Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Rawat jalan


__ADS_3

Marcel tidur di samping Stella, meskipun begitu tempat tidur tidak terasa sempit karena tubuh Stella yang mungil. Suasana di rumah sakit dan di rumah beda, sehingga membuatnya terbangun lebih sering dan tidak bisa tidur nyenyak.


Pada pukul 06.00, perawat masuk ke kamar rawat Stella dan mengganti infus Stella. Stella meminta agar ia di rawat jalan saja, karena kondisi nya sudah membaik. Perawat menyarankan agar Stella tidak balik sebelum keadaan nya benar-benar pulih, tetapi semua keputusan tetap berada di tangan pasiennya. Selesai memasang infus, perawat itu keluar dari kamar.


Marcel :"Jangan pulang dulu lah, kondisi kamu belum pulih betul. Lagian kamu baru masuk rumah sakit kan semalam, sehari aja belum."


Stella :"Bukan begitu yang, orang tua kita di rumah. Masa iya kamu di sini, aku juga di sini."


Marcel :"Tidak apa yang, mereka ke kota ini untuk menjenguk kamu karena sedang sakit kok. Jadi tidak apa kalau kita di sini."


Stella :"Ah, terserah kamu lah." Membalikkan badannya.


Marcel :"Eh, ini pasti karena dedek yakan? Dedek yang buat mama manja begini ya nak?" Mengelus perut Stella.


Stella :"Awaslah ah," melempar tangan Marcel.


Marcel :"Ih, kok begitu?"


Stella :"Awaslah, tidak usah dekat-dekat. Kamu tidak pernah mengerti aku."


Marcel :"Eh kok begitu sayang? Aku mengerti kamu kok." Memeluk Stella.


Stella :"Awaslah, jangan tidur di sini sempit sekali."


Marcel :"Ya udah aku turun," turun dari tempat tidur.


Marcel berjalan menuju pintu, Stella melihatnya dengan tatapan sinis.


Stella :"Kamu mau kemana?"


Marcel :"Mau ke hati mu." Memberi senyuman lalu berjalan kembali menghampiri Stella.


Marcel duduk di kursi yang berada di samping Stella.


Marcel :"Kamu masih sakit yang, kalau pulang nanti kondisi kamu ngedrop lagi. Bibir kamu saja masih pucat sekali,"


Stella hanya diam, dan menonton televisi yang menyala.


Marcel :"Yang, kalau kamu memang sudah sembuh aku juga pasti bolehkan kamu pulang. Kamu harus ingat yang, yang perlu kamu jaga itu bukan hanya tubuhmu, ada anak kita juga di dalam. Kalau kamu sakit, mereka juga akan sakit. Kamu sayang kan sama mereka?" Membelai rambut Stella.


Stella tetap diam, bahkan ia membesarkan suara televisi saat Marcel berbicara.


Marcel :"Yang," mengambil remote tv dari tangan Stella. "Aku lagi bicara loh" mematikan televisi.


Stella :"Pulang tidak boleh, menonton juga tidak boleh, mau kamu itu apasih?"


Marcel :"Aku kan tadi lagi bicara, kamu bukan dengerin aku, malah besarin suara televisinya. Kamu gak menghargai aku banget ya," meletakkan televisi di atas meja." Yaudah, kalau kamu mau pulang ya pulang aja. Biar aku bilangin sama perawatnya."


Marcel berjalan keluar kamar memanggil perawat, kemudian ia dan perawat berjalan masuk ke kamar rawat Stella.


Marcel :"Dok, itu infus nya cepatkan saja. Dia mau pulang hari ini, kalau tidak bisa di cepatkan cabut saja."


Perawat :"Kondisi ibu belum pulih, apa ibu tetap mau pulang?"


Marcel :"Iya dok, cabut saja infusnya dok. Saya udah bayar administrasinya kok,"


Perawat :"Baik, sebentar ya."


Perawat itu berjalan keluar kamar.


Stella :"Kenapa kemarin kamu tolong aku? Kenapa tidak kamu biarkan saja aku mati?" Air mata mengalir di pipinya.


Marcel :"Kenapa lagi sih stell? Aku udah turuti kan permintaan kamu, kamu mau pulang kan? Aku sudah mengizinkanmu untuk pulang."


Stella :"Terserah kamu lah." Mengelap air matanya.


Perawat datang, dan langsung melepaskan infus Stella. Kemudian, perawat itu memberikan kursi roda kepada Stella, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Stella berjalan turun dan naik ke kursi roda, Marcel menggendong tas yang berisi pakaian dan mendorong kursi roda hingga keluar dari rumah sakit. Di parkiran, Stella berjalan memasuki mobil, sedangakan Marcel mengembalikan kursi roda ke dalam rumah sakit. Setelah itu Marcel masuk ke mobil dan melajukan mobilnya pulang ke rumah.


****


Sesampai di rumah, keluarga mereka heran melihat Stella yang sudah balik ke rumah.


Mama Stella :"Udah sembuh? Kok cepat banget?"


Marcel :"Dia mau pulang Tan, ya sudahlah saya bawa pulang."


Mama Stella :"Bagaimana sih kamu Marcel? Dia belum sembuh betul ini, kenapa kamu bawa pulang."


Mama Marcel :"Gimana kamu nih Marcel, kan bisa dilarang. Nanti Stella nya makin sakit yang ada,"


Marcel :"Ma, Tan. Aku capek banget, mau ke atas dulu." Berjalan menaiki tangga.


Marcel berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamar.


Stella :"Ma, Stella yang minta pulang. Tadi Marcel sudah melarang Stella, tapi Stella memaksa."


Mama mertua :"Ooh, kamu istirahat saja dulu."


Mama :"Iya nak, kamu tidur sana. Ayok mama bantu naik tangga."


Stella pun menaiki tangga di bantu oleh mamanya, kemudian ia masuk ke kamar sedangkan mamanya kembali berjalan menuruni tangga.


Di dalam kamar, Marcel sudah tampak mengenakan jas rapi. Stella duduk di tepi tempat tidur memperhatikan Marcel yang merapikan pakaian di depan cermin.


Stella :"Kamu mau kemana?"


Marcel :"Ke kantor," merapikan tangan kemejanya.


Stella :"Sel, apa tidak besok saja?"


Marcel :"Tidak bisa, sudah tiga hari aku tidak ke kantor."


Marcel :"Tidak usah seperti itu, aku sudah menuruti keinginanmu untuk pulang, meskipun aku di marahi seisi rumah akhirnya. Aku mau kerja, tolong jangan melarang ku."


Stella berlari memeluk Marcel yang sedang membuka pintu.


Stella :"Aku minta maaf Sel,"


Marcel :"Stell, aku mau pergi."


Stella :"Tiga hari tidak bertemu dengan ku, apa kamu tidak kangen dengan ku?"


Marcel :"Ya, ini kan sudah bertemu. Lepas dulu Stella, aku mau pergi."


Stella :"Aku masih kangen banget sama kamu, aku minta maaf Sel." Menangis


Marcel :"Stell," membelai rambut Stella. "Aku hanya tidak mau kamu sakit, aku melarang mu pulang karena aku sayang kamu. Aku tidak mau kondisi kamu ngedrop lagi. Udah kamu jangan nangis lagi ya sayang." Mencium kening Stella.


Stella :"Aku minta maaf ya, karena aku kamu jadi kena marah sama mama."


Marcel :"Mereka tidak marah kok, mereka hanya menasehati ku sayang. Sudah ya, jangan nangis lagi. Kamu istirahat ya," berjalan ke tempat tidur.


Stella :"Kamu mau pergi?" Menaiki tempat tidur.


Marcel :"Tidak sayang, aku temenin kamu di sini." Menaiki tempat tidur.


Stella membuka jas dan kemeja yang di kenakan Marcel, lalu ia meletakkannya di lemari.


Stella :"Buka celananya yang, nanti keriput."


Marcel pun membuka celana kain yang berwarna hitam dan melipatnya. Kini Marcel hanya memakai boxer, kemudian ia menaiki tempat tidur dan menarik selimut.


Marcel :"Kamu istirahat ya sayang." Membelai dan mencium kening Stella.

__ADS_1


Stella :"Yang, ada yang belum pernah kita bicarakan dan aku rasa sekarang kita harus membicarakannya." Meletakkan kepalanya di atas lengan Marcel.


Marcel :"Apa itu?" Terus membelai rambut lembut Stella.


Stella :"Nanti aku melahirkan operasi atau normal?"


Marcel :"Menurut ku operasi aja sih, kamu maunya apa?"


Stella :"Normal,"


Marcel :"Kenapa?"


Stella :"Kalau orang-orang cerita sih, lebih enakan normal. Emang kamu tau cara melahirkan normal ataupun operasi?"


Marcel :"Tau lah, dulu waktu Maxim lahir kan operasi aku sempat melihatnya, kalau normal hanya tau dari cerita-cerita teman aja dulu."


Stella :" Katanya operasi itu sakit."


Marcel :"Iya yang, aku tidak berani melihatnya waktu itu, aku melihat perut mama ku di masukin pisau."


Stella :"Kok bisa sih? Ruang operasi kan tertutup."


Marcel :"Waktu itu dokter nya bolak-balik buka gorden, dan aku di balik kaca mengintip intip."


Stella :"Ooh, aku pengen saat aku melahirkan kamu ada di samping aku, kalau operasi kan kamu tidak bisa masuk."


Marcel :"Aku usahakan nanti kalau kamu melahirkan aku ada di samping kamu, mau caranya operasi atau normal. Berarti kalau operasi adek 3 bulan lagi lahir ya?"


Stella :"Iya, ini kan dia sudah memasuki ke 4 bulan."


Marcel :"Aduh, papa udah gak sabar nak. Kita belum ada persipkan apa-apa yang." Mencium perut Stella.


Stella :" Aku masih pengen melahirkan normal, tetapi aku tidak tau aku bisa atau enggak melahirkan normal."


Marcel :"Emang ada yang tidak bisa ya?"


Stella :"Ada, kalau pinggulnya kecil tidak bisa."


Marcel :"Ooh begitu, kita tanya sama dokter saja mana baiknya. Aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya." Mengelus perut Stella.


Stella :"Ada tidak perasaan kamu bingung gitu?"


Marcel :"Bingung? Bingung apanya?"


Stella :"Kayak, kamu itu berada di antara posisi sedih ataupun senang begitu."


Marcel ;"Tidak, apa kamu sedih kalau kamu hamil Stell?"


Stella :"Tidak bukan seperti itu Sel. Jujur si satu sisi aku sedih, dan di sisi lain aku bahagia banget. Aku bahagia karena sebentar lagi aku akan punya anak dari rahim ku, aku akan menjadi seorang ibu, tetapi di sisi lain aku sedih karena aku sudah tidak bisa berduaan lagi denganmu, aku akan sibuk mengurus anak nantinya Sel."


Marcel :"Stell, aku akan selalu bersama mu. Kita masih bisa berduaan kok." Memberikan senyuman. "Aku bahagia banget, karena rumah ini akan kedatangan penghuni baru, anak kita." Memberikan senyuman. "Lagian, nantinya aku akan mengambil baby sister untuk mengurus anak kita, supaya kita masih bisa berduaan terus."


Stella :"Sel, aku tidak mau. Aku mau mengurusnya sendiri,"


Marcel :"Sayang, biar kamu tidak capek."


Stella :"Marcel, aku tidak mau anakku di urus orang lain, aku tidak mau mengambil baby siste. Aku yang akan mengurusnya, kamu harus ingat. Kamu juga harus mengurusnya, karena mereka itu anak kamu juga."


Marcel :"Iya pasti, aku akan mengurusnya juga. Aku lihat orang yang anaknya di urus baby sister lebih santai, bisa kemana-mana begitu yang."


Stella :"Kamu mau anak kamu di apa-apain sama baby sister?"


Marcel :"Tidak," menggelengkan kepalanya.


Stella :"Ha makanya, baby sister tu ada yang tidak baik yang. Jika dia belum berpengalaman, kasihan anak yang di jaganya yang."


Marcel :"Oh ya sudahlah, terserah kamu saja." Mecium kening Stella. "Kamu istirahat ya, aku juga mau istirahat semalam aku tidak ada tidur di rumah sakit."

__ADS_1


Beberapa menit, mereka terlelap di dalam tidur yang nyenyak.


__ADS_2