Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Mual


__ADS_3

Marcel membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Ia mengelus pipi Stella, membangunkannya lalu memberi minuman, dengan cepat Stella meminumnya lalu menyadarkan kepalanya di bahu Marcel.


Stella :"Aku butuh kamu Sel." Melihat Marcel dengan mata yang berkaca-kaca.


Marcel hanya diam, ia merasa ia tidak bisa melakukan itu karena ia ingin menjauh dari Stella agar bisa melupakannya.


Stella :" Sel, aku butuh kamu."


Marcel :"kamu sudah bilang itu 3 kali hari ini Stella, aku mendengarnya."


Stella :"Tetapi kamu tidak meresponnya,"


Marcel :"Maaf, aku tidak bisa selalu berada di dekatmu Stell. Aku harus balik ke kota XY lagi."


Stella :"Apa ada wanita lain di sana?*


Marcel :"Tidak, jangan berpikiran seperti itu. Perusahaan ku kan berada di sana."


Stella :"Aku ikut dengan mu ya," memegang tangan Marcel.


Marcel :"Tidak bisa Stell,"


Stella :"Kenapa Sel? Apa kamu membawa wanita itu ke rumah?"


Marcel :"Aku tidak punya wanita lain Stell,"


Stella :"Sel, aku ingin pulang" memegang perutnya.


Marcel :"Tadi kan kamu di suruh-"


Stella :"Aku mau pulang Sel, perut ku sakit. Aku tidak membawa obat."


Marcel keluar dari mobil lalu masuk kembali duduk di kursi pengemudi, ia menyalakan mobil lalu melajukan mobilnya. Stella tampak tak berdaya, ia hanya memejamkan matanya memegangi perutnya. Marcel melihatnya dari pantulan kaca dan merasa sangat sedih.


"Maafkan sikap ku Stell, aku tidak bermaksud ingin melukai mu. Aku hanya ingin bisa melupakanmu, jika aku selalu bersama mu, aku pasti tidak akan berhasil melupakanmu." Ucap Marcel dalam hatinya sambil melihat kaca.


Sesampai di depan rumah, Stella langsung turun memasuki rumah lalu ia berjalan ke dapur mengambil minuman dan masuk ke kamarnya. Marcel memarkirkan mobil papanya di garasi rumah, lalu ia berjalan menuju rumah Stella dan masuk. Ia membuka pintu kamar Stella, lalu duduk di sofa. Ia menelfon mamanya, mengabari jika ia sudah pulang duluan bersama Stella karena Stella sedang sakit. Lalu ia berjalan mendekati Stella yang berbaring dan duduk di tepi tempat tidur.


Marcel :"Sakit sekali ya Stell?" Mengelus rambut Stella.


Stella :"Tidak kok, kamu balik saja kesana lagi."


Marcel :"Kamu bagaimana?"


Stella :"Aku tidak apa-apa."


Marcel :"Bi Murti mana? Aku tidak melihatnya dari tadi."


Stella :"Bibi ke rumah saudaranya, pergilah aku tidak apa."


Marcel :"Kamu sendirian di sini,"


Stella :"Tidak apa Sel, biasanya aku juga selalu sendiri."


Hati Marcel begitu teriris mendengar perkataan Stella,


"Apa selama aku di kota XY dia hanya terbaring seperti ini? Dan dia mengobati dirinya sendirian?" Tanya Marcel dalam hatinya.


Namun Marcel tetap ingin melawan hatinya, ia tetap harus menjauh dari Stella.


Marcel :"Baik, aku pergi dulu ya." Berjalan membuka pintu.


Marcel duduk di ruang tamu, hatinya sangat sulit untuk meninggalkan Stella. Ia tidak bisa melawan keinginan hatinya, ia memilih untuk tetap di rumah bersama dengan Stella.


Tidak lama kemudian, terdengar seperti suara muntah dari kamar Stella, Marcel berlari menuju kamar itu. Ternyata benar, Stella sedang muntah di kamar mandi. Marcel langsung mengambik air hangat dan memberikannya kepada Stella. Stella langsung meminumnya. Lalu kembali berbaring di tempat tidur.


Stella :"Kamu kenapa belum pergi?"

__ADS_1


Marcel :"Aku akan menemani mu di sini." Duduk di tepi tempat tidur menarik selimut untuk Stella.


Stella :"Aku tidak apa, kalau kamu mau pergi pergi saja Sel."


Marcel :"Aku tidak ingin pergi. Aku akan menemani mu di sini, tidurlah." Membelai rambut Stella


Stella menutup matanya, lalu ia terlelap dalam tidur. Marcel mengelus rambut Stella,


"Aku selalu mencintai mu. Aku hanya ingin bisa melepaskanmu, bukan berhenti mencintai mu." Ucap Marcel dalam hatinya.


Stella tiba tiba duduk dan berlari ke toilet, ia memuntahkan semua makanan yang tadi ia makan. Marcel memberikan air hangat padanya agar rasa mualnya reda.


Stella :"Makasih Sel." Mengambil minuman dan menegukkannya.


Marcel :"Apa kita perlu ke dokter?"


Stella :"Tidak usah Sel, ini hanya gejala kehamilan." Berjalan ke tempat tidur.


Marcel :"Sampai kapan akan seperti ini Stell?"


Stella :"Aku juga tidak tau Sel, aku belum pernah punya anak sebelumnya." Memberi senyuman. "Sel," memegang tangan Marcel.


Marcel :"Kenapa?" Duduk di tepi tempat tidur.


Stella :"Apa kamu besok balik?"


Marcel :"Nanti malam jam 12."


Stella :"Apa kamu sudah membeli tiketnya?"


Marcel :"Sudah."


Pintu rumah di ketuk, Marcel membuka pintu lalu menyuruh tamu itu masuk. Marcel berjalan ke kamar Stella dan memanggilnya.


Marcel :"Stell, ada yang ingin bertemu dengan mu."


Marcel :"Kamu lihat saja." Keluar kamar,


Stella berjalan keluar kamar, dan berjalan menuju ruang tamu. Ia begitu kaget melihat orang yang datang adalah Prayoga. Marcel duduk di sofa, Stella pun duduk di sampingnya. Prayoga langsung memulai pembicaraan.


Prayoga :"Jadi begini, apa besok bisa mengurus gaun untuk tunangan kita?"


Marcel dan Stella tatap-tatapan.


Marcel :"Kamu di tanya, malah diam." Melihat Stella.


Prayoga :"Lusa juga mau pemotretan untuk di kartu undangan pertunangan, apa bisa?"


Marcel :"Lusa aku dan dia ada urusan."


Prayoga :"Apa tidak bisa lain waktu saja? Ini sangat penting."


Marcel :"Tiga hari lagi saja kau mengurusnya, lusa memang benar-benar tidak bisa."


Prayoga :"Jadwal nya kosong hanya lusa. Stella, urusan nya bisa kamu batalkan dulu kan?"


Marcel :"Itu penting, tidak bisa dibatalkan."


Prayoga :"Berapa lama emangnya?"


Marcel :"Sehari penuh,"


Prayoga :"Berarti tiga hari dan empat hari kemudian Stella bisa pergi bersama ku?"


Marcel :"Ya bisa, lima hari lagi aku juga akan pergi bersamanya."


Stella :"Emang kalian pikir aku barang? Bisa kalian oper sesuka jidat kalian. Prayoga, meskipun aku akan bercerai dengan Marcel, aku tidak akan menikah lagi. Tidak ada pertunangan dan pernikahan lagi, batalkan semua rencana yang telah kamu susun."

__ADS_1


Prayoga :"Kenapa ? Aku sudah mengurus semuanya."


Stella :"Ini keputusan ku ya, aku sudah memikirkan hal ini, jadi tolong hargai aku." Berdiri lalu meninggalkan ruang tamu.


Prayoga pergi dengan meninggalkan rumah Stella, ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Marcel pun masuk ke kamar Stella. Stella menangis di dalam kamarnya, ia begitu sedih ketika Marcel mengambil keputusan yang tidak tepat.


Marcel :"Aku melakukan ini hanya untuk mu, untuk kebahagiaan mu." Menaiki tempat tidur.


Stella :"Tetapi itu tidak membuat ku bahagia." Melihat Marcel.


Marcel :"Jika kamu mencintai nya tentu kamu bahagia bersama nya."


Stella :"Aku tidak mencintainya Sel, aku tidak mencintainya lagi. Kenapa kamu melepaskan ku seperti ini? Apa kamu tidak mencintai ku lagi? Atau karena kamu sudah mendapat yang aku inginkan dari ku?"


Marcel :"Aku hanya ingin kamu bahagia, tidak ada alasan lain. Aku mencintai mu Stell, aku sangat mencintai mu. Kehadiran Prayoga di hidupmu sepertinya membuat hidupmu lebih berwarna."


Stella :"Tidak Sel, kamu salah. Kemarin aku pikir aku tidak bisa hidup tanpa Prayoga, tetapi kemarin saat aku jalan dengannya aku tidak merasakan apapun, aku tetap merasa kesepian Sel. Aku sadar, yang aku butuhkan itu kamu bukan Prayoga. Tidak ada kebahagiaan apapun yang aku dapat dari Prayoga, aku mencintaimu Sel. Semenjak aku hamil, rasa cinta ku semakin besar, tetapi aku tidak menyadarinya Sel. Aku tau kamu tidak akan mungkin meninggalkan tanpa alasan. Kumohon Sel, biarkan aku bersamamu.


Marcel :"Stell, aku berharap kamu memikirkan nya terlebih dahulu."


Stella :"Aku sudah memikirkan hal ini saat kamu tidak ada bersam ku Sel."


Marcel :"Aku bukan lelaki yang tepat untuk mu Stell, aku tidak ingin melukai mu lebih dalam lagi. Aku tidak ingin menyakitimu seperti kemarin lagi, aku berharap kamu akan mendapatkan pria yang baik dan tepat untukmu."


Stella :"Sel." Menangis. "Aku minta maaf, kemarin aku memang salah. Aku menyebut mu pengecut, aku tau jika aku berkata itu kepada orang, orang juga akan melakukan hal seperti mu kepadaku."


Marcel :"Jujur aku ingin sekali selalu bersama mu, aku ingin hanya maut yang memisahkan kita, tetapi itu tidak bisa Stell."


Stella :"Apa alasannya Sel? Kalau kita mau kita pasti bisa."


Marcel :"Aku ingin kamu bahagia."


Stella :"Lalu apakah kamu bahagia jika telah berhasil melepaskan ku?"


Marcel :"Tentu, karena kebahagiaan ku ada di kamu. Jika kamu bahagia aku akan bahagia."


Stella :"Tetapi kebahagiaan ku ada di kamu, ku mohon Sel."


Marcel memeluk Stella dengan kuat.


Marcel :"Makasih Stell, sudah membuka hati mu untukku. Apa kamu yakin dengan pilihanmu?"


Stella :"Aku yakin Sel, kemarin kita juga sudah berjanji untuk tidak menyebutkan kata cerai itu, dan aku berharap ini terakhir kalinya kata itu terucap."


Marcel :"Makasih Stell, aku mencintaimu. Aku sangat merindukanmu selama ini Stell." Mencium kening Stella.


Stella :"Aku juga, tetapi kemarin kamu tidak ada waktu untukku."


Marcel :"Maafkan aku, aku hanya berusaha menghindari mu. Aku janji aku tidak akan melakukannya lagi."


Stella :"Aku ikut kamu ke kota XY ya," menyandarkan kepalanya di bahu Marcel.


Marcel :"Iya, tetapi kita tidak usah berangkat nanti malam ya. Aku masih ingin di sini." Membelai rambut Stella.


Stella :" Tiket mu?" Melihat Marcel.


Marcel :"Ya hangus, biarin sajalah."


Stella :"Kenapa kamu memesan tiket begitu cepat?"


Marcel :"Karena, kan dari awal aku berniat ingin melupakan mu. Tentu aku akan menghindari mu ternyata sekarang ceritanya berbeda." Mencium Stella.


Stella :"Makasih ya Sel, tetapi kamu jahat banget. Tega banget begini sama aku saat aku sedang hamil."


Marcel :"Maafin aku lah. Kamu tidur lah, sepertinya sangat kelelahan."


Stella membaringkan badannya di tempat tidur, Marcel pun membaringkan badannya di sebelah Stella.

__ADS_1


__ADS_2