
Hari ini adalah hari ke tiga Stella terbaring di rumah sakit, teman-teman serta sahabat datang untuk menjenguk dan melihat buah hati Marcel dan Stella. Hari ini, Stella juga sudah di izinkan pihak rumah sakit untuk pulang, karena kondisi Stella sudah membaik. Pada pukul 15.00, Stella pun bersiap-siap untuk pulang, dan saat itu juga wanita yang bernama Lesty datang menghampiri Stella di ruang rawat.
Lesty :"Hai, eh sudah mau pulang?"
Stella :"Mau ngapain lagi?"
Lesty :"Apa kondisi mu sudah mendingan?"
Stella :"Katakan saja apa mau mu, aku tidak ingin melihatmu."
Lesty :"Jadi begini, aku ingin menanyakan soal keputusan pernikahan mu dengan Marcel, kalian jadi berpisah kan?"
Marcel :"Kau keluar," mendorong Lesty hingga terjatuh.
Lesty :"Marcel, aku sedang hamil anak kamu. Kamu tega sekali, bagaimana jika anakmu ini kenapa-napa?"
Marcel :"Aku tidak perduli, kau keluar." Mendorong Lesty.
Stella :"Kamu tidak usah takut, keputusan ku untuk berpisah dengannya sudah bulat." Mendudukkan badannya.
Marcel :"Apa mau mu ha? Keluar kau!" Mendorong Lesty keluar ruangan.
Setelah berhasil mengusir Lesty, Marcel kembali masuk ke dalam ruangan rawat, dan berjalan mendekati Stella.
Marcel :"Sayang, aku tidak akan pernah mau berpisah dengan mu." Memegang kedua tangan Stella.
Stella :"Awas Sel, aku ingin melihat anakku." Mencoba turun dari tempat tidur.
Marcel membantu Stella menaiki kursi roda, lalu Stella memutar roda itu sendiri, Marcel pun mendorong kursi roda Stella menuju ruang NICU tempat bayi-bayi mereka di rawat.
Sesampai di ruang NICU, Stella di persilahkan masuk oleh dokter. Ini adalah hari pertama ia melihat secara langsung kedua bayi mungilnya. Perawat memperbolehkan Stella untuk menggendong ke dua bayinya dan menyuruhnya untuk memasukkannya ke dalam bajunya, karena suhu tubuh Stella itu dapat menghangatkan bayi. Stella sangat sedih melihat keadaan bayinya yang terpasang banyak selang di tubuhnya. Stella meletakkan ke dua bayinya di dadanya dengan hati-hati, ia mencium dan mengelus lembut kepala bayi-bayinya.
__ADS_1
Stella :"Apa saya boleh memberikannya asi?"
Suster :"Tentu boleh ibu, bayinya letakin satu dulu ya." Mengambil salah satu bayi dari pelukan Stella.
Kemudian Stella memberi asi kepada bayinya, Stella tersenyum melihat bayinya yang sedang menikmati asi. Air mata nya menetes di pipinya dengan kencang, perasaannya sedang tidak karuan saat ini. Ia memikirkan keadaan anaknya jika dirinya dan Marcel berpisah nanti.
"Apa aku terlalu egois mengambil keputusan berpisah ini? Apa yang akan terjadi pada anak-anakku? Dengan siapa mereka akan tinggal?" Ucap Stella dalam hatinya sambil mengelus kepala bayinya dengan lembut.
Sementara di balik kaca bening tepatnya di depan ruang NICU, Marcel sedang berdiri memperhatikan Stella dan bayinya dengan perasaan bahagia. Stella melihat Marcel, Marcel memberikan senyuman lebar kepada Stella.
Stella :"Sus, apa boleh suami saya masuk? Dia juga ingin melihat bayinya."
Suster :"Suami ibu yang mana?"
Stella :"Itu yang di depan,"
Suster :"Ya sudah boleh Bu," berjalan membuka pintu.
Marcel :"Apa aku boleh menggendongnya?"
Stella :"Kamu udah mandi?"
Marcel :"Sudah,"
Stella :"Buka baju mu, badan mu panas atau dingin?"
Marcel membuka bajunya dan memegang badannya.
Marcel :"Hangat sih,"
Stella :"Kamu ambil kursi itu, duduk di situ."
__ADS_1
Marcel menyeret kursinya dan meletakkannya di depan Stella, kemudian ia duduk di kursi itu. Stella memberikan bayi itu ke dalam rangkulan Marcel dengan hati-hati.
Stella :"Hati-hati Sel," menutup baju Marcel.
Marcel melihat bayinya dari balik kera dan kancing baju yang terbuka, ia sangat bahagia melihat anak dari pernikahannya dengan Stella.
"Jagoan papa ini ya sayang, sehat terus ya Axel, biar nanti bisa main bola sama papa." Mengelus punggung anaknnya dengan lembut.
Stella mengambil bayi perempuannya yang berada di dalam box dengan hati-hati, kemudian ia menyusui bayi itu di balik bajunya. Ia mengelus-elus kepala bayi yang sangat cantik itu.
Beberapa menit kemudian, perawat datang menghampiri mereka.
Marcel :"Sus, apa boleh anak saya, saya bawa pulang?
Suster :"Waduh, belum boleh Pak."
Marcel :"Mereka di rawat di rumah saja maksudnya Sus."
Suster :"Iya Pak belum boleh, apa bapak kurang mampu untuk membayar biaya rumah sakit?"
Marcel :"Bukan Sus, kan di rumah sakit ini penyakit lebih banyak makanya saya bawa ke rumah, saya sudah menyiapkan semua alat-alat perawatan untuk anak saya, saya juga sudah membayar dokter khusus untuk merawat anak saya."
Suster :"Oh begitu, saya pikir bapak kurang dana. Kalau melanjutkan perawatan di rumah sudah bisa Pak, tetapi tidak hari ini juga Pak, sepertinya lusa Pak. Kita tunggu keadaan bayinya benar-benar sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Marcel :"Oh baik, lusa kira-kira jam berapa ya? Apa selangnya bisa di putus saat di perjalanan?"
Suster :"Sekitar pagi hari Pak, belum Pak. Selangnya belum bisa di lepas sampai usianya cukup, nanti bayinya di letakin di dalam baju ibu saja, karena suhu tubuh ibu mampu menetralkan bayi Pak. Maaf pak, Bu sepertinya waktunya sudah cukup, biarkan bayi nya beristirahat."
Stella memberikan bayi ke pada suster, lalu suster meletakkan bayi itu di box, kemudian Marcel juga meletakkan bayi di box yang bersamaan.
Sebelum pulang Stella mencium bayi-bayinya. Kemudian mereka berjalan keluar ruangan. Marcel mendorong Stella yang sedang menaiki kursi roda sampai ke parkiran, sesampai di parkiran Stella berjalan pelan menaiki mobil, kemudian Marcel masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
__ADS_1