Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Minta Ijin


__ADS_3

Pagi hari, saat Marcel bangun Stella sudah tidak ada di pelukannya. Ia melihat jam tangannya, sudah pukul 07.00. Marcel turun dari tempat tidur berjalan menuruni tangga mencari Stella di dapur, tetapi tidak menemukannya.


Marcel :"Bi, Stella mana?"


Bi Murti :"Nona lagi berenang Tuan."


Marcel pun berjalan keluar rumah menuju kolam berenang, ia melihat Stella yang sedang asik berenang menggunakan pakaian renangnya.


Marcel :"Sayang, kok pagi banget? Apa tidak kedinginan?" Duduk di tepi kolam.


Stella :"Tadi aku suruh isi air hangat."


Marcel :"Kamu bisa berenang ternyata, kemarin kamu bilang tidak bisa."


Stella :"Bisa sedikit saja,"


Marcel :"Yang, mandilah yok biar berangkat kerja."


Stella berenang ke tepi lalu menaiki tangga dan duduk di tepi kolam.


Stella :"Sel, aku mau ngundurin diri dari perusahaan." Melihat Marcel.


Marcel :"Kenapa? Apa ada yang jahat sama mu?"


Stella :"Aku ingin membuka usaha butik."


Marcel :"Yang, kamu kan sudah santai di sana. Jabatan kamu sudah tinggi di sana yang, kalau kamu buka usaha butik kamu mulai dari nol lagi."


Stella :"Apa kamu tidak mendukung ku? Aku pengen sekali mempunyai usaha sendiri."


Marcel :"Aku dukung kamu, tetapi perusahaan sangat membutuhkan mu yang." Membelai rambut Stella yang basah.


Stella :"Aku tidak ada kerja apapun di sana Sel,"


Marcel :"Ya sudahlah Stell, terserah kamu saja. Tetapi kamu masih harus tetap ke perusahaan ya." Mengelus perut Stella.


Stella :"Mana bisa, aku kan mengurus butik."


Marcel :"Iyalah, kapan kamu mulai membuka butik?"


Stella :"Belum tau, jika aku sudah mendapatkan semua barang aku pasti akan langsung membuka nya. Kira-kira lusa lah, hari ini dan besok aku akan mencari nya."


Marcel :"Mau jual di mana? Aku ada ruko dekat perusahaan yang masih kosong, kamu di sana ya." Memberikan senyuman.


Stella :"Aku sudah membeli ruko kosong Sel, di depan villa dekat rumah."


Marcel :"Ha? Kapan kamu beli? Kenapa tidak bilang sama aku?"


Stella :"Barusan aja, emang harus bilang sama kamu ya?"


Marcel :"Ya harus, kamu juga harus minta persetujuan lah dari aku."


Stella :"Dia butuh duit cepat, tadi kamu masih tidur. Yang jual teman aku, tempat bekas tinggal dia. Karena aku yang beli, dia jual murah."


Marcel :"Berapa?"


Stella :"Cuma 367 juta."

__ADS_1


Marcel :"Kalau kamu minta sama aku, aku kasih gratis lagi. Aku mau mandi, kamu juga mandi nanti masuk angin."


Mereka pun berjalan memasuki rumah dan berjalan menaiki tangga menuju kamar. Bi Murti mengambil kain pel mengepel air yang menetes dari baju Stella.


Stella masuk ke kamar mandi, dan mandi. Sementara Marcel mengambil sarapan dan membawanya ke kamar untuk dirinya dan Stella. Saat sarapan sudah tersedia di meja, Stella juga sudah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dalam keadaan handuk terlilit di tubuh mungilnya. Kini tidak ada lagi rasa malu saat tidak ada sehelai pakaian pun menempel di tubuhnya karena sudah terbiasa. Di hadapan Marcel Stella mengenakan pakaiannya, pakaian sudah terpasang di tubuhnya kecuali baju. Ia hanya menggunakan bra ketat, saat itu. Stella berdiri di depan cermin dan melihat bentuk perutnya di cermin. Perutnya sudah mulai membesar, ia sudah tampak seperti orang hamil. Ia menghadap depan dan memiringkan badannya bolak balik untuk melihat perutnya. Ia mengelus-elus perutnya dan tersenyum, Marcel mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Marcel mengelus perut Stella dan mencium kepala Stella.


Marcel :"Makasih ya Stell," mencium kepala Stella. "Terima kasih sudah memberikan ku anak kembar." Mengelus perut Stella. "Di dalam jangan nakal ya nak,. Jadi anak yang baik, sehat dan kuat ya sayang." Jongkok dan mencium perut Stella. "Ayok sarapan sayang, aku sudah bawa makanan ke sini."


Marcel mengambil dua buah kursi dan meletakkannya di depan meja. Kali ini mereka sarapan berdua di kamar. Saat selesai sarapan, mereka mengobrol sedikit.


Stella :"Sel, aku mau nyampaikan sesuatu dan ini penting banget."


Marcel :"Apa itu sayang?" Mengambil sebutir nasi yang ada di pipi Stella.


Stella :"Jangan pernah kecewakan aku ya,"


Marcel :"Kecewakan apa sayang?"


Stella :"Makanya dengar aku belum selesai berbicara."


Marcel :"Oh maaf, lanjut yang."


Stella :"Kamu jangan pernah kecewakan aku sekali pun, jujur Sel, kalau kamu mungkin memang punya sikap kasar, ataupun egois dan lain-lain aku masih bisa terima kamu, aku masih mau terus berusaha bertahan dengan kamu, karena itu bisa di rubah, dan jika kamu punya sikap seperti itu aku juga akan membantu mu untuk menghilangkan itu. Tetapi jika kamu berselingkuh ataupun bermain cewek di belakang ku, jujur aku tidak bisa mempertahankan mu, karena sekali kamu seperti itu selamanya akan seperti itu. Perilaku itu tidak bisa di hilangkan, jadi aku mohon sama kamu, jangan pernah coba-coba kamu ada hubungan khusus dengan cewek lain di belakang aku, karena jika itu terjadi aku akan langsung meninggalkan mu tanpa berpikir panjang Sel."


Marcel :"Aku tidak ada seperti itu kan sayang? Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu sih?"


Stella :"Aku hanya mengingatkan Sel, aku ingin kamu selalu mengingatnya."


Marcel :'Iya aku tau kalau kamu mengingatkan aku, tetapi kenapa tiba-tiba bicaraian ini? Kamu cemburu dengan siapa? Aku dekat dengan siapa?"


Stella :"Kebetulan mulai hari ini kan aku sudah tidak ke perusahaan, aku tidak bisa memantaumu 24 jam lagi seperti biasanya. Dan jujur alasan aku kerja di perusahaan juga 100 persen bukan untuk menghilangkan rasa bosan, tetapi aku juga ingin memantau dan mengawasi mu Sel. Tetapi mulai hari ini, aku memilih untuk di rumah dan membuka usaha sendiri. Aku sudah ada rasa percaya jika kamu benar-benar mencintai ku, dan akan menjaga ku selalu. Tolong jangan sia-siakan kepercayaan ku itu. Karena jika sekali saja kamu bertingkah, kepercayaan itu akan hilang."


Marcel pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Stella mengambil kemeja, jas ataupun pakaian lainnya untuk di kenakan Marcel. Ia meletakkan pakaiannya di atas sofa, ia berjalan menuju ponselnya yang sedang berdering. Prayoga menelfon nya, Stella pun mengangkatnya.


Prayoga :"Halo Stell, Stell ijinkan aku berbicara sebentar saja."


Stella :"Bicaralah,"


Prayoga :"Apa di situ ada suamimu?"


Stella :"Emang ada masalah apa jika suami ku di sini?"


Prayoga :"Aku hanya ingin kamu yang mendengarku saat ini Stel,"


Stella :"Suami ku sedang mandi,"


Prayoga :"Stell, aku ingin bertemu dengan mu hari ini, apa kamu setuju? Aku tidak bisa menahan perasaan yang melepuh di hati ku Stell. Ijinkan aku bertemu dengan mu, untuk hari ini saja. Aku janji aku tidak akan menggangu mu lagi."


Stella :"Sekarang aku sudah tidak bisa percaya dengan mu lagi Yog, setelah semua yang telah pamanmu lakukan pada ku."


Prayoga :"Stell, itu semua perbuatan paman ku. Bukan perbuatan ku Stell, aku tidak mungkin menyakiti wanita yang sangat kucintai Stell. Stell kumohon,"


Stella :"Yog, aku ingin kamu memegang perkataan mu. Dimana ketemunya?"


Prayoga :"Makasih Stell, kita ketemuan di restoran red black ya, sekarang apa bisa?"


Stella :"Ya, aku bisa. Aku tunggu suami ku berangkat kerja dulu."

__ADS_1


Stella langsung menutup teleponnya karena Marcel keluar dari kamar mandi.


Marcel :"Habis telponan sama siapa? Kenapa tunggu aku berangkat kerja?"


Stella :"Ha, tidak. Tidak ada apa-apa, itu pakaianmu sudah kusiapkan," berjalan keluar kamar.


Marcel menarik tangan Stella saat ia berjalan melewati Marcel,


Marcel :"Telponan sama siapa? Aku tau kamu bohong."


Stella :"Tidak ada, Sel aku mau keluar."


Marcel :"Kalau tidak ada, sini hp mu." Mengambil hp Stella.


Stella :"Kenapa sih Sel?" Menarik hp nya dari tangan Marcel.


Marcel :"Kan ketahuan, kamu lagi menyembunyikan sesuatu. Kamu telponan sama siapa Stell?"


Stella :"Tidak ada, sudahlah Sel. Aku sedang tidak ingin ribut."


Marcel :"Ya sudahlah Stell, terserah kamu lah. Kamu yang mulai rahasia-rahasia sama ku kan, jangan salahkan aku juga merahasiakan sesuatu pada mu nanti." Mengenakan kemejanya.


Stella berjalan keluar kamar menuruni tangga, dan menuju dapur untuk minum susu. Ia minum di ruang makan, sambil duduk memainkan hp nya.


Beberapa menit kemudian, Marcel datang menghampirinya.


Marcel :"Stell, aku berangkat kerja dulu." Mengambil sebotol Aqua.


Stella berjalan mengejar Marcel.


Stella :"Sel, aku mau ketemuan sama Prayoga." Memegang tangan Marcel.


Marcel menghentikan langkah kakinya ketika mendengar perkataan Stella.


Marcel :"Yang menelpon mu tadi Prayoga?"


Stella :"Iiiya Sel." Menjawab dengan terbata-bata.


Marcel :"Mau ngapain kalian? Ketemuan dimana?"


Stella :"Di restoran Red black Sel, dia ingin bicara dengan ku. Aku janji aku tidak bakal ngapa-ngapain Sel,"


Marcel :"Kenapa kamu sembunyiin dari aku?"


Stella :"Dia suruh aku merahasiakan nya dari mu,"


Marcel :"Stell, aku ini suami mu. Kita tidak boleh ada rahasia apapun Stella. Kamu boleh ketemu dengannya, kamu janji sama aku kamu tidak boleh ngapa-ngapain dengannya. Restoran red black itu, isinya makanan laut semua. Kamu jangan makan di sana, kalau kamu lapar kamu pesan dari tempat lain."


Stella :"Makasih Sel, aku janji aku tidak ngapa-ngapain. Dia bilang, ini pertemuan terakhir. Maafin aku Sel, aku janji ini yang terakhir Sel."


Marcel :"Ya sudah aku mengerti Stell, aku paham kok. Kamu pergi bersama body guard mu ya, biar kamu bisa di jagain."


Stella :"Makasih sayang." Mencium marcel. "Apa kamu tidak ingin ikut?"


Marcel :"Tidak usah, itu urusan mu dengannya. Aku berangkat dulu ya."


Stella mencium tangan Marcel, Marcel juga mencium kening Stella. Stella mengantarkan nya sampai ke depan pintu rumah, dan kemudian mobil Marcel berjalan meninggalkan rumah mewah miliknya itu.

__ADS_1


Stella memasuki rumah menaiki tangga dan masuk ke kamarnya, ia mengganti pakaiannya kemudian ia berjalan menuruni tangga. Sudah ada dua orang bodyguard berdiri di depan pintu utama rumah menunggu Stella, mobil juga sudah parkir di depan pintu utama, Stella segera masuk ke mobil dan mobil pun melaju di bawakan supir pribadinya. Sementara bodyguardnya mengikuti mobil Stella dari belakang mengunakan mobil juga.


__ADS_2