Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Mama dan Papa


__ADS_3

Pukul 05.00 dini hari, Marcel membangunkan Stella untuk bersiap-siap karena pada pukul 06.00 pesawat akan segera berangkat ke kota XX. Stella langsung bangun, lalu ia masuk ke kamar mandi dan mandi bersama dengan Marcel. Selesai mandi, mereka langsung mengenakan pakaian.


Stella :"Berapa hari di sana?" Memakai bajunya.


Marcel :" Kalau meeting sih hanya hari ini dan besok, kalau kamu masih mau di sana, ya kita di sana dulu."


Stella :"Lusa langsung pulang aja kalau begitu. Itu pekerja rumah liburkan aja dulu, kecuali satpam ya."


Marcel :"Emang kenapa? Nanti rumah kita berantakan."


Stella :"Siapa yang mau berantakin? Tidak ada anak kecil di sini, palingan hanya berdebu. Liburkan saja dulu mereka, biar gaji 2 hari yang seharusnya untuk mereka bisa di tabung."


Marcel :"Oh iyadeh, kamu siapkan pakaian kita ya. Aku mau ngomong sama Bu Murti dulu."


Stella :"Iya," mengambil koper.


Marcel berjalan keluar kamar menuruni tangga dan mencari bi Murti.


Stella menyiapkan pakaian 2 hari untuk nya dan Marcel di kota XX nanti. Beberapa menit kemudian, Marcel dan Stella memasuki mobil dan berjalan menuju ke bandara. Sesampai di bandara, mereka langsung memasuki pesawat karena akan segera berangkat. Waktu perjalanan seperti biasa memakan waktu 3 jam, mereka tiba di kota XX pada pukul 9.00, begitu sampai di kota XX, mereka menaiki taksi dan supir taksi itu mengantarkan mereka ke lokasi tujuan. Mereka di antar ke rumah orang tua Stella, yang berhadapan juga dengan rumah orang tua Marcel. Sesampai di lokasi, Marcel membayar biaya perjalanan dan membawa masuk koper itu ke dalam rumah.


Mereka di sambut hangat oleh orang tua Stella, mereka langsung berjalan masuk ke kamar, Marcel meletakkan koper di samping lemari.


Marcel :"Sayang, aku pergi dulu ya. Jam 10.00 meeting nya sudah mau mulai, kamu di sini saja dulu ya sayang. Nanti jam 12.00 aku pulang jemput kamu, kita jalan-jalan ya."


Stella :"Aku boleh ke rumah teman aku tidak?"


Marcel :"Rumah siapa?"


Stella :"Ke rumah Milka, boleh?"


Marcel :"Oh ya sudah ayok aku antarin ya, tetapi aku tidak bisa ikut merumpi."


Stella :"Iya, kamu antar aku aja." Mengambil tas mini dari dalam koper.


Mereka permisi untuk pergi kepada orang tua Stella, saat Marcel ingin mengambil mobilnya dari garasi rumah orang tuanya, Stella melarangnya ddan menyuruhnya untuk memakai mobilnya saja. Kemudian Stella memberikan kunci mobilnya yang di tinggalkan nya sengaja di rumah ini, lalu Marcel memanaskan mesin mobilnya. Beberapa menit kemudian, mobil pun melaju meninggalkan komplek. Marcel melajukan mobilnya menuju rumah Milka, dan sesampai di rumah Milka, Marcel langsung pamit untuk pergi, kemudian Marcel melajukan mobilnya ke tempat dimana akan di adakan meeting dengan para investor.


Stella berada di rumah Milka, mereka bercerita-cerita canda dan tawa, dan Marcel meeting dengan para investor hingga pukul 12.00. Pukul 12.00, Marcel langsung melajukan mobilnya menuju rumah Milka untuk menjemput Stella, setelah itu mereka berjalan menuju mall untuk makan siang berdua. Mereka makan siang di Solaria, setelah makan siang Marcel mengajak Stella untuk membeli pakaian hamil untuknya. Dua jam mereka mencari dan memilih milih pakaian yang pas di tubuh Stella, kemudian selesai berbelanja mereka balik ke rumah.


Stella :"Kita ke rumah kamu dulu yok, dari tadi sampai sini belum ada singgah." Membuka seat belt.


Marcel memarkirkan mobil Stella di garasi, lalu mereka berjalan menuju rumah orang tua Marcel, Marcel mendorong pagar rumah nya dan langsung masuk ke rumah. Mereka melihat mata mamanya yang bengkak dan berair karena menangis.


Marcel :"Ma, kenapa?"


Mama :"Hei, kalian. Mama hanya mengantuk." Mengelap matanya.


Marcel :"Kok mengantuk sampai begini? Kenapa tidak tidur ? Oh, ya papa mana ma?"


Mama :"Papa lagi kerja nak," mengelap air matanya.


Marcel :"Ah mama, itu mobil papa di luar. Mama habis nangis ya? Papa mana?" Berjalan


Mama :"Sel, sel tidak. Jangan Sel," menarik tangan Marcel.


Marcel :"Kenapa Ma? Sebentar Ma," berjalan meninggalkan Mamanya dan Stella.


Stella :"Ada apa Tan?"


Mama :"Kejar Marcel Stella, kejar dia."


Stella berjalan mengikuti Marcel, Marcel membuka pintu kerja papanya alangkah terkejut nya dia, melihat papanya berduaan dengan seorang wanita muda di dalam ruangan itu sambil mesra-mesraan. Marcel berjalan mendekati papanya dan menumbuknya dengan kuat.


Marcel :"Oh, jadi ini alasan mama menangis?, Mama lagi hamil papa begini." Menumbuk papanya lagi.


Papa :"Kamu sudah berani melawan ya," menumbuk Marcel.


Marcel dan papanya berkelahi, Stella berusaha melerainya.


Stella :"Sayang, udah udah." Menarik Marcel. "Marcel sudah." Berteriak. "Tidak ada gunanya kamu seperti ini."


Marcel berhenti melawan


Marcel :"Murahan kau!" Menunjuk wanita yang ada di samping papanya.


Stella :"Kamu lihat mama kamu dulu."


Marcel berjalan meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke ruang tamu melihat mamanya.


Stella :"Tega oom ya," menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke ruang tamu.


Mamanya sudah tidak bisa menahan tangis, ia memeluk Marcel dengan kuat.


Marcel :"Kenapa mama nutupin semuanya?"


Mama :"Maafin mama Nak, maafin mama ya Stella."


Stella :"Tidak apa kok Ma, apa yang akan Mama lakukan selanjutnya?"


Mama :"Mama lagi hamil Nak, Mama tidak bisa melakukan apapun saat ini, setelah adik Marcel lahir kami akan berpisah."


Stella :"Untuk sementara ini, Mama ikut kami ke kota XY saja ya,"


Mama :"Tidak sayang, tidak bisa. Maxim masih sekolah Nak,"


Marcel :"Aku akan mencari tempat tinggal untuk mama di sini, ayok kita pergi."


Marcel berjalan masuk ke kamarnya dan mengambil kunci mobil, lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi.

__ADS_1


Marcel :"Stella, kamu di sini saja dulu ya. Nanti kamu kecapean."


Stella :"Aku mau ikut Sel,"


Mama :"Biarkan saja dia ikut Nak,"


Mereka memasuki mobil, lalu mobil melaju untuk mencari rumah yang di jual. Stella duduk berdua di belakang bersama mama mertuanya, sedangkan Marcel di depan menyetir mobil.


Stella :"Apa sudah lama Ma?"


Mama :"Belum Nak, baru 2 Minggu ini Tante tau." Menangis.


Stella memeluk mama mertuanya itu, ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh mama mertuanya. Stella ikut menangis di pundak mama mertuanya.


Stella :"Tan, Stella takut jika ini juga akan terjadi pada Stella nantinya." Mengelap air matanya.


Marcel :"Sayang," melihat kaca.


Mama :"Kamu jangan sampai melakukan hal yang sama Sel, kamu jangan meniru papa mu itu."


Stella :"Biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, apa yang di lakukan orang tua itu juga pasti akan di tiru anaknya. Tan, kalau Marcel melakukan itu pada Stella, jujur Tan, Stella akan meninggalkan Marcel tanpa berpikir sedikit pun.


Mama :"Kamu dengar kan Marcel?" Melihat kaca. "Buat apa kita bertahan dengan orang yang tidak mencintai kita yakan Stell,"


Stella :"Iya Ma, Mama jangan sedih ya. Ada adek di dalam ya." Memegang perut mamanya.


Marcel :"Ma, jam berapa Maxim pulang ? Biar sekalian di jemput."


Mama :"Jam 5 nak,"


Marcel :"Ini ada rumah di jual Ma, apa mama setuju tinggal di sini?"


Mama :"Nak, pengeluaran kamu sedang banyak kan? Kamu tidak perlu repot-repot."


Stella :"Tante, tidak apa kok. Sel, kita turun di sini saja. Kamu telpon pemilik rumahnya, biar kita coba masuk ke dalam lihat kondisinya."


Marcel langsung menelpon nomor yang tertera di spanduk, pemilik rumah itupun setuju jika Marcel ingin melihat isinya sekarang juga.


Mereka menunggu hanya beberapa menit, karena rumah dari sih pemilik rumah juga tidak jauh dari rumah yang di jual itu. Beberapa menit kemudian, penjual rumah datang dan langsung membuka pintu memperbolehkan mereka masuk melihat isi dan sekeliling rumah, tidak lupa pula Stella bertanya kepada penjual tentang, air dan kondisi rumah saat banjir. Lalu penjual menjawab bahwa airnya bersih, dan tidak pernah banjir, rumah ini baru saja selesai di bangun. Marcel pun dengan cepat menyetujui rumah itu, dan langsung mentransfer uang untuk membeli rumah itu. Penjual rumah memberikan kunci dan langsung pergi untuk mengurus surat lalu memberikannya kepada Marcel. Penjual rumah itu pergi meninggalkan rumah yang sudah laku terjual itu, sementara Marcel, Stella dan mama masih keliling melihat rumah, mereka juga menaiki tangga melihat kondisi di lantai 2.


Stella :"Maunya kamu beli rumah untuk kita begini saja Sel, tidak usah besar sekali. Kan cocok untuk kita berdua saja," berjalan menuruni tangga.


Mama :"Iya, rumah kalian itu besar sekali. Itu pasti sangat sunyi jika kalain berdua saja di rumah, untung saja banyak pekerja rumah."


Stella :"Memang iya Ma, aku suka sepi kalau di tinggal sendirian."


Mama :"Mama pikir Stella yang minta rumah sebesar itu,"


Stella :"Eh, tidak. Stella tidak pernah minta Ma, Stella aja kaget saat pertama kali melihat rumah itu."


Stella :"Enak aja kamu ngomong, kamu beli lah furniture nya biar langsung bisa di tempati."


Marcel :"Iya, tadi aku udah hubungi kok. Palingan sebentar lagi, semua perabot akan sampai, aku juga sudah memanggil orang untuk membersihkan rumah ini."


Stella :"Jadi hari ini langsung di tempati?"


Marcel :"Iyalah, lebih cepat lebih bagus."


Stella :"Ih, jangan lah. Mama mau langsung tinggal di sini hari ini?"


Mama :"Ya, tidak apa Nak. Kalau sudah bersihnya ya kan. Marcel, kamu tolong jemput adik mu dan bawa ke sini ya. Nanti keburu papa mu yang menjemput nya,"


Marcel :"Baik Ma, Stella temanin mama di sini ya. Ma, jangan kasih dia kerja,"


Mama :"Iya, pergilah."


Marcel memasuki mobil dan melajukan mobilnya untuk menjemput Maxim adiknya.


Stella :"Ma, kemarin Stella dan Marcel juga ribut," mengelus perutnya.


Mama :"Kenapa sayang?"


Stella :"Di grup wa Marcel, dia manggil sayang sama cewek dan cewek itu juga memanggil Marcel dengan sebutan sayang, Stella marah lah kan, tetapi dia bilang hanya bercanda saja."


Mama :"Kok bercanda nya seperti itu?"


Stella :"Itu Stella juga tidak mengerti, Stella tidak mau cari tau lagi Ma, Stella takut kalau mereka memang beneran lagi dekat. Tetapi jika mereka benaran dekat, Stella memang akan meninggalkan Marcel ma,"


Mama :"Sebenarnya penceraian itu dilarang agama ya kan, tetapi mana mungkin kita sebagai wanita masih mau bertahan dengan laki-laki yang sudah berselingkuh."


Stella :"Iya Ma,"


Mama :"Mama bakal nasehati Marcel nanti, supaya dia tidak melakukan itu pada mu Nak, mungkin kamu juga hanya salah paham. Soalnya 26 tahun Marcel tinggal bersama Mama, dia tidak pernah berselingkuh Nak, pacaran saja dia jarang."


Stella :"Iya Ma, kita tidak tau juga kan. Biasanya laki-laki semakin kaya akan membutuhkan wanita semakin banyak, dan Marcel sekarang jauh lebih sukses di bandingkan dengan dulu."


Mama :"Iya itu betul sekali, mama doakan yang terbaik buat kalian ya. Mama tidak mau juga kalau kalian berpisah nantinya Nak, mama tidak mau kalian sama kayak kami."


Ada 3 mobil pick up datang membawa berbagai jenis perabotan serta elektronik dan berhenti di depan rumah, dua orang wanita turun dan langsung membersihkan rumah mulai dari menyapu, mengepel dan lainnya. Hanya dalam hitungan beberapa jam, keadaan rumah berubah. Rumah sudah bersih tanpa ada debu sedikit pun, kemudian supir-supir mengangkat perabotan masuk ke dalam rumah dan menyusun nya sesuai instruksi dari Stella. Saat semua perabotan sudah tersusun, mereka semua pergi meninggalkan rumah itu. Kini hanya Stella dan mama mertua yang ada di dalam rumah itu, rumah sudah tampak seperti rumah yang layak pakai. Sudah ada tempat tidur, sofa, lemari, televisi, ataupun lainnya. Beberapa menit kemudian, datang lagi sebuah mobil pick up yang membawa beberapa AC, lalu mereka langsung memasang AC di ruangan tertentu. Selesai memasang AC, mereka pergi meninggalkan rumah itu.


Marcel memarkirkan mobilnya di depan rumah, lalu Marcel dan Maxim turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Maxim :"Rumah siapa nih bang?" Menggeser pintu.


Marcel :"Rumah mu, mulai sekarang kamu dan mama tinggal di sini ya." Duduk di sofa. "Mulai nanti malam, tidur sini saja ya Ma. Nanti biar aku ambil pakaian mama di rumah, atau mau beli baru saja?"


Mama :"Ambil di rumah saja lah Sel, tetapi mama masih takut sendirian di sini."

__ADS_1


Stella :"Hari ni, kami tidur di sini saja dulu Ma," melihat hp nya yang berdering. "Oom menelpon." Melihat hp nya.


Marcel :"Oom siapa?"


Stella :"Papa mu."


Marcel :"Kenapa dia menelpon mu, sini aku angkat."


Stella :"Biar aku saja." Menjawab panggilan.


Stella mengangkat telepon lalu ia berbicara cukup lama dengan papa mertuanya itu. Mereka tidak bisa mendengar percakapan Stella dan papa itu karena Stella tidak menyalakan loudspeakernya. Selesai menelpon pun Marcel bertanya karena kepo.


Marcel :"Kenapa dia menelpon mu?"


Stella :"Dia minta tolong suruh bawakan mama pulang,"


Marcel :"Kenapa dia tidak bicara sama aku? Enak saja dia menyuruh sesuka hatinya."


Stella :"Marcel, kamu tidak boleh begitu. Bagaimana pun juga, dia itu papa kandungmu."


Mama :"Untuk sementara ini, mama mau di sini dulu. Mama mau tenangin diri di sini saja."


Marcel :"Iya ma, lebih baik begitu. Aku cari pembantu untuk bersih-bersih, besok dia sudah mulai bekerja."


Mama :"Makasih Nak, tolong lah kamu jemputin baju kami di rumah, kalau bisa satu lemari itu di bawa saja."


Marcel :"Iya Ma, aku pergi dulu ya. Stella kamu di sini saja ya,"


Mama :"Stella, kamu ikut saja ya."


Stella :"Iya, aku ikut."


Marcel :"Kamu di sini saja, nanti kamu kecapean."


Stella :Tidak kok, ayoklah cepat udah mau malam ini."


Marcel :"Kamu berangkat dulu ya ma," berjalan masuk ke mobil.


Marcel dan Stella melajukan mobilnya menuju ke rumah.


Stella :"Sel, kasihan banget mama." Menurunkan kursi nya.


Marcel :"Sayang, kamu tidak usah memikirkan itu ya. Biar saja, itu urusan ku."


Stella :"Aku membayangkan bagaimana jika posisi aku di mama kamu."


Marcel :"Sayang, aku tidak suka ya jika kamu terus memikirkan hal seperti itu, itu akan membuat perasaan cemas mu semakin besar. Kamu hilangkan rasa curiga seperti itu,"


Stella :"Apa kamu setuju jika mama kamu akan berpisah dengan papa mu?"


Marcel :"Sebenarnya aku tidak setuju, aku belum siap mereka berpisah, aku bisa setegar ini mungkin karena aku sudah menikah, yang ada di pikiran aku bukan hanya kamu kan. Coba Maxim, dia masih sekolah, aku takut itu akan menggangu mental nya nanti, apalagi jika adekku lahir, dia tidak punya sosok ayah di dekatnya. Tetapi aku terlalu egois, jika hanya memikirkan kerugian di pihak anak, aku juga harus memikirkan kondisi dan keadaan yang di alami mama ku, pasti dia shock berat. Kalau ada orang ke tiga di rumah tangga itu kan karena salah satu pihak sudah tidak mencintai, dan menurut ku buat apa hubungan itu di pertahankan ya kan?"


Stella :"Iya," memberi senyuman. " Jika kamu melakukan itu pada ku, apa kamu setuju aku meninggalkan mu?"


Marcel :"Stell, sebenarnya jujur aku berat menjawabnya. Karena aku tidak mau melakukan itu, tetapi jika memang benar aku melakukannya aku bersedia kamu tinggalkan." Membuka seat belt Stella.


Marcel membuka pintu mobil Stella, lalu Stella turun. Mereka masuk ke dalam rumah orang tua Stella, mereka permisi untuk menginap di rumah baru, Stella pun menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada ke dua orang tuanya, ke dua orang tuanya prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga Marcel. Marcel mengambil koper yang diletakkannya di kamar Stella, lalu ia memasukkan nya ke dalam mobil. Lalu Stella dan Marcel berjalan ke rumah Marcel, Marcel mengambil koper besar dan memasukkan semua pakaian mamanya ke dalam koper. Stella juga membantu nya memasukkan barang-barang mamanya, segala jenis make up mama mertuanya itu pun di masukkan ya ke dalam tas. Kemudian, Marcel memasukkan seluruh perlengkapan mama nya itu ke dalam mobil. Stella berjalan ke kamar Maxim, dan memasukkan semua pakaian, buku-buku pelajaran dan barang-barang yang penting menurutnya ke dalam koper yang besar. Barang-barang milik mama dan Maxim sudah masuk semua ke dalam koper. Marcel mengangkat koper itu ke dalam mobil. Papa Marcel berjalan menepuk tangannya.


Papa :"Hebat kalian ya, mama kamu itu masih istri Papa Marcel, kalian tidak berhak memisahkan papa dari nya."


Marcel :"Pa, semua yang sudah papa lakukan kepada mama itu aku rasa sudah cukup sampai di sini, setelah mama melahirkan nanti aku akan membantu mama mengurus surat pisah. Kalau soal hak asuh anak Pa, kami sudah bisa menentukan kepada siapa kami pergi."


Papa :"Stella, tolong kamu berpikir baik-baik, kalau kamu juga membantu kami untuk berpisah, kamu juga akan terkena nanti Stell, karena jika kamu memisahkan hubungan pernikahan, pernikahan kamu juga akan terpisah nantinya."


Marcel :"Pa, aku dan papa itu beda. Aku rasa ini pertemuan terakhir kita, kami permisi pa." Menarik tangan Stella masuk ke mobil.


Marcel melajukan mobilnya menuju rumah mamanya yang baru saja di beli, sesampai di rumah ia menurunkan semua koper yang berisi barang-barang Maxim dan mamanya. Kemudian, tidak lupa pula ia menurunkan koper yang berisi barangnya dan Stella, ia meletakkan koper itu di sebuah ruang kamar yang sudah layak pakai. Stella membantu mama mertunya menyusun barang-barang dan meletakkannya ke dalam lemari yang masih masih baru beli itu. Kemudian, ia membantu Maxim meletakkan barang-barang ke kamarnya. Setelah merapikan barang-barang, Marcel membeli makanan untuk makan malam, ia membeli 5 bungkus nasi goreng, dan 5 bungkus sate. Kemudian mereka menyantap makanan itu bersama.


***


Pada pukul 07.00, Marcel di telepon oleh seorang investor, investor itu mengajak Marcel untuk bertemu.


Marcel :"Sayang, barusan aku di telepon investor, dia mengajak aku untuk bertemu dengan beberapa investor lainnya dan akan di adakan meeting dadakan. Aku permisi dulu ya sayang,"


Mama :"Kok malam begini meeting sih?"


Marcel :"Namanya juga mendadak ma, lagian besok siang aku sudah pulang. Aku tidak akan bisa menghadiri meeting jika besok di adakan."


Stella :"Kamu hati-hati ya, pulang jam berapa?"


Marcel :"Kurang tau sayang, nanti kamu langsung tidur saja jika mengantuk ya, tidak usah menunggu ku pulang. Aku permisi dulu ya," mencium kening Stella.


Mama :"Hati-hati Nak."


Marcel melajukan mobilnya, lalu Stella mengunci pagar rumahnya. Karena masih ketakutan dengan kondisi di rumah ini, mereka semua memilih untuk menonton di kamar mama, dan tidur di sini.


***


Pada pukul 12.00, Stella menghubungi Marcel yang belum pulang juga, tetapi telepon itu tidak di angkat Marcel. Beberapa menit kemudian, ada pesan masuk ke hp nya dari Marcel.


"Hai, aku belum bisa pulang. Malam ini aku lembur dan tidur di sini dulu ya, besok pagi aku pulang."


Begitulah kira-kira pesan yang di kirim Marcel kepadanya, Stella pun langsung menutup matanya dengan lega setelah membaca pesan itu.


Awalnya ada rasa yang menjanggal, namun Stella mencoba berpikir positif dan menghilangkan semua perasaan itu. Ia mencoba menenangkan mamanya yang dari tadi mencari tahu keberadaan Marcel dan menenangkan dirinya sendiri. Ia percaya jika suaminya sangat mencintai dirinya, maka dengan begitu Marcel tidak akan mengecewakannya. Beberapa menit kemudian, Stella berusaha mencoba tidur. Namun mama mertuanya lebih dulu tertidur, dan beberapa menit kemudian Stella menyusul nya tidur. Keadaan rumah dengan seketika terasa hening, ketiga penghuni rumah sudah tidur lelap.


Hai Semuaa♥️♥️♥️, hari ini aku update episode dengan jumlah kata 2981 untuk satu episode, maaf ya pembaca ku yang setia, karena panjang banget.... Kalian jadi bingung eh tadi udah sampai di mana ya bacanya😆😂, Jadi begini,,, baca ceritanya tanpa melangkah-langkah paragrafnya ya.. Karena besok aku akan update ceritanya tentang beberapa bulan kemudian, jadi kalian harus mengikuti dari awal biar tidak bingung yaa♥️♥️♥️😇

__ADS_1


__ADS_2