyiapkan mu makanan, melayani mu sebelum ke kantor, hanya itu yang ku bisa saat ini Sel. Buat yang lainnya aku belum siap. Tapi kamu selalu mengungkit itu lagi dan lagi, mengulang ulang kata kata bahwa aku belum menjadi istri seutuhnya. Sel, aku akan berusaha, tapi tolong jangan ungkit hal itu, aku semakin tidak tau mau berbuat apa."


Marcel :"Aku janji stell, aku tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu lagi, aku janji. Maafkan aku tadi aku kelaparan, makanya gampang terbawa emosi. Sekarang aku sudah kenyang, aku baru sadar aku salah. Maafkan aku ya Stella," Memegang tangan Stella.


Stella pun menganggukan kepalanya.


Marcel :"Kamu mau makan apa? Biar kita cari restorannya."


Stella :"Cumi sel."


Marcel langsung melajukan mobilnya, menuju restoran tempat menjual hidangan cumi-cumi. Sesampai di restoran, Marcel memarkirkan mobil nya tepat didepan restoran. Stella melihat gambar di spanduk yang menempel di depan restoran, ia menelan air ludahnya melihat gambar cumi-cumi sambal itu.


Stella langsung masuk ke dalam restoran, sedangkan Marcel masih berdiri di depan mobil.


"Astaga, dia meninggalkan ku di sini, dasar Stella." Ucap Marcel dalam hatinya


Marcel masuk ke dalam restoran, mencari Stella dan menemukannya di meja seperti pondok, Marcel pun duduk di depan Stella.


Marcel :"Udah di pesan?"


Stella :"Sudah." Memberi senyuman kepada Marcel.


Marcel :"Pengen banget ya makan cumi? Sampai ninggalin aku di luar."


Stella :"Haha iyaa, sori." Tertawa.


Marcel :"Kamu makan memang seperti ini ya? Seperti orang mengidam?"


Stella :"Iya, sejak SMK saat magang aku makan sesuai keinginanku."


Marcel :"Selesai magang?"


Stella :"Masih, soalnya sudah tidak bisa dihilangkan kebiasaanya. Lagian karena itu berat badan ku naik, makanya aku teruskan saja." Mengambil minuman dari dalam tas dan menegukkannya.


Marcel :"Kalau Tante masak tidak sesuai dengan keinginan mu bagaimana?" Mengambil botol minuman Stella." Bagi ya," membuka tutup botol.

__ADS_1


Stella :"Aku pesan go-food kadang, tapi mama ku selalu masak sesuai keinginan ku sih, setiap pagi dia tanya mau dimasakin apa, aku kasih saran lah."


Marcel :"Oh," menutup botol minuman.


Pelayan restoran datang membawakan makanan untuk Stella, dan meletakkan nya di atas meja makan tempat Stella. Stella memesan Cumi sambal hijau dan cumi pedas hitam manis dan sepiring nasi.


Marcel :"Wih banyak, tumben pakai nasi."


Stella :"Lapar." Memegang perutnya, "Mau coba?" Mengangkat cumi dengan tangannya.


Marcel pun membuka mulutnya, Stella langsung memasukkan cumi ke dalam mulutnya.


Stella :"Auh sakit." Menarik jari tangannya yang di gigit Marcel.


Marcel :"Enak banget Stell, mau lagi dong."


Stella :"Ah kamu ambil sendiri lah, nanti di gigit lagi."


Marcel :"Tidak, itu tadi aku kaget karena enak sekali, suap lagi Stell." Membuka mulutnya


Stella pun menyuap cumi ke mulut Marcel, ia sambil makan sambil menyuapi Marcel.


Stella :"Sel, yang tadi kamu bilang aku belum jawab." Memasukkan nasi kemulutnya.


Marcel :"Apa?" Menegukkan minuman.


Stella :"Aku tidak butuh uang dari hasil cabang perusahaan mu itu jika sudah berkembang pun."


Marcel :"Kenapa?" Mengerutkan dahinya.


Stella :"Ya aku tidak butuh." Menegukkan minuman.


Marcel :"Kenapa sih kamu melarang aku Stell? Aku lakukan ini karena aku tidak bisa menangani nya lagi Stell."


Stella :"Iya Sel, aku tau. Kamu buka saja cabang di kota XX di kota ini tidak usah Marcel. Susah sel, kamu harus mengontrol beberapa perusahaan sekaligus. Lagian tidak penting jika kamu membuka perusahaan lagi. Kamu fokus saja dulu ke perusahaan yang satu itu, beberapa tahun lagi baru buka cabang lagi."


Marcel :"Aku sudah tidak bisa memantau nya Stella."


Stella :"Marcel, kamu itu hanya membutuhkan karyawan. Kamu tidak perlu lah membuka cabang di sini lagi. Kamu tinggal menerima karyawan baru lagi, daripada kamu bukaa cabang lagi, kamu cari karyawan baru lagi, kamu cari satpam lagi, cari office boy lagi, semua kamu cari jadinya."


Marcel :"Kamu kok cerewet gini sih ha? Menyingkirkan rambut Stella yang terkena mulutnya dan menjepit rambut Stella dengan Jedai.


Stella :"Aku tidak cerewet Marcel, ih kamu lah." Membersihkan mulutnya dari noda makanan.


Marcel :"Sebenarnya yang kamu bilang itu ada benarnya sih, kalau begitu aku akan menambah karyawan baru saja."


Stella :"Aku memang selalu betul Marcel."


Marcel :"Eh, tapi ruangan sudah tidak cukup Stella, apa harus di bangun lagi?"


Stella :"Kemarin kamu tamat kuliah kan?" Menatap Marcel dengan tatapan serius.


Marcel :"Tamat." Menganggukan kepalanya.


Stella :"Kok lemot gini sih?" Menggaruk kepalanya. "Sel, kamu tidak perlu membangun ruangan ataupun gedung baru untuk tempat karyawan. Kantor kamu itu sudah besar, besar sekali cuman kamu terlalu lebay. Kenapa ruangan Direktur ini, direktur itu, direktur yang sana lagi, manajer ini, manajer itu harus di pisah? Masa setiap direktur ruangannya 1 satu per orang, manajer juga gitu. Coba kamu hitung berapa jumlah manajer dan jumlah direktur kamu? Banyak kan?


Marcel :"Kalau direktur itu sih memang satu orang satu ruangan, tapi kalau manajer itu berdua satu ruangan."


Stella :"Iya okelah, tapi itu tidak perlu Marcel, liat bos ku itu dia juga satu ruangan. Bos ku juga 1 orang saja di ruangan. Itu terlalu memakan banyak tempat sel."


Marcel :"Jadi bagaimana dong?"


Stella :"Kamu satuin aja para direktur satu ruangan, manajer juga satu ruangan. Itu bos-bos juga gabung aja dengan karyawannya. Mila di ruangan juga sendiri?"


Marcel :"Iya."


Stella :"Tuh kan, astaga. Jadi kamu harus ubah semuanya Sel, aku yakin kalau mereka satu ruangan itu ramai, 100 karyawan baru pun akan cukup."


Marcel :"Aku udah pernah coba sih, tapi tidak yang kamu katakan tadi. Berarti para direktur di gabung saja?"


Stella :"Tunggu, coba kamu bilang struktur jabatan di perusahaan kamu dan sebutkan jumlah orangnya."


Marcel :"CEO, komisaris utama independen ada 1, komisaris ada 5 orang, komisaris independen 3 orang, Audit dan Disk Oversight Commuitte itu ada 7 orang, ketua 1, 6 anggotanya, direktur nya ada 7, manajer nya ada 9, yang lainnya karyawan biasa-"


Stella :"Sudah, segitu saja sudah cukup, nanti kita bicarakan dirumah saja ya. Sekarang kita balik, tapi kamu bayar dulu."

__ADS_1


Marcel membayar makanan Stella, mereka segera pergi meninggalkan restoran.


__ADS_2