Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Calon Cucu


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Stella bangun langsung membuka gorden kamarnya. Silau mentari menembus kaca bening itu. Stella berjalan menuruni tangga, dan menuju dapur. Ia mengambil kacang hijau yang sudah ia rendam semalaman lalu memasaknya. Security di rumahnya berjalan menghampirinya ke dapur.


Stella :"Eh, kamu udah sarapan? Sini sarapan dulu."


Security :"Terimakasih Nona, saya sudah sarapan. Di depan ada orang yang menunggu ingin menemui Nona dan tuan, bagaimana Nona?"


Stella :"Siapa ya?"


Security :"Kurang tau Nona, dia laki-laki."


Stella :"Suruh masuk aja kalau begitu."


Security itu pun pergi meninggalkan Stella, ia menyuruh tamu untuk masuk ke dalam rumah. Stella pun tidak jadi melanjutkan sarapannya, ia berjalan menuju ruang tamu dan melihat sosok Prayoga bersama dengan seorang pria yang tidak ia kenal duduk di sofa itu.


Stella :"Yog," duduk di kursi dengan wajah bingung.


"Hai, kamu Stella kan?" Ucap pria di sebelah yoga sambil menyalam Stella.


Stella :"Iya, ada apa ya?"


"Saya oom Prayoga, kamu tidak mengenal saya tetapi saya mengenal kamu. Prayoga sering bercerita tentang mu, dari mulai dia mengenal mu bahkan sampai sekarang ini." Ucap oom Prayoga.


Marcel berjalan menuruni tangga dan duduk di samping Stella.


Marcel :"Aku mau sarapan, ambilin sarapan ku."


Oom :"Stella, kamu orang baik. Tidak seharusnya kamu mendapatkan pria seperti dia,"


Marcel :"Maksud anda berbicara seperti itu apa? Seharusnya anda sadar di mana Anda berada sekarang, ini rumah saya. Tolong jaga etika anda!" Menunjuk oom Prayoga.


Oom :"Stella, saya mengenal dia sudah lama." Menunjuk Marcel. "Bahkan saya mengenal mama, nenek bahkan eang nya. Saya mengenal silsilah keluarganya. Apa dia pernah bercerita pada mu tentang neneknya?"


Stella menggelengkan kepalanya dengan maksud ia tidak mengetahui apapun.


Marcel :"Kalau anda mau mencari keributan lebih baik keluar dari sini."


Oom :"Oh, saya tidak mencari keributan. Saya hanya ingin memberitahu istri mu, siapa kamu dan keluarga mu yang sebenarnya."


Marcel :"Itu tidak ada gunanya, keluar." Menunjuk pintu agar orang itu keluar dari rumahnya.


Oom :"Stella, apa kamu membiarkan saya dan Prayoga di usir seperti ini? Saya tau ini rumah milik anda, tetapi Stella juga berhak untuk menentukan saya layak atau tidak berada di sini sekarang."

__ADS_1


Stella :"Kenapa sih? Aku tidak mengerti, ada apa? Marcel, apa kamu mengenal oom ini?"


Marcel :"Stell, kamu ke kamar saja, yang penting jangan di sini."


Stella :"Kenapa? Aku ingin tau."


Oom :"Ya, saya akan beritahu kamu Stella. Jadi, begini-"


Marcel :"Silahkan keluar!" Berdiri


Stella :"Marcel, biarkan dia berada di sini."


Marcel :"Ini rumah ku, aku punya hak di sini."


Stella :"Lalu aku apa Marcel? Kamu menganggap ku apa?"


Oom :"Sudah, sudah. Kedatangan saya ke sini bukan untuk hal ini."


Marcel :"Silahkan lakukan apa yang anda inginkan." Kembali duduk.


Oom :"Stella, seperti yang saya katakan tadi. Prayoga bercerita banyak tentang mu, semenjak ia mengenal mu bahkan sampai hari ini dia masih terus menceritakan mu pada saya. Jujur, menurut saya ini masalah yang sepele tetapi saya tidak bisa menerima kenyataan ini."


Marcel :"Kenyataan apa? Tidak usah berlebihan."


Oom :"Kamu putus dengan Prayoga karena dia selingkuh dari mu? Apa itu alasan utama mu?"


Stella :"Ya, itu memang benar. Lalu kenapa? Itu sudah masa lalu, apa perlu di ungkit lagi?"


Oom :"Tidak, tidak. Saya tidak mengungkitnya. Saya lanjutkan ya, jadi setelah kamu putus dengannya sebulan kemudian kamu menikah dengan lelaki kurang ajar ini."


Marcel :"Jaga ucapan mu!"


Oom :"Tolong, jangan memotong pembicaraan saya dulu. Apa saya bisa lanjutkan Stella?"


Stella :"Ya, silahkan."


Marcel :"Stella, kamu kenapa? Bahkan kamu membiarkan ku di hina seperti ini?"


Stella :"Marcel sudahlah. Silahkan di lanjutkan."


Oom :"Mungkin orang yang melihatmu tiba-tiba menikah dengannya berpikir bahwa kamu telah hamil di luar nikah, ataupun sebelum putus dengan Prayoga kamu sudah selingkuh dengannya, tetapi saya tau kamu tidak seperti itu. Saya tau ini paksaan dari dia, agar kamu mau menikah dengannya kan? Kamu tidak perlu menjawab saya sudah tau jawabannya. Jadi begini, dia dan keluarganya memanglah orang yang seperti itu. Dia menikahi mu juga karena ada alasan,"

__ADS_1


Marcel :"Sekali lagi ku katakan, jaga ucapan mu."


Stella :"Sel, kamu bisa diam kan?"


Oom :"Dia ingin merebut mu dari keponakan saya yang bernama Prayoga ini, karena dia dan keluarganya punya dendam dengan saya dan keluarga saya. Jadi dia menikahi mu bukan karena dia mencintai mu, kamu ini hanya korban di sini. Korban balas dendam lebih tepatnya,"


Marcel :"Stella, kamu masuk ke kamar." Menarik tangan Stella.


Oom :"Biarkan saja dulu dia mendengarnya," melihat Marcel. "Dua puluh tahun yang lalu, kakek nya dia meninggal di tangan kakek saya, itu sih menurut pemikiran mereka, tetapi semua itu hanya salah paham. Itu yang membuat keluarga nya masih punya dendam dengan keluarga saya, termaksud Prayoga. Ia tidak ingin keluarga kamu bahagia, jadi sekarang kamu tau kan apa niat dia menikahi mu? Oh ya ada satu lagi, kalau dia bilang dia memang sayang pada mu. Tidak seharusnya kamu hamil secepat ini, dengan usia mu yang masih sangat muda seperti ini. Itu karena, dia tidak ingin kamu kembali pada Prayoga. Ya, otomatis jika kamu punya anak kamu lebih fokus pada anakmu di banding Prayoga begitu. Saya sudah menjelaskannya. Kamu tidak perlu menangis Stella, masih ada orang yang mencintai mu dengan tulus, Prayoga masih sangat mencintai mu. Ia mencintai mu dalam kondisi apapun."


Oom :"Marcel, apa kah kamu sebodoh ini? Sehingga kamu tidak tau, asal usul bayi di kandungan Stella?"


Marcel :"Aku sudah capek berbicara dengan manusia bodoh seperti mu."


Oom :"Kamu juga bodoh Marcel, bukankah kamu dan Stella tidak punya saudara kembar? Kenapa bisa Stella hamil anak kembar? Apa tidak pernah terlintas di pikiran mu?"


Marcel :"Asal usulnya itu bukan urusan Anda, kenapa anda selalu hadir di keluarga saya?"


Oom :"Oh jelas urusan saya, ini calon cucu saya. Yang ada di perut Stella itu anak Prayoga,"


Stella :"Oom, apa maksud oom berbicara seperti itu? Ini bukan anak Prayoga."


Oom :"Itu anak Prayoga Stella, Prayoga itu punya saudara kembar. Namun ia sudah tiada."


Marcel :"Apa maksud anda sekarang? Setelah anda mengambil istri saya, sekarang anda juga ingin mengambil anak saya?"


Oom :"Itu bukan anakmu, itu anak keponakan saya."


Prayoga :"Ya, Stella itu anakku. Beberapa bulan yang lalu kita ketemu, dan kamu tidak sadar diri."


Marcel :"Kurang ajar kau," menumbuk Prayoga.


Stella :"Marcel, Marcel sudah." Menarik Marcel.


Marcel :"Aku tidak menyangka kamu seperti ini Stella," berjalan meninggalkan Stella menaiki tangga.


Stella :"Aku sadar sama apa yang aku lakukan Yog, aku tidak pernah seperti itu. Ini bukan anakmu."


Prayoga :"Memang pahit Stell, tetapi ini kenyataannya. Oom ayok kita pulang, aku akan balik lagi ke sini Stell, untuk melihat kondisi mu dan perkembangan bayi kita."


Oom :"Kami permisi Stella,"

__ADS_1


Prayoga bersama oom nya pergi meninggalkan rumah megah itu membawa mobil nya.


__ADS_2