Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Keputusan stella


__ADS_3

Marcel datang ke rumah sakit, membawa tas yang berisi pakaiannya. Ia menghampiri orang tua dan mertuanya yang sedang duduk di depan ruang ICU tempat Stella di rawat.


Marcel :"Kalian pulang ke rumah saja dulu, biar aku yang jaga dia di sini."


Mama :"Tadi dia sudah sadar, tetapi sekarang koma lagi."


Mama mertua :"Tadi Tante udah kasih tau dokter nama anak kalian supaya di tempelkan nama di box nya."


Marcel :"Makasih banyak Tan, jadi bagaimana kondisi dia sekarang?"


Mama mertua :"Dia koma lagi, tadi dia sempat sadar beberapa menit. Itu dia bergerak," menunjuk Stella yang terbaring di tempat tidur.


Mereka langsung memanggil perawat, kemudian dokter, perawat langsung masuk mengecek kondisi Stella.


**


Beberapa menit dokter keluar dari ruang ICU.


Dokter :"Pasien sudah sadar, dia butuh istirahat yang banyak. Kondisinya juga tidak separah yang tadi,"


Mama :"Dok, dia kan baru melahirkan, kapan dia bisa belajar berjalan?"


Dokter :"Tidak perlu Bu, soalnya saat operasi kemarin saya tidak bius total kok, dikarenakan Stella nya saat itu sedang koma juga Bu. Nanti Stella sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Saya permisi dulu."


Marcel berjalan masuk ke ruang ICU dan berdiri di sampingnya.


Stella :"Apa yang kamu sembunyikan dari ku?"


Marcel :"Tidak ada sayang, kamu istirahat dulu ya." Membelai kepala Stella.


Stella :"Jangan pegang aku!" Menyingkirkan tangan Marcel di kepalanya. " Bawa perempuan ini ke sini sekarang juga,"


Marcel :"Sayang, sudahlah. Jika aku salah aku minta maaf."


Stella :"Apa kamu bilang? Sudah? Minta maaf?" Mencoba untuk duduk.


Marcel :"Kamu belum boleh duduk, perutmu baru di jahit."


Stella :"Kamu tau kenapa perut ku di jahit?kamu tau gak?" Membesarkan nada suaranya. "Perut ku begini karena melahirkan anak mu Sel, anak mu." Air matanya mengalir di pipinya. "Ini balasan kamu sama aku, kamu jahat Sel, kamu jahat." Memukul-mukul Marcel.


Marcel :"Maafkan aku Stell, maafkan aku." Memeluk Stella secara paksa.

__ADS_1


Stella :"Lepaskan aku." Mendorong Marcel. "Seharusnya dari dulu, sejak aku menikah. Aku tidak terlalu percaya dengan semua yang terucap dari mulutmu."


Marcel :"Aku minta maaf Sel,"


Stella :"Coba hitung sudah berapa juta kali kamu mengucapkan kata-kata itu Sel? Kamu selalu mengucapkan dan akan mengulangnya lagi. Aku capek Sel," menghapus air matanya. "Bawa cewek itu ke sini."


Marcel :"Stell,"


Stella :"Bawa dia ke sini sekarang juga Sel, jika kamu memang tidak ada hubungan dengannya."


Marcel :"Baik, jika itu yang kamu inginkan." Menelpon Lesty.


Karena Lesty juga baru saja keluar dari rumah sakit, posisi dia belum terlalu jauh. Lesty segera kembali ke rumah sakit, dan masuk ke ruang ICU tempat Stella di rawat.


Stella :"Aku akan mengabulkan permintaan mu." Menghapus air matanya melihat Lesty.


Marcel :"Maksud kamu apa Stella?"


Stella :"Kamu tidak perlu menutupinya dari aku Marcel, aku sudah tau semuanya. Sebelum dia jujur pun dengan ku, aku sudah mulai curiga dengan sikapmu. Aku tau dia hamil anak kamu kan? Maka dari itu, kamu tidak perlu takut Lesty. Terimakasih buat semua yang sudah kalian berikan kepadaku, ini kado terburuk yang pernah ku terima. Aku akan berpisah dengan Marcel." Memberi senyuman terpaksa.


Marcel :"Stella, tidak. Aku tidak akan mau melepaskan mu, anak kita masih kecil Stella."


Marcel hanya diam, menundukkan kepala menyesali perbuatannya.


Stella :"Lesty, kamu tenang saja. Jika Marcel tidak mau mengurus surat pisah, aku akan mengurusnya secepatnya agar kalian bisa menikah. Sekarang, aku ingin kalian keluar, aku mau istirahat."


Lesty berjalan keluar ruang ICU, sementara Marcel masih berdiri di samping Stella.


Marcel :"Stella, aku tidak mau kita pisah. Aku minta maaf,"


Stella :"Marcel, jadilah lelaki yang bertanggung jawab. Dia sudah hamil, kamu harus bertanggung jawab."


Marcel :"Aku akan bertanggung jawab, tetapi aku tidak mau kita berpisah Stell, tolonglah."


Stella :"Maksud mu apa?" Menghapus air matanya dan memelototi Marcel.


Marcel :"Aku akan menikahinya, sebagai istri keduaku."


Stella :"Sori, aku tidak bisa. Jangan terlalu rakus, aku sudah pernah mengingatkanmu untuk tidak menghianatiku kan? Aku tidak mau di madu, aku tidak mau mempertahankan pernikahan ini. Tolong keluar,"


Mendorong Marcel.

__ADS_1


Orang tua dan mertua masuk ke ruang ICU, karena mereka melihat sedang ada pertengkaran antara Marcel dan Stella.


Mama :"Ada apa? Kenapa kamu menangis Stella?"


Stella :"Aku ingin bercerai dengan Marcel, tolong kalian semua untuk menghargai keputusan ku kali ini."


Mama mertua :"Kenapa sayang? Apa yang terjadi?" Membelai rambut Stella.


Stella :"Dia, selingkuh." Menunjuk Marcel. "Selingkuhannya sudah hamil dua bulan, cewek yang tadi ke sini itu adalah selingkuhannya." Menangis kencang.


Papa :"Kurang ajar kau." Menumbuk Marcel.


Papa mertuanya berusaha untuk menenangkan emosi papa Marcel.


Papa mertua :"Sudah Pak, tenang. Kita bicarakan dulu."


Stella :"Aku mau kami berpisah, aku akan mengurusnya secepatnya."


Marcel :"Tidak, tidak Stell."


Mama mertua :"Marcel, diam kamu!" Menampar Marcel.


Stella :"Aku mau istirahat, tolong keluar." Menarik selimutnya.


Orang tua Stella berjalan keluar kamar ICU, mertuanya juga keluar dari ruang ICU itu. Marcel tetap berdiri di samping Stella.


Marcel :"Aku tidak berselingkuh Stella,"


Stella :"Sel, aku ingin istirahat. Tolong keluar!"


Mama mertuanya masuk kembali, ia menarik paksa anaknya untuk meninggalkan Stella yang ingin istirahat itu. Di luar mereka berdiskusi lagi.


Marcel :"Ma, tolonglah. Aku tidak mau berpisah dengannya."


Mama :"Mama tidak bisa membantu kamu, kamu sendiri yang membuatnya begini."


Marcel :"Ma, tolonglah." Berlutut di hadapan mamanya.


Mama :"Tidak ada gunanya kamu seperti ini, mama tidak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan di tangan Stella."


Dokter datang menghampiri mereka, dan berkata bahwa Stella sudah bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap.

__ADS_1


__ADS_2