
Sesampai di rumah, Stella langsung masuk menaiki tangga memasuki kamar, Marcel membawa koper masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu kamar, Stella sangat kaget melihat penampilan kamar yang sudah berubah
Marcel :"Kenapa berdiri saja? Masuklah."
Stella :"Kamar mandi nya kenapa jadi kaca bening begini?" Berjalan memasuki kamar mandi.
Marcel :"Biar keren." Meletakkan koper.
Stella :"Keren apaan? Aku malu kalau mandi kaca tembus pandang begini."
Marcel :"Kenapa malu? Aku kan suami mu."
Stella :"Ih kamu tu, kalau mau bertindak bicarin dulu dong sama aku." Duduk di tepi tempat tidur.
Marcel :"Aku merenovasi menjadi lebih baik, kan? Lagian kamu tidak akan kelihatan jika sedang mandi."
Stella :"Tidak kelihatan bagaimana? Itu kaca jelas tembus pandang."
Marcel :"Itu ada dua pintu kan? Jika kamu hanya menggeser pintu yang pertama itu kaca akan tembus pandang, tetapi jika kamu menggeser ke dua pintu kaca yang akan kabur begitu. Coba aku masuk ya," berjalan masuk ke kamar mandi.
Marcel pun mencoba menggeser ke dua pintu,ternyata benar tidak kelihatan apapun. Lalu Marcel keluar dari kamar mandi.
Marcel :"Tidak kelihatan kan?" Duduk di tepi tempat tidur.
Stella :"Iya, kapan di renovasi?"
Marcel :"Mulainya 2 hari yang lalu, saat kamu berkata kalau kamu tidak mencintai Prayoga dan akan tetap bersama ku, di situ aku langsung memanggil orang untuk merenovasinya, dan tadi pagi baru selesai ini. Makanya begitu sampai di bandara aku langsung bawa kamu ke hotel."
Stella :"Oh, kenapa sih kamu tidak jujur saja?"
Marcel :"Aku tau kamu tidak akan menyukainya."
Stella :" Tetapi aku lebih tidak suka jika kamu merahasiakannya dari ku. Lemari nya kok cuma 3?"
Marcel :"Aku sudah panggil orang untuk merenovasi kamar ini Stella, semua yang ada di kamar ini."
Stella :"Pakaiannya kemana?"
Marcel :"Kemarin aku yang satukan pakaian kamu dan aku. Aku mau ke kantor dulu,"
Stella :"Aku mau ikut Sel,"
Marcel :"Apa kamu tidak kelelahan?"
Stella :"Iya sih sedikit, tetapi di sana kan aku hanya duduk saja."
Marcel :"Ya sudah, aku mandi dulu ya. Kamu ganti baju dulu."
Marcel masuk ke dalam kamar mandi, Stella pun mengganti pakaiannya. Setelah mengenakan pakaian rapi, Stella berjalan menuruni tangga dan berjalan ke arah dapur, ia membuka kulkas melihat stok makanan. Hari ini dan dua hari ke depan, ia akan menyiapkan makanan sendiri karena bi Murti sedang cuti bekerja untuk menghadiri pernikahan saudaranya yang berada di kota XX. Di dalam kulkas stok makanan telah habis, ia pun berjalan menaiki tangga masuk ke kamarnya. Di dalam kamar Marcel sedang mengenakan pakaian.
Stella :"Stok makanan mentah di kulkas habis Sel." Duduk di tepi tempat tidur.
Marcel :"Iya emang sudah dari kemarin sudah habis," mengenakan kemeja.
Stella :"Kemarin kamu makan apa?"
Marcel :"Aku makan di luar, kan Bi Murti juga tidak di sini. Nanti kita makan di luar saja ya," memasang kancing baju.
Stella :"Eh jangan, biar aku masak saja nanti. Aku sedang hamil tidak boleh makan di sembarang tempat."
Marcel :"Oh iya, ada anak papa di dalam." Memegang perut Stella. "Ya sudah nanti kita beli di Supermarket, tetapi apa kamu bisa masak?"
Stella :"Kamu sepele banget sih, aku bisa masak tetapi hanya seadanya saja."
Marcel :"Aku tidak sepele, aku hanya bertanya sayang." Merangkul Stella. "Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa, jika kamu tidak bisa memasak dan kamu mencoba memasak nanti kamu malah terluka. Ayok kita berangkat," mengambil tasnya.
Stella :"Lebay banget kamu." Membuka pintu.
__ADS_1
Marcel merangkul Stella, mereka berjalan menuruni tangga. Stella berdiri di depan pintu utama menunggu Marcel yang sedang mengambil mobil. Begitu mobil parkir di hadapannya, Marcel segera membuka pintu kemudian Stella masuk ke dalam mobilnya. Marcel masuk ke dalam mobil lalu menyetir mobilnya dan melajukannya menuju perusahaannya.
Stella :"Sel, kayaknya besok kita mulai tidur di kamar saja deh. Soalnya perut aku sudah mulai terasa sakit jika terlalu banyak naik turun tangga apalagi tangga di rumah itu banyak sekali."
Marcel :"Kita di kamar lantai 1?" Memasang seat belt Stella.
Stella :"Iya Sel,"
Marcel :"Apa kita buat lift saja?"
Stella :"Sel tidak usah seperti itu."
Marcel :"Kenapa? Supaya kita tidak perlu pindah kamar maksud aku Stell."
Stella :"Pasang lift itu butuh waktu dan uang Sel, Itu butuh uang yang banyak Sel. Aku rasa tidak perlu lah, pindah kamar itu tidak membutuhkan biaya loh. Mulai sekarang kamu jangan suka menghabiskan uang untuk hal yang tidak terlalu penting lah Sel."
Marcel :"Itu penting Stell, buat kesehatan kamu."
Stella :"Iya aku tau, tetapi kan masih ada cara lain. Kalau ada cara lain, kenapa harus memakai cara itu. Kebutuhan kita kedepannya akan banyak Sel, aku mau kamu mulai menabung. Tidak selamanya kondisi kita selalu di atas Sel, ada saatnya nanti kondisi keuangan jatuh. Kalau tidak ada tabungan bagaimana kita mau melanjutkan hidup kamu, hidup aku dan hidup anak kita? Apa selama ini kamu ada menabung?"
Marcel :"Tidak Stell, maafkan aku. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Semua uang yang ku terima langsung ku transfer ke kartu ATM mu."
Stella :"Memberikan yang terbaik bukan berarti mengeluarkan biaya yang banyak Sel." Memberikan senyuman. "Jadi pegangan uang mu? Kamu beli makan ini itu, pakaian, pesawat dari mana?"
Marcel :"Itu yang dari hasil penjualan dari setiap toko emas milikku, aku sulit untuk menabung Stell. Mulai nanti setiap aku mendapat kan pemasukan aku akan memberikannya langsung kepada mu, aku mau kamu yang menabungnya. Kamu bisa mengatur keuangan kita kan?"
Stella :"Itu masalah kecil bagiku." Memberikan senyuman.
Marcel membuka seat belt Stella, dan membuka pintu untuk Stella. Stella turun dari mobil, mereka berjalan bersama memasuki gedung perusahaan. Tiba-tiba Stella berhenti berjalan dan menarik tangan Marcel. Marcel kaget dan merasa panik karena ia berpikir perut Stella sedang sakit.
Stella :"Sel," menarik tangan Marcel.
Marcel :"Kenapa Stell? Apa perut mu sakit?" Berjalan mundur.
Stella :"Ih muka mu biasa aja lah. Kalau kita masuk berduaan begini nanti kita ketahuan."
Stella :"Ya sudah lah ayok masuk." Berjalan memasuki gedung perusahaan.
Stella dan Marcel menyapa ramah semua karyawan-karyawan yang berjalan melewati mereka. Mereka memasuki lift lalu keluar dari lift. Marcel mengantarkan Stella ke dalam ruangan Direktur Utama, lalu mereka masuk ke dalamnya. Ruang Direktur Utama ini sama besarnya dengan ruang kerja CEO, dan hanya di tempati hanya seorang diri saja.
Stella :"Aku di sini? Sendirian begini?"
Marcel :"Iya, sementara saja. Sebentar lagi aku akan menyuruh orang untuk memindahkan meja ini ke ruangan ku, agar aku dan kamu satu ruangan ya." Membelai rambut Stella.
Stella :"Sebentar lagi nya kapan?" Duduk di sofa. "Aku takut lah Sel, sendirian begini. Lebih baik aku menjadi seorang akuntan seperti kemarin saja."
Marcel :"Iya sayang, sebentar lagi mungkin makan siang nanti kita sudah satu ruangan di ruangan ku. Aku tentu tidak membiarkan mu sendirian di tempat seperti ini, kamu ikut aku saja yok ke ruangan ku, aku ada kerjaan."
Stella :"Ya sudah ayok." Berdiri dan berjalan ke ruang kerja Marcel.
Sesampai di ruang kerja, Marcel langsung membuka laptopnya dan Stella meminta kunci ruangan tersembunyi. Marcel memberikan kunci itu, lalu Stella memasuki ruangan tersembunyi itu, ia menyalakan AC dengan suhu 16° dan duduk di sofa memainkan ponselnya hingga waktu makan siang. Pada pukul 12.00, ia keluar dari ruang tersembunyi itu dan berjalan menuju meja kerja Marcel, ia melihat Marcel yang begitu sibuk dari tadi sampai tidak memperhatikan dirinya.
Stella :"Kamu sibuk ya?" Duduk di hadapan Marcel.
Marcel :"Kenapa sayang?" Tetap fokus melihat laptop.
Stella :"Tidak apa, aku hanya bertanya. Apa ada yang bisa aku bantu?"
Marcel :"Tidak usah ya, aku sudah mau selesai kok." Memberi senyuman kepada Stella. "Kamu tanda tangan ini dulu." Mengambil sebuah berkas dari dalam laci mejanya dan memberikan kepada Stella.
Stella :"Apa ini?" Mengambil map yang berisi berkas.
Stella membaca semua berkas-berkas terlebih dahulu .
Stella :"Maksudnya apa sih Sel? Aku tidak mengerti."
Marcel :"Itu Pemindah tanganan perusahaan ini, aku berikan untukmu."
__ADS_1
Stella :"Eh, tidak usah ah. Aku tidak mau," memberikan berkas kembali ke Marcel.
Marcel :"Stella, kenapa? Kamu tidak akan repot kok. Aku tetap mengurus perusahaan ini," memberikan kepada Stella.
Stella :"Marcel, aku tidak butuh itu. Perusahaan ini kamu dirikan dengan tangan kamu sendiri tanpa campur tangan ku, aku tidak mau mengambil hak penuh perusahaan ini."
Marcel :"Sayang, ini pemberian dari ku."
Stella :"Makasih Sel, tetapi aku tidak bisa menandatanganinya. Aku sudah menganggap perusahaan ini milikku juga kok, kamu bisa mewariskannya dengan keturunan mu nanti ya." Memegang tangan Marcel.
Marcel :"Kamu sangat berbeda dengan wanita lain, itu alasan aku memilih mu. Banyak wanita yang mendekati ku untuk mendapati surat warisan ini, tetapi saat kamu mendapatkannya kamu menolaknya. Aku sangat mencintai mu,"
Stella :"Apa kamu ingin menguji ku?"
Marcel :"Tentu tidak sayang, aku benar-benar ingin memberikannya kepadamu, ya sudah ayok kita makan siang." Berdiri.
Stella :"Makasih ya Sel," memberi senyuman.
Marcel dan Stella berjalan keluar dari gedung perusahaan, Marcel membukakan pintu untuk Stella, Stella pun masuk ke dalam mobil, Marcel langsung melajukan mobilnya.
Stella :"Apa kamu masih banyak pekerjaan?"
Marcel :"Tidak, kenapa sayang?"
Stella :"Kita ke supermarket saja kalau begitu, bisa kan?"
Marcel :"Bisa, mau beli bahan makanan ya?"
Stella :"Iya," menyandarkan kepalanya di bahu Marcel.
Marcel :"Kita beli makanan dulu ya, nanti kita tinggal makan di rumah saja."
Stella :"Iya,"
Marcel memutar balik mobilnya, ia melajukan mobilnya menuju supermarket, supermarket tidak begitu jauh dari perusahaannya.
Sesampai di Supermarket, mereka turun dari mobil. Marcel membawa troli belanjaan. Stella mengambil bahan makanan mentah dan memasukkan nya ke dalam troli, ia mengambil berbagai jenis sayur dan berbagai jenis ikan mentah serta ayam mentah dan tiga bungkus nugget, ia memasukkan semuanya ke dalam troli.
Marcel :"Udang tidak?"
Stella :"Tidak usah dulu lah, kemarin aku ada baca kalau seafood tidak bagus buat kesehatan ibu yang sedang hamil."
Marcel :"Ini saja?"
Stella :"Iya, ayok." Berjalan.
Marcel :"Apa ini cukup untuk 3 hari kedepan?"
Stella :"Tidak lah Sel, ini untuk malam ini saja. Besok kita beli ke pasar, di pasar bahan-bahan makanan jauh lebih segar."
Marcel :"Ooh, makin cinta deh." Mencium kepala Stella.
Di kasir belanjaan, semua barang belanjaan di masukkan satu per satu ke kantong plastik.
Kasir :"Apa ini saja?"
Stella :"Sel, aku mau cokelat. Tolong ambilkan dong,"
Marcel :"Cokelat yang mana?"
Stella :"Terserah yang penting cokelat."
Marcel :"Oke," berlari.
Stella :"Sebentar ya mbak." Memberi senyuman.
Marcel balik dengan membawa Coklat batang merk guylian dan memberikannya kepada kasir. Lalu Stella mengeluarkan kartu dan menggesekkannga di Mesin EDC. Setelah membayar Marcel membawa barang belanjaan, mereka berjalan masuk ke dalam mobil. Marcel meletakkan barang belanjaan di kasir, lalu masuk ke mobil melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran untuk membeli makan siang. Sesampai di restoran, Marcel turun sendirian dan masuk ke dalam restoran untuk membeli makan siang, Stella tetap tinggal di mobil karena kakinya merasa pegal.
__ADS_1
Selesai membeli makanan untuk makan siang ini, Marcel masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya pulang ke rumah.