Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Pesta (2)


__ADS_3

Stella menatapi gedung pernikahan itu dari dalam mobil.


Marcel :"Tidak ada gunanya kamu menatapi dari luar, kamu tidak akan bisa melihat apapun. Ayok masuk," menarik tangan Stella.


Air mata Stella mengalir di pipinya secara tiba-tiba, Marcel bingung mengapa dia menangis, padahal Marcel tidak melukainya sedikit pun.


Marcel :"Kenapa sih? Aku tidak ada melukai mu, ayok masuk Stell, jangan menangis seperti itu." Memegang tangan Stella


Stella :"Aku tidak mau Sel, tolong jangan memaksa ku." Menghapus air matanya.


Marcel :"Kali ini aku harus memaksa mu Stell," menarik tangan Stella kuat.


Stella :"Aku tidak ingin bertemu Kevin, aku takut, aku benci." Berbicara dengan menangis.


Marcel :"Kenapa?" Memelototi matanya.


Stella :"Dia pernah melakukan hal yang tidak pantas untukku Sel, aku membenci nya."


Marcel :"Apa yang di lakukannya padamu?"


Stella :"Dia mencium ku, dia bahkan ingin merobek baju ku saat itu, aku tidak ingin bertemunya lagi." Memeluk Marcel.


Pelukan hangat dari Stella itu membuat Marcel luluh.


Marcel :"Kapan dia melakukannya?"


Stella :"Saat aku lulus kelas 12 dulu." Menghapus air matanya.


Marcel :"Apa mamamu tidak tau?"


Stella :"Tidak ada yang tau selain aku dan dia,"


Marcel :"Ya sudah, kamu tidak usah takut. Tetapi sekarang kamu tetap harus masuk, orang mencari mu di dalam, jangan membuat malu keluargamu Stella."


Stella :"Aku tidak mau Sel, aku tidak mau."


Marcel :"Dia tidak akan berani menyentuh mu lagi, aku juga tidak akan membiarkannya. Jika dia berani menyentuhmu aku akan menyakitinya," membelai rambut Stella.


Stella merasa sosok Marcel itu telah kembali padanya, tidak seperti tadi yang selalu memaksa nya.


Marcel :"Ayok kita masuk ya,"


Stella menganggukkan kepalanya, Marcel turun dari mobil lalu membuka pintu untuk Stella, lalu Stella turun dari mobil. Marcel mengunci mobil dengan kunci, lalu mereka berjalan memasuki gedung, Marcel merangkul Stella. Mereka duduk bersama orang tua Stella menempati meja bagian saudara mempelai pria yaitu Kevin.


Stella menatapi sekeliling gedung, tetapi pikirannya melayang kemana-mana. Marcel menatapi wajah Stella yang begitu cantik saat ini, ia memandangi Stella dari atas hingga bawah, wajahnya sangat cantik dan tubuhnya juga mulai berisi, perutnya juga sudah sedikit ada isinya. Ia tidak menyangka sebentar lagi saat Stella melahirkan ia tidak akan bersama sosok yang di cintainya ini.


Marcel :"Kamu takut ya?" Membelai rambu Stella.

__ADS_1


Stella menggelengkan kepalanya, ia menyandarkan tubuhnya di kursi lalu meletakkan tangannya di atas paha Marcel,Marcel pun memegang tangan Stella, merespon bahwa Marcel ada bersamanya saat ini.


Stella :"Nanti kalau salaman, kita tidak usah maju ya." Melihat Marcel.


Marcel :"Jangan begitu, tidak usah takut. Semua akan baik-baik saja." Memberi senyuman.


Stella :"Kemarin saat kita menikah, dia juga tidak maju menyalam kok." Memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.


Marcel :"Jangan membalas nya, aku juga ingin melihat tingkah dia kepada mu. Habiskan saja makananmu itu, jangan pikirin yang aneh-aneh."


Stella menyantap makanan dengan lahap sampai-sampai mulutnya celemotan, Marcel membersihkan mulut Stella, Mama Stella yang melihat tingkah Marcel merasa sangat bahagia, karena anaknya menikah dengan lelaki seperti Marcel.


Saat acara makan-makan selesai, kini tamu-tamu undangan maju menyalam pengantin baru itu.


Marcel :"Ayok Stell," berdiri.


Stella masih duduk melihat Marcel dengan tatapan tiada artinya.


Marcel :"Stella, ayok." Menarik tangan Stella.


Stella pun berdiri, ia menggenggam tangan Marcel dan berjalan di samping Marcel menaiki panggung itu. Tamu-tamu mengantri menyalam pengantin untuk mengucapkan selamat. Kini giliran Stella, ia menyalam dan melihat wajah Kevin, Kevin memegang tangan Stella cukup lama dan menatapnya dengan tatapan tajam, Stella menarik dan melepaskan salaman dengan paksa, ia melanjutkan menyalam mempelai wanita lalu menuruni panggung. Stella tampak seperti orang ketakutan, nafasnya terlihat sesak.


Marcel :"Hei, kenapa? Dia tidak melukai mu kan?" Melihat Stella.


Stella :"Makasih ya," memegang tangan Marcel.


Marcel :"Apa kamu masih takut? Kenapa seperti ini?"


Mama Stella datang menjumpai Stella dan Marcel.


Mama :"Jangan langsung pulang ya, kita foto dan mengobrol dulu bersama mereka."


Stella :"Mi, Stella lagi malas."


Marcel :"Iya Tan, kami akan di sini sampai selesai."


Mama :"Tante ke sana dulu ya," berjalan meninggalkan mereka.


Stella :"Sel, duduk dong kaki ku pegel."


Marcel :"Ya sudah ayok duduk di sana." Menunjuk dua buah kursi kosong.


Stella dan Marcel duduk di kursi itu, Stella mengajak nya mengobrol.


Stella :"Kamu selama kemana?" Melihat Marcel sambil memegang perutnya.


Marcel :"Kenapa?" Menatap Stella dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Stella :"Kamu kenapa seperti ini? Apa itu bukan urusan ku lagi?"


Marcel :"Iya, itu bukan urusan mu lagi." Mengambil hp dari saku lalu memainkannya.


Stella :"Jujur aku capek banget berdebat, semakin hari jika aku berdebat kondisi ku fisik ku semakin lemah."


Marcel :"Aku juga tidak ingin berdebat." Tetap memainkan hp nya. "Apa semalam dokter mengatakan itu padamu?" Melihat Stella.


Stella bingung dari mana Marcel bisa tau jika semalam ia pergi ke rumah sakit.


Marcel :"Kamu bersama Prayoga kan?" Melihat Stella.


Stella :"Apa kamu melihatnya?"


Marcel :"Kenapa? Kamu takut jika aku melihatnya? Jadi jika aku tidak melihatnya kamu melakukannya."


Stella :"Aku hanya mengambil obat."


Marcel :"Obat hamil ?"


Stella :"Iya,"


Marcel :"Kau hamil anak siapa? Anak aku kan? Kenapa ajak dia!"


Air mata Stella langsung mengalir, Marcel memanggilnya dengan sangat kasar.


Stella :"Kamu sibuk dengan kerjaan mu, sampai saat aku menelfon mu saja kamu tidak punya waktu untukku." Menghapus air matanya.


Marcel :"Aku memang akan melepaskanmu, tetapi aku tidak ingin anakku nanti lebih dekat dengan Prayoga daripada ayahnya sendiri, aku tidak melarang mu lagi kan untuk bertemu dengan Prayoga, tetapi tidak ke dokter kandungan juga, dokter kandungan itu biar urusan ku saja."


Stella :"Aku tidak berniat seperti itu Sel,"


Marcel :"Tetapi cara mu itu sudah cukup jelas Stell, aku memang melepaskanmu tetapi tidak dengan anak itu. Dia masih menjadi tanggung jawab ku sampai dia besar nanti. Aku ayahnya aku yang akan mengurusnya."


Stella hanya diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Marcel, ia tahu Marcel merasa sangat kecewa dan merasa tidak di hargai.


"Aku memang salah, tidak seharusnya aku mengajak Prayoga untuk mengecek kandungan ku." Ucap Stella dalam hatinya.


Stella :"Seminggu lagi usia kandungan ku tepat tiga bulan,"


Marcel :"Lalu?" Melihat Stella.


Stella :"Kamu punya waktu kan?"


Marcel :"Tidak, kamu pergi saja sendiri atau ajak saja mama mu atau mama ku juga bisa."


Dada Stella begitu sesak mendengar jawaban Marcel. Stella pergi meninggalkan Marcel tanpa sepatah katapun, Marcel mengejarnya. Stella berjalan sambil menangis, orang-orang yang melewatinya sampai kebingungan melihatnya. Stella berjalan keluar gedung, Marcel menarik tangannya. Stella langsung memeluk tubuh Marcel, tubuhnya sudah sangat tidak berdaya, ia begitu lemas.

__ADS_1


Stella :"Aku butuh kamu," memeluk Marcel dengan erat.


Marcel merasakan semua tumpuan badannya seperti tidak sanggup berdiri lagi. Marcel menggendong Stella masuk ke mobil papanya. Marcel berlari menuju pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan membeli Aqua botol lalu membawanya kepada Stella. Saat Marcel balik, tampak Stella yang seperti orang pingsan.


__ADS_2