
Air mata terus mengalir di pipinya, lehernya sanagt kesakitan, nafasnya juga sudah sangat sesak, ia ingin turun tetapi sudah tidak bisa lagi.
"Maafkan mama nak." Mengelus perutnya.
***
Saat Marcel memasukkan mobilnya, ia nampak ada sosok wanita di lantai 4, tetapi ia tidak mengenalinya. Marcel berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamar, ia tidak menemukan Stella. Kemudian ia berjalan menaiki tangga hingga ke lantai 4, sungguh terkejut ia melihat sosok wanita yang menggantung itu adalah Stella istrinya. Marcel langsung menaiki kursi dan menggendong Stella. Hampir saja ia kehilangannya nyawanya, jika Marcel tidak menolongnya.
Stella :"Lepaskan aku." Mendorong Marcel.
Marcel :"Sayang, tidak. Jangan," memeluk Stella.
Stella :"Apa lagi yang kamu inginkan dari ku? Awas kamu." Mencoba melepaskan pelukannya dari tubuh Marcel.
Marcel :"Sayang, jangan. Aku tidak akan membiarkan mu, kamu tidak boleh melakukannya."
Stella :"Kenapa kamu mengadu pada orang tua ku?"
Marcel :"Aku tidak mengadu sayang, mereka yang menelpon ku."
Stella :"Lalu mereka tau kita sedang kelahi? Dan semua orang menyalahkan aku, padahal mereka tidak tau apa-apa. Aku di bilang anak tidak berguna, aku sudah memalukan orang tua ku, itu semua karena kamu, karena kamu Marcel." Air mata terus mengalir di pipinya
Marcel :"Maafkan aku, maafkan aku sayang." Berlutut di kaki Stella.
Stella :"Mereka tidak tau apa yang terjadi kan? Apa kau mau aku mengadu? Aku yakin jika aku menceritakan semuanya aku sudah tidak ada di sini, aku pasti sudah di jemput sama mereka. Kalau saja mereka tau, kamu yang memulai permasalahannya, kamu yang memanggil sayang dengan wanita lain, tetapi giliran aku yang memanggil sayang kamu menyebut ku seperti anak kecil. Udah Sel, jangan tahan aku."
Marcel :"Sayang, tolong. Maafkan aku, aku akan menjelaskan semuanya pada orang tua mu. Aku tidak bermaksud menyudutkan mu. Aku tidak bisa kehilanganmu Stell, apalagi membiarkan mu bunuh diri. Aku akan katakan semua yang terjadi pada mereka sayang."
Stella jongkok dan melihat Marcel.
"Tidak ada gunanya Sel, lepaskan aku. Aku capek," mendorong Marcel.
Stella berjalan menuruni tangga, Marcel masih tersungkur di lantai sambil menangis.
Stella duduk di tepi tempat tidur, air mata masih mengalir meskipun tidak sederas tadi. Beberapa menit kemudian, Marcel masuk dan berlutut lagi di kaki Stella.
Marcel :"Sayang, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi, maafkan aku jika aku mengatakan kamu anak kecil."
Stella :"Kadang kamu memuji ku, karena aku dewasa, mandiri, dan kamu tadi berkata bahwa aku seperti anak kecil. Anak kecil tidak bisa mandiri Sel."
Marcel :"Yang, maafkan aku. Tadi aku sangat cemburu."
Stella :"Pergilah Sel, aku ingin istirahat."
Marcel :"Maafkan aku Stell,"
Stella :"Aku sudah memaafkan mu Sel, pergilah. Aku sedang tidak ingin melihatmu."
Stella membaringkan badannya di tempat tidur, Marcel pun ingin menciumnya, namun Stella langsung mendorongnya.
Stella :"Aku sedang tidak ingin melihatmu, jangan dekati aku." Mendorong Marcel.
Marcel berjalan keluar kamar, Stella menutup matanya. Meskipun baru bangun tidur, tubuhnya terasa sangat lelah.
"Maafin mama ya sayang, mama tidak akan mengulanginya lagi nak, mama janji sayang. Tetap sehat ya nak, mama sudah membeli keperluan kamu, mama pengen operasi saja supaya mama bisa cepat melihat kalian." Ucap Stella dalam hatinya.
Stella tertidur dalam lamunan panjangnya.
__ADS_1
***
Pada pukul 12.00, Stella terbangun perutnya terasa sangat lapar.Ia berjalan keluar kamar, semua ruangan sudah sangat gelap, ia pun menyalakan lampu satu per satu, dan berjalan menuruni tangga. Ia berjalan ke ruang makan yang bercahaya, dan melihat Marcel yang sedang asik makan. Stella mengambil gelas dan menuangkan air dari dispenser lalu berjalan melewati meja makan.
Marcel :"Yang, kamu makan saja. Biar aku yang pergi,"
Stella :"Lanjutkan saja makan mu." Berjalan menaiki tangga.
Stella masuk ke kamar, mengambil kunci mobilnya. Lalu ia memakai cardigan panjang. Lalu ia berjalan menuruni tangga, dan berjalan keluar kamar. Marcel yang saat itu ingin menaiki tangga pun menahan Stella.
Marcel :"Sayang, kamu mau kemana?"
Stella :"Aku mau cari makan."
Marcel :"Sini kunci nya, biar aku yang bawa."
Stella :"Aku pergi sendiri saja."
Marcel :"Aku mau temani kamu."
Stella :"Aku bisa sendiri kok, aku bukan anak kecil."
Marcel :"Stell, aku harus menemani mu."
Stella :"Aku sudah bilang tadi kan, aku sedang tidak ingin melihatmu."
Marcel :"Oke, aku tetap akan ikut. Aku akan membawa mobilku."
Stella :"Terserah kamu," berjalan ke garasi.
"Apa aku terlalu berlebihan memperlakukannya? Tetapi jika aku tidak begini, dia akan terus mengulangi kesalahannya." Ucap Stella dalam hatinya.
Stella menghidupkan lampu sen mobilnya dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Marcel pun mengikutinya. Stella ingin membeli sate yang ada di pinggir jalan itu, ia turun dan menghampiri penjual sate itu lalu memesan sate itu dan duduk di salah satu meja kosong. Marcel berjalan mendekati Stella, dan duduk di sampinya. Semua orang yang berada di sekitarnya, tatapannya tertuju pada ketampanan Marcel yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek yang harganya sangat di luar dugaan mereka. Stella melihat orang-orang yang menatap Marcel,
Stella :"Kamu ngapain sih ke sini? Tunggu di mobil ajalah."
Marcel :"Kamu makan di sini kan? Sampai berapa lama aku menunggu mu?"
Saat tukang sate itu mengantarkan sate pesanan Stella, Marcel langsung memesan sate untuknya. Kemudian tukang sate itu membuatkan sate untuk Marcel. Marcel melihat Stella yang makan begitu lahap, ia memegang perut Stella dan mengelusnya. Cewek-cewek yang berada di dekat mereka masih terus memandangi Marcel, Stella merasa risih.
Stella :"Sel, jangan lah." Memukul tangan Marcel.
Tukang sate itu memberikan pesanan kepada Marcel, tak lupa pula ia bertanya.
Tukang sate :"Pacaran ya mas." Memberikan sate yang masih panas.
Marcel :"Udah menikah Pak,"
Tukang sate :"Ooh, hahaha saya pikir pacaran janjian ketemu di sini, soalnya mobil nya beda."
Marcel :"Kebetulan dari tempat yang berbeda pak," memakan sate.
Tukang sate :"Oh, silakan makan makan." Berjalan meninggalkan mereka.
Mereka menyantap sate dengan lahap hingga tak tersisa setetes pun. Stella mengambil duit nya dari dompet dan membayar kan sate itu.
Stella :"Pak, pak ini."
__ADS_1
Marcel :"Eh, apa sih Stell? Biar aku yang bayar." Mengambil uang Stella dan memasukkannya ke dompet Stella.
Stella :"Pak, ini sate saya dia yang bayar ya." Berjalan memasuki mobil.
Marcel segera memberikan selembar duit seratus, bahkan ia tidak mengambil kembalian uangnya agar ia dapat mengejar Stella yang mobilnya sudah melaju.
Stella melajukan mobilnya pulang ke rumah, Marcel mengikutinya dari belakang hingga tiba di rumah. Stella langsung berjalan menaiki tangga, dan masuk ke kamar. Marcel berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamar, saat ia membuka pintu terlihat Stella yang sudah melototinya, ia tau kalau rasa kesal di hati Stella belum reda.
Marcel :"Iya, aku tau. Aku tidur di luar kok, ini aku mau ambil bantal." Berjalan mengambil bantal.
Stella tidak memperdulikan Marcel, ia menaikkan suhu AC, lalu menarik selimutnya. Marcel berjalan keluar kamar, dan tidur di sofa depan kamarnya.
***
Pagi hari, saat matahari sudah menyinari bumi ini, mereka terbangun dari tidur nyenyak nya. Marcel berjalan meletakkan bantal di tempat tidur yang sudah di rapikan Stella, Marcel langsung mengambil kemeja, dan celana kain dari dalam lemari lalu meletakkannya di sofa, ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi langsung, bahkan ia tidak ada menyapa ataupun melirik Stella sedikitpun yang sedang duduk di sofa sambil menonton.
Selesai mandi, Marcel langsung mengenakan pakaian nya, dan merapikan rambutnya kemudian ia permisi dengan Stella.
Marcel :"Stell, aku berangkat kerja dulu ya." Melihat Stella.
Stella tidak menjawabnya, tetapi matanya terus melihat Marcel yang berjalan meninggalkannya.
Marcel :"Kamu masih marah ya?" Membalikkan badannya dan berjalan mendekati Stella. "Kamu masih marah? Kamu belum bisa maafin aku?" Duduk di samping Stella.
Stella :"Tidak, seharusnya aku yang tanya sama kamu, kamu marah sama aku? Dendam?"
Marcel :"Kok menyudutkan aku ?"
Stella :"Ya, karena dari awal saat kamu masuk ke sini, kamu mandi kamu tidak memperdulikan ku di sini."
Marcel :"Karena aku buru-buru Stell, aku juga tau jika aku mencakapi mu kamu akan mencuekiku."
Stella :"Seburu-burunya kamu, kamu tidak pernah mencueki Sel, aku pikir dengan yang sudah aku lakukan dengan mu, kamu berubah ternyata tidak. Kamu semakin tega pada ku," meneteskan air matanya. "Jujur Sel, aku tidak mau kalau orang tua kita, tau apa masalah kita. Ini keluarga kita, terdiri dari aku dan kamu, ya aku ingin yang tau masalah kita hanya kita aja."
Marcel :"Sayang, aku tidak mengadu dengan mereka jujur kok. Semalam mereka menelpon ku, ia menanyakan mu padaku, bahkan mereka yang menebaknya jika kita sedang ada masalah, aku juga tidak mungkin berbohong Stell, maafkan aku ya." Mencium kening Stella. "Besok ada meeting di kota XX kamu ikut?"
Stella menganggukkan kepalanya.
Marcel :"Aku pergi dulu ya sayang, ada meeting. Kamu mau aku antar ke ruko?"
Stella :"Aku tidak jadi membuka toko butik untuk sementara ini, aku ingin fokus dengan kehamilan ku dulu Sel."
Marcel :"Apapun keputusan kamu aku dukung kamu ya sayang, saran aku memang lebih baik begitu untuk saat ini, kamu jaga kandungan kamu dulu ya. Kamu mau ikut ke kantor?"
Stella :"Tidak, aku ingin istirahat."
Marcel :"Aku berangkat dulu ya sayang, kamu tidak usah antarin aku ke bawah. Kamu liat dari jendela saja ya,"
Stella :"Iya, daa." Memeluk Marcel.
Marcel mencium kening Stella, lalu ia berjalan menuruni tangga dan masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya, tampak Stella berdiri di jendela melambaikan tangan kepada Marcel, Marcel pun membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Stella. Lalu Marcel melajukan mobilnya dengan kencang ke kantor.
***
Hari ini jadwal Marcel di perusahaan sangat full, karena dia sudah beberapa hari tidak masuk kantor, dan hari ini dia harus menyelesaikan semuanya.
Malam hari pukul 18.00, Marcel pulang ke rumah dan langsung mandi, Stella menyiapkan makanan untuk Marcel di ruang makan. Kemudian mereka makan bersama pada pukul 20.00, mereka menikmati makanan di meja makan berduaan saja. Karena hari ini Marcel sangat lelah, mereka langsung masuk ke kamar untuk tidur dan beristirahat, karena besok pagi mereka juga harus meluncur ke kota XX, karena Marcel ada meeting.
__ADS_1