
Stella membuka pintu kamar itu dan meletakkan Salsa sih anak bayi itu ke atas tempat tidur. Marcel yang sedang bermain hp langsung meletakkan hp nya ke atas meja dan mendekati Salsa.
Stella :"Halo Oom Marcel." Mendudukkan Salsa di pangkuannya.
Marcel tersenyum melihat Salsa, ia mengajak Salsa bermain.
Stella :"Kamu suka ya sama anak kecil?" melihat Marcel.
Marcel :"Iya. Apalagi kalau itu anak aku." Melihat Stella.
Perkataan Marcel barusan seperti petir yang menyambar tiba-tiba buat Stella. Stella terdiam mendengar perkataan Marcel.
"Maafin aku Sel, tapi aku tidak mau untuk terlalu cepat." Ucap Stella dalam hatinya.
Pintu kamar Stella di ketuk dan langsung di buka oleh Milka.
Milka :"Sini sayang sama mama." Berdiri didepan pintu.
Stella pun menggendong Salsa dan memberi, kan ya kepada Milka.
Milka : "Tante, kapan punya adek." Mengambil Salsa sambil meledek Stella.
Stella :"Ih kau nih." Menarik pintu.
Stella dan Milka berjalan keluar dan duduk di sofa ruang keluarga yang berada di lantai 2. Mereka berbincang-bincang berdua.
Stella :"Bang Gilang baik ya." Duduk di sofa.
Milka :"Iya Stell. Eh aku gak setuju loh sama orang yang bilang kalau ibu tiri itu jahat."
Stella :"Kenapa?" Mengambil Salsa dari tangan Milka.
Milka :"Aku gak jahat, aku sayang banget sama Salsa, ya kan sayang." Mencium Salsa.
Stella :"Iyalah, kamu rawat dia dari bayi. Uda berapa bulan umurnya?"
Milka :"5 bulan."
Marcel datang dan bergabung bersama mereka.
Milka :"Eh belum tidur bang."
Marcel :"Belum haha" tertawa. " Sini Salsa aku mau gendong."
Stella pun memberikan salsa kepada Marcel.
Stella :"Awas jatuh." Memberikan Salsa.
__ADS_1
Milka :"Ini susu nya bang." Memberikan botol susu kepada Marcel.
Marcel pun langsung memberi, kan botol susu kepada Salsa, dan memasuk, kan ke dalam mulutnya.Salsa langsung menghisap kompeng nya.
Milka :"Eh stell, aku mau ngomong tapi ada suami mu."Berbicara pelan.
Stella :"Bicara apa?" Melihat Milka.
Milka :"Nanti suami mu dengar." Berbicara pelan.
Marcel melihat Stella dan Milka yang berbicara seperti orang berbisik.
Marcel :"Kenapa?" melihat Stella.
Stella :"Gak ada. Kamu bawa Salsa ke dalam kamar aja dulu bisa?"
Marcel :"Di sini aja emang kenapa?"
Stella :"Aku mau bicara sama Milka sebentar."
Marcel :"Emang aku gak boleh dengar?"
Stella :"Gak, makanya aku suruh ke kamar."
Milka :"Haha bukan begitu bang. Nanti kalau Abang dengar jadi tersinggung."
Marcel :"Oh enggak lah. Bicara aja." Meletakkan Salsa di sofa.
Marcel :"Enggak. Lagian kalau nanti kamu bakal kasih tau aku, mendingan aku dengar di sini aja ya kan?" menaikkan alisnya.
Stella :"Iyalah." Duduk mendekati Salsa.
Milka :"Kemarin Dara cerita sama aku, kalau Stella sebenarnya tidak setuju sama pernikahan ini. Aku cuman mau tau aja gitu bang, aku kan sahabat Stella juga. Aku juga kaget waktu Stella bagiin undangan kemarin, tetapi aku juga tidak sempat nanya."
Marcel :"Iya-iya gak apa-apa. Lanjut aja." Melihat Milka.
Milka :" Jadi Dara cerita sama aku, kan. Dara bilang mu sempat ketemuan sama Dara sebelum pernikahan. Mu curhat sama dia tentang pernikahan itu. Tapi Dara cerita sama aku baru sih Stell. Apa benar mu gak menginginkan pernikahan ini Stell?
Marcel langsung melihat Stella menunggu Stella menjawab nya.
Milka :" Gak apa-apa sih Stell. Aku cuma mau kamu itu cerita sama aku. Jangan sembunyi-sembunyi. Kamu cuma cerita sama Dara, padahal aku, Tasya masih ada. Kalau misalkan kamu gak dapat jawaban dari Dara gimana? apa kamu memang gak mau cerita sama aku Stell?
Stella :"Tidak. Bukan begitu maksud aku Stell. Aku belum sempat cerita sama kalian. Kebetulan kemarin itu aku ketemu sama Dara makanya aku bisa cerita sama dia."
Milka :"Ooh, jadi bagaimana ceritanya? Aku jujur kaget waktu kamu mengantar undangan. Karena setau aku kamu pacaran nya sama Prayoga. Kenapa nama di undangan Marcelio gitu kan. Aku sempat berfikir kamu hamil loh Stella. Makanya supaya hilangin pikiran kotor aku, aku cerita sama Dara, akhirnya Dara ceritain semua sama aku Stell.
Stella :"Iya sih semua orang yang kenal Prayoga kaget waktu itu."
__ADS_1
Milka :"Itu kamu Uda putus sama Prayoga berarti?"
Stella :"Uda, hari ini aku putus kira-kira besok nya Marcel datang ke rumah melamar." Aku nolak gak bisa tapi mau terima juga berat. Di satu sisi orang tua aku dukung banget kan, aku juga mikirin hubungan orang tua aku sama orang tua Marcel kalau aku sempat menolaknya. Karena memang orang tua kami Uda dekat banget. Sebelum Marcel melamar aku, mama aku juga udah sering bilang, kalau kamu menikah sama Marcel mama bahagia banget. Mama aku sering bilang gitu, itu waktu aku masih pacaran sama Yoga loh. Ya dalam waktu itu juga aku terima lamarannya. Aku ngerasa keputusan aku itu bisa bahagian orang tua ku Mil." Melihat Milka dan matanya berkaca-kaca.
Milka :"Tapi memang pilihan orang tua yang terbaik Stella, percayalah."
Stella memberikan senyuman kepada Milka. Marcel terus melihat Stella menunggu semua isi hati Stella.
Milka :"Sebelum menikah, apa kamu sempat bicara sama Yoga?"
Stella :"Sempat, dua kali kami ketemuan, yang pertama itu aku mau bantu dia supaya dia jadi wakil direktur di kantor ku dulu. Tapi dia bawa mamanya , disitu aku jujur aja kan tapi gak cerita panjang lebar. Yang kedua itu aku ketemu sama Prayoga doang di situ Yoga malah bilang aku punya hutang sama keluarga Marcel lagi."
Milka :"Maaf nih ya bang." Melihat Marcel. " Kamu masih sayang sama Yoga?"
Stella :"Waktu itu?"
Milka :"Iya." Menganggukkan kepalanya.
Stella :"Masih lah gimana sih, Jangan kan dulu. Sekarang aja masih."
Milka :"Stell." Membesarkan matanya melihat Stella.
Stella :"Tadi, kan kamu suruh aku jujur."
Marcel :"Gak apa-apa sih, Aku taunya." Memberikan senyuman terpaksa.
Stella : " Tapi rasa sayang aku udah gak kayak dulu lagi, kalau misalkan Yoga datang balik sama aku pun. Aku gak bakal mau, soalnya dulu dia Uda pernah khianati aku. Sebenarnya sayang juga udah enggak ada sih. Yang ada kenangan. Kenangan yang susah untuk di lupa kan."
Milka :"Gini ya Stella. Sekarang kamu udah menikah dengan bang Marcel. Kamu jalani aja semuanya, lagian kamu menikah dengan bang Marcel itu karena persetujuan dan dukungan orang tua kamu Stella. Keputusan orang tua itu yang terbaik loh. Jujur ya Stell, kalau aku jadi kamu aku udah senang banget. Kamu menikah bukan jadi semakin hancur loh sekarang ini. Kehidupan kamu semakin enak, bang Marcel juga kelihatan nya baik kok sama kamu. Kamu itu hidupnya kayaknya udah paling beruntung lah.
Stella :"Aku Uda mikirin semua itu loh, aku mau jalani pernikahan ini makanya bisa sampai sini. Cuma rasa belum siap itu masih ada Milka, aku ngerasa aku masih muda banget."
Milka :"Memang usia kita masih muda Stell, tetapi nasi sudah menjadi bubur, kan? Sekarang tugas kita jalani aja apa yang sudah terjadi. Kita sama kok Stella, umur aku, umur kamu. Kita masih 22 tahun, tapi sudah menikah. Itu gak masalah Stella, sebentar lagi Dara juga bakal menikah, umur dia juga masih 22 tahun kok. Kamu jalani aja ya Stella, kamu harus yakin pilihan orang tua itu yang terbaik. Kamu harus siap ya. Kalau kamu bandingin hidup aku sama kamu, kita kayak lagi langit dan bumi Stella." Meneteskan air matanya. "Kamu langit aku buminya." Kamu menikah dalam keadaan masih gadis , dengan lelaki yang masih lajang. Suami mu juga kaya, baik. Sedangkan aku, Aku di tinggali sama lelaki yang tidak bertanggung jawab, sekarang aku hamil. Untungnya ada bang Gilang, dia mau jadi ayah buat bayi ku. Kehidupan ku sekarang juga tidak enak banget. Dia bukan orang yang kaya seperti suami mu. Dia orang biasa Stella." Air matanya mengalir deras.
Stella berjalan duduk di samping Milka dan langsung memeluknya.
Stella :"Hei, udah." Mengelus punggung Milka.
Milka :"Kamu harus siap Stella. Kamu harus lebih siap dari aku. Aku gak mau sahabat aku berlarut larut dalam kesedihan karena menikah bukan dengan orang pilihannya. Kamu harus jalani sekarang apa yang sudah terjadi. Kamu gak boleh kayak aku Stella. " Melihat Stella.
Stella :"Makasih ya," memberi senyuman kepada Milka namun air matanya menetes. "Tuhan gak bakal kasih kita cobaan di luar batas kemampuan kita kan?" melihat Milka.
Milka :"Iya betul." Menganggukkan kepalanya. "Kamu janji ya gak boleh menyesal atas yang sudah kamu jalani."
Stella :"Iya." Menganggukkan kepalanya. "Kamu tidur aja sana ya, kasian adek dalam perut." Memberi senyuman.
Milka :"Iya, Tapi sebelumnya aku mau lihat kamu pelukan sama Marcel. Aku mau yakini kamu kalau kamu Uda siap menjalani pernikahan ini."
__ADS_1
Stella melihat Milka, lalu ia melihat Marcel.
Stella berjalan mendekati Marcel, ia langsung memeluk Marcel dengan erat. Air matanya mengalir dengan deras.