
Gilang dan Marcel sedang berbincang di ruang keluarga yang berada di lantai bawah. Milka dan Stella berjalan menghampiri mereka.
Milka :"Salsa mana bang?"
Gilang :"Di kamar, dia lagi tidur. Udah kelar belanjanya?"
Milka :"Udah makanya pulang haha."
Gilang :"Aku mandi dulu lah ya bang, udah gerah sekali."
Marcel :"Oh iya-iya bang." Memberi senyuman kepada Gilang.
Milka :"Aku juga naik dulu ya Stell, mau lihat Salsa."
Stella :"Oh iya." Melihat Milka.
Kini mereka tinggal berdua di ruang keluarga. Marcel menatap Stella dengan tatapan serius.
Marcel :" Kamu kalau mau pergi-pergi izin dong sama aku." Melihat Stella."Milka aja izin kan sama suaminya."
Stella :"Harus ya?" Melihat Marcel.
Marcel :"Haruslah kalau terjadi apa-apa kan aku bisa tau. Bisa tau harus nyari kamu kemana, apalagi kamu lagi sakit kan."
Stella :"Lain kali aku bakal izin kok." Berdiri dan menaiki tanggal.
Stella masuk ke dalam kamar, Marcel mengikuti nya dari belakang. Stella menyimpan semua barang-barang yang ia beli tadi di dalam lemari penyimpanan. Ia melihat Marcel duduk di sofa, ia membawa, kan sebuah kotak belanjaan dan duduk di samping Marcel.
Stella :"Nih buat kamu, pakai ya." Memberi, kan senyuman dan kotak jam.
Marcel membuka nya dengan rasa terheran-heran.
Stella :"Aku suka banget sama jam nya, tapi aku tidak bisa pakai karena tangan ku kan kecil, itu juga buat cowok." Melihat jam.
Marcel :"Lalu kenapa di kasih ke aku? Kalau kamu suka ya kamu pajang saja."
Stella :"Kan sayang kalau di pajang aja, mendingan kamu pakai. Coba pakai." Memasangkan jam di tangan Marcel.
"Kamu memang masih labil Stella, kadang marah kadang seperti ini. Aku semakin yakin untuk mempertahankan pernikahan ini Stella, aku sangat menginginkan mu yang selalu seperti ini." Berbicara dalam hati sambil menatap Stella.
Stella :"Bagus, kan?" Tersenyum melihat jam.
Marcel :"Iya, makasih ya." Melihat Stella.
Stella :"Itu aku beli pakai uang kamu kok, uang yang setiap bulan kamu transfer, jadi tidak usah bilang makasih." Menghidup, kan hpnya.
Marcel :"Kamu beli apa aja?"
Stella :"Aku beli pakaian untuk ku." Melihat Marcel.
Marcel :"Emang pakaian yang ada di lemari kurang? Bahkan kamu belum memakainya semua."
Stella :"Tidak, namun pakaian yang di lemari banyak yang tidak kusukai." Memegang jam tangan yang berada di tangan Marcel.
Marcel :"Kenapa tidak suka? Jelek ya?"
Stella :"Tidak, aku kurang suka saja."
Marcel :"Kamu beli baju nya pakai uang siapa?"
Stella :"Uang kamu juga." Memberikan senyuman. " Besok aku ganti."
Marcel :"Kamu ganti pakai apa? Daun?"
Stella :"Sombong banget sih." Mendorong Marcel, "Uang yang kemarin aku kasih untuk bayar semua yang kamu bilang hutang itu masih sama kamu kan?"
Marcel :"Itu di lemari." Menunjuk lemari.
Stella :"Ya sudah nanti aku ganti." Berdiri dan melangkah, kan kakinya hendak keluar kamar.
Marcel :"Eh sini dulu," menarik tangan Stella.
Stella :"Kenapa?" Duduk kembali ke sofa.
Marcel :"Semua uang yang sudah aku kasih ke kamu itu sudah jadi uang kamu, tidak ada lagi istilah uang aku, uang kamu. Uang aku itu uang kamu juga." Merangkul Stella dengan kuat.
Stella :"Iya iya, udah awas Sel." Mengangkat tangan Marcel yang ada di bahunya.
Stel. " Ada masalah apa di kantor?" Melihat Marcel.
Marcel :"Ada sebagian toko emas ku di tutup, karena ada orang yang mengambil harga sewa toko 3 kali lebih tinggi dari harga yang ku sewa ."
Stella :"Banyak? Siapa dia?"
Marcel :" Saat ini sudah 3 yang di tutup. Aku juga tidak tau Stell, kalau kayak gini pendapatan ku bisa berkurang." Melihat jam tangannya.
Stella :"Kan pendapatan mu juga bukan hanya dari toko-toko emas saja, lagian toko emas kamu masih banyak kan yang lain. Kamu juga masih punya perusahaan, kan. Lagian pendapatan kamu cuman berkurang beberapa saja."
Marcel :"Kalau aku bangkrut gimana ya?" Melihat Stella.
Stella :"Kamu tidak akan bangkrut. Jangan begitu lah"
Marcel :"Kalau aku bangkrut, apa kamu masih akan tetap tinggal di rumah ini?"
Stella :"Emang kalau kamu bangkrut kamu tidak jual rumah?"
Marcel :"Tidak lah. Bagaimana apa kamu masih tetap di sini?"
Stella :"Masih lah pertanyaan kamu aneh lah. Selagi kamu tidak mencari keributan dengan aku, aku akan tetap tinggal di sini."
Marcel :"Tapi kan aku sudah tidak punya uang lagi, kamu masih mau sama aku?"
Stella :"Emang kamu pikir aku Bella? Ha?" Udah ah Marcel, kami tidak akan bangkrut. Toko emas itu bukan tutup tapi tidak ada tempat saja. Kamu bisa sewa tempat lagi untuk membukanya."
Marcel :"Tempat yang ku sewa yang sebelumnya itu sudah tepat Stella. Apa aku ambil balik aja ya? Aku bayar sewa nya lebih mahal dari orang itu?"
Stella :"Ih tidak usah, jangan sama kayak dia. Tapi Sel, aku merasa kalau kayak nya orang itu tidak suka sama mu."
Marcel :"Kami saja tidak saling kenal Stella."
Stella :"Kalian tidak saling kenal, atau kamu belum menemuinya?"
Marcel :"Aku belum menemuinya sih. Lagian kenapa dia tidak suka sama aku?"
Stella :"Karena bisnis lah, aku merasa saja kenapa orang rela membayar 3 kali lipat lebih tinggi, kalau dia mau buka usaha di sana, dia mala jadi rugi dong. Harga sewa saja sudah mahal."
Marcel :"Iya sih betul juga, tapi dia siapa ya?"
Stella :"Mana aku tau, berarti niat nya mau menghancur, kan usaha mu kan."
Marcel :"Iya. Kalau begitu dia akan menyewa toko emas ku yang lain?"
Stella :"Emang semua toko emas kamu itu toko di sewa ya?"
Marcel :"Tidak sih, sebagian kios nya sudah aku beli. Kalau yang di mall kebanyakan bonus dari hasil investasi aku."
Stella :"Ooh, ya sudah jangan takut. Kamu tidak akan bangkrut, tapi kalau pendapatan nya menurun itu pasti akan terjadi, karena roda kan berputar. Terkadang kamu di bawah, kamu juga di atas." Memberi senyuman.
Marcel :"Kamu di bawah, aku di atas?" Melihat Stella.
Stella :"Iya, bilang lagi bilang ayo." Menatap Marcel.
__ADS_1
Marcel :"Kamu di bawah, aku -"
Stella :"Sakit kan?" Menampar Marcel tidak terlalu keras. " Eh katanya Bella minta uang ya? Buat apa?"
Marcel :" Kamu tau dari siapa?"
Stella :" oh mata-mata aku kan banyak di rumah ini."
Marcel :"Mata-mata," memegang kepala Stella. "Aku cuman kasih tau Milka sama Gilang saja kok haha."
Stella :"Dari Milka lah sel, kenapa dia minta duit?"
Marcel :"Dia bilang aku sudah lama tidak berbelanja untuk nya, ya sudah aku kasih dia duit."
Stella :"Ih bodoh sekali." Memukul paha Marcel. "Aneh banget sih kamu ah." Menatap Marcel dengan tatapan sinis.
Marcel :"Aku kasih duit ada syarat juga loh, asalkan dia tidak pernah balik lagi ke sini dan langsung pergi saat itu juga"
Stella :"Ih apaan sih. Dia pasti balik lagi ke sini, lagian kenapa harus jam 06.00 diminta nya? Kenapa tidak jam 8 atau jam 9?
Marcel :"Soalnya tadi itu kamu belum bangun, dia bilang sengaja. Tadi aku bilang kan sama dia. Kamu itu menggangu tidur ku, kenapa tidak nanti saja. Dia bilang kalau nanti istri mu sudah bangun."
Stella :"Ih kenapa kalau aku sudah bangun? Dasar perempuan licik." Mengerutkan dahinya.
Marcel :"Kamu kok kayak tidak suka begitu aku kasih uang padanya?"
Stella :"Ya jelas lah aku tidak suka. Kamu membela dia ya?"
Marcel :"Iya dia Bella." Memberi senyuman dan tertawa
Stella :"Tuh kan aku serius juga."
Marcel :"Kamu cemburu?" Mencium pipi Stella.
Stella :"Ih apa sih?" Memegang pipinya.
Marcel :"Kamu cemburu?"
Stella :"Tidak, buat apa aku cemburu. Kamu itu tidak adil saja, Aku tidak boleh dekat dengan Prayoga tetapi kamu bisa dekat dengan Bella."
Marcel :"Kamu sayang sama aku?"
Stella :"Tidak."
Marcel :"Waktu itu kan aku sudah bilang, aku kayak begitu karena aku sayang sama kamu, aku cemburu dong kalau kamu dekatin Prayoga. Sementara kamu karena apa? Karena tidak suka? Tidak suka alasannya kenapa ?"
Stella :"Ih kamu nih lah. Pokoknya aku tidak mau lihat kamu lagi dekatin dia. " Memelototi matanya.
Marcel :"Tidak bisa Stella, aku tidak bisa berbuat sesuatu tanpa alasan, lagian kalau dia bakal balik ke sini ya biarin saja lah."
Stella :"Ya sudah terserah mu saja." Berdiri dan melangkahkan kakinya.
Marcel :"Stell sini dulu." Menarik tangan Stella. Stella pun terduduk di pangkuannya.
Stella :"Sel, awas aku tidak mau."
Marcel :"Tidak mau apa? Aku hanya memangku mu saja."
Stella :"Aku tidak mau duduk di sini." Berusaha berdiri.
Stella pun duduk kembali di sofa.
Stella :"Besok-besok kalau dia datang lagi, kamu tidur sama dia saja." Menatap sinis.
Marcel :"Boleh? Kalau kamu bolehkan aku pasti mau sih."
Stella :"Boleh, sekalian juga kasih rumah ini untuk tempat tinggalnya, aku mau pergi dari sini." Bersandar ke sofa.
Stella :"Kan aku sudah bilang tidak. Aku tidak cemburu."
Marcel :"Kalau tidak cemburu seharusnya kamu tidak akan pergi dari rumah ini. Lagian apa susahnya sih bilang kalau kamu itu sayang sama aku. Kalau kamu bilang begitu aku pasti dengan segera akan menjauhinya." Mengangkat alisnya.
Stella :"Suka kamu aja deh." Berjalan ke tempat tidur.
Stella membaringkan badannya di tempat tidur, Marcel juga ikutan naik ke tempat tidur. Ia memeluk Stella dari belakang.
Marcel :"Kamu sayang kan sama aku?" Memeluk Stella.
Stella tidak menjawab.
Marcel :"Aku tau kamu sudah sayang sama aku" memeluk Stella semakin kuat.
Stella :"Kamu itu jangan kepedean." Membalikkan badannya melihat Marcel.
Marcel :"Aku tidak kepedean. Aku tau, aku kan punya firasat."
Stella :"Itu kan hanya firasat kamu dan firasat mu itu belum tentu benar."
Marcel :"Kalau belum benar pun aku berharap suatu saat nanti akan menjadi benar.".
Stella :"Firasat kamu memang benar, aku mau kamu jangan dekatin Bella lagi."
Marcel :" tuh kan." Mencium semua pipi Stella. "Aku sayang sama kamu Stella, tanpa kamu suruh pun aku sudah pasti akan menjauhkannya haha. Aku hanya butuh pengakuan mu saja." Melihat Stella. "Kalau kamu sayang berarti mau bermain dengan ku di sini sekarang?"
Stella :"Sel, aku belum bisa. Sekarang aku cuma bisa menyayangi mu saja, untuk hal yang lain aku belum bisa. Ada saatnya sel." Memberi senyuman.
Marcel :"Iyalah," memberi senyuman. "Terimakasih untuk pengakuannya ya, itu sudah lebih dari cukup buat aku. Aku akan selalu menunggu sampai kamu siap." Mecium kening Stella.
Marcel :"Sih Milka balik pulang pakai apa?"
Stella :"Katanya sih dia pakai mobil aja, tapi kasiankan . Salsa masih kecil, kelamaan di jalan kasian."
Marcel :"Iya, suruh pakai pesawat saja."
Stella :"Tadi aku sudah bilang, dia tidak mau. Uang mereka mungkin tidak ada." Memainkan ponselnya.
Marcel :"Ya sudah kita bayarin saja."
Stella :"Tidak apa-apa?"
Marcel :"Ya tidak masalah sih."
Stella :"Benaran kan? Biar nanti aku pesan tiketnya."
Marcel :"Iya benar. Gilang kerja di mana?"
Stella :"Dulu itu bang Gilang sempat jadi pengacara, karena jarang di panggil dia beralih ke kantoran."
Marcel :"Ooh keren juga ya." Memegang dagunya. "Kalau begitu aku mau kasih dia modal buat urusin toko mas ku yang ada di kota xx."
Stella :"Kamu Benaran?"
Marcel :"Iya ih. Kamu dari tadi pertanyaan nya itu saja."
Stella :"Ternyata kamu sedikit baik ya." Memberikan senyuman.
Marcel :"Sedikit saja ya?" Memegang pipi Stella.
Stella :"Iya. Sedikit saja." Memberi senyuman.
Marcel :"Tapi dia bisa mengolah tidak? Nanti aku jadi bangkrut."
__ADS_1
Stella :"Ih kamu, ternyata tidak ikhlas."
Marcel :"Ikhlas kok."
Stella :"Kalau kamu ikhlas, kamu tidak pikirin apa yang akan terjadi pada toko emas mu itu. Serahkan saja semuanya kepada Gilang. Kamu doakan saja semoga semakin maju. Kan kalau maju uangnya juga sebagian buat kamu. Eh tapi kamu kasih modal atau suruh dia jaga toko?"
Marcel :"Kok jaga toko sih?"
Stella :"Jadi kasih modal?"
Marcel :"Iya, aku kasih modal. Aku kasih modal supaya dia bisa buka toko emas yang baru di kota xx. Sekalian juga mengolah toko emas ku yang sudah ada di kota xx itu."
Stella :"Ooh, begitu. Kamu beli emas nya dimana?"
Marcel :"Astaga Stella. Aku yang buat emas nya. Aku juga yang mengolah emas nya menjadi emas jadi."
Stella :" Kamu kan tambang batu bara kenapa jadi emas?"
Marcel :"Usaha yang pertama kali itu emas, aku coba buka toko emas dan berhasil. Terus aku coba jadi pengusaha tambang batu bara dan lebih berhasil lagi. Makanya sekarang aku sudah punya toko emas di mana mana itu karena keberhasilan aku dari tambang batu bara."
Stella :"Berarti kamu pengusaha tambang emas dan pengusaha tambang batu bara dong."
Marcel :"Tidak, aku hanya tambang batu bara. Aku tidak pengusaha tambang emas, aku hanya punya usaha emas. Sulit sih menjelaskannya." Menggaruk kepalanya.
Stella :"Ooh iya aku sudah mengerti. Berarti kalau kamu bukan pengusaha tambang emas, suatu saat nanti usaha emas kamu bisa bangkrut?"
Marcel :"Ya pasti bisa, bukan aku pengusahanya. Makanya aku takut bakal bangkrut Stella."
Stella :"Selagi kamu jalanin usahanya dengan benar kamu tidak akan bangkrut, tapi kalau mungkin ada masalah iya." Mendudukkan badannya. " Aku keluar dulu ya. Aku mau bilangin mereka supaya naik pesawat saja." Turun dari tempat tidur. "Eh mobilnya dia gimana?" Melihat Marcel.
Marcel :"Pakai kapal saja, atau kalau dia mau biar tinggal di sini saja mobilnya. Lusa aku mau ke kota xx biar aku yang bawa. Kalau dia mau saja, kalau tidak ya naik kapal saja."
Stella :"Ngapain kamu ke sana?"
Marcel :"Mau meeting."
Stella :"Jadi aku tetap di sini?"
Marcel :"Iyalah, ngapain kamu ikut aku haha." Tertawa.
Stella :"Ih aku mau ikut." Naik ke tempat tidur. " Aku kangen sama mami ku." Melihat Marcel.
Marcel :"Kalau aku bawa mobil, itu perjalanan hampir 16 jam Stella. Nanti kamu kecapean, jadi tidak usah."
Stella :"Ya tidak apa-apa, aku tidak akan kecapean."
Marcel :"Tetap tidak boleh, kalau kamu mau ikut kamu naik pesawat saja."
Stella :"Ih kalau aku naik pesawat kamu juga naik pesawat dong. Masa aku sendirian sih? Alasan kamu aja ini kan, supaya di perjalanan kamu bisa sama Bella."
Marcel :"Hahaha kok Bella sih, Bella sudah sampai di kota xx Stella."
Stella :"Aku mau ikut bang Marcel." Memasang muka manja
Marcel :"Abang? Aku kangen banget kamu manggil itu sama aku. Soalnya sekarang kamu itu tidak sopan memanggil aku dengan nama padahal umur kita berjarak 4 tahun. Apalagi status sudah menikah, kamu juga sudah memanggil aku dengan sebutan papa hahahaha." Tertawa.
Stella :"Papa hahahaha ih jijik." Tertawa. "Aku ikut ya."
Marcel :" Boleh sih, ada satu syarat."
Stella :"Apa?"
Marcel :"Malam ini kamu harus mau ya."
Stella :"Tidak usahlah. Aku tidak usah ikut." Turun dari tempat tidur.
Marcel menarik tangan Stella.
Marcel :"Eh iya iya boleh Stella kamu boleh ikut."
Stella :"Kamu kebiasaan banget buat orang kesal dulu." Melepaskan tangan Marcel. " Aku mau bicara sama Milka dulu ya." Memberi senyuman.
Stella keluar kamar dan menghampiri Milka yang sedang duduk di ruang keluarga depan kamar Marcel.
Stella :"Milka, nanti kamu pulang naik pesawat saja ya, nanti biar kami bayarin."
Milka :"Eh tidak usahlah Stella, tidak usah."
Stella :"Tidak apa-apa, kasihan sih Salsa Milka. Nanti dia sakit."
Milka :"Bang gimana bang?" Melihat Gilang.
Gilang :"Tidak usah Stella, itu merepotkan saja. Tiket pesawat sekarang sudah mahal, nanti suami mu marah."
Stella :" Tidak bang, malahan ini Marcel yang suruh. Sekali-sekali juga tidak apa-apa bang, kasihan Salsa. Mau ya." Memberi senyuman.
Milka :" Betulan tidak merepotkan?"
Stella :"Tidak kok, oh iya itu mobilnya mau pakai kapal atau gimana?" Soalnya lusa Marcel juga mau ke sana. Dia ada meeting, tadi dia bilang dia ke sana mau naik mobil itu aja sekalian di balikkan ke kalian kan, tapi terserah kalian sih, kalau kalian mau mobilnya pakai kapal, biar nanti aku pesan tiket nya juga."
Gilang :"Astaga jadi merepotkan sekali ini, itu capek loh bawa mobil 16 jam Stella."
Stella :"Tidak kok bang, kami juga mau sekalian menikmati perjalanan. Kalau naik pesawat kan tidak bisa menikmati."
Gilang :"Ya sudah lusa aja suamimu yang bawa."
Stella :"Di sana ada kendaraan?"
Gilang :"Ada mobil Milka."
Stella :"Oh oke jadi Marcel yang bawa ya? Aku pesan tiket pesawat nya dulu ya, Kalian bawa banyak barang?"
Gilang :"Tidak kok, hanya satu tas saja."
Stella :" berarti tidak perlu sewa bagasi?"
Gilang :"Tidak usah."
Stella :"Oke bang, oh iya. Tadi Marcel bilang dia mau minta tolong sama Abang, dia mau kasih Abang modal nanti Abang dirikan toko emas yang baru di kota xx, sekalian bantu mengelola toko emasnya yang ada di kota xx juga."
Milka :" Astaga baik sekali suami mu Stella. Sepertinya dia tau ekonomi kami sedang susah ya?"
Stella :"Aku juga tidak tau soal itu ya Milka, kalian mau kan di kasih modal?"
Gilang :"Mau Stella, tapi tidak usah banyak."
Stella :"Kalau banyak juga tidak apa-apa lah hahaha, ini kan seperti barter. Dia kasih kalian modal, kalian bisa buka usaha toko emas, sebagai ucapan terima kasih nya kalian bantuin dia kelola toko emas nya yang disana juga."
Gilang :"Oh, iya makasih banyak ya. Marcel nya mana? Aku akan bantu kelola toko emasnya."
Stella :"Dia mau tidur sih tadi bang, kalian lusa ketemuan aja lagi. Biar bisa ngobrol lebih panjang."
Milka :"Lusa kamu ikut sama dia?"
Stella :"Ikut,"
Milka :"Mampirlah kerumah kami."
Stella :"Iya, aku pesan tiket buat kalian dulu ya." Berdiri.
Gilang :"Makasih ya Stella,"
__ADS_1
Stella pun berjalan memasuki kamarnya.