Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Amarah Milka


__ADS_3

Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Di dalam kamar Stella langsung membaringkan badannya di tempat tidur. Sedangkan Marcel masih memainkan ponselnya di atas sofa.


Stella :"Marcel, tolong letakkan bantal di atas kaki ku." melihat Marcel.


Marcel mengambil sebuah bantal dan meletakkan di atas kaki Stella.


Marcel :"Kenapa?" meletakkan bantal dan mengangkat kaki Stella.


Stella :"Perut ku sakit lagi."


Marcel :"Masih keras? apa obatnya tidak ampuh?" memegang perut Stella.


Stella :"Masih lah, ih awas jangan pegang-pegang."Menepiskan tangan Marcel.


Marcel :"Tadi katanya siap." Menaiki tempat tidur.


Stella :"Aku cuma kasihan sama Milka. Kasihan ya dia." Menarik selimutnya.


Marcel :"Iya, tapi dia cewek baik-baik ya. Pemikirannya juga dewasa, tidak kayak kamu."


Stella :"Besok kamu menikah aja sama dia, aku menikah sama bang Gilang."


Marcel :"Ha, kenapa sih haha." Tertawa "Baru di bilang gitu aja langsung sewot."


Stella :"Sel tolong ambilin air hangat perut aku sakit banget."Memukul lengan Marcel.


Marcel segera keluar dari kamar menuruni tangga menuju ruang makan mengambil minuman air hangat.


Beberapa saat kemudian Milka keluar dari kamar untuk mengambil air panas untuk membuat susu Salsa, ia melihat Ada seorang wanita yang memeluk Marcel dari belakang. Milka sangat terkejut karena ia tau wanita itu bukan Stella, Milka berlari memasuki kamar Marcel.


Milka :"Stella." Membuka pintu.


Stella :"Eh kamu belum tidur?" mendudukkan badannya.


Milka :"Ada cewek lain tinggal di rumah ini?" mendekati tempat tidur.


Stella :"Enggak. Kenapa?" mengerutkan dahinya.


Milka :"Kamu jangan bohong Stella. Kalau kamu memang tidak suka sama pernikahan ini ya sudah kamu bercerai saja. Kalau kamu membiarkan cewek lain tinggal di sini itu justru bakal lebih menyakitkan Stella."

__ADS_1


Stella :"Milka, aku tidak berbohong. Yang tinggal di sini hanya aku, Marcel, dan para pembantu aku yang bernama bi Murti."


Milka :"Tadi aku lihat Marcel di peluk sama cewek di bawah Stella, itu pembantu kamu? Kamu harus pecat dia Stella."


Stella :"Ooh, bukan dia bukan pembantu. Dia Bella mantan Marcel, kebetulan dia tadi datang ke sini mau jumpai Marcel, dia gak ada tempat penginapan. Ya udah aku suruh menginap di sini saja."


Milka :"Astaga Stella. Mantan Marcel menginap di sini kamu biarin? kamu kenapa sih Stella? Itu cuma akal-akalan dia biar bisa dekat sama Marcel Stella. Rumah tangga bisa hancur kalau kayak gini Stella."


Marcel datang membawa air hangat di sebuah gelas.


Stella :"Milka, kalau memang hancur ya udahlah hancur aja, aku gak mau mikirin itu lagi."


Marcel :"Kenapa ?" meletakkan minuman ke atas meja.


Milka :"Aku pikir kamu orang baik ya." Menunjuk Marcel. "Aku menyesal loh tadi uda menyuruh Stella untuk mempertahan, kan rumah tangga kalian."


Marcel :"Eh, kenapa sih ? melihat Stella lalu melihat Milka.


Milka :"Kamu ngapain meluk cewek tadi di bawah? Kamu masih sayang sama mantan kamu? Kamu jangan berani ya nyakitin Stella, kamu lihat aja. Aku bakal suruh Prayoga buat bawa balik Stella. kalau memang dari awal tidak setuju dengan pernikahan ini kamu bisa bilang, kamu laki-laki kan? Niat kamu nikahin Stella hanya untuk menyakitinya? Padahal kalian menikah baru mau berjalan 4 bulan loh. Stella, aku yakin kalau sikap dan perbuatan dia kayak gini pernikahan kalian gak akan bertahan lama Stell." Melihat Stella. " Kalau kamu menganggap pernikahan kamu ini hanya main-main mendingan kamu ceraikan dia." Menunjuk Stella. " Jangan jadi laki-laki pengecut. Kamu itu pengecut!"


Milka berjalan keluar dari kamar.


Milka pun berhenti berjalan dan melihat ke arah Marcel.


Milka :"Kau tidak mengerti apa yang aku bilang? Aku mau kau menceraikan Stella. Mengerti kau!" menunjuk Marcel.


Marcel :"Kau siapa? Ini pernikahan ku. Kau urus aja anak yang di perut mu."


Milka :"Haha" tertawa mengejek. "Aku bakal bilang sama mama Stella perilaku busuk mu ini."Makasih udah kasih penginapan, tapi aku tidak butuh." Berjalan ke arah .


Stella terbengong melihat perdebatan mereka, ia mengejar Milka ke kamarnya, Marcel menarik tangannya.


Marcel :"Udah biarin aja." Menarik tangan Stella.


Stella :"Aku benci banget ya sama kamu." Menarik tangannya dan berjalan ke kamar yang di tempati Milka.


Milka keluar dengan membawa tas dan menggendong Salsa yang sedang tertidur. Gilang keluar dari kamar dan menutup pintu kamar. Stella menghampiri mereka.


Stella :"Milka, jangan gini dong. Salsa juga lagi tidur Milka." Memegang tangan Milka.


Milka :"Stella, Kamu harus ikut aku, kamu tidak boleh tinggal di sini."

__ADS_1


Stella :"Milka kita bicaraian dulu baik-baik ya." Menarik Milka ke sofa.


Milka :"Dulu kamu pintar banget mengambil keputusan ya Stella, tapi kenapa sekarang kamu kayak begini?


Marcel meninggalkan mereka, ia menaiki tangga menuju lantai atas.


Stella :"Milka, dia hanya emosi. Kamu jangan terlalu pikirkan itu."


Milka :"Stella tadi dia di bawah di peluk sama cewek itu, kamu biarin aja? kamu kenapa Stella? kan aku sudah bilang, kalau kamu tidak suka sama pernikahan kalian ini kamu bisa minta cerai. Kamu jangan mempertahan, kan pernikahan seperti ini. Kamu itu istri dia, sudah seharusnya dia menghargai kamu. Bukan malah menjalin hubungan dengan mantannya."


Stella :"Milka, kamu salah paham."


Milka :"Aku tidak salah paham Stella, dia bukan lelaki yang baik. Tadi aja dia menyuruh aku untuk mengurus anak yang di perut ku. Dia mau menghina aku?"


Stella :"Dia ke bawa emosi Milka."


Milka :"Kamu kenapa sih? kok belain dia? dia salah."


Gilang :"Milka, sabar dulu. Kasihan anak yang di perut kamu." Mengelus punggung Milka.


Stella :"Kamu salah paham Milka, itu yang meluk Marcel itu namanya Bella, dia mantan Marcel. Tadi aku udah kasih tau kamu, kan? kalau dia ke sini cuma mau menemui Marcel. Dia tidak tau mau menginap di mana, yang kasih dia menginap di sini itu juga aku bukan Marcel. Marcel tidak setuju dia menginap di sini, tapi aku kasihan melihat Bella. Aku yakin kok Milka, kalau sih Marcel itu tidak akan menjalin hubungan lagi dengan Bella, aku sangat yakin. Marcel sudah tidak mencintainya, tapi kalau Bella masih mencintai Marcel. Bahkan Bella mengatakan itu di depan aku. Tapi ya sudahlah kalau aku pikirkan semuanya kepala aku bisa pecah Milka."


Milka :"Kamu tidak bisa percaya begitu saja sama perkataan Marcel. Kamu ingat perkataan aku Stella, kalau kamu tidak nyaman kamu tinggalkan saja."


Stella :"Iya Milka, aku uda mikir, kan hal itu. Maafin Marcel kalau menurut kamu tadi dia menghina kamu. Tapi dia tidak kayak begitu kok Milka, dia baik. Tadi itu dia hanya emosi. Mungkin dia sakit hati waktu kamu bilang kamu akan menyuruh Prayoga membawa aku, kamu juga bilang dia pengecut. Dia hanya emosi itu Milka percayalah."


Gilang :"Milka, mungkin kamu juga emosi, kamu kan lagi hamil. Tetapi perkataan kamu itu juga salah. Kamu tidak boleh berkata akan menyuruh Prayoga membawa Stella, tentu dia sakit hati Milka. Bagaimana pun itu sekarang dia sudah menjadi suami Stella. Dia pasti kesal, Kamu juga bilang dia pengecut tadi, lelaki itu tidak suka di katakan seperti itu. Kalau Misalkan tadi aku jadi Marcel malahan aku udah menampar kamu loh, udah kamu jangan emosi lagi ya. Tadi kan Stella juga udah menjelaskan semuanya."


Stella :"Jangan pergi ya, ini udah malam banget kasihan Salsa. Tidur sini aja dulu ya."


Milka :"Maafin aku ya Stella, karena aku kalian berkelahi. Mungkin tadi aku kebawa emosi karena melihat suami kamu pelukan dengan wanita lain."


Stella :"Iya gak apa-apa kok. Bang bawa Milka balik ke kamar ya."


Milka :" Aku ke kamar ya Stella, perut aku udah sakit banget."


Stella :"Perut mu kenapa?"


Gilang :"Tidak apa-apa Stella, itu biasa." Mengangkat Salsa dan tas.


Mereka berjalan kembali masuk ke kamar, sementara Stella berjalan menaiki tangga mencari Marcel.

__ADS_1


__ADS_2