Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Tanktop


__ADS_3

Sore hari, habis dari acara pernikahan saudara-saudara Stella berkunjung ke rumah Stella. Mereka mengobrol dan berbincang-bincang di ruang tamu sampai malam hari, Bi Murti menghidangkan minuman dan makanan untuk mereka.


***


Malam hari, mereka semua makan bersama ke restoran, termaksud bi Murti. Stella dan Marcel tidak ikut bersama mereka. Stella dan Marcel memilih untuk di rumah saja berdua saja.


Marcel :"Kenapa tidak mau ikut bersama mereka?"


Stella :"Aku kurang cocok dengan mereka."


Marcel :"Kenapa?"


Stella :"Ya kurang cocok aja, urutin aku dong Sel." Memberikan tangannya.


Marcel :"Sakit ?"


Stella :"Sakit tapi enak,"


Marcel :"Sebenarnya kamu tidak boleh tidur terus Stell."


Stella :"Aku juga tidak mau tidur terus Sel, tapi kondisi tubuh ku tidak mendukung."


Marcel :"Sakit nya bagaimana sih Stell?"


Stella :"Sebenarnya lebih ke lemas, kalau sakit nya itu jarang Sel. Kalau rasa sakitnya itu tidak bisa di jelaskan."


Marcel :"Makasih ya Stell." Memberi senyuman. "Aku sebenarnya pengen kita bulan madu, tetapi kondisi kamu yang seperti ini sepertinya tidak bisa."


Stella :"Bulan madu?" Mendudukkan badannya. "Tidak apa sih sel, kalau jalan-jalan mah aku senang." Memberikan senyuman.


Marcel :"Nanti kamu jadi muntah-muntah Stell, kamu suka?" Membelai rambut Stella.


Stella :"Suka banget, ayok dong. Kapan Sel?"


Marcel :"Kamu senang banget ya, sampai pipinya merah?" Memegang pipi Stella.


Stella :"Ah masa sih?" Mengambil ponselnya lalu membuka kamera.


Marcel :"Kalau kamu mau ya oke kita bulan madu, kamu mau kemana?" Membelai rambut Stella.


Stella :"Terserah yang penting jauh ya." Memberi senyuman. "Aku pengen ke luar negeri, aku belum pernah." Memasang muka cemberut.


Marcel :"Kamu belum pernah? Benaran? Padahal oom dan Tante sering lah sepertinya."


Stella :"Iya mereka, aku tidak. Aku pernah tetapi sewaktu aku masih kecil, kan belum bisa merasakannya. Tetapi tidak usahlah." Membaringkan badannya.


Marcel :"Lah kenapa? Tadi katanya pengen."


Stella :"Biaya nya banyak banget, kamu juga mau membuka cabang baru kan? Itu lebih penting." Memberi senyuman.


Marcel :"Aku beruntung banget bisa miliki kamu." Memegang pipi Stella. "Kamu tidak usah memikirkan biayanya, aku pasti ada. Mengeluarkan uang untuk ke luar negeri itu hanya seperti menjentikkan jari saja kok haha,"


Stella :"Iih," memukul Marcel. "Kamu jangan sombong begitu loh Sel."


Marcel :"Aku bercanda loh sayang," membaringkan badannya di samping Stella.


Stella :"Sel, kamu jangan bilang kayak tadi lagi ya." Menghadap Marcel.


Marcel :"Bilang apa?"


Stella :"Kamu beruntung banget miliki aku."


Marcel :"Kenapa? Emang benar kok."


Stella :"Prayoga sering banget bilang gitu sama aku, aku tidak mau nasib kamu dan Prayoga sama nantinya." Memegang pipi Marcel.


Marcel :"Jadi ke ingat Prayoga ya?"


Stella :"Tidak loh, kamu jangan bilang seperti itu lagi dong."


Marcel :"Sebenarnya itu memang benar, tetapi bagaimana ya. Aku harus mengubah perkataan itu dengan apa?"


Stella :"Terserah kamu saja deh."


Marcel :"Ya sudah deh, Oh ya aku tidak jadi membuka cabang, baik di kota ini dan di kota XY." Membelai rambut Stella.


Stella :"Kenapa?" Mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Marcel :"Resiko nya lebih besar Stell, aku rasa juga satu perusahaan sudah cukup." Memberi senyuman.


Stella :"Oh ya sudah tidak masalah." Memberi senyuman.


Marcel :"Ngomong-ngomong kapan dia bisa nendang?" Memegang perut Stella.


Stella :"Aku tidak tau, coba kamu cari google kalau pengen tau." Memegang tangan Marcel yang mengelus perutnya.


Marcel :"Nanti sajalah, kita kalau mengobrol sepertinya selalu mengabaikan dia ya."


Stella hanya memberi senyuman.


Stella :"Aku tidak menyangka aku akan menjadi seorang mama Sel." Mengelus perutnya. "Sepertinya aku jahat banget, bahkan mengajaknya mengobrol pun aku tidak pernah." Matanya berkaca-kaca.


Marcel :"Yang berlalu biarlah berlalu Stell, mulai hari ini kita harus lebih peduli padanya."


Stella :"Aku sangat menyayangi nya Sel." Memegang perutnya dan mengelusnya.


Marcel :"Apa kamu sudah punya baju hamil?"


Stella :"Belum," menggelengkan kepalanya.


Marcel :"Besok kita beli ya, Susu buat kamu apa sudah habis ?"


Stella :"Belum Sel, aku tidak pernah meminumnya jika kamu tidak membuatkannya."


Marcel :"Seharusnya itu sudah harus habis, tapi ya sudahlah. Mulai besok kamu harus banyak makan dan minum vitamin buat anak kita ya Stell. Aku akan membeli besok."


Stella :"Iya Sel."


Marcel :"Kita beli susunya sekarang aja yok. Kamu ganti baju mu ya."


Stella :"Eh tidak, ini sajalah."


Marcel :"Eh jangan, nanti orang mengganggumu."


Stella :"Aku di dalam mobil saja kok, tidak apa-apa ya? " Memasang muka manja.


Marcel :"Ya sudah lah, ayok." Turun dari tempat tidur.


***


Sesampai di swalayan, Marcel memarkirkan mobilnya di parkiran.


Stella :"Biar aku saja yang beli ya," membuka seat belt.


Marcel :"Eh, eh jangan Stell." Menarik seat belt Stella.


Stella :"Aku saja lah Sel."


Marcel :"Stella, tidak. Kamu hanya memakai tanktop, kamu di sini saja."


Stella :"Ih tidak apa Sel, kamu ikut deh."


Marcel :"Tidak, kalau kamu masuk kamu memakai baju ku, biar aku yang buka baju."


Stella :"Ih tidak, tidak begitu juga kali."


Marcel :"Bisa aku saja ya sayang, kamu hanya memakai tanktop, aku tidak mau orang melihat mu dalam keadaan berpakaian seperti ini. Kamu di mobil saja ya, aku tidak akan lama."


Stella :"Ya sudahlah, beli cemilan banyak ya."


Marcel :"Aman bos." Membuka pintu.


Marcel masuk ke dalam swalayan untuk membeli keperluan untuk Stella.


Selesai belanja, Marcel memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi mobil. Lalu ia masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya.


Stella :"Kamu beli apa? Banyak banget." Melihat ke bagasi.


Marcel :"Cemilan dan susu untukmu." Memasang seat belt.


Stella :"Kok banyak banget?"


Marcel :"Tidak, aku yakin itu besok sudah habis semua kamu makan haha." Tertawa.


Stella :"Enak aja," memukul Marcel. "Jangan langsung pulang dong Sel, kita keliling dulu."

__ADS_1


Marcel :"Nanti kamu masuk angin loh Stell, baju mu begitu."


Stella :"Dari mana angin mau masuk? Kaca ditutup semua kok."


Marcel :"AC nya hidup tu." Memutar AC untuk mengecilkannya. "Itu di belakang ada jaket ku, kamu pakai itu ya."


Stella :"Ih udah berapa tahun tidak kamu pakai ini?" Mengambil jaket di belakang.


Marcel :"Semalam aku masih memakainya, pakailah." Melihat Stella. "Keliling kemana kita?"


Stella :"Keliling kota ini." Memakai jaket.


Marcel :"Stell, mundur sedikit. Spionnya tidak kelihatan."


Stella :"Aku gemukan ya?" Melihat Marcel dan memberi senyuman.


Marcel :"Ih kok senang?"


Stella :"Kamu tidak suka ya?" Mengerutkan dahinya.


Marcel :"Tidak sih biasa saja."


Stella :"Aku dari dulu sudah banget gemukin badan Sel, sekarang giliran tidak ada niat aku bisa gemuk. Aku gemukkan kan?"


Marcel :"Iya sayang, kamu gemukkan." Membelai rambut Stella.


Stella :"Kamu tidak risih memanggil ku dengan sebutan itu?"


Marcel :"Sayang?"


Stella :"Iya." Menganggukkan kepalanya.


Marcel :"Tidak, jika kamu menyayangi orang pasti kamu dengan mudah menyebut nya dengan panggilan sayang itu. Coba kamu bilang sayang sam aku."


Stella :"Marcel." Memberi senyuman.


Marcel :"Sayang bukan Marcel."


Stella :"Sayang." Memberi senyuman dan meletakkan kepalanya di bahu Marcel.


Marcel :"Apa sayang hahaha?" Tertawa. "Kita jangan panggil nama lagi dong Stell, kan tidak lucu jika nanti anak kita lahir terus dia bisa ngomong dia malah panggil kita Stella, Marcel kan tidak sopan."


Stella :"Jadi panggil apa dong?"


Marcel :"Terserah kamu aja." Membelai rambut Stella.


Stella :"Abang? Tetapi itu sudah asing kali bagi mulut ku, kamu manggil apa?"


Marcel :"Sayang."


Stella :"Aku juga deh." Memberikan senyuman.


Marcel :"Serius?"


Stella :"Iya,"


Marcel :"Coba katakan sesuatu padaku."


Stella :"Diam lah ya, jangan ribut."


Marcel :"Kok begitu sih? Kata sayangnya tidak ada."


Stella :"Auh, Perut ku keram Sel." Memegang perutnya.


Marcel :"Kenapa?kenapa? Kamu coba mundurkan kursinya."


Stella menurunkan kursinya kebelakang dan bersandar.


Marcel :"Sakit? Apa masih sakit?" Memegang perut Stella.


Stella :"Tidak sakit hanya keram, kamu tidak terasa ya?" Membuka bajunya bagian bawah.


Marcel :"Keras sekali, adek kenapa dek?" Memegang perut Stella."Kita ke rumah sakit ya."


Stella :"Iya." Menutup matanya.


Marcel melajukan mobilnya menuju rumah sakit, Stella berbaring dan menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2