
Stella masuk ke dalam kamar, ia melihat Marcel sudah tidur pulas. Stella naik ke tempat tidur dan mengambil ponselnya. Ia memesan tiket pesawat untuk kepulangan Milka dan langsung membayar tiket dengan M-banking. Pesawat akan berangkat pukul 21.00 nanti dari kotanya ke kota XX. Stella mengambil hp Marcel yang berada di atas badan Marcel. Ia membuka ponsel itu dan membaca semua pesan yang masuk ke ponsel itu. Saat Marcel terbangun lagi dan lagi hp itu terjatuh dari tangannya.
Marcel :"Hei, kenapa? Aku tidak akan memarahi mu ketika kamu memainkan hp ku." Mengambil hp nya.
Stella :"Aku tidak memainkannya, aku hanya penasaran dengan isi chat nya." Memberikan senyuman.
Marcel :"Lalu, apa yang kamu dapatkan? Apa kamu mendapatkan isi chat yang romantis?"
Stella :"Tidak."
Marcel :"Eh ada yang sudah lama ingin kutanyakan tapi tidak jadi."
Stella :"Apa itu?"
Marcel :" Dulu kayaknya kamu sering masuk ke ruangan kerja ku, memainkan laptop ku. Apa yang kamu lakukan? Apa kamu yang menghapus file perusahaan?"
Stella :"Kenapa kamu bisa mikir aku yang menghapusnya?"
Marcel :"Karena flashdisk yang menempel di laptop itu hanya aku dan Mila, saat aku melihat CCTV ternyata kamu juga sering memegang laptopku. Berarti kita bertiga yang memegang laptop itu, aku tidak mungkin menghapus file perusahaan ku sendiri. Mila juga tidak mungkin, aku sudah tanya padanya."
Stella :"Siapa yang punya pikiran aku melakukan itu?"
Marcel :"Mila cuma bilang coba cek Cctv ruang kerja, aku cek dan ada kamu."
Stella :"Kalau menurut kamu aku yang hapus ya sudah aku yang hapus."
Marcel :"Kamu yang hapus?"
Stella :"Kamu tadi kan bilang kamu sudah tanya pada Mila dia tidak menghapusnya berarti aku yang hapus kan?"
Marcel :"Kenapa kamu menghapusnya?"
Stella :"Kamu pikir aja kenapa kamu menuduh aku yang menghapusnya." Memainkan ponselnya.
Marcel :"Aku tidak menuduh, aku hanya bertanya-"
Stella :"Memang secara halus kamu bertanya, tapi maksud mu itu menuduh. Ada 3 orang yang memegang laptop aku, kamu dan Mila. Kamu tidak mungkin menghapusnya, Mila juga kamu bilang tidak mungkin, berarti yang tersisa aku kan? Ya sudah pasti kamu berpikir aku yang menghapusnya." Turun dari tempat tidur dan berdiri melihat Marcel.
__ADS_1
Marcel :"Eh eh sini dulu, jangan pergi."
Stella :"Aku mau mandi." Membuka lemari mengambil handuk.
Marcel :"Buat apa kamu menghapusnya?"
Stella :"Kamu tanya sama Mila, buat apa aku menghapusnya, kamu kan lebih percaya padanya."
Berjalan ke kamar mandi.
Marcel :"Sini dulu." Menarik handuk Stella.
Stella pun duduk di tepi tempat tidur.
Stella :"Buat apa aku menghapusnya? Kalau kamu bangkrut aku yang tidak makan, kamu pikir aku sebodoh itu? Apa menurut mu karena dulu aku benci samamu makanya aku menghapus file nya?"
Marcel :"Kamu tidak menghapusnya?"
Stella :"Kalau aku bilang tidak pun kamu tidak percaya padaku. Jadi terserah kamu saja, kalau menurut mu aku yang menghapusnya ya sudah."
Stella :"Kalau kamu percaya, kamu tidak bakal nanya lagi." Berdiri
Marcel :"Hei. Aku percaya sayang, aku hanya penasaran. Apa yang kamu lakukan pada laptopku." Menarik tangan Stella.
Stella :"Aku menonton film di laptop mu, film yang ada di flashdisk mu. Aku bosan di rumah yang besar ini, hanya naik turun tangga, makan dan tidur. Aku menjelajahi semua ruangan dan menemukan laptop di ruang kerja mu, aku membuka nya dan menemukan film. Untuk menghapus rasa bosan ku, aku selalu menonton film setiap harinya. Terakhir kali aku tidak menonton karena flashdisk nya sudah tidak ada. Sudah puas? Terserah kamu mau percaya atau engga. Aku mau mandi." Melepaskan tangan Marcel.
Marcel :"Maafkan aku ya." Berdiri. "Aku percaya kok sama kamu." Memegang tangan Stella.
Stella memberikan senyuman, semakin lama Stella semakin sadar bahwa perilaku Marcel semakin romantis.
Stella :"Tidak mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu, kalau aku melakukannya berarti aku istri yang tidak tau diri haha." Tertawa dan memeluk Marcel.
Marcel :"Kamu mau mandi kan?"
Stella :"Iya." Menganggukkan kepalanya.
Marcel :"Ya udah mandi sana. Mereka setuju naik pesawat?"
__ADS_1
Stella :"Setuju, tadi aku sudah bilang. Soal modal yang akan kamu beri mereka juga sudah sangat setuju, mereka sangat berterima kasih padamu. Nanti makan malam kamu bicarakan saja lagi sama dia." Berjalan ke kamar mandi.
Selesai mandi, Stella keluar dengan memakai handuk. Marcel menatap Stella dari atas sampai ke bawah.
Stella :"Sel-"
Marcel :"Oh iya." Turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Marcel keluar dari kamar, ia tau apa yang akan di katakan Stella. Stella akan menyuruh nya untuk keluar dari kamar, karena ia akan berpakaian. Marcel tidak ingin ada keributan lagi karena hal sepele. Kali ini dia mengalah untuk Stella.
Selesai pakaian Stella menjemur handuknya dan keluar dari kamar, ia menemukan Marcel yang sedang menggendong Salsa di ruang keluarga, tetapi ia tidak menemukan Milka dan Gilang.
Stella :"Marcel, Milka mana?" Berjalan mendekati Marcel dan duduk di sampingnya.
Marcel :"Lagi keluar beli pempres buat Salsa," Tersenyum kepada Salsa.
Stella :"Salsa kok ditinggal?"
Marcel :"Tadi aku yang minta biar dia di tinggal, dia juga tidak rewel kok."
Stella menatapi Marcel dengan kekaguman.
"Sepertinya kamu sangat menyukai anak-anak Marcel. Sori kalau aku belum bisa menuruti permintaan mu." Ucap Stella dalam hatinya
Stella :"Sini Tante gendong sayang," Menggendong Salsa."Ha, senang ya sayang ya, bobo sini aja sama Tante ya." Membawa Salsa ke kamar. "Eh kok basah baju Tante? Kok dibasahin sayang." Melihat Salsa.
"Iis ya nak ya, bobo sini dulu ya." Meletakkan Salsa ke tempat tidur.
Stella mengganti baju nya di kamar mandi dan menelfon Milka, menanyakan letak celana ganti untuk Salsa.
Stella pun mengambil celana di kamar Milka didalam tasnya, Stella balik ke kamarnya dan mengganti kan celananya.
Mereka bermain bersama Salsa hingga Milka pulang.
Setelah orang tua Salsa datang, mereka makan malam bersama. Tepat pada pukul 20.30, mereka berangkat ke bandara bersama, Marcel dan Stella mengantarkan mereka ke bandara. Marcel dan Stella menunggu mereka hingga pesawat mereka berangkat. Begitu pesawat berangkat, Marcel dan Stella segera balik ke rumah nya.
Mereka segera tidur karena sudah larut malam, dan kelelahan.
__ADS_1