
Mama Marcel berjalan memasuki rumah Stella.
Mama :"Bi, kemana semua kok sepi?"
Bi Murti :"Stella di kamar Buk, yang lainnya lagi ada urusan."
Mama :"Ooh, ini ya tadi saya masak khusus buat Stella," memberikan rantang makanan. "Saya ke kamar Stella dulu ya," berjalan ke kamar Stella.
Mama Marcel membuka pintu kamar nya lalu masuk ke dalam kamar.
Stella :"Tante," memberi senyuman lalu mendudukkan badannya.
Mama :"Itu tadi Tante ada masak khusus buat kamu, supaya kandungan kamu sehat. Udah Tante kasih Bibi di dapur ya,"
Stella :"Makasih ya Tan,"
Mama :"Satu hari ini ada telponan dengan Marcel?"
Stella :"Ada Tan, tapi tidak bicara banyak soalnya dia lagi sibuk."
Mama :"Tante barusan telpon Marcel juga, Tante kesal banget sama dia Stell, dia sombong sekali dia bilang dia sedang sibuk."
Stella :"Iya memang dia sibuk mungkin Tan," memberi senyuman.
Mama :"Kamu jangan kepikiran tentang dia ya, mungkin dia lagi ada banyak masalah. Nanti Tante bakal nasehati dia lagi."
Stella :"Tidak lah Tan, Stella biasa aja."
Mama :"Ya sudah Tante pulang dulu ya, kamu makan ya Stell, biar kandungannya kuat. Dulu Tante saat hamil Marcel Tante juga di kasih makan itu sama mertua Tante."
Stella :"Sekarang Stella dapat giliran juga ya hahaha,"
Mama :"Tante pulang ya," membuka pintu kamar.
Stella :"Iya Tan, Stella tidak bisa antar ya Tan."
Mama :"Haha kamu jangan berlebihan, sudah di sini saja. Rumah Tante di depan aja kok haha," keluar kamar.
Stella berjalan keluar kamar, ia ingin mencoba makanan yang diberikan oleh Mama mertuanya.
Stella :"Bi, mana yang di kasih Mamanya Marcel?"
Bi Murti :"Oh itu Nona," menunjuk rantang makanan.
Stella :"Apa isi nya Bi?" Menarik rantang makanan.
Bi Murti :"Tidak tau Nona,"
Stella :"Banyak Bi, sini bi ayo makan."
Bi Murti :"Tadi kan baru makan Nona, bibi masih kenyang."
Stella :"Kalau tidak Bibi makan salad aja, kalau mau ambil ya Bi."
__ADS_1
Stella menyantap makanan yang di berikan oleh Mama Marcel, ada Salad buah, susu kedelai, dan ikan salmon. Setelah kenyang, ia kembali masuk ke kamar, dan meminum obatnya, ia memanggil Bi Murti agar tidur bersamanya.
Stella :"Marcel lagi ngapain ya Bi?"
Bi Murti :"Apa nona kangen?"
Stella :"Tidak, Stella hanya penasaran."
Bi Murti :"Apa mau di telvon?"
Stella :"Boleh, tapi jangan telvon dia Bi. Telvon satpam aja ya."
Bi Murti :"Bibi hanya ada nomor Risky."
Stella :"Dia saja Bi, nyalakan speaker nya ya"
Bi Murti mencari nomor Satpam yang bernama Risky itu di ponselnya, lalu ia memanggilnya.
Risky :"Halo Buk, ada apa?"
Bi Murti :"Halo, kamu lagi tugas ya?"
Risky :"Iya, kenapa buk?"
Bi Murti :"Pak Marcel lagi ngapain?"
Risky :"Bukannya pak Marcel masih di kota XX buk?"
Bi Murti :"Tidak, tadi pagi Tuan sudah balik."
Bi Murti :"Oh ya sudah, terima kasih." Mematikan telepon.
Stella :"Marcel kemana ya Bi? Coba telepon Bi."
Bi Murti :"Kenapa tidak nona saja yang menelpon nya?"
Stella :"Saya lagi ada masalah dengannya."
Bi Murti :"Tetapi nanti nona yang berbicara ya?"
Stella :"Iya Bi, telvon lah."
Bi Murti menelpon Marcel dari hp nya, tetapi Marcel tidak mengangkatnya, Bi Murti mencoba menelpon lagi tetapi tetap tidak di angkat.
Bi Murti :"Coba nona yang telepon,"
Stella mengambil hpnya lalu mencari nomor Marcel di ponselnya lalu menelponnya, Marcel mengangkatnya.
Stella :"Halo," berbicara pelan.
Marcel :"Kenapa? Aku sedang sibuk."
Stella :"Kamu dimana?"
__ADS_1
Marcel :"Dimana pun aku sekarang itu bukan urusan kamu lagi Stell,"
Stella :"Terserah kamu saja, aku muak dengan mu." Mematikan televon.
Stella menangis dan memeluk Bi Murti,
Stella :" Stella benci Bi, Stella sangat membencinya." Ucap Stella sambil meneteskan air matanya.
Bi Murti :" Nona yang sabar ya, tuan bilang apa sama Nona?"
Stella :"Dia bilang dia sedang sibuk, dia bilang dimanapun keberadaannya sekarang itu bukan urusan Stella Bi, padahal Stella hanya bertanya Bi. Dia sangat berubah sekarang, dia bahkan tidak memperdulikan ku lagi."
Bi Murti :"Maaf ya Nona, Bibi tidak bisa bantu apa-apa."
Stella :"Bi," melepaskan pelukan. "Ternyata benar ya, jika laki-laki sudah mendapatkan keinginannya dia akan melepaskannya."
Bi Murti :"Bibi tidak tau masalah itu Nona, Bibi juga tidak ingin mempengaruhi pikiran Nona."
Stella :"Berarti memang benar kan Bi?"
Bi Murti :"Memang kebanyakan pria seperti itu Nona, tetapi pria yang baik juga masih ada, semoga tuan salah satu dari pria yang baik itu Nona."
Stella :"Tidak Bi, dia jahat. Setelah dia mendapatkan keinginannya dia mencampakkan Stella begitu saja. Sekarang Stella sudah hamil Bi, dia tidak peduli sedikit pun, dia malah meninggalkan Stella di kota ini, sedangkan dia di sana pasti sedang mencari wanita lain." Air mata terus mengalir.
Bi Murti :"Nona jangan berfikir seperti itu dulu. Mungkin maksud tuan itu baik, agar di sini Nona bisa lebih mendapat perhatian dari orang tua Nona, orang tua tuan, bahkan dari bibi juga sekarang, sedangkan jika Nona tinggal di sana, Nona tidak bisa mendapat perhatian dari orang tua Nona, bahkan dari siapapun. Bibi juga kalau di sana sibuk mengurus pekerjaan Bibi, kan?" Membelai rambut Stella. "Bibi juga bercerai dengan suami Bibi, saat masih pacaran sikap dia manis sekali pada Bibi, dan ketika kami menikah, sikap dia berubah drastis, dia suka main kasar, berkata kasar, bahkan dia selingkuh. Saat dia masih bersikap kasar dan berkata kasar Bibi masih bisa memaafkannya, tetapi saat Bibi tau dia selingkuh, Bibi langsung meminta cerai darinya. Bibi bisa besarin anak Bibi sendirian kok."
Stella :"Sepertinya nasib Stella akan seperti Bibi, Stella akan membesarkan anak Stella tanpa ayahnya."
Bi Murti :"Jangan berfikir seperti itu dulu ya Nona, kita doakan saja semoga apapun yang terjadi itu Uda keputusan yang terbaik."
Stella membaringkan badannya, bi Murti juga membaringkan badannya di samping Stella. Dalam keheningan mereka tertidur pulas.
****
Cahaya mentari menyinari seluruh permukaan bumi, Stella bangun dari tidurnya. Ia membantu bi Murti belanja ke pasar dan memasak, ia, orang tuanya dan bi Murti sarapan bersama pagi ini.
Mama :"Besok Kevin akan menikah, tadi dia mengantar undangan ini khusus buat kamu." Menunjukkan undangan pernikahan.
Stella :"Buat aku aja? Mami tidak?"
Mama :"Tentu Mami juga, dia ingin kamu datang."
Stella :"Aku tidak bisa Mi, aku lagi tidak enak badan."
Mama :"Di sana kamu juga tidak ngapa-ngapain, kita hanya duduk tenang. Besok acaranya jam 09.00, jadi kamu harus bersiap-siap ya, kita jangan sampai telat. Besok mereka juga ikut,"
Stella :"Mereka siapa?"
Mama :"Orang tuanya Marcel, mempelai perempuan itu saudaranya mereka soalnya. "
Stella :"Ooh."
Selesai sarapan, mereka meninggalkan ruang makan. Bi Murti membereskan piring-piring bekas makan, Stella membantunya menyuci piring. Setelah itu, semua kembali beraktifitas dan mengerjakan pekerjaan nya masing-masing. Stella hanya berdiam diri di rumah, menghabiskan waktu dan harinya untuk beristirahat, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ringan.
__ADS_1
***
Malam hari, mereka menyiapkan untuk pakaian yang akan di pakai ke acara pernikahan saudara mereka besok, setelah itu mereka bergegas tidur agar besok tidak bangun telat.