
Sore hari, Marcel dan Stella mengantar orang tua mereka ke bandara, mereka juga menunggu hingga pesawat berangkat meninggalkan bandara itu. Kemudian, Marcel melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
Marcel :"Yang, kamu lihat apa sih?" Mengerem mobilnya mendadak.
Stella :"Itu mobil siapa ya?"
Marcel :"Mobil mana?"
Stella :"Itu, mobil warna hitam yang Lamborghini." Menunjuk mobil.
Marcel :"Yah, kamu. Mana aku tau sayang, emang kenapa?"
Stella :"Cantik banget," memberikan senyuman.
Marcel pun melajukan kembali mobilnya karena cuaca sudah sangat mendung.
Stella :"Yang, perut aku yang." Memegang perutnya.
Marcel :"Kenapa yang? Kenapa?" Mengerem mobilnya.
Mobil - mobil yang ada di belakang, mengklakson karena Marcel mengerem secara mendadak.
Stella :"Mobilnya majukan aja yang."
Marcel pun melajukan kembali mobilnya.
Marcel :"Kenapa perutmu?" Memegang perut Stella.
Stella :"Tadi kayak ada yang tendang, sekarang sudah tidak ada."
Marcel :"Adek? Adek udah bisa tendang?"
Stella :"Aku tidak tau yang, masak sih iya cepat banget? Tapi aku terasa banget yang." Memegang perutnya.
Marcel :"Usia kandungan kamu berapa bulan yang?"
Stella :"Masih 14 minggu, kita ke dokter yok. Aku takut tadi itu bukan tendangan yang."
Marcel :"Baiklah."
Marcel pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit langganannya. Kebetulan rumah sakit itu sudah tidak terlalu jauh.
***
Sesampai di rumah sakit, mereka berjalan memasuki rumah sakit, dan langsung memasuki ruang kandungan karena kebetulan sedang tidak ada pasien.
Dokter :"Halo, bawa buku kandungannya?"
Stella :"Tidak dok, soalnya baru dari luar juga. Mendadak banget mau ke sini dok."
Dokter :"Oh, besok kalau ke sini di bawa ya Bu Stella. Ada apa ini?"
Stella :"Tadi di perjalanan, perut saya merasakan tendangan dari dalam dok, saya ingin cek apakah itu benaran tendangan atau ada masalah lain? Soalnya usia kandungan saya masih 14 minggu."
Dokter :"Kita USG ya Bu, silahkan berbaring."
__ADS_1
Marcel dan Stella pun berjalan menuju tempat tidur pasien, Stella berbaring di atasnya. Kemudian dokter itu mengoleskan gel ke atas perut Stella, lalu ia mulai mengecek perutnya.
Dokter :"Itu tendangan ibu, kondisinya baik-baik saja ya. Ayok silahkan turun."
Mereka pun kembali duduk di kursi.
Dokter :"Hanya 3 dari 10 orang yang bayinya dapat menendang di usia muda Bu. Tetapi tendangannya juga hanya sekali-sekali saja dan sebentar. Ini anak pertama atau ke berapa?"
Stella :"Pertama dok."
Dokter :"Biasanya anak pertama itu mulai menendang saat usia kandungannya 24 Minggu atau lebih, dan anak ke dua itu mulia menendang usia 13 bulan atau lebih. Tetapi tidak perlu khawatir Bu, itu hal biasa. Bahkan itu menunjukkan anak ibu dalam keadaan sangat sehat." Memberikan senyuman.
Marcel tersenyum mendengar perkataan dokter, ia juga merasa sangat senang.
Stella :"Dok, apa vitamin yang bagus buat kandungan ya?"
Dokter :"Banyak kok Bu, ibu bisa cari informasi nya di internet. Kalau mau saya juga bisa memberikan resep untuk ibu, apa selama ini ibu minum susu atau vitamin?"
Stella :"Kalau susu masih rutin dok, kalau vitamin jarang. Saya mau resepnya ya dok, nanti biar di tebus di apotik sekalian."
Dokter :"Baiklah Bu, ini resepnya. Ibu bisa ambil di apotik, sekalian bayar biaya usg nya di sana."
Marcel :"Makasih ya Dok, kami permisi."
Stella dan Marcel keluar dari ruang kandungan, dan mengantri untuk menebus obat. Saat tiba gilirannya, Marcel maju berjalan yang mengambil obatnya, sedangkan Stella tetap duduk di kursi tunggu. Setelah obat telah di tebus, mereka kembali ke rumah.
Di rumah, mereka langsung mandi bersama karena sudah sangat gerah. Selesai mandi Marcel mengambil makan malam di bawah untuk dirinya dan Stella, karena malam ini Stella ingin makan di lantai 4 sambil menikmati udara malam yang segar. Marcel berjalan menuruni tangga, dan Stella menunggu sambil duduk di sofa memainkan hp Marcel. Seperti biasa, Stella selalu mengecek isi pesan dan chat yang masuk ke ponsel Marcel atau pun yang Marcel kirim. Stella membuka chat grup di WhatsApp yaitu alumni SMK angkatan 97. Stella membaca semua chat dari atas, mata Stella tertuju pada panggilan sayang yang di kirimkan Marcel. Marcel menjawab pertanyaan dari seorang wanita yang merupakan anggota di grup itu juga. Marcel menjawabnya " iya sayang, kapan-kapan ketemu." Tidak lupa ada emoticon love di kirimnya, Stella membacanya sampai habis, wanita itu juga memanggil sayang dengan Marcel. Saat Marcel masuk ke kamar, Stella langsung mengembalikan dan meletakkan hp itu di atas meja.
Marcel :"Kenapa yang?" Melihat Stella yang gugup.
Stella :"Tidak apa," memberikan senyuman terpaksa.
Stella dan Marcel pun berjalan keluar kamar, dan berjalan menaiki tangga untuk menuju lantai 4. Tidak ada percakapan selain menyuruh Stella untuk berhati-hati. Di lantai 4, mereka makan bersama di ruangan terbuka itu. Tadinya Stella berpikir ini adalah makan malam romantis untuk dirinya, tetapi semua yang di pikirnya itu salah. Hatinya terasa teriris melihat percakapan di grup alumni SMK di hp Marcel tadi, hatinya menjadi gelisah dan tidak tenang. Namun ia berusaha menyembunyikan semuanya dari Marcel. Tidak ada percakapan di antara mereka saat makan malam hingga makanan itu habis.
Stella :"Sel, aku turun duluan ya. Aku ingin istirahat." Berdiri dan mengambil piring nya dan Marcel untuk di kembalikan ke bawah.
Marcel :"Sini aja dulu sayang, tapi mau nikmati udara segar." Menarik tangan.
Stella :"Aku mau tidur Sel."
Marcel :"Ya sudah sini tidur di samping aku."
Stella :"Aku mau tidur di kamar aja Sel,"
Marcel :"Sini biar aku aja yang antar piringnya." Mengambil piring dari tangan Stella.
Stella :"Makasih Sel." Berjalan masuk ke dalam.
Marcel pun menyusul Stella masuk ke dalam, Stella berjalan menuruni tangga menuju lantai 2 ke kamar mereka.
Marcel :"Hati-hati ya sayang."
Stella hanya diam dan terus berjalan.
Marcel :"Kamu kenapa yang?"
__ADS_1
Stella :"Tidak apa kok." Melihat ke belakang dan memberikan senyuman.
Sesampai di kamar, Stella pun masuk ke dalam sedangkan Marcel tetap berjalan menuruni tangga untuk mengantarkan piring ke dapur. Saat ingin menaiki tempat tidur, Stella teringat belum minum susu hari ini, Stella pun keluar kamar berjalan menuruni tangga menuju dapur untuk membuat susu. Ia bertemu dengan Marcel di dapur.
Marcel :"Kenapa lagi yang? Ada yang mau di ambil?"
Stella :"Aku mau minum susu," mengambil gelas.
Marcel :"Ooh, kenapa tidak suruh aku aja tadi yang. Sini biar aku buatkan,"
Stella :"Biar aku aja Sel."
Marcel :"Kamu kenapa yang? Kamu marah ya sama aku? Aku ada salah? Kalau aku ada salah bilang yang."
Stella :"Emang aku kenapa?" Menegukkan susu sampai habis
Marcel :"Aku ada salah ya yang? Kamu kasih tau aku kalau aku ada salah yang." Memeluk Stella dari belakang.
Stella :"Sel, aku mau naik ke kamar." Sambil mengusap air matanya agar tidak di lihat Marcel.
Marcel :"Kalau aku ada salah aku minta maaf yang, aku tidak mau kamu diamkan terus seperti ini."
Stella :"Aku tidak diamkan kamu kan? Aku hanya ingin istirahat Sel. Aku duluan ya," berjalan menuju tangga.
Marcel berlari mengejar Stella dan menggendongnya, ia tidak ingin Stella melangkahkan kaki di tangga yang banyak itu. Kemudian Marcel meletakkan Stella di tempat tidur.
Stella :"Makasih Sel," menarik selimutnya.
Marcel pun berbaring di samping Stella dan menarik selimut. Ia mengambil ponselnya di atas meja dan memainkannya sedangkan Stella menutup matanya berpura-pura tidur. Stella melihat Marcel yang senyum-senyum menatap ponselnya. Rasa sakit hati dan cemburu semakin di rasakannya, Stella membalikkan badannya membelakangi Marcel. Air matanya mengalir deras di pipinya. Marcel yang mendengar isakan tangis pun membalikkan tubuh Stella.
Marcel :"Kamu kenapa yang? Kenapa kamu menangis?"
Stella :"Ha? Aku tidak apa." Mengelap air matanya.
Marcel :"Duduk dulu, duduk." Menepuk tempat tidur.
Stella pun duduk dan bersandar.
Marcel :"Kamu kenapa? Kamu cerita sama aku, kamu jangan pendam sendirian begini Stell." Mengusap air mata yang mengalir di pipi Stella.
Stella :"Aku gak apa-apa."
Marcel :"Kenapa sih kamu bohong sama aku? Kamu pikir aku tidak kenal dengan kamu? Kalau kamu tidak kenapa-napa kenapa kamu harus menangis? Kamu ada masalah? Cerita dong Stella."
Stella hany menganggukkan kepalanya, kemudian ia membaringkan badannya lagi.
Marcel :"Kamu kenapa sayang? Cerita sama aku."
Stella :"Aku tidak apa Sel, aku mau tidur." Menarik selimutnya.
Marcel :"Jawaban kamu tidak masuk akal Stell, tidak terjadi apa-apa tetapi kamu menangis."
Stella :"Mungkin ini hanya mood dari bayi."
Stella menutup matanya, Marcel pun mengelus-elus rambut Stella dan bolak balik mencium keningnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertingkah manis sekali seperti ini Sel? Sedangkan di WhatsApp kamu memanggil sayang kepada wanita lain?" Ucap Stella dalam hatinya.
Marcel berbaring di samping Stella dan memeluk Stella, ia mengelus-elus perut Stella dan mencium kening Stella terus sampai ia tidur. Beberapa menit kemudian, Marcel dan Stella sama-sama tertidur pulas.