
Begitu sampai di restoran, Stella turun dari mobil. Bodyguard itu juga turun dari mobil, berjalan mengikuti Stella. Stella melarang bodyguard untuk mengikutinya, dan menjaganya dari jarak jauh saja. Bodyguard itupun mengikuti perintah Stella, ia tetap masuk ke restoran tetapi mengambil tempat duduk yang berbeda dari Stella. Stella berjalan dan duduk di meja yang sudah di pesan oleh Prayoga.
Stella :"Hai," memberikan senyuman dan duduk di hadapan Prayoga.
Prayoga :"Hai, makasih ya." Tersenyum. "Kamu mau makan apa?"
Stella :"Aku tidak makan, tadi Marcel juga sudah mengingatkan aku untuk tidak makan di sini, karena kurang baik untuk ibu hamil."
Prayoga :"Marcel tau kamu ke sini? Bersama ku?"
Stella :"Iya, dia tau. Tadi aku minta ijin sama dia."
Prayoga :"Aku juga tidak mau makan, aku pesan minum dulu."
Prayoga memanggil pelayan untuk membuatkannya minuman, kemudian pelayan itu pergi.
Prayoga :"Aku mau kasih ini." Mengambil sebuah foto dari kantong jaketnya.
Itu adalah foto hasil USG calon bayi Stella, Stella mengambil foto itu dari tangan Prayoga dan memperhatikannya.
Prayoga :"Kemarin foto itu jatuh di depan pagar rumah mu, saat malam itu aku dan pamanku datang menemuimu."
Stella :"Aku sudah tau kamu yang mengambilnya, apa yang sudah kamu lakukan pada foto ini?"
Prayoga :"Stell, aku tidak melakukan apapun. Aku mencintai mu Stell, aku tidak akan pernah menyakiti dan membuat mu kecewa. Aku juga pasti akan sayang pada anak mu, aku juga tidak ingin terjadi apapun padanya. Maafkan aku, jika kemarin pamanku memperlakukan mu dengan tidak baik. Aku tidak tau apa-apa tentang itu Stell, aku tidak tau jika dia mengurung mu. Aku ingin kamu mengerti tentang aku, seperti dulu. Aku tidak mungkin melakukan itu padamu Stell, aku memang selalu cerita dengan pamanku tentang kamu, Tetapi aku tidak pernah berniat untuk berbuat jahat kepadamu Stell. Aku juga tidak tau kalau keluarga Marcel itu musuh bebuyutan keluarga ku, dan saat aku tau sekarang pun aku tidak akan berbuat apa-apa."
Stella :"Makasih, aku ingin saat ini kamu -"
Prayoga :"Kamu ingin aku menjauhi mu kan? Aku akan lakukan Stell. Aku janji, aku tidak akan menggangu kamu lagi, dan soal paman ku lupakan saja Stell. Dia pantas mendapatkan hukumannya."
Stella :"Makasih Yog, tetapi aku udah menyuruh Marcel untuk mencabut laporan dan dia sudah mencabutnya."
Prayoga :"Terima kasih Stell, tetapi dia sudah seharusnya mendapat hukuman itu. Stell, maafkan aku jika dulu aku pernah membuat mu kecewa."
Stella :"Kita tidak usah membahas yang sudah berlalu Yog."
Prayoga :"Aku ingin pergi tanpa beban Stell,"
Stella :"Kamu mau pergi kemana?"
Prayoga :"Aku akan pindah ke luar negeri, aku ingin melanjutkan kuliah S2 ku di sana dan aku akan menetap di sana. Lusa aku akan menikah, dan aku akan membawa istriku ke sana nanti. Aku akan memulai semua nya di sana nanti."
Stella :"Lusa? Siapa dia?"
Prayoga :"Tunggu, aku ada fotonya." Mengambil hp nya dari saku celana. "Ini dia, aku minta mama ku menjodohkan ku dengan anak anak temannya, dan mamaku memilih dia, dia juga bersedia menikah dengan ku."
Stella :"Menikahlah dengan orang yang kamu cintai Yog."
Prayoga :"Stell, kamu sudah menikah. Aku tidak mungkin menikahimu lagi, aku ingin pernikahan ku ini akan sama nanti nya dengan pernikahanmu. Pada awalnya kamu juga tidak mencintai Marcel kan? Tetapi sekarang kamu pasti sudah mencintai nya. Meskipun sekarang aku tidak mencintai wanita itu, tetapi aku yakin aku akan bisa mencintai nya dengan cepat. Aku berharap semua itu bisa terjadi Stell."
Stella :"Posisi kita berbeda Yog, kalau wanita itu mudah jatuh cinta. Sedangkan kalau pria, itu sulit untuk bisa mencintai. Yog, aku memang mau kamu mencari pasangan, tetapi aku ingin pasangan itu orang yang kamu cintai."
Prayoga :"Aku merasa semua sudah terlambat Stell, aku sudah mengurus semuanya."
Stella :"Tidak ada kata terlambat Yog, mendingan kamu batalkan pernikahan mu daripada nantinya kamu tidak bahagia dengan pernikahan mu."
Prayoga :"Apa itu tidak mengecewakannya?"
Stella :"Mungkin 90 persen itu akan mengecewakannya, kamu harus jelasin sama dia. Kalau kalian itu tidak saling mencintai, dan kamu juga belum bisa mencintainya. Kamu jujur saja padanya, kamu menikahinya itu kan untuk melupakan masa lalu mu, karena pernikahan tanpa cinta itu tidak ada gunanya Yog. Aku yakin dia juga akan menerima keputusan mu,"
Prayoga :"Baiklah Stell, terimakasih. Ya sudah, kamu pulang lah, aku juga mau pulang."
Stella :"Iya, kamu kapan balik ke kota XX?"
Prayoga :"Besok pagi Stell, aku sudah membeli tiketnya. Kamu naik apa pulang?"
Stella :"Di parkiran supir pribadi ku menunggu ku." Berdiri
Prayoga :"Ya sudah, kamu hati-hati ya." Memberikan senyuman. "Oh ya Stell, aku mau bilang sesuatu."
Stella :"Apa itu?" Kembali duduk.
Prayoga :"Jika Marcel mencintai mu, dia tidak akan menyakiti ataupun mengecewakan mu."
Stella :"Ya, aku tau hal itu Yog." Tersenyum.
Prayoga :"Aku berharap pernikahan kalian langgeng dan bahagia sampai maut memisahkan, semoga nantinya anak kamu lahir dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun ya." Memberikan senyuman.
__ADS_1
Stella :"Makasih banyak ya Yog, semoga kamu juga semakin sukses ya dan jadi pengacara yang baik ya, kebenaran yang di beli haha." Tertawa.
Prayoga :"Oh iya, itu aman. Ya sudah kamu pulang sana, "
Stella :"Jadi kapan kamu keluar negeri?"
Prayoga :"Sekitar Minggu ini juga."
Stella :"Memang tidak ada niatan pulang ke sini?"
Prayoga :"Lima tahun aku usahakan untuk tetap di sana, setelah itu liat nanti lagi."
Stella :"Mama mu bagaimana?"
Prayoga :"Mama aku tetap tinggal di kota XX, sudah ada yang jagain dia."
Stella :"Oh ya sudah lah, aku duluan ya." Menyalam Prayoga.
Prayoga pun menyalam Stella, genggaman tangan itu terasa sangat kuat. Prayoga memeluk Stella, tubuh ny terasa berguncang, dadanya sesak menahan semua perasaan. Air matanya mengalir dengan cepat di pipinya, body guard Stella datang mendekati Stella dan menarik tubuh Prayoga hingga ia melepaskan pelukan erat itu.
Stella :"Pak, tinggalkan saya sebentar."
"Tetapi tadi tuan tadi berpesan agar dia tidak menyentuh anda nona." Ucap seorang body guard.
Stella :"Tolong tinggalkan saya."
Body guard itu berjalan meninggalkan Stella.
Stella :"Sudah ya Yog." Memberi senyuman. "Apapun yang terjadi Itu udah yang terbaik di berikan Tuhan. Nanti kalau kamu dapat pacar atau pasangan lagi, jangan pernah kecewakan dia ya. Jangan kecewakan dia seperti kamu mengecewakan aku waktu itu, kamu tidak boleh melakukan hal sama, jangan jatuh ke lubang yang sama lagi ya."
Prayoga :"Makasih buat 4 tahun ini Stell, kamu selalu ada bersama ku menemani ku di saat susah dan senang, tetapi balasanku hanya bisa mengecewakan mu."
Stella :"Sama-sama Yog."
Prayoga :"Stell, jika kita jodoh kita pasti akan di ketemukan lagi."
Stella :"Iya Yog, aku pulang dulu ya."
Prayoga :"Jaga diri baik-baik Stell," memberikan senyuman. "Hati-hati ya."
Stella pun berjalan menuju parkiran masuk ke dalam mobilnya, supir pribadi itupun langsung melajukan mobilnya.
***
Beberapa jam kemudian, ruko itu sudah tampak seperti layaknya toko butik meskipun belum ada pakaian yang tergantung satu pun. Tidak lupa pula, Stella memberikan upah kepada 3 pembantu yang telah membantunya membersihkan ruko.
Stella :"Bi murti sudah makan?"
Bi Murti :" Belum nona,"
Stella :"Kita makan dulu yok." Melihat ke tiga pembantunya.
Bi Yati :"Eh tidak usah nona, kami beli makanan sendiri saja. Ini kan tadi nona sudah memberikan kamu uang."
Stella :"Tidak apa, saya pesan makanan dulu ya. Kalian mau makan apa?"
Ketiga pembantu itu menyebut makanan yang ingin di makannya, Stella pun mencari dan memesan makanan untuk makan siang mereka. Beberapa menit kemudian, makanan di antar ke ruko itu, mereka pun menikmati makan siang bersama. Setelah makan, mereka balik ke rumah Stella untuk melanjutkan pekerjaan.
Stella di dalam ruko sendirian, sedangkan body guard dan supir nya berada di depan ruko.
"Tidak mungkin aku terus mengambil pakaian dari nya, mahal sekali, aku harus ambil barang dari luar negeri juga, soalnya lebih murah dan lebih bagus lagi. Sepertinya jika aku memesannya sekarang, nanti sore atau malam sudah bisa sampai, soalnya dulu sepertinya barang datang dalam beberapa jam saja." Ucap Stella dalam hatinya.
Stella mengambil ponselnya dan mencari pakaian branded dari luar negeri, lalu ia mengingat salah satu toko langganannya yang menjual pakaian branded. Stella pun menghubungi pemilik toko pakaian branded itu, dan memesan pakaian dalam jumlah banyak untuk di jual dan memintanya agar sore ini sudah sampai di rukonya. Kemudian, ia pun setuju. Pakaian akan di usahakan sampai di kota XY sore ini. Kemudian, Stella kembali ke rumah menggunakan mobil yang di bawakan oleh supir pribadinya. Tidak lupa pula, body guard nya itu mengikutinya dari belakang.
Sesampai di rumah, Stella langsung menaiki tangga masuk ke kamar. Ia mandi karena tubuhnya sangat gerah. Ia berendam di bath up dengan air hangat beberapa menit. Selesai mandi Stella mengenakan pakaiannya, dan berbaring di tempat tidurnya. Beberapa menit, ia tertidur pulas di dalam kamar itu.
***
Pada pukul 16.30, Hp Stella berdering, masuk pesan bahwa pakaian-pakaian yang ia pesan sudah tiba di ruko. Stella pun langsung berjalan menuruni tangga, dan meminta supir untuk mengantarnya ke ruko. Sebuah mobil sudah parkir di depan ruko, saat Stella sampai pakaian-pakaian itu di turunkan dari mobil dan di masukkan ke dalam ruko. Stella menyusun pakaian-pakaian itu sendirian, ia menggantung dan menata rata pakaian-pakaian itu di hanger gantungan.
***
Saat pukul 18.00, Marcel tiba di rumah. Ia mencari Stella di mana-mana tetapi tidak menemukannya. Marcel memutuskan untuk menanyakan pada bi Murti, bi Murti pun memberitahu keberadaan Stella. Marcel melihat jam tangannya dan merasa kesal, ia mengambil ponselnya dan melepon Stella. Panggilan itu masuk, tetapi ia tidak mengangkatnya. Marcel pun mengambil kunci mobilnya dan melajukannya mencari ruko tempat Stella akan membuka toko butik. Saat sampai di ruko yang berjejer tepat di depan Vila, Marcel tidak menemukan Stella. Bahkan mobil Stella pun tidak ada, Marcel kembali menghubungi Stella tetapi tidak di angkat juga, Marcel pun menghubungi supir pribadi Stella, dan supir itu berkata bahwa mereka baru saja sampai di rumah. Marcel langsung melajukan mobilnya menuju rumah, dan memarkirkannya di garasi yang luas itu. Marcel masuk ke rumah dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tidak menemukan Stella di kamar, tetapi hp milik Stella sudah ada di atas tempat tidur. Pintu kamar mandi tertutup, Marcel mengetuknya. Lalu Stella membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
Marcel :"Kamu dari mana sih?" Berbicara dengan nada tinggi.
Stella :"Dari ruko," mengambil hp dan berjalan menuju sofa.
__ADS_1
Marcel :"Suami udah capek pulang kerja, dia malah tidak ada di rumah."
Stella :"Loh, tadi aku kan sudah permisi."
Marcel :"Sampai malam? Seharusnya kalau suami pulang kerja kamu udah harus ada di rumah, toko nya belum buka aja kamu begini gimana nanti kalau tokonya sudah buka? Bisa-bisa kamu lupa sama tanggung jawab kamu sebagai istri."
Stella :"Kamu kok jadi begini sih? Kamu tidak senang aku membuka toko butik itu? Kalau kamu tidak suka kamu bilang saja tidak suka, aku juga tidak akan membukanya. Bagaimana usahaku bisa lancar, jika kamu begini."
Stella berjalan keluar kamar dan berbaring di sofa ruang keluarga yang berada di depan kamar, ia menyalakan televisi dan menonton.
Beberapa menit kemudian, Marcel keluar dari kamar dan duduk di samping tempat Stella berbaring.
Marcel :"Stell, duduk dulu. Aku mau bicara,"
Stella tetap fokus menonton televisi.
Marcel :"Duduk dulu sayang, aku mau bicara" membelai rambut Stella.
Stella pun duduk dan melihat Marcel dengan tatapan sinis.
Marcel :"Aku minta maaf ya sayang, aku tau aku salah. Masalah, pikiran aku lagi banyak sekali yang,"
Stella :"Emang kamu pikir pikiran aku tidak banyak? Tetapi ada tidak aku marah samamu? Menyalahkanmu ada?"
Marcel :"Aku minta maaf yang, tetapi aku ingin kamu tidak seperti itu lagi ya."
Stella :"Kamu dong yang tidak seperti itu lagi."
Marcel :"Yang, aku tidak mau kalau aku di rumah kamu tidak ada yang. Biasanya 24 jam kita ketemu terus, sekarang kan sudah beda. Dari pagi sampai sore aku tidak melihatmu, dan sampai di rumah pun kamu tidak ada, padahal dari kantor itu niatnya pengen sekali bertemu dengan mu. Maafkan aku ya sayang. Aku bangga sama kamu, kamu bisa mengerjakan semuanya sendirian, kamu memang cewek mandiri ya."
Stella :"Tidak usah ngegombal."
Marcel :"Eh aku tidak ngegombal, emang kenyataan sayang." Mencium pipi Stella. "Bagaimana rasanya tadi di peluk Prayoga, enak yang?"
Stella :"Marah ku udah reda nih, kamu mancing lagi."
Marcel :"Aku bertanya sayang, bicara apa saja tadi kalian?"
Stella :"Dia bakal pindah ke luar negeri, dia juga janji tidak akan menggangu ku lagi."
Marcel :"Baguslah kalau begitu, kamu sudah makan yang?"
Stella :"Kamu kenapa sih benci sekali dengannya? Dia tidak seperti yang kamu lihat dan kamu pikirkan."
Marcel :"Aku tidak benci sayang, aku mau dia move on dari kamu, kamu itu sudah berkeluarga, sudah mau punya anak lagi."
Stella :"Iyalah, iya." Berjalan masuk ke kamar.
Marcel :"Yang, mau makan apa?"
Stella :"Makan angin." Mengganti bajunya dengan baju tidur.
Marcel :"Yang, mau makan apa?"
Stella :"Aku sudah makan tadi, masih kenyang. Kalau kamu mau makan, makan sendiri sana."
Marcel :"Iyalah, aku makan dulu ya." Berjalan keluar kamar.
Stella dengan cepat mengambil hp Marcel, dan membuka chat di hp nya. Ia mencari grup alumni SMK yang ada di WhatsApp itu, tetapi isi chat nya sudah kosong. Pintu kamar terbuka, Marcel masuk membawa makanan untuk makan malamnya.
Marcel :"Yang, Minggu depan aku ke kota XX. Kamu di sini saja ya, soalnya aku hanya sebentar." Menyuapkan makanan ke mulutnya.
Stella :"Mau ketemu sama siapa?"
Marcel :"Sama investor yang,"
Stella :"Investor atau pacar baru?"
Marcel :"Pacar baru siapa sih yang? Jangan bicara seperti itulah."
Stella :"Terus kenapa aku tidak boleh ikut?"
Marcel :"Ya, karena hanya sebentar saja yang. Nanti kamu mual, tetapi kalau kamu mau ikut ya ikut lah."
Stella memainkan hpnya, ia tidak merespon perkataan Marcel lagi. Marcel pun melanjutkan makananannya hingga habis, kemudian ia mengantar piring bekas ia makan ke bawah. Saat ia balik ke kamar, ia melihat Stella sudah tidur terlelap, Marcel mencium kening Stella dan berkata. "Capek banget ya sayang, sehat terus ya sayang. Maafin aku kalau sering buat kamu kesal ya," mencium keningnya lagi. "Anak-anak papa harus sehat terus ya, baik-baik di dalam ya, jangan bikin mamanya sakit ya sayang. Selamat tidur sayang." Mencium perut Stella.
Marcel menarik selimut, ia menyalakan televisi dan mengecilkan suara televisi, ia berbaring di tempat tidur sambil menonton.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mata Marcel sudah lelah. Ia pun mematikan televisi dan tidur.