
Selesai mandi, Stella mengenakan pakaiannya lalu berbaring di kamar sambil memainkan ponselnya.
30 menit kemudian, Stella mencari keberadaan Marcel.
"Marcel kemana ya? Kok dari tadi tidak kelihatan." Tanya Stella dalam hatinya sambil menuruni tempat tidur. Ia berjalan keluar rumah dan melihat ada mobil Marcel didalam garasi, lalu Stella kembali masuk ke rumah. Stella berjalan menaiki tangga dan menemukan Marcel di sebuah ruangan kecil yang hanya terdiri dari sofa, meja dan sebuah televisi. Tampak 21botol bir terletak di meja itu, 1 botol lagi Marcel pegang dan setengah botol sudah habis. Mata Marcel juga tampak merah seperti habis menangis, ia memegang kepalanya menarik rambutnya sendiri. Stella berjalan mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
Stella :"Marcel," duduk di sampin Marcel.
Marcel kaget, ia melemparkan botol bir yang dipegangnya, botol menjadi pecah dan iair pun tumpah.
Stella :"Kamu kenapa? Ini apa?" Menunjuk botol bir.
Marcel :"Ngapain kamu ke sini Stell, sana pergi. Biar aku yang membersihkannya."
Stella :"Kamu kenapa? Kamu ada masalah?"
Marcel :"Keluar Stell!" Berteriak. "Masalah ku banyak, banyak sekali, keluar!"
Stella :"Masalah apa Sel? Ceritakan padaku."
Marcel :"Kamu keluar ya, jangan sampai aku menghabisimu di sini." Mendorong meja hingga terbalik.
Stella sangat takut, tubuhnya gemetar. Tetapi ia tidak akan keluar dari ruangan ini sebelum mendapat jawaban.
Stella :"Sepertinya kamu memang senang sekali aku di marahin mamamu ya,"
Marcel :"Kau keluar!" Mendorong Stella.
Stella :"Kamu ngapain minum beginian ha? Ngapain sel?"
Marcel :"Bukan urusan mu, keluar!" Menunjuk pintu.
Stella :"Hanya lelaki pengecut yang minum beginian, dan kamu pengecut Sel."
Marcel sangat kesal mendengar perkataan Stella, emosi nya sudah tak tertahankan. Ia mendorong Stella hingga tejatuh ke sofa, lalu ia mencekik leher Stella. Stella tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuh Marcel sangat kuat, ia pasrah karena ia juga yakin Marcel tidak akan setega itu padanya. Air mata keluar dari mata Stella mengalir di pipinya, Marcel pun mengeluarkan air matanya. Ia melepaskan tangannya dari leher Stella, dan langsung keluar ruangan menuruni tangga lalu masuk ke dalam kamarnya. Stella mendudukkan badannya, lehernya terasa sakit. Jika tadi Marcel tidak melepaskan tangannya tepat waktu mungkin ia sudah kehilangan nafasnya. Stella memungut serpihan kaca bekas Botol bir itu, lalu mengelap air bir yang tumpah. Stella membawa serpihan kaca yang ia letakkan di sekop dan membawa sebotol bir yang masih berisi penuh. Stella membuang serpihan kaca itu ke tong sampah, lalu ia masuk ke dalam kamar Marcel. Tampak Marcel duduk melamun di lantai, Stella meletakkan botol bir di atas meja, lalu langsung keluar dari kamar. Marcel menarik tangan Stella, lalu mengunci pintu.
Marcel :"Maafkan aku Stell, maafkan aku." Memegang tangan Stella
Stella :"Aku sudah memaafkanmu, buka pintu nya."
Marcel :"Aku tadi benar-benar emosi Stell, maafin aku. Kumohon maafin aku," memeluk tubuh Stella dengan kuat.
Stella :"Aku sudah memaafkan mu, buka pintu nya." Mendorong tubuh Marcel dan mengambil kunci dari tangannya.
Stella membuka pintu itu lalu berjalan keluar kamar, ia duduk di ruang keluarga lalu menonton televisi. Sementara Marcel melamun memikirkan perbuatannya tadi kepada Stella. Saat iklan di televisi Stella sangat ngiler melihat jus alpukat, ia ingin sekali meminumnya. Stella ingin membelinya di restoran depan komplek, saat keluar dari rumah ternyata Papa dan mama Marcel telah balik.
__ADS_1
Mama :"Mau kemana Stella?"
Stella :"Mau ke depan sebentar Tante,"
Mama :"Mau ngapain?"
Stella :"Beli jus alpukat Tan, lagi kepingin."
Mama :"Eh eh tunggu, Marcel mana?"
Stella :"Lagi tidur Tan,"
Mama :"Oh biar oom yang kawanin ya nanti kamu kenapa napa, Pa kawani Stella sebentar dia lagi pengen minum jus."
Papa :"Oh ayo Stella," masuk ke dalam mobil.
Stella pun masuk ke dalam mobil, papa mertuanya langsung melajukan mobilnya.
Papa :"Kalau kamu kepingin makan itu minum itu, kamu bilang Marcel aja Stella."
Stella :"Biasanya Marcel yang beliin kok om, tadi karena kebetulan Marcel lagi tidur dan tempat nya juga tidak jauh,"
Papa :"Ooh, iya sih tidak apa-apa. Kalau jalan kaki boleh saja tapi di kawani Marcel."
Stella :"Oh iya om, oom mau jus apa?"
Stella :"Sebentar ya om," turun dari mobil.
Stella pun masuk ke restoran dan memesan 12 jenis jus yang berbeda, 4 jus alpukat, 4 jus jeruk, 4 jus mangga ,dan 4 lagi jus jeruk. Setelah semua pesanan telah jadi, Stella langsung membayar dan membawa pesanan jus itu, Papa mertuanya yang melihat Stella membawa banyak minuman pun turun dari mobil membantu Stella membawanya, lalu ia melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Papa :"Ini biar oom yang bawa masuk, kamu panggil adik adik dan orang tuamu kamu saja." Membuka pintu.
Stella :"Oh makasih ya om," turun dari mobil.
Stella pun berjalan ke rumahnya memanggil orang tuanya, Papa Marcel masuk ke dalam rumah membawakan jus itu ke dapur. Di dapur, semua makanan telah dihidangkan hanya menunggu keluarga Stella.
Stella bersama keluarga nya datang dan langsung duduk di meja makan yang di dapur.
Mama :"Stella, panggil Marcel."
Stella langsung berjalan ke kamar, dan membuka pintu.
Stella :"Sel, ayok makan orang sudah menunggumu." Berdiri di pintu.
Marcel pun langsung keluar kamar dan bergabung di meja makan. Ia duduk di samping Stella, mereka pun memulai makan malam.
__ADS_1
***
Marcel :"Banyak banget mama buat jusnya." Meminum jus alpukat.
Mama :"Makanya Marcel kamu jangan tidur terus, itu bukan mama yang buat, tetapi Stella yang membelinya."
Marcel :"Oh," melihat Stella.
Papa :"Tadi istri kamu jalan keluar rumah sendirian, ternyata dia lagi kepingin jus alpukat. Dari pada dia sendiri ya Papa temani dia beli."
Marcel :"Oh," sambil melihat Stella.
Mereka melanjutkan makanan mereka hingga habis, selesai makan Eylard langsung pulang kerumah, sedangkan Maxim dan Bastyan bermain di kamar Maxim. Orang tua Stella, orang tua Marcel, Stella dan Marcel masih duduk di ruang makan bercerita-cerita, tiba-tiba muncul pertanyaan seperti petir menyambar di terik matahari.
Stella :"Tante, kalau misalkan Stella keguguran bagaimana ya?"
Mama Marcel :"Kok begitu sih pertanyaannya Stella, makanya jaga baik-baik dong."
Stella :"Iya itu pasti, tapi Stella pengen tau apa tanggapan Tante kalau Tante kehilangan calon cucu Tante."
Mama Marcel :"Tentu Tante sedih, tapi kalau sudah kejadian kita tidak bisa berbuat apa-apa yakan, makanya Stella Tante minta tolong banget sama kamu supaya kamu jaga kandungan kamu ini, kandungan kamu masih muda, resiko keguguran lebih besar."
Papa Marcel :"Iya Stella, dulu waktu Tante hamil Marcel dia hampir saja keguguran, karena dia terlalu sibuk sama aktivitasnya."
Mama Stella :"Kamu jaga baik-baik Stella, kamu lihat Tante dan oom sepertinya sangat menunggu kelahiran cucunya itu haha,"
Mama Marcel :"Tentu dong hahaha, emang kamu tidak ya hahaha?" Melihat mama Stella sambil tertawa.
Mama Stella :"Sama dong haha, tapi diam diam saja hahaha, Masih muda nih belum cocok jadi nenek hahaha,"
Mama Marcel :"Alah dasar haha,"
Papa Marcel dan papa Stella pun ikutan tertawa.
Stella :"Lalu kalau Stella dan Marcel bercerai bagaimana?" Melihat mamanya dan mertuanya.
Mama Stella :"Stella, kamu kalau mau berbicara berfikir dulu," Membesarkan matanya.
Mama Marcel :"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa Marcel melukai mu?"
Stella :"Tidak Tan, Stella hanya ingin tau saja."
Papa Stella :"Kalian ada rencana mau bercerai?"
Marcel :"Tidak ada om, dia kan hanya bertanya, ma, pa, Tante dan om, Marcel dan Stella mau istirahat duluan ya. Ma, biarkan bibi yang membersihkan piring-piring bekas makannya ya," memegang tangan Stella dan menariknya.
__ADS_1
Stella dan Marcel pun masuk ke dalam kamarnya,