
Pada pukul 18.00, Marcel bangun ia melihat Stella yang tidur memeluk tubuhnya, Marcel melihat jam dinding. Ia terkejut melihat jam, ia sudah tidur dari tadi siang di kamar ini, ia pun membangunkan Stella.
Marcel :"Hei, bangun." Mengguncang pipi Stella.
Stella terbangun dan langsung duduk.
Stella :"Jam berapa sih?" Mengucek matanya
Marcel :"Sudah jam 6 sore."
Stella :"Ha? Kamu baru bangun juga?"
Marcel :"Iya, kamu juga tidur lama nyenyak banget."
Stella :"Kamu tidur juga nyenyak banget,"
Marcel :"Aku semalam lembur, tidur pun sebentar. Sedangkan kamu ngapain coba?"
Stella :"Ih tidur aja salah dang,"
Marcel :"Ha, merajuk. Kamu yang mulai duluan kan,"
Stella :"Kamu ngalah dong sama aku. Namanya juga orang hamil, kalau bawaannya pengen tidur terus itu mah biasa."
Pintu kamar terbuka tiba-tiba.
Mama Stella :"Eh ganggu ya?"
Marcel :"Tidak kok Tan," memberi senyuman.
Mama Stella :"Makan ayok, orang tua kamu juga Uda di dapur tu."
Marcel :"Oh iya Tan,"
Mama Stella pun menutup pintu kamar dan berjalan menuju dapur.
Stella :"Kamu duluan deh, aku mau mandi dulu." Menuruni tempat tidur.
Marcel :"Eh jangan, orang sudah menunggu."
Stella :"Ih, aku belum mandi dari tadi malam ini sudah gerah sekali?"
Marcel :"Tadi pagi kamu belum ada mandi?"
Stella :"Belum, kamu duluan aja ya nanti aku nyusul."
Marcel :"Pantesan bau," memegang hidungnya.
Stella :"Ih lebay, bau apaan? Masih wangi ya."
Marcel :"Cepatan mandi ya, aku tunggu di dapur." Berjalan keluar kamar.
Stella masuk ke kamar mandi, ia menuangkan sabun cair di bath up, lalu mengalirkan air hangat ke dalamnya. Stella berendam di bath up sambil menggosok gosok tubuhnya hingga bersih, selesai mandi ia melilitkan handuk di tubuh mungilnya dan keluar dari kamar mandi, ia mengenakan pakaian tidur. Ponselnya berdering, Prayoga menelfonnya. Stella pun mengangkat telepon itu.
Stella :"Halo,"
Prayoga :"Halo Stell, apa suami mu sudah ada?"
Stella :"Sudah,"
Prayoga :"Dia dimana? Aku ingin bertemu dengannya?"
__ADS_1
Stella :"Dia di rumah,"
Prayoga :"Aku ke sana ya,"
Stella :"Jangan, kami lagi ingin makan malam keluarga."
Prayoga :"Setelah makan malam?"
Stella :"Tolong jangan hari ini."
Prayoga :"Jadi kapan Stell? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku tidak bisa seperti ini terus Stell. Kamu tenang saja Stell, jika Marcel akan melepaskanmu aku akan langsung menikahi mu, aku juga akan menerima anak mu itu, aku menyayangi mu , aku juga akan menyanyangi anak di perut mu seperti aku menyayangi mu."
Stella :"Aku akan menghubungi mu lagi mengenai perjumpaanmu dengan suamiku."
Prayoga :"Stell, aku masih sangat mencintai mu. Aku tau kamu juga masih mencintai ku, jika Marcel melepaskanmu tidak ada penghalang lagi di antara kita Stell. Aku tidak ingin Marcel menyakitimu suatu saat nanti Stell, karena Marcel itu lelaki yang bisa memdapatkan apa yang ia inginkan. Buktinya ia bisa mendapatkan kamu, padahal kamu tidak mencintainya. Dia akan melakukan hal lebih dari itu sama kamu Stell, jika dia bosan padamu dia akan mengambil wanita lain di luar sana, dia punya segalanya, tentu wanita itu akan tergiur padanya. Aku tidak ingin kamu akan mengalami hal itu nantinya. Sekarang aku lagi banyak kasus mengenai penceraian Stell, dan rata-rata suaminya itu seperti Marcel. Kaya dan tampan, dia mempunyai banyak wanita simpanan di luar sana, apa kamu siap di gitukan?"
Stella :"Yog, aku sedang tidak ingin membahasnya. Sudah ya, aku mau makan." Mematikan telepon.
"Kenapa sekarang aku sangat sulit mengambil keputusan, sudah 3 bulan aku menikah tetapi aku masih bingung harus berpihak pada Marcel atau Prayoga? Aku tau Prayoga tidak berbohong, memang banyak lelaki yang seperti itu, apalagi jika dia kaya, pasti banyak wanita yang tergiur padanya, dan lelaki itu pasti memilih wanita lain. Jika Marcel akan melakukan itu pada ku suatu saat nanti apa aku siap? Tetapi jika aku mengakhirinya sekarang, bagaimana dengan anak di kandunganku?" Ucap Stella dalam hatinya.
***
Marcel masuk ke dalam kamar, ia melihat Stella bersandar di sofa sambil melamun memegangi ponselnya.
Marcel :"Kamu kenapa Stell?" Duduk di sofa, "Orang sudah pada nungguin kamu loh, kamu nangis ya?"
Stella :"Oh, iya ayok." Berdiri
Marcel :"Tunggu," menarik tangan Stella, "Kamu nangis ya?"
Stella :"Tidak, ada apa?" Duduk di sofa kembali.
Marcel mengambil ponsel Stella dari tangannga dan membuka ponsel itu.
Stella :"Tidak ada,"
Marcel :"Prayoga bilang apa? Ini kalian barusan telponan loh 7 menit," menunjukkan riwayat panggilan di hpnya.
Stella :"Tidak ada, mungkin dia tertekan."
Marcel :"Aku sudah mengenal mu dari ujung rambut sampai ujung kaki mu, tubuhmu, dalam tubuhmu bahkan pikiranmu aku sudah tau semuanya. Aku tau kamu berbohong, kamu juga pasti habis menangis. Dia bilang apa?"
Stella :"Tidak ada Sel, tidak ada." Mengeluarkan air mata,
Marcel berjalan mengunci pintu kamar dan meletakkan kunci di kantongnya, Stella kelihatan seperti orang ketakutan, ia takut kejadian kemarin terulang lagi.
Marcel :"Dia bilang apa sama kamu Stell?" Duduk di sofa.
Stella :"Tidak ada Sel," mengelap air matanya dan menundukkan kepalanya.
Marcel :"Stell," memegang ke dua pipi Stella. "Aku tau kamu berbohong, kamu sedang menutupi sesuatu dari ku, Apa dia menanyakan ku?"
Stella :"Iya Sel, dia ingin bertemu dengan mu," mengelap air matanya.
Marcel :"Oke baik, dimana dia ingin bertemu? Tanya dia," memberikan hp Stella kepadanya.
Stella :"Tidak Sel, aku sudah bilang kalau kita akan makan malam."
Marcel :"Aku tidak usah ikut makan malam, aku akan menemuinya."
Stella :"Jangan Sel." Memegang tangan Marcel,
__ADS_1
Marcel :"Kamu pergi saja mengejarnya Stell, pergi Stell, aku tidak akan melarang mu lagi."
Pintu kamar itu lagi-lagi di ketuk.
Mama Marcel :"Halo, Stella."
Marcel :"Iya, sebentar."
Mama Marcel :"Cepat ya semua sudah kelaparan."
Marcel :"Iya ma,"
Mama Marcel meninggalkan kamar itu dan kembali ke dapur. Marcel membuka pintu dan berjalan keluar kamar menuju ruang makan, sementara Stella mencuci mukanya agar tidak kelihatan sembab. Setelah mencuci muka Stella bergabung di dapur makan malam bersama. Ia duduk di samping mamanya, karena kursi di samping Stella sudah di isi oleh Maxim, adiknya Marcel.
Mama Marcel :"Maxim, kamu pindah ke sini nak, biar kak Stella di sana."
Marcel :"Tidak apa ma, biarin saja."
Mama Marcel :"Stella kamu duduk di samping Marcel ya, masa berjauhan."
Stella :"Stella di sini saja Tan, lagian hanya makan malam."
Marcel :"Ayok, makan malam nya dimulai."
Mereka semua menyantap makanan dengan lahap Meskipun sudah tersedia berbagai jenis seafood di hadapannya, tetapi Stella tidak selera makan karena ia perasaannya juga sedang tidak baik.
***
Selesai makan malam, Maxim dan Bastyan bermain di kamar Bastyan, sedangkan yang lainnya masih di dapur.
Mama Marcel :" Oh ya, Eylard mana ya?"
Mama Stella :"Belum pulang kak, masih ada urusan katanya."
Mama Marcel :"Ooh,"
Marcel :"Oh ya, mulai besok Stella tinggal di sini saja ya Tante," melihat mama Stella.
Mama Stella :"Loh kenapa?"
Marcel :"Kebetulan Marcel akan membuka cabang perusahaan di kota ini, Marcel mempercayai Stella untuk menangani nya di sini. Nanti dia akan di bantu orang juga kok."
Mama Marcel :"Loh, kok begitu? Kan ada orang lain Marcel."
Marcel :"Aku sudah memikirkan ini ma, ini yang terbaik buat Stella, dia juga lagi hamil. Mungkin, kalau di sini dia akan lebih di perhatikan, sedangkan jika dia bersama ku, aku tidak bisa memperhatikannya 24 jam penuh, dan dia tidak akan kecapean di sini kok, aku sudah menyuruh Bi Murti untuk bersama Stella di sini, ia akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah ini."
Mama Marcel :"Jadi kamu tidak ke sini?"
Marcel :"Aku akan ke sini, seminggu sekali atau dua Minggu sekali lah."
Mama Marcel :"Ya sudah, terserah saja sih. Jika Stella mau, ya sudah."
Marcel :"Stella pasti mau kok ma, aku duluan ya mau ke kamar."
Mama Marcel :"Oh ya sudah."
Marcel berjalan masuk ke kamar, Papa nya dan papa Stella juga berjalan meninggalkan dapur menuju ruang keluarga.
Stella :"Tan, mi, Stella juga mau ke kamar ya."
Mama Marcel :"Oh, iya selamat malam Stella."
__ADS_1
Mama Stella :"Selamat malam Nak,"
Stella :"Selamat malam mi, selamat malam Tan." Berjalan menuju kamar.