
Pukul 19.00, mereka mulai makan malam mereka berdua di ruang makan yang besar itu, Stella senang ketika melihat Marcel sangat menikmati makanan yang ia masak. Stella juga merasa puas karena hari ini dia berhasil memasak tanpa bantuan bibi dan mamanya.
Marcel :"Ternyata kalau hanya berdua di rumah sebesar ini sepi ya," menegukkan minuman.
Stella :"Iyalah, Yati mana ya?"
Marcel :"Pamit pulang tadi dia saat kamu sedang mandi,"
Stella :"Pekerja rumah yang lainnya?" Mengambil piring nya dan piring Marcel.
Marcel :"Tidak tau ya, mungkin sedang mengobrol di luar."
Stella :"Ooh," meletakkan dan mencuci piring di wastafel.
Marcel :"Masakan kamu enak sekali Stell," memegang perutnya.
Stella :"Besok-besok aku saja yang masak ya," duduk di samping Marcel.
Marcel :"Kalau bi Murti sudah datang tidak usah."
Stella :"Tidak apa sih Sel, aku membantu saja. Oh ya, berapa harga rumah ini?"
Marcel :"Emang kenapa? Kamu mau bayar juga?" Mengelus rambut Stella.
Stella :"Belum lunas ya?"
Marcel :"Sudah kok. Kamu tidak usah terlalu memikirkan semuanya."
Stella :"Aku hanya pengen tau, berapa sih Sel?"
Marcel :"17 miliar Stell," menegukkan minuman.
Stella :"Sayang banget duitnya, kamu dapat uang dari mana sih?"
Marcel :"Kok sayang sih? Aku bekerja keras untuk mencapai titik ini, dan aku sudah berhasil mendapatkannya berarti usaha ku tidak sia-sia."
Stella :"Maunya kemarin kamu beli rumah yang sederhana saja, tidak perlu sebesar ini. Di sini kalau hanya di huni 2 orang sepi banget loh Sel."
Marcel :"Tidak kok, tidak di huni 2 orang. Sebentar lagi ada anak kita, dan setelah kamu melahirkan lagi bakal ada anak lagi. Aku bakal penuhin rumah ini dengan anak kita," menaikkan alisnya.
Stella :"Enak banget ya kamu ngomong. Jadi udah lunas belum rumahnya?"
Marcel :"Sudah."
Stella :"Berapa kali mengangsur?"
Marcel :"Aku bayar kes."
Stella :"Ya sudahlah, sudah terjadi juga." Berdiri.
Marcel :"Kenapa hei?" Menarik tangan Stella. "Kamu tidak suka dengan rumahnya?"
Stella :"Suka kok Sel, Aku tidur di kamar bawah ya hari ini?"
Marcel :"Jadi aku di kamar atas?" Berdiri.
Stella :"Iya," memberi senyuman.
Marcel :"Berarti aku kembali seperti 2 bulan lalu lagi? Tidur terpisah dengan mu ha?"
Stella :"Eh tidak begitu sayang, aku tidak boleh naik turun tangga bolak balik. Kamu juga tidak mau tidur di kamar bawah kan?"
Marcel :"Iya aku tidak mau, emang tidak ada cara lain kamu pikir? Tidak ada gunanya badanku sebesar ini jika tidak bisa menggendong badan mu yang mungil itu."
Stella :"Hahaha, ya sudah ayok." Memukul punggung Marcel.
__ADS_1
Stella dan Marcel berjalan menaiki tangga, Marcel langsung menggendong Stella, namun Stella meminta untuk di turunkan.
Stella :"Aku jalan saja Sel,"
Marcel :"Tapi capek."
Stella :"Aku jalan pelan-pelan ya,"
Marcel berjalan di samping Stella, mereka berjalan dengan sangat pelan. Tiba-tiba hp Stella berdering, dan ternyata hp nya berada di kamarnya.
Stella :"Eh, kamu ambil cepat Sel. Lari Sel,"
Marcel berlari menaiki tangga memasuki kamar, ia mengambil hp Stella yang berada di tempat tidur itu dan melihat siapa yang memanggilnya. Saat ia ingin mengangkat panggilan itu keburu mati.
Marcel :"Mama Stell," berjalan keluar kamar dan melihat Stella yang berada di tangga.
Stella :"Mama kamu?"
Marcel :"Tidak, mama kamu loh. Mama kamu itu mama aku juga." Memberikan hp Stella.
Stella mengambil hp nya, lalu mereka berjalan memasuki kamar dan menaiki tempat tidur, Stella menyalakan ponselnya dan menelpon mamanya. Kemudian mamanya pun mengangkat, Marcel mencoba menguping pembicaraan namun Stella memarahinya, Stella pergi ke ruangan depan kamarnya dan duduk disana, sedangkan Marcel menonton televisi di dalam kamar.
Setengah jam kemudian, Stella masuk ke kamar karena sudah selesai menelpon dan membaringkan badannya.
Marcel :"Kenapa Stell?"
Stella :"Tidak apa Sel, tidurlah besok mau bekerja."
Marcel :"Kenapa sih Stell? Kamu bilang kalau kamu sudah menganggap ku ini suami mu, tetapi masalah di keluarga mu pun kamu sembunyikan dari ku." Membanting hpnya ke tempat tidur.
Stella :"Sel, jangan banting-banting lah," Mendudukkan badannya. "Tidak ada apa-apa kok." Mengelus punggung Marcel.
Marcel :"Jadi, kenapa kamu sampai pergi ke luar? Kalau tidak ada yang kamu sembunyikan tidak mungkin kamu menghindar dari ku Stell,"
Marcel :"Ya terserah kamu lah, besok kalau aku dapa masalah pun aku tidak akan cerita pada mu jika kamu begini padaku." Membaringkan badannya.
Stella melamun menatap langit-langit kamar, Marcel terus memperhatikan Stella, Marcel tau jika istrinya ini sedang ada masalah namun ia menyembunyikannya dari Marcel.
Marcel :"Stell," membelai rambut Stella. "Kamu cerita sama aku, supaya beban kamu berkurang."
Stella :"Makasih ya Sel," membalikkan badannya menghadap Marcel.
Marcel :"Ada apa?"
Stella :"Tidak ada Sel."
Marcel :"Kamu tidak perlu menyembunyikannya dari ku Stell, aku ini suamimu."
Stella :"Kantor papa ku terbakar Stell, semuanya habis terbakar tidak ada yang tersisa satupun. Papa ku depresi , sampai sekarang lagi dirawat di rumah sakit. Bulan depan Abang ku menikah, karena pacarnya sudah hamil. Keperluan sekolah Bastyan banyak sekali, sedangkan tabungan sudah habis untuk biaya rumah sakit, maaf Sel aku tidak bermaksud untuk meminta mu membantu mereka kok."
Marcel :"Kenapa? Emang aku tidak boleh membantu keluarga ku? Mereka itu keluarga ku loh."
Stella :"Bukan begitu Sel, aku tau saat ini kamu juga lagi punya masalah ekonomi karena beberapa toko emas sudah tutup. Aku hanya tidak ingin merepotkan mu."
Marcel :"Stella, penghasilan ku bukan dari toko emas saja. Lagian kalau semua toko emas ku tutup pun aku tidak akan bangkrut. Aku masih punya perusahaan, aku ini pengusaha tambang batu bara. Apa kamu tidak berniat membantu mereka?"
Stella :"Tentu berniat Sel, tetapi aku tidak punya uang."
Marcel :"Uang yang selama ini ku transfer sama mu kemana?"
Stella :"Itu milikmu kan?"
Marcel :"Tetapi aku sudah memberikannya pada mu, pakailah itu untuk membantu mereka. Kalau kurang aku akan menambahkannya nanti."
Stella :"Serius Sel? Boleh?"
__ADS_1
Marcel :"Tentu boleh, itu uang mu dan itu adalah hak mu. Lagian ini sudah tanggung jawab ku sebagai anggota keluarga mu, aku juga akan membantu mereka."
Stella :"Makasih ya Sel," mencium pipi Marcel. "Cie bentar lagi punya adek." Tersenyum.
Marcel :"Iya, papa udah tidak sabar kamu lahir nak." Memegang perut Stella.
Stella :"Eh kok anak? Aku bilang kamu bakal punya adek lagi, bukan punya anak."
Marcel :"Ha? Maksudnya apa Stell?"
Stella :"Mama kamu hamil Sel."
Marcel :" Ha? Serius kamu?"
Stella :"Ih iya lah, ngapain aku bohong, selamat ya."
Marcel :"Udah berapa bulan usianya?"
Stella :"Dua bulan sepertinya, umur mama kamu berapa Sel?"
Marcel :"45 mau masuk 46 tahun lah."
Stella :"Oh, berarti mama kamu cepat nikah ya?"
Marcel :"Iya, umur 19 tahunan lah."
Stella :"Ciee bakal punya adik." Merapikan rambut Marcel.
Marcel :Eh, sudahlah dari tadi itu terus."
Stella :"Sepertinya nanti adek tidak di perhatikan lagi lah." Memegang perutnya.
Marcel :"Tidaklah, adek masih yang nomor satu ya nak." Mencium perut Stella.
Stella :"Jadi mamanya nomor berapa?"
Marcel :"Mamanya itu tidak terbilang lagi lah, kalau ada angka di depan nomor satu itu lah dia. Oh ya, transfer lah uang buat biaya rumah sakit."
Stella mengambil hpnya, dan membuka m-banking.
Stella :"Sel, aku transfer 1 miliar apa boleh?"
Marcel :"Boleh Sayang, tetapi apa segitu cukup? Apa duitmu tinggal segitu?"
Stella :"Tidak, di sini masih banyak saldo kok. Aku transfer 2 miliar ya,"
Marcel :"Iya terserah kamu saja. Kalau kurang bilang ya, biar nanti aku transfer."
Stella mentransfer uang ke rekening mamanya dengan saldo 2 miliar.
Stella :"Makasih ya Sel," mencium kening Marcel.
Marcel :"Ini sudah kewajiban ku sebagai suami mu."
Stella :"Dulu, saat kita baru menikah. Aku pengen sekali membunuh mu, aku melakukan berbagai cara agar kamu terluka. Bahkan aku sempat menyiram minyak ke tangga agar kamu terjatuh dari tangga, tetapi sedikit pun usahaku tidak bisa membuat mu celaka. Coba saja waktu itu usaha ku berhasil dan kamu terluka, mungkin hari ini aku akan sangat menyesal." Meletakkan kepalanya di atas dada Marcel.
Marcel :"Aku tidak menyangka kamu setega sama aku loh Stell, tetapi ya sudahlah. Yang berlalu biar lah berlalu, tidak ada gunanya kamu menyesal."
Stella :"Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik buat kamu Sel, aku berjanji pada diriku. Kamu lelaki baik, terimakasih sudah memilihku menjadi pasanganmu."
Marcel :"Makasih Stell, aku senang mendengar ucapan mu. Tidur ya, besok kita akan bekerja. Selamat malam sayang." Mencium kening Stella.
Stella :"Selamat malam sayang,"
Marcel mematikan lampu dan menarik selimut, tak lama kemudain mereka tertidur dalam kesunyian.
__ADS_1