
Tepat pada pukul 03.00 Marcel terbangun, hampir tubuhnya di gigit oleh nyamuk. Ia berjalan meninggalkan ruang terbuka itu dan menutup pintunya. Ia berjalan menuruni tangga dan masuk ke kamarnya, ia begitu kaget ketika melihat Stella yang masih menonton televisi.
" Sepertinya tadi saat aku tertidur di lantai 4 itu sudah pukul 12.00, dan sekarang ini sudah pukul 03.00 tetapi dia belum tidur juga."Ucap Marcel dalam hatinya.
Marcel menaiki tempat tidur dan menarik selimutnya. Begitu Marcel menaiki tempat tidur, Stella segera berdiri dengan memegang perutnya. Ia berjalan menuruni tangga mengambil air hangat di ruang makan.
"Kemana lagi dia? Apa dia tidak nyaman saat ada aku di sini?" Ucap Marcel dalam hatinya sambil berjalan ke luar kamar.
Marcel melihat Stella dari atas, ia menemukan Stella di ruang makan sedang minum. Ketika Stella hendak berjalan menaiki tangga, Marcel segera berlari memasuki kamar agar tidak di lihat Stella. Ia langsung menaiki tempat tidur dan menarik selimut berpura-pura untuk tidur. Stella membuka pintu dengan pelan, ia tidak ingin membangunkan Marcel dari tidurnya. Ia juga menutup pintu dengan sangat pelan dan langsung mematikan televisi yang masih menyala. Stella membesarkan suhu AC nya, karena ia merasa kepanasan dan menaiki tempat tidur membaring, kan tubuhnya. Ia mencoba untuk tidur namun masih tidak berhasil, ia sangat gelisah karena perutnya sangat sakit. Ia turun dari tempat tidur lagi dan berjalan menujur toilet yang berada di dalam kamar itu, ia masuk ke dalam toilet itu.
"Kenapa lagi dia ke toilet? Apa dia tidak bisa tenangs sebentar saja? Dari tadi bolak balik. Apa perutnya sakit lagi?" Ucap Marcel dalam hatinya.
Tidak lama kemudian, pintu toilet itu terbuka. Stella keluar dari dalamnya, Stella membuka laci meja Marcel dan mengambil minyak kayu putih dari dalam nya. Ia menaiki tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Ia mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya.
"Ini bau minyak kayu putih. Perutnya sakit lagi?" Ucap Marcel dalam hati sambil membuka sedikit matanya melihat ke arah Stella.
Ia melihat Stella yang sedang membalur, kan minyak ke atas perutnya.
Stella mengambil hp nya dan memainkannya.
"Kenapa dia tidak tidur saja daripada harus bermain hp? Kalau perut sakit itu di bawa tidur bukan malah bermain hp ." Ucap Marcel dalam hatinya.
Hp Stella berdering, Stella langsung mengangkat telepon itu. Marcel sangat penasaran, ia terus menguping pembicaraan namun ia tetap tidak tau itu siapa.
Stella : " Iya Pak, nanti pagar nya di pukul saja ya Pak, biar security nya kedengaran. Itu kan saya pesan 3 , 2 nya untuk satpam dan 1 lagi suruh security antar kan sama saya ya Pak, bilang aja itu pesanan Stella." Ucap Stella di dalam telepon.
"Apa yang dia pesan? Kenapa dia kasih satpam? Ada-ada saja dia ini." Ucap Marcel dalam hatinya.
Stella menoleh ke arah Marcel, Marcel langsung menutup matanya.
Stella :"Hei, kamu masih bangun?" Memegang lengan Marcel." Marcel, Marcel." Menggoyangkan tubuhnya.
Marcel :"Apa sih? Ganggu tidur saja." Membuka matanya.
Stella :"Kamu belum tidur ya?" Melihat Marcel.
Marcel :"Sudah tadi, tapi kamu bangunkan." Menutup kembali matanya.
Stella :"Alah bohong." Meletakkan ponsel di telinganya.
Stella :"Terima kasih ya Pak." Menutup telepon.
Stella turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuruni tangga. Ia mengambil bungkusan sate gurita dan Sup kerang dari tangan Risky, security rumahnya. Stella berjalan menuju ruang makan mengambil piring dan mangkuk, ia meletakkan makanan ke dalamnya. Ia mendudukkan badannya di kursi namun ia teringat Marcel yang tadi seperti nya sedang bangun. Ia membawa makanan ke kamar.
Stella :"Marcel, kamu mau makan? Aku beli makanan nih." Meletakkan makanan di atas meja dan duduk di tepi tempat tidur.
Marcel :"Tidak."
Stella :"Kamu tadi sudah makan?"
Marcel :"Sudah, diam lah aku mau tidur."
Stella :"Perut kamu aja masih kempes." Memegang perut Marcel. " Sel, ayok makan." Menarik tangan Marcel.
Marcel pun duduk dan bersandar.
Marcel :"Kamu kenapa sih? Tadi aku di bangunin sekarang di suruh makan. Kan aku sudah bilang aku sudah makan."
Stella menyuap makanan ke mulut Marcel, Marcel menepiskan tangan Stella, sendok pun terlempar jatuh ke lantai. Marcel tidak bermaksud melempar, kan sendok itu hingga terjatuh, mungkin tangan Stella yang tidak kuat memegang sendok itu. Stella mengambil sendok yang jatuh dan berjalan hendak membuka pintu untuk turun mengambil sendok baru.
Marcel yang merasa bersalah menyuruh Stella agar ia saja yang mengambil sendok. Stella duduk di sofa sakit di perutnya kambuh lagi. Marcel datang membawakan sendok yang baru dan mengelap sup yang tumpah dari sendok tadi.
Marcel :"Nih." Memberikan sendok kepada Stella " kenapa perut mu? Masih sakit?" Berjalan ke tempat tidur.
Stella :"Tidak." Berjalan mengambil makanan yang di letakkannya di atas meja.
Stella duduk di tepi tempat tidur sambil memakan makanannya. Ia menyuapkan kepada Marcel sesendok kuah sup kerang. Marcel membuka mulutnya dengan lebar, karena tidak ingin mengecewakan Stella.
Marcel :" Makasih."
__ADS_1
Stella :"Enak, kan?" Melihat Marcel dan memasukkan kuah sup ke mulutnya sendiri.
Marcel :"Iya, kamu lapar?" Membuka mulutnya lagi.
Stella :"Tidak, hanya ingin makan saja." Meminum kuah sup sampai habis.
Stella meletakkan mangkuk yang sudah kosong dan mengambil piring yang berisi sate gurita. Mereka menghabis, kan sate gurita itu bersama.
Marcel :"Biar aku yang letakin ke bawah nanti." Memegang tangan Stella yang sudah mengangkat piring. " Besok kamu pergi naik apa?" Melihat Stella.
Stella :"Pergi? Kemana?" Menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur dan menarik selimut.
Marcel :"Ke rumah orang tua mu." Menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur.
Stella :"Kamu memang berharap aku pergi ya?" Melihat Marcel.
Marcel :"Ya terserah kamu saja, aku sudah tidak akan melarang mu lagi." Memberikan senyuman terpaksa. " Jadi pergi pakai apa?"
Stella :"Aku tidak pergi." Menelan air ludahnya dan membaring, kan tubuhnya.
Marcel :"Sebentar lagi aku yakin Prayoga juga akan membawa mu kembali." Melihat Stella.
Stella :"Prayoga bukan orang seperti itu sel, dia orang baik." Melihat Marcel.
Marcel :"Sebaik apapun pria jika wanita yang di sayangnya telah menikah dengan orang lain dan tidak bahagia, ia akan terus membawa wanita itu kembali kepadanya."
Stella :"Kalau besok aku memang pergi, aku tidak akan pergi untuk Prayoga."
Marcel :"Besok kamu pergi?"
Stella :"Iya, aku tau kamu sangat menginginkan kepergian ku sekarang."
Marcel :"Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya ingin melepas, kan mu. Aku akan memperboleh, kan mu melakukan apapun keinginan mu meskipun itu untuk bertemu Prayoga, aku tidak akan melarangnya. Tapi kamu tetap menjadi istriku. Seperti janji ku saat membawa mu kemarin pulang saat kamu kabur."
Stella :"Aku tidak akan pergi Sel. Aku sudah nyaman dengan rumah ini, dengan kamar ini." Memberi senyuman. "Soal Milka maafin dia ya, dia itu sedang hamil Sel. Emosi nya naik turun tidak menentu. Dia kayak gitu karena dia sayang sama aku, dia tidak mau aku dikhianati."
Stella :"Di kamar."
Marcel :"Kenapa dia tidak jadi pergi?"
Stella :"Sel, dia hanya emosi loh. Maafkan lah dia, wanita hamil emosi nya memang tidak menentu Sel."
Marcel :"Aku tidak suka sekali dengan ucapannya tadi Stella."
Stella :"Iya aku tau, maafkan dia ya sel." Memberi senyuman
Marcel :"Kalau suatu saat nanti Prayoga datang, kamu lebih milih dia atau aku?"Menatap Stella dengan tatapan serius.
Stella :"Kamu. Meskipun pernikahan kita hanya seperti pernikahan main-main, status mu sudah menjadi suami ku. Aku tidak mungkin lebih memilih orang lain."
Marcel :"Kok tumben bijak?" Memberi senyuman.
Stella :"Habis makan gurita hahaha. Besok kamu ke kantor?"
Marcel :"Iya."
Stella :"Kamu udah maafkan Milka kan?"
Marcel :"Sebelum dia berlutut di kaki aku, aku tidak akan memaafkannya."
Stella :"Ih, kamu jangan begitu lah."
Marcel :"Dan satu lagi, sebelum kamu cium aku, aku tidak akan memaafkannya, kamu pilih saja salah satu cara agar aku bisa memaafkannya." Menutup matanya.
Stella :"Cium dimana? Di sini( menunjuk kening), atau disini(menunjuk pipi).
Marcel :"Semua yang kamu tunjuk." Menutup matanya.
Stella pun mencium kening dan dan ke dua pipi Marcel, Stella meletakkan tubuhnya tepat di samping Marcel. Ia tidur menghadap Marcel, tangannya di letakkan nya di atas dada Marcel.
__ADS_1
Stella :"Sel." Bersuara pelan dan lembut.
Marcel :"Apa?" Membuka matanya dan melihat Stella.
Stella :"Kamu udah maafkan Milka?"
Marcel :"Sudah, suruh dia berterima kasih padamu nanti."
Stella :"Makasih ya sel." Mencium pipi Marcel.
"Saat ini aku benar-benar sudah merasakan arti pernikahan, aku sudah merasakan bagaimana rasanya di cium oleh istri." Ucap Marcel dalam hatinya
Stella :"Sel." Mengelus tangan Marcel.
Marcel :"Apa lagi Stella?" Melihat Stella.
Stella :"Perut aku sakit, tolong ambilkan air hangat lagi." Memberikan senyuman.
Marcel membawa piring bekas makan Stella tadi menuruni tangga berjalan ke ruang makan mengambil air hangat dan membawa, kan nya untuk Stella.
Marcel :"Nih," memberi, kan gelas yang berisi air hangat.
Stella langsung mengambil dan meminumnya, selesai minum Stella memberikan gelas kepada Marcel, Marcel meletakkan gelas di atas meja.
Marcel :"Sudah tidur jangan main hp lagi." Mengambil hp dari tangan Stella.
Marcel menyimpan hp Stella di dalam laci meja yang berada di sampingnya.
Stella :"Aku nurut kan sama kamu, coba kamu. Udah dibilang jangan Vape masih aja di lanjutin."
Marcel :"Kalau sekali-sekali kan tidak apa-apa."
Stella :"Jangan bandel ya." Mencubit tangan Marcel. "Nanti kalau udah tua sakit paru-paru aku tidak mau urusin mu." Membalikkan badannya membelakangi Marcel.
Marcel :"Tua? Kamu akan menemani ku sampai tua nanti?" Memeluk Stella dari belakang. "26 tahun aku hidup, ini yang kedua kali aku menghisap Vape Stella. Pertama kali sebelum aku putus sama Bella, dan ini yang ke dua."
Stella :"Sebelum putus?" Membalikkan badannya menghadap Marcel.
Marcel :"iya." Melihat Stella.
Stella :"Apa dia tidak melarang mu?" Mengerutkan dahinya melihat Marcel.
Marcel :"Tidak, dia malah mendukung ku. Dia bilang kalau aku merokok itu kelasnya rendahan, jadi dia suruh Vape saja biar terlihat keren."
Stella :"Idih. Apaan, sama saja terlihat rendahan. Berarti kamu Vape karena di suruh dia?"
Marcel :"Tidak, dia hanya mendukung ku. Aku melihat semua teman-teman ku memakai Vape. Di saat itu aku mau mencoba memakai rokok, dulu kan sebelum memulai sesuatu aku selalu bertanya kepada Bella. Jadi aku tanya sama dia, kalau aku merokok gimana? Dia bilang jangan, mendingan Vape kayak kawan kamu lebih berkelas. Kalau rokok itu rendahan gitu."
Stella :"Aneh ya dia, cocok sih kalian hahaha."
Marcel :"Tidak." Meletakkan telapak tangannya di atas muka Stella.
Stella :"Kamu dulu sudah merokok?"
Marcel :"Aku tidak merokok, tapi sudah pernah mencoba."
Stella :"Besok kamu mau Vape lagi?"
Marcel :"Vape nya sudah aku lempar tadi jatuh ntah kemana."
Stella :"Kenapa? Tapi mahal, giliran aku yang melempar dimarahin."
Marcel :"Yang beli aku kan? Suka-suka aku lah." Memegang dagu Stella. "Udah tidur nanti perutmu sakit lagi."
Stella :"Aku tidak suka kamu ngevape Sel." Wajahnya terlihat serius.
Marcel :"Ih iya Stella, aku tidak akan ngevape lagi demi Stella, serius." Menunjukkan kedua jari, jari tengah dan jari telunjuk. " Tidur ya tidur Stella." Membelai rambut Stella.
Tidak lama kemudian Stella tidur di dalam pelukan Marcel.
__ADS_1