
Pagi hari, pukul 07.00 Marcel terbangun dari tidurnya, sedangkan Stella masih tidur nyenyak di pelukannya. Marcel menatapi wajah Stella yang sangat polos ketika tidur itu, ia mencium kening Stella dan tersenyum melihatnya.
"Capek sekali ya sayang, sampai tidur nya nyenyak sekali." Ucap Marcel dalam hati sambil mencium dan membelai rambut Stella.
Marcel menarik selimut menutupi tubuh Stella, lalu ia turun dari tempat tidur, mengambil handuk dari lemari dan masuk ke kamar mandi dan langsung mandi karena ia akan berangkat ke perusahaan.
Selesai mandi, Marcel keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya. Ia langsung mengeringkan tubuhnya dan mencari pakaian di lemari untuk dikenakannya ke kantor. Saat selesai pakaian, ia ingin permisi dengan Stella untuk berangkat ke perusahaan. Ia ingin mencium Stella yang sedang asik tidur itu, namun air mata mengalir di pipi Stella. Marcel pun bingung, kenapa air mata itu mengalir padahal ia sedang tidur. Marcel mengusap air mata itu, dan suhu tubuh Stella terasa panas. Marcel pun melepaskan kembali pakaiannya, dan menggantinya dengan pakaian rumah. Ia berjalan menuruni tangga untuk mencari makanan buat Stella. Kemudian, ia membawa sup ayam panas yang telah di buatin oleh Bu Murti ke kamar.
Marcel :"Sayang, sayang." Membelai rambut Stella.
Stella pun membuka matanya sedikit.
Marcel :"Makan dulu yok, ini badan kamu panas." Membantu Stella duduk. "Kamu mimpi apa, kok sampai menangis?" Mengikat rambut Stella dengan jepitan rambut.
Stella hanya menggelengkan kepalanya.
Marcel :"Aku suapin ya, selagi masih panas nih."
Marcel mengambil sup yang ada di mangkok dan menyuapkannya ke mulut Stella, hanya 5 suap sendok yang bisa masuk ke mulutnya.
Marcel :"Lagi yang, ini masih banyak."
Stella mengelakkannya, ia menggeleng kepalanya.
Marcel :"Sekali lagi, ya sekali lagi ni." Menyendokkan sup.
Stella :"Tidak Sel, ah." Turun dari tempat tidur.
Stella berlari masuk ke kamar mandi, dan muntah di washtafel. Semua sup yang masuk ke mulutnya tadi ia tumpahkan, Marcel berteriak memanggil Bi Murti untuk mengambilkannya air hangat. Marcel memijat-mijat kepala Stella agar ia tidak muntah lagi. Saat sudah tidak ada yang mau di keluarkan Stella, ia berjalan pelan ke tempat tidur dan membaringkan badannya. Bi Murti masuk ke kamar dan memberikan minuman ke Stella.
Bi Murti :"Nona, mana yang sakit?"
Stella :"Lemas aja bi." Mengambil gelas.
Bi Murti :"Kasih obat lah Tuan,"
Marcel :"Iya Bi, kami ke rumah sakit dulu lah." Duduk di tepi tempat tidur.
Bi Murti :"Ooh iyalah, Bibi turun dulu ya," berjalan keluar kamar.
Stella meletakkan gelas di meja, lalu ia menutup matanya.
Marcel :"Kita ke rumah sakit dulu yok Stell,"
Stella :"Tidak mau aku ah."
Marcel :"Biar sembuh loh Stell, biar kita tau kamu sakit apa. Kamu kemarin itu belum sembuh total, manatau masih ada racun di tubuhmu."
Stella :"Aku hanya mual saja Sel, kamu berangkat kerja lah sana."
Marcel :"Badan mu juga panas Stell, aku pergi kerja kalau kamu udah sembuh."
Stella :"Iya itu satu paket, kamu jangan banyak bicara Sel, ini aku udah mau muntah dengarkan mu."
Marcel :"Ih parah sekali."
Stella :"Hahahaha," tertawa. "Sel, aku mau minum."
Marcel :"Minum apa?"
Stella :"Itu air putih." Menunjuk gelas di atas meja.
Marcel :"Kamu mimpi apa tadi? Aku penasaran." Memberikan gelas
Stella :"Aku lupa,"
Marcel :"Seram ya? Makanya sampai nangis."
Stella :"Iya pakai banget." Menegukkan air.
Marcel :"Lupa tapi tau mimpinya seram banget."
Ponsel Marcel berdering, ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat siapa nama pemanggil itu. Kemudian, Marcel berjalan keluar kamar mengangkat telepon itu.
"Siapa sih yang telpon sampai dia harus menghindar dari ku? Bagaimana jika yang aku mimpikan itu benar-benar terjadi? Apa aku sanggup?" Tanya Stella dalam hatinya.
Marcel masuk kembali ke kamar, Stella sudah tampak membalikkan tubuhnya membelakangi pintu. Saat mendengar suara pintu terbuka, Stella membalikkan tubuhnya lagi.
Stella :"Siapa yang telpon?"
__ADS_1
Marcel :"Investor baru." Memasukkan hp nya ke saku celananya.
Stella :"Ooh, banyak banget ya investor baru ya."
Marcel :"Kamu kok kayak gitu bicaranya? Bagus dong, semakin banyak investor semakin berkembang kan perusahaan ku."
Stella :"Harus banget ya, telponan sama investor keluar dari kamar menghindar dari ku?"
Marcel :"Aku hanya tidak mau menggangu kamu."
Stella :"Menggangu apaan? Coba sini hp mu."
Marcel mengambil hp nya dari dalam saku dan memberikannya kepada Stella, Stella mengambil hp itu dan mencari riwayat telepon.
Stella :"Mana nomor investor nya?"
Marcel :"Terhapus kali ya." Mengambil ponselnya.
Stella :"Bukan terhapus tetapi di hapus kamu takut ketahuan. Dengar ya perkataan ku, ini yang terakhir kali aku ucapin. Kalau saja kamu selingkuh ataupun bermain dengan wanita lain, aku bakal minta pisah."
Marcel :"Ih, kok begitu sih Stell. Aku tidak ada bermain dengan cewek lain, kamu jangan bicara seperti itulah."
Stella :"Terus ngapain kamu hapus kalau tidak ada sesuatu? Udahlah sana." Membalikkan tubuhnya.
Marcel :"Sayang, jangan begitulah." Mencium rambut Stella.
Stella :"Sana lah, kamu berangkat kerja aja."
Marcel :"Ya, kamu maafin aku dulu. Baru aku pergi dari sini,"
Stella :"Emang kamu ada salah? Tetapi tadi katanya investor yang telpon kenapa minta maaf?"
Marcel :"Serba salah aku ya yang, pokoknya kamu maafin ajalah ya."
Stella :"Terserah kamu lah, sana lah pergi aku sedang tidak mau melihatmu. Ini permintaan anak mu loh"
Marcel :"Iyalah, kalau kangen panggil ya." Mencium kening Stella.
"Dasar suami tidak tau diri, udah salah malah kabur. Lihat sajalah kalau memang habis telponan sama cewek, tidak akan boleh dia tidur di sini." Ucap Stella dalam hatinya.
Tiba-tiba, Stella ingin sekali berenang di kolam renang, padahal tubuhnya sedang sakit dan lemas. Ia memakai pakaian renang nya lalu berjalan keluar kamar. Saat ingin menuruni tangga, Stella melihat Marcel sedang duduk santai di ruang keluarga sambil senyum-senyum melihat ponselnya. Stella berjalan mendekatinya, dan menarik ponsel Marcel langsung. Marcel menarik lagi hp nya dari tangan Stella, tetapi Stella tidak mau kalah ia menarik hp itu kembali dengan kuat. Stella membaca semua isi chat grup alumni SMK itu, Marcel memanggil seorang wanita itu dengan panggilan sayang dan wanita itu pun memanggil sayang dengan Marcel. Stella melempar hp Marcel ke badan Marcel, ia berjalan masuk ke kamar dan membanting pintu. Marcel berlari mengejar Stella dan menarik tangannya.
Marcel :"Aku minta maaf yang."
Stella :"Coba hitung sudah berapa kali kamu minta maaf, sampai aku bosan dengarnya. Ingat kan apa yang kubilang kemarin? Sekali saja kamu bermain cewek dengan wanita lain, aku pergi."
Marcel :"Yang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya."
Stella :"Udah diam, aku tidak mau dengar apapun dari mulut mu ya. Asal kamu tau ya, kalau aku sedang tidak hamil ini aku udah meninggalkan mu." Berjalan keluar kamar.
Marcel :"Yang, jangan bicara begitu lah." Menarik tangan Stella dan mengunci pintu.
Stella :"Jangan pegang aku." Menyingkirkan tangan Marcel.
Marcel :"Yang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, aku hanya bercanda yang. Aku tidak selingkuh ataupun bermain dengan cewek lain."
Stella :"Sel, mulai sekarang apapun yang mau kamu lakukan, terserahlah. Kamu mau main dengan cewek lain, kamu mau ke club malam, kamu mau pacaran dengan orang lain, kamu mau selingkuh, terserah kamu. Aku sudah tidak perduli, sudah cukup selama ini aku melarang kamu ini itu, sudah capek aku. Terserah kamu lah mau ngapain kamu." Mengambil ponselnya dari sofa.
Marcel :"Stell, tolong percaya sama aku. Aku sayangnya hanya sama kamu, aku manggil sayang hanya bercanda Stell. Dia itu cinta pertama ku, dan dia bilang dia belum bisa melupakan aku. Aku memanggil dia sayang hanya bercanda Stell."
Stella :"Sel, aku udah bilang kan. Aku tidak peduli, aku sudah tidak peduli ya. Tolong keluar lah Sel, aku lagi malas lihat kamu."
Marcel keluar dari dalam kamar, Stella mengunci pintu kamar nya. Mood nya hari ini sedang tidak enak, di tambah lagi Marcel ketahuan memanggil sayang dengan wanita lain, semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Stella mengambil hp Marcel yang tadi di letak di atas meja. Ia membuka obrolan chat grup itu lagi, ia membaca ulang dari atas, dan ternyata benar Marcel memanggil dia dengan sebutan sayang hanya karena perintah usil dari teman laki-lakinya. Dan Marcel juga menganggap ini hanya bahan bercandaan.
"Ah, tetapi sama saja. Kenapa dia harus memanggil sayang? Kenapa dia harus meladeni nya?" Ucap Stella dalam hatinya.
Stella mengganti pakaiannya dengan pakaian rapi, ia mengoleskan lip tint di bibirnya, lalu ia mengambil tas mininya dan berjalan menuruni tangga.
Saat ia menuruni tangga, Marcel menarik tangannya.
Stella :"Kalau aku tadi jatuh gimana?" Melihat ke belakang.
Marcel :"Jangan pergi Stell, aku minta maaf."
Stella :"Aku mau cari pakaian bayi."
Marcel :"Aku ikut ya, Stell. Aku ikut ya."
Stella :"Aku sendiri saja."
__ADS_1
Marcel :"Yang, itu kan anak aku juga. Aku berhak loh, kamu masih marah ya? Aku minta maaf ya sayang." Memegang tangan Stella. "Apa yang bisa aku lakukan agar kamu memaafkan ku?"
Stella :"Aku sudah memaafkanmu, tetapi aku tidak mau dekat-dekat dengan mu lagi."
Marcel :"Stell, aku ikut ya. Kenapa sih segitu nya kamu marah?"
Stella :"Aku sudah peringatan kan kemarin? Perlu aku ulangi? Jangan main-main sama aku makanya." Berjalan menuruni tangga.
Marcel mengganti pakaiannya dengan cepat lalu ia berlari menuruni tangga dan terjatuh dan menabrak guci besar di dekat tangga hingga pecah, kaki Marcel berdarah terkena pecahan kaca. Bi Murti yang melihat Marcel membantu Marcel berdiri, dan berteruak memanggil Stella yang sudah masuk ke mobil. Pekerja lainnya membantu Marcel menaiki tangga masuk ke kamar. Bi Murti berlari menuju garasi dan memanggil Stella yang ada di dalam mobil.
Bi Murti :"Nona, nona Tuan jatuh dari tangga dan tubuhnya penuh darah karena guci nya pecah."
Stella :"Dimana dia bi?"
Bi Murti :"Udah di bawa ke kamar nona."
Stella langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, menaiki tangga masuk ke dalam kamar. Ia melihat Marcel, yang terbaring di tempat tidur dan kasur pun penuh dengan darah dari kakinya. Stella langsung mengelap luka yang berdarah dengan tisu, dan menuangkan obat ke kakinya lalu ia membalut kaki itu dengan perban.
Marcel :"Sayang, makasih ya." Mencium tangan Stella.
Stella :"Tidak usah pegang-pegang ya." Menarik tangannya. "Awas aku mau ganti seprei nya, udah penuh dengan darah mu."
Marcel :"Aku tidak bisa jalan sayang."
Stella :"Manja banget, turun lah cepat."
Marcel mencoba berdiri namun ia terjatuh karena kakinya luka, Stella pun membantunya berdiri dan membantunya meletakkannya di sofa. Stella mengganti seprei itu dengan seprei baru, lalu ia memanggil Yati untuk mencuci seprei itu.
Setelah seprei itu di ambil oleh Yati, Stella kembali menyandang tas nya dan berjalan keluar kamar, Marcel menarik tangannya.
Marcel :"Stella, kamu masih mau pergi?"
Stella :"Iya, aku pergi dulu ya."
Marcel :"Stella !" Memanggil dengan suara kuat.
Stella :"Kenapa sih?"
Marcel :"Aku dalam kondisi begini kamu mau pergi?"
Stella :"Kamu suruh saja si sayang kamu itu merawat kamu."
Marcel :"Stell, aku tidak ada apa-apa. Kamu hanya salah paham, tolong Stell, apa yang kamu mau Stell?"
Stella :"Oh, aku mau kamu keluar dari grup itu."
Marcel :"Itu aja?"
Stella :"Iya, tetapi itu bukan berarti aku mau percaya sama kamu langsung 100 persen."
Marcel :"Ya, terserah kamu lah. Tolong ambilkan hp ku di atas meja itu,"
Stella mengambil hpnya dari atas meja, ia menghapus terlebih dahulu kontak wanita itu di ponsel Marcel, lalu ia memberikan hp nya kepada Marcel.
Stella : "Keluar sekarang, aku mau lihat."
Marcel pun langsung keluar dari grup itu.
Marcel :"Udah kan? Apa lagi yang kamu mau? Biar kamu percaya aku betul-betul tidak ada hubungan dengannya."
Stella :"Tidak ada Sel, kalau aku sudah di kecewakan sekali saja, aku sudah tidak bisa percaya seratus persen. Aku sudah beri kamu peringatan tetapi kamu cuek aja kan?" Meneteskan air mata. "Aku sedih banget Sel, dalam keadaan hamil begini suami aku malah sibuk dengan wanita lain."
Marcel :"Sayang, aku tidak menganggap dia apa-apa. Aku hanya bercanda sayang, jangan menangis sayang. Aku benaran tidak ada apa-apa, sayang air matamu." Mengelap air matamu.
Stella :"Aku ingin membeli baju bayi Sel."
Marcel :"Aku ikut ya Stell,"
Stella :"Kamu di rumah saja, aku bisa sendirian kok."
Marcel :"Kaki ku tidak sakit kok, aku hanya berpura-pura."
Stella :"Dasar kamu ya." Memukul bahu Marcel. "Ayok lah, ganti baju mu."
Marcel pun mengganti pakaiannya, kemudian mereka berjalan menuruni tangga dan masuk ke dalam mobil. Lalu mobil pun melaju menuju Mall.
***
Sesampai di Mall, mereka langsung berjalan menuju tempat perlengkapan bayi. Stella sangat ingin membeli semuanya, tetapi ia tidak ingin membeli terlalu cepat. Akhirnya mereka hanya membeli beberapa bedong bayi untuk bayi perempuan dan lelaki, dan bantal bayi. Setelah memilih barang- barang itu Marcel melakukan pembayaran, kemudian barang-barang itu di bawakan pelayan toko menuju mobil Marcel.
__ADS_1
Bergabung ke grup chat Yukk♥️♥️