
Bi Murti asik menonton televisi, ia lupa mematikan teleponnya tadi dengan Marcel. Ia mengambil ponselnya di kantongnya, ternyata telepon sudah terputus. Bi Murti menelpon Marcel,
Bi Murti :"Halo Tuan, apa telepon sudah lama terputus?"
Marcel :"Belum kok Bi, tadi saya matikan karena sepertinya Bibi lupa sedang teleponan dengan saya."
Bi Murti :"Iya Tuan, maafkan saya karena sangking asiknya saya bercerita dengan Nona, saya kelupaan."
Marcel :"Oh iya tidak apa Bi,"
Bi Murti :"Apa Tuan merasa sedih?"
Marcel :"Tidak kok Bi, Saya sudah mulai bisa melupakan Stella. Nanti malam Stella mau pergi kemana Bi?"
Bi Murti :"Bibi tidak tau Tuan, Bibi tidak menanyakan hal itu."
Marcel :"Oh ya sudah Bi, tolong tanyakan dia nanti ya Bi."
Bi Murti :"Baik Tuan, apa ada hal lain lagi Tuan?"
Marcel :"Tidak Bi, ya sudah terima kasih ya Bi." Mematikan telepon.
"Tuan Marcel ini ternyata rasa gengsi nya lebih besar dari rasa suka nya kepada Nona, bisa melupakan tetapi masih perhatian, ada-ada saja Tuan Marcel ini." Ucap bi Murti dalam hatinya.
****
Setelah asik menonton televisi, bi Murti kembali ke dapur. Ia memasak untuk makan malam, saat makan malam di hidangkan di meja makan, Stella datang untuk makan malam, ia makan bersama Bi Murti di meja makan, orang tuanya dan adik-adiknya sedang pergi ke suatu tempat.
Bi Murti :"Nona mau kemana kok bajunya begini?"
Stella :"Stella mau ke dokter kandungan Bi, obat Stella sudah habis"
Bi Murti :"Oh, apa nona sendirian?"
Stella :"Tidak Bi, Bibi di rumah sebentar atau mau ikut dengan Stella?"
Bi Murti :"Bibi di rumah saja lah Nona,"
Stella :"Ooh, Stella permisi dulu ya Bi, Stella udah di jemput."
Bi Murti :"Hati-hati ya Nona," berjalan mengikuti Stella.
Stella masuk ke dalam mobil yang berwarna putih itu, mobil pun langsung melaju kencang keluar dari komplek.
Hp bi Murti berdering, Bi Murti sudah bisa menebak jika yang menelponnya adalah Marcel. Bi Murti langsung mengangkat ponselnya yang berdering dan meletakkan di telinganya.
Bi Murti :"Halo Tuan,"
Marcel :"Halo Bi, apa bibi sudah tau Stella mau pergi kemana?"
Bi Murti :"Sudah Tuan, nona mau ke dokter kandungan, dia bilang sih obatnya habis. Barusan kami makan malam berdua bersama."
Marcel :"Berdua saja? Yang lain kemana Bi? Dia pergi sama siapa Bi?"
Bi Murti :"Iya tuan, kami berdua saja. Tadi nona makan dengan lahap, soalnya bibi masak udang kesukaan Nona, orang tua nona sedang ada urusan dari tadi pagi belum pulang Tuan."
Marcel :"ooh, Stella pergi sama siapa Bi?"
Bi Murti :"Bibi tidak tau Tuan, tetapi tadi ia di jemput dengan mobil berwarna putih, dia tidak turun dari mobil."
"Mobil berwarna putih? Mobil siapa ya?" Tanya Marcel dalam hatinya.
Bi Murti :"Tuan, halo Tuan."
Marcel :"Iya Bi, mobilnya mobil apa ya Bi?"
Bi Murti :"Seperti mobil Pajero sport Tuan,"
"Pajero Sport berwarna putih? Itukan mobil Prayoga, jika itu memang Prayoga, Stella memang keterlaluan. Itu kan anak aku, kenapa dia malah membawa Prayoga? Apa dia tidak bisa sabar menunggu ku pulang? Okelah mungkin terlalu lama kalau menunggu ku ke sana, tetapi dia bisa mengajak bi Murti, dia juga bisa mengajak mamanya atau mamaku kan? Dia emang akan menikah dengan Prayoga setelah melahirkan nanti, tetapi bukan berarti aku membiarkan anakku juga di urus oleh mantannya itu. Ini tidak benar, besok aku harus ke sana." Ucap Marcel dalam hatinya sambil menahan kekesalan.
Meskipun sudah malam, Marcel tetap memilih untuk berada di kantor, karena jika ia berada di rumah rasa kesepian akan muncul. Marcel menidurkan badannya di tempat tidur di ruangan rahasia yang berada di kantornya, telepon Marcel berdering, ia langsung mengangkat panggilan itu.
Marcel :"Halo Ma, ada apa?"
__ADS_1
Mama :"Lusa kamu datang kan ke pernikahan saudara kita?"
Marcel :"Datang Ma, lusa aku ke sana."
Mama :"Oh ya sudah, kamu lagi di mana ini?"
Marcel :"Lagi di kantor Ma,"
Mama :"Astaga itulah, kan kalau tidak ada Stella. Kok jam segini masih di kantor sih Sel? Kamu pulang dong biar istirahat."
Marcel :"Jangan menyalahkan Stella Ma, Marcel meeting."
Mama :"Mama tidak menyalahkan loh, mama merasa keputusan kamu agar Stella tinggal menetap di kota ini salah Sel, kamu coba pikirkan lagi."
Marcel :"Tidak Ma, aku rasa ini yang terbaik buat Stella dan kandungannya."
Mama ;"Terbaik bagaimana? Marcel di saat istri hamil sudah seharusnya suami berada di sampingnya, kamu pikir hamil itu mudah? Apalagi di kondisi dia yang masih berusia muda seperti ini, dia pasti bisa menderita Marcel."
Marcel :"Ma, jangan bicara seperti itulah. Menderita apa sih maksud mama,"
Mama :"Ya menderita dong, dia di kota XX sementara suaminya di kota XY, nanti kalau dia tiba-tiba mual, muntah, pengen makan ini, pengen minum itu kepada siapa dia minta?"
Marcel :"Aku kan sudah kirim satu pembantu ke sana Ma,"
Mama :"Marcel. Meskipun pembantu kamu lebih banyak membantu Stella, tetapi sosok seorang suami itu lebih di butuhkan. Dengan adanya suami, rasa sakit yang di alami saat masa kehamilan itu berkurang."
Marcel :"Aku melakukan ini agar Stella bahagia Ma, dia ingin sekali bisa tinggal di kota XX lagi."
Mama :"Kamu bukan ingin membuatnya bahagia, tetapi kamu melepaskan tanggung jawab kamu sebagai suami."
Marcel :"Ma, kenapa malah membahas tanggung jawab sih? Aku masih membiayai hidup Stella Ma."
Mama :"Tanggung jawab kamu sebagai suami bukan hanya itu, kamu juga harus bertanggung jawab menjaga dia, tetapi terserah kamu sajalah. Jangan kamu pikir kalau kamu sudah mencukupi dan membiayai kebutuhan nya kamu sudah melaksanakan tanggung jawab kamu,"
Marcel :"Ma, sekarang mau Mama apa sih? Aku capek berdebat masalah sepele seperti ini terus."
Mama :"Masalah sepele? Kamu bilang hal seperti ini masalah sepele? Kamu sombong sekali ya sekarang, mentang mentang kamu sudah kaya? Sudah sukses? Kamu begini sama Mama? Masalah yang ada dalam keluarga adalah masalah terbesar Marcel."
Marcel :"Ma semua ini tidak ada masalah, mama yang terlalu berlebihan."
Marcel :"Ma, tadi niat mama menelpon aku karena mau menanyakan lusa aku datang atau tidak kan? Aku sudah menjawabnya aku akan datang. Jadi aku rasa sudah ya ma, aku masih banyak kerjaan." Mematikan telepon.
Marcel memajamkan matanya dan mencoba untuk tidur.
***
Sesampai di dokter kandungan, Stella langsung berjalan ke ruang pemeriksaan, Stella dan kandungan nya di periksa oleh dokter.
Dokter :"Kandungannya baik-baik saja kok,"
Stella :"Syukurlah,niat saya ke sini sebenarnya mau beli obat dok, tetapi ujung-ujungnya cek juga."
Dokter :"Ooh, apa sebelumnya periksa kandungan di sini?"
Stella :"Tidak dok, saya tinggal di kota XX kebetulan obat saya habis, makanya coba ke sini."
Dokter :"Ooh begitu, apa boleh saya tau obat nya obat apa?"
Stella :"Ini dok," memberikan bungkusan obat.
Dokter :"Ooh baiklah," sambil mencatat di buku pasien , ini perut nya sering sakit ya?"
Stella :"Iya dok,"
Dokter :"Bapak siapa?" Melihat Prayoga.
Prayoga :"sa- saya suaminya Dok."
Dokter :"Bapak, sebaiknya ibu jangan kecapean ya, agar perutnya tidak sakit."
Prayoga :"Baik Dok,"
Dokter :"Ini obatnya langsung di tebus ya,"
__ADS_1
Stella :"Makasih ya Dok," memberikan senyuman.
Stella dan Prayoga keluar dari ruang pemeriksaan.
Stella :"Yog, kamu tidak seharusnya berkata itu."
Prayoga :"Jika aku berkata aku hanya temanmu, pasti dokter akan berpikir macam-macam tentang mu Stell."
Stella :"Makasih ya, biar aku saja yang tebus obatnya." Mengambil resep dokter dari tangan Prayoga.
Stella berjalan menuju tempat penebusan obat dan Prayoga duduk menunggunya.
Stella menebus obat, lalu membayar biaya obat dan pemeriksaannya.
Stella :"Udah, ayok." Berjalan mendekati Prayoga.
Prayoga :"Sebenarnya tidak ada salahnya aku berkata seperti tadi, karena sebentar lagi aku juga akan menjadi suamimu." Sambil berjalan. "Kita mau makan dimana nih?" Masuk mobil.
Stella :"Tidak usah Yog, aku sudah makan."
Prayoga :"Serius nih?"
Stella :"Iya," memasang seat belt.
Prayoga :"Kamu temani aku makan ya," memasang seat belt.
Stella :"Tetapi jangan pulang kelamaan ya,"
Prayoga :"Iya-iya." Menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya.
Di perjalanan suasana hening, tidak ada percakapan antara mereka. Hanya terdengar suara klakson para pemakai jalan.
Sesampai di sebuah cafe, Prayoga memesan makanan untuknya.
Prayoga :"Aku senang banget, kita sudah bisa seperti ini Stell. Dulu kita sering banget di sini, asal aku ke sini aku selalu ingat dengan kamu, dan kenangan bersama kamu. Oh ya Stell, anak kamu cewek atau cowok?"
Stella :"Belum tau, seminggu lagi baru bisa tau."
Prayoga :"Kok begitu?"
Stella :"Karena sekarang usianya belum tiga bulan."
Prayoga :"Ooh, kamu sayang sama dia?"
Stella :"Sama siapa?" Melihat sekelilingnya.
Prayoga :"Kamu lihatin siapa? Yang aku bilang itu anak di kandungan mu."
Stella :"Ya sayang lah, bagaimana sih."
Prayoga :"Baguslah. Aku pikir kamu tidak menyayangi nya, karena kamu kan tidak mencintai Marcel. Biasanya sih cewek-cewek menggugurkannya kan?"
Stella :"Aku tidak seperti itulah."
Pelayan cafe mengantar makanan dan meletakkannya di hadapan Prayoga, Prayoga menyantap nasi goreng dengan lahap hingga tak tersisa sebutir nasi pun. Selesai makan, Prayoga mengantarkan Stella pulang ke rumahnya.
Stella :"Yog, kenapa kamu tidak mencoba melupakan ku?"
Prayoga :"Kenapa Stell? Kenapa pertanyaan mu aneh sekali. Apa kamu sudah bisa melupakanku?"
Stella :"Bukan begitu, aku hanya bertanya."
Prayoga :"Ooh, aku tidak bisa melupakanmu Stell, rasa cinta ku sangatlah besar. Nanti kamu rencananya melahirkan secara normal atau operasi?"
Stella :"Aku maunya sih normal, tetapi lihat kondisi dulu. Kalau dokter bilang aku bisa normal, aku akan melahirkan secara normal."
Prayoga :"Sebaiknya kamu operasi saja, uang suami mu kan banyak. Kalau normal kamu akan merasa kesakitan."
Stella :"Mau normal atau operasi yang namanya melahirkan itu sudah pasti sakit."
Prayoga :"Benar, tetapi normal lebih sakit. Kalau kamu melahirkan normal, aku ingin di umur 6 bulan kandungan mu nanti, kita akan mengurus pernikahan ya."
Stella :"Lihat nanti ya, aku tidak bisa janji."membuka seat belt.
__ADS_1
Prayoga :"Oh yasudah. Hati-hati turunnya ya."
Stella masuk ke dalam rumah, Prayoga melajukan mobilnya kembali pulang ke rumahnya.