Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Bertemu


__ADS_3

Stella masuk ke kamar, ia melihat Marcel sudah berbaring sambil bermain ponsel di tempat tidur. Stella menaiki tempat tidur dan membaringkan badannya, ia memainkan ponselnya. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, Stella berharap Marcel memulai percakapan agar keadaan tidak hening, namun yang di harapkan Stella itu tidak terjadi. Suara ponsel Stella berdering, Stella tidak mengangkat telepon.


Marcel :"Siapa itu? Kenapa tidak di angkat?" Melihat Stella.


Stella hanya diam dan tetap memainkan ponselnya.


Marcel :"Sini aku yang angkat," menarik ponsel dari tangan Stella.


Stella :"Tidak usah Sel." Mengambil hp nya kembali.


Marcel :"Oh Prayoga, ya sudah angkat Stell."


Stella :"Tidak Sel," menekan tombol menolak panggilan.


Marcel :"Telvon lagi dia Stell, aku mau bicara."


Stella :"Bicara apa Sel?"


Marcel :"Kamu kalau aku suruh telepon ya telepon aja, jangan banyak tanya."


"Kenapa dia begitu kasar perkataannya sekarang?" Tanya Stella dalam hatinya,


Prayoga menelpon ulang Stella, Stella pun langsung mengangkatnya.


Stella :"Halo -"


Marcel langsung menarik telepon dari tangan Stella.


Marcel :"Halo, aku suami Stella, kau mencari ku kan? Ayok kita ketemu"


Marcel :"Oke aku akan ke sana sekarang," mematikan telepon.


Marcel langsung mengganti pakaiannya.


Stella :"Sel, mau ke mana?"

__ADS_1


Marcel :"Tadi kamu dengar kan? Aku mau ketemuan dengannya. Kenapa bertanya lagi?"


Stella :"Tidak usah Stell," menarik tangan Marcel.


Marcel :"Sebagai laki-laki yang baik aku tidak akan mengingkari janji."


Stella :"Aku ikut Sel," terus menarik tangan Marcel.


Marcel :"Jangan, biar aku saja."


Stella :"Aku mau ikut,"


Marcel :"Cepat, aku tidak mau menunggu."


Mereka berjalan keluar rumah, mereka permisi dengan orang tua mereka yang sedang mengobrol di ruang keluarga. Marcel mengambil mobilnya di garasi rumah nya dan mengeluarkannya dari garasi, Stella masuk ke dalam mobil, lalu Marcel melajukan mobilnya menuju cafe yang sudah di tentukan. Keadaan begitu hening di perjalanan, hanya terdengar suara klakson dari kendaraan-kendaraan.


***


Sesampai di cafe, sudah ada sosok Prayoga yang duduk di sebuah meja, mereka langsung berjalan menuju meja yang di tempati Prayoga.


Prayoga :"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu,"


Marcel :"Oh aku rasa tidak perlu, aku akan menjawabnya sebelum kau bertanya. Kita ini lelaki dewasa, dan bukan anak kecil lagi yang masih meributkan seorang wanita."


Prayoga :"Dia masih mencintaiku," menunjuk Stella.


Marcel :"Dia juga pernah mengatakan itu padaku, tetapi aku yakin dia tidak berbicara serius. Aku sudah melepaskannya, mulai besok dia sudah tinggal di kota ini. Setelah dia melahirkan aku akan mengurus surat penceraian,"


Prayoga :"Terima kasih sudah mengerti, tetapi aku yakin tidak perlu menunggu dia melahirkan. Mulai besok pun kau sudah bisa mengurus penceraian."


Marcel :"Aku sudah melepaskannya untuk kembali kepada mu, dan jangan meminta yang lebih. Aku akan menceraikannya setelah dia melahirkan nanti, di dalam perutnya itu anakku."


Prayoga :"Oke, baiklah. Setelah dia melahirkan, aku akan langsung menikahinya. Jadi aku akan menyiapkan pernikahan saat dia hamil ini."


Marcel :"Oh ya sudah, lakukan saja yang kalian ingin lakukan. Aku rasa sudah cukup membahas masalah ini, aku permisi ," berdiri.

__ADS_1


Stella hanya diam mencerna perkataan antara Marcel dan Prayoga dari tadi. Ia berdiri dan mengikuti Marcel, Prayoga menarik tangannya.


Prayoga :"Kita akan bersama lagi," memberi senyuman.


Stella hanya diam, lalu ia berjalan meninggalkan Prayoga dan mengikuti Marcel masuk ke dalam mobil.


Marcel langsung melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah.


**


Marcel memarkirkan mobilnya di depan rumah Stella, lalu ia turun masuk ke dalam rumah orang tua Stella, dan langsung masuk ke kamar. Stella berjalan mengikutinya dan menaiki tempat tidur. Marcel langsung menutup matanya, dan menarik selimut.


"Ini caraku, agar aku bisa melupakan dan ikhlas melepaskanmu Stell, semoga dengan cara seperti ini sedikit demi sedikit perasaan ku pada mu akan hilang." Ucap Marcel dalam hatinya.


Stella memandangi Marcel yang sedang tidur itu,


"Semoga semua yang di lakukannya memang keputusan yang terbaik." Ucap Stella dalam hatinya


Stella menuruni tempat tidur dan keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ruang keluarga, berbaring di sofa dan menyalakan televisi. Suasana di rumah sudah hening, sepertinya semua penghuni rumah sudah tidur.


Marcel membuka matanya, ia melihat tidak ada Stella di sampingnya, lalu ia berjalan membuka pintu dengan pelan, tampak Stella sedang berbaring di sofa sambil menonton. Marcel kembali masuk ke kamar, dan membaringkan badannya dan menutup matanya untuk tidur


***


Pada pukul 3 dini hari, Marcel terbangun. Ia belum melihat Stella di berada di kamar, Marcel keluar dari kamar dan mengintip ruang keluarga, di sana Stella masih menonton. Marcel ingin sekali menyuruh Stella untuk segera tidur, namun ia mengurungkan niatnya. Ia ingin menghilangkan rasa perhatiannya untuk Stella. Marcel masuk ke kamar kembali, ia melanjutkan tidurnya. Stella pun mulai mengantuk, ia menutup matanya perlahan lahan ia tertidur.


Bi Murti bangun pada pukul 6, ia akan menyiapkan makanan untuk penghuni rumah ini. Saat ia mengeluarkan bahan makanan dari kulkas, ia mendengar suara televisi yang menyala. Bi Murti pun mencari arah suara, tepat di ruang keluarga televisi masih menyala, dan Stella tertidur di sofa. Bi Murti membangunkan Stella.


Bi Murti :"Nona, nona." Memegang pipi Stella.


Stella :"Iya Bu," Membuka mata sedikit.


Bi Murti :"Nona tidak pindah ke kamar? Nanti badan nona sakit."


Stella :"Iya bi, Stella ketiduran. Makasih ya Bi," berjalan.

__ADS_1


Stella masuk ke kamar nya, ia membaringkan badannya di tempat tidur di samping Marcel. Ia menarik selimut untuk Marcel, lalu ia tidur kembali.


__ADS_2