
Stella berbaring di tempat tidur, lalu Marcel menyalakan televisi dan duduk di sofa.
Stella :"Besok kamu jadi pulang?"
Marcel :"Jadi," melihat Stella.
Stella :"Jam berapa?"
Marcel :"Jam 6 pagi." Mengganti Chanel televisi.
Stella menutup matanya agar bisa tidur, Marcel mematikan televisi lalu naik ke tempat tidur, ia memeluk Stella dengan erat dan menciuminya.
Marcel :"Stella, maafkan aku."
Stella tidak menjawab, ia masih kecewa dengan Marcel yang tadi hampir saja melukainya.
Marcel :"Stella, maafkan aku." Mengangkat kepala Stella.
Stella :"Sakit loh Sel," mendudukkan kepalanya.
Marcel :"Maafkan aku Stella." Mendudukkan badannya dan memegang tangan Stella.
Stella :"Iya sudahlah," menepiskan tangan Marcel.
Marcel :"Pukul aku Stell, pukul. Kamu lakukan apapun yang kamu inginkan," memukul kepalanya berkali-kali dengan kuat.
Stella :"Marcel, cukup!" Berteriak dan mengatur nafasnya.
Marcel :"Maafkan aku Stella, aku salah. Maafkan aku Stella," mata berkaca-kaca dan terus memukul kepalanya.
Stella :"Cukup Sel, cukup!" Berbicara dengan nada tinggi sambil menahan tangan Marcel. "Kamu kalau mau bertindak berfikir dulu makanya."
Marcel :"Aku minta maaf Stella, aku tadi emosi."
Stella :"Sudahlah Sel, aku mau tidur." Menarik selimut.
Marcel :"Aku benar-benar minta maaf Stell, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi, maafin aku Stell, maafin aku." Air mata keluar.
Stella luluh dengan air mata yang mengalir di pipi Marcel, ia mendudukkan badannya lalu memeluk Marcel.
Stella :"Sudah Sel, aku sudah memaafkanmu," mengelus punggung Marcel.
Marcel :"Maafkan aku Stella, maafkan aku. Aku Bodh, aku bodoh." Memukul kepalanya.
Stella :"Sudah Sel, sudah." Air mata mengalir di pipinya. "Aku juga salah Sel, aku tidak keluar saat kamu menyuruhku keluar."
__ADS_1
Marcel :"Tidak, tidak kamu tidak salah. Aku terlalu emosi," mengelap air mata di pipi Stella.
Stella :"Kamu ada masalah apa Sel?" melihat Marcel.
Marcel :"Ini masalahku Stell, kamu tidak usah memikirkannya."
Stella :"Aku kepingin tau Sel, sebesar apa masalah mu sampai kamu seperti itu,"
Marcel :"Ini masalah terbesar di hidupku Stell, aku akan kehilangan nyawa ku sebentar lagi."
Stella :"Hei Marcel, Marcel jangan berkata seperti itu. Semua masalah bisa di selesaikan Marcel, masalah apa? Kasih tau aku, aku ini istrimu kan Marcel? Aku harus tau apa masalahmu,"
Marcel :"Aku akan kehilangan separuh nyawa ku Stell sebentar lagi, aku sudah bilang tadi kan."
Stella :"Kenapa? Masalahnya apa?"
Marcel :"Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahu mu."
Stella :"Aku pengen tau Marcel, aku ini Istrimu." Memegang pipi Marcel.
Marcel :"Intinya aku akan kehilangan segalanya di hidupku?"
Stella :"Sel, kamu pegang ini." Memegang tangan Marcel lalu meletakkannya di perutnya, "Ini anakmu kan?" Meneteskan air mata
Stella :"Kamu tidak pengen melihat dia terlahir ke dunia ini?"
Marcel :"Maafkan aku Stella," memegang pipi Stella.
Stella :"Kamu harus ada di samping aku saat dia lahir nanti ya Sel, kamu harus ada." air mata mengalir.
Marcel :"Iya Stell, aku janji." Memeluk Stella. "Kalau bercerai nanti aku akan tetap boleh melihatnya kan?"
Stella melepaskan pelukannya dan menatapi Marcel.
Stella :"Apa alasan kamu mau kita bercerai Sel?" Air mata mengalir.
Marcel :"Aku ingin kamu bahagia dengan Prayoga Stell."
Stella :"Apa kamu mencintaiku?"
Marcel :"Aku sangat mencintai mu."
Stella :"Kalau kamu mencintai ku, sudah seharusnya kamu tidak melepaskan aku Sel. Kasihan dia," menunjuk perutnya. " Ketika nanti aku menikah dengan Prayoga, dia hidup bukan dengan papa kandungnya."
Marcel :"Kalau aku tidak melepaskanmu, rasa egoisku semakin meningkat Stell,"
__ADS_1
Stella :"Marcel, lelaki itu berjuang. Kamu harus berjuang membuat aku bisa melupakan Prayoga, bukan malah kamu melepaskan aku begitu saja."
Marcel :"Aku sudah berjuang Stell, selama 3 bulan ini aku membawa mu pindah ke kota XY salah satu alasannya agar kamu bisa melupakan dia, tetapi tidak bisa kan?"
Stella terdiam
Marcel :"Mungkin itu memang yang terbaik buat kita Stella."
Stella :"Jujur aku kecewa sama kamu Sel, kalau kamu bilang itu yang terbaik buat kita kamu salah besar. Apa karena kamu sudah mengambil kesucian ku? Mendapatkan anak dari ku, kamu melepaskan aku?"
Marcel :"Astaga Stell, tidak aku sama sekali bukan lelaki seperti itu. Aku hanya ingin kamu bahagia dengan pilihan mu."
Stella :"Tapi tidak seperti ini caranya Sel, kamu melepaskan aku begitu saja. Seharusnya kamu berjuang membuat aku melupakannya bukan malah melepaskan aku Sel."
Marcel :"Aku mau nanya, Kamu masih pengen kan punya hubungan lagi dengan Prayoga?"
Stella :"Tidak sel, Aku memutuskan hubungan dengan orang tidak main-main, aku memutuskan nya dulu karena ia berselingkuh dari ku, ia membuat ku kecewa Sel. Kalau aku balik sama dia lagi, pasti bakal kejadian lagi."
Marcel :"Kamu mencintainya?"
Stella :"Aku tidak tau itu Sel, tetapi saat dia tidak ada aku tidak pernah memikirkannya lagi. Aku tidak siap menjadi janda Sel, aku tidak ingin anak ku terpisah dari papanya."
Marcel :"Maafkan aku Stella, aku tidak akan menceraikan mu. Aku mencintai mu, mungkin keputusan ku salah." Memeluk Stella. "Stella, apa kamu sudah siap menjalani pernikahan yang utuh dan berjalan seumur hidup?" Melepaskan pelukannya.
Stella :"Aku sudah siap," memberi senyuman. "Jangan pernah mengecewakan ku lagi Sel."
Marcel :"Terima kasih Stell, maafkan aku jika aku mengecewakanmu. Aku berharap ini hari terakhir terucap kata cerai di pernikahan kita." Mencium Stella.
Stella :"Kamu tidur ya, besok berangkat kan?" Membaringkan badannya.
Marcel pun membaringkan badannya.
Marcel :"Tadi waktu aku cekik sakit ya?"
Stella :"Banget,"
Marcel :"Maafkan aku Stell, dimana sakitnya?"
Stella :"Di sini." Menunjuk lehernya.
Marcel :"Kamu tadi tidak melawan, aku pikir kamu tidak kesakitan makanya aku teruskan."
Stella :"Ngapain aku melawan? Kalau aku melawan yang ada kamu tusuk perut aku pakai pecahan kaca itu."
Marcel :"Tidaklah, mana mungkin aku membunuh mu." Mencium Stella, "Maafkan aku ya."
__ADS_1