Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Ruangan tersembunyi


__ADS_3

Pada pukul 06.00 Stella terbangun, ia merasakan ada sesuatu yang menimpa perutnya itu adalah tangan Marcel, stella langsung melemparkan tangan Marcel, Marcel pun terbangun, ia membuka matanya.


Marcel :"Kamu sudah bangun? Kamu kerja kan?"


Stella :"Tidak," membalikkan badannya.


Marcel :"Hari ini hari pengangkatan jabatan mu Stell, aku semalam juga sudah membicarakannya tadi kepada yang lain kan?"


Stella :"Aku bilang tidak ya tidak, tanpa aku juga semua bisa berjalan dengan lancar."


Marcel :"Tidak bisa Stella, ini tidak adil bagi mereka semua kalau kamu tidak datang."


Stella :"Dari awal aku juga sudah bilang pada mu kalau ini tidak adil, aku karyawan baru bekerja beberapa hari langsung menjadi direktur utama,"


Marcel :"Stella, kamu selalu bilang kalau kerjaan kamu banyak, kamu capek mengerjakannya, sekarang giliran sudah aku angkat menjadi direktur utama kamu begini, sekarang kamu juga lagi hamil kan? Dokter juga sudah menyarankan agar kamu tidak kelelahan. Tenang saja, kalau kamu menjadi direktur utama, kamu hanya duduk duduk di kantor, semua tugas mu aku yang mengerjakan."


Stella :"Iya udah, aku masih mengantuk sekarang. Jam berapa acaranya?"


Marcel :"Jam 10.00"


Stella :"Ya sudah nanti aku datang jam 10.00 saja."


Percakapan pun berhenti, Stella melanjutkan tidurnya. Marcel beranjak dari tempat tidur, ia ingin menyuruh Bi Murti agar memasak udang, cumi dan kepiting hari ini, Marcel memberikan uang kepada bi Murti untuk membeli bahan makanan. Setelah itu Marcel berjalan santai di depan rumahnya menyapa orang orang sekeliling rumahnya, Marcel juga berenang dan bermain basket di lapangan basket, karena semenjak ia menikah dengan Stella ia jarang sekali berolahraga.


"Nanti aku harus ajak Stella berolahraga, supaya kandungannya sehat." Ucap Marcel dalam hatinya.


Setelah berolahraga dan mengeluarkan banyak keringat, Marcel mandi lalu masuk ke ruangan kerjanya, ia akan pergi ke kantor bersama Stella saat pukul 10.00 nanti.


***


Pada pukul 09.45 Stella keluar dari kamar dengan pakaian sudah rapi, Bi Murti yang barusan keluar dari ruangan kerja Marcel melihat Stella yang berjalan menuruni tangga dengan pakaian rapi pun memanggil Marcel.


Bi Murti :"Tuan, tuan Nona pergi." Berjalan ke dalam ruang kerja.


Marcel :"Kemana bi?"


Bi Murti :"Tidak tau tuan, tetapi pakaiannya rapi."


Marcel :"Oh makasih ya Bi, tolong bibi Panggilkan dia dulu. Saya mau Pakaian dulu."


Bi Murti :"Baik tuan."


Bi Murti berlari mengejar Stella, namun semua sudah terlambat. Stella sudah melaju dengan mobil yang di bawa oleh supir pribadinya, Marcel turun dari tangga dengan pakaian sudah rapi, ia mengenakan jas, kemeja, celana kain berwarna hitam , sepatu dan dasi.


Bi Murti :"Tuan mohon maaf, tapi nona sudah pergi. Bibi tidak sempat mengejarnya."


Marcel :"Dia bawa mobil bi?"


Bi Murti :"Tidak tuan, dia memakai mobil Alphard, Mobil itu di bawa oleh supir pribadi nona kan biasanya tuan?"


Marcel :"Iya Bi, ya sudah bibi tolong siapkan bekal untuk Stella Bi, buat saja yang tadi bibi masak, dia belum sarapan."


Bi Murti :"Baik tuan,"


Bi Murti pun menyiapkan bekal untuk Stella dan memberikan kepada Marcel.


Marcel pun melajukan mobilnya menuju perusahaannya.


****


Stella berjalan memasuki gedung perusahaan, ia berjalan melewati ruang direktur. Mila si sekretaris perusahaan sedang berada di dalam ruangan direktur karena sedang menandatangani dokumen, ia keluar dari ruangan dan mengejar Stella.


Mila :"Hei!" Menarik tangan Stella.


Stella mengentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

__ADS_1


Mila :"Kamu punya mata kan? Tolong lihat sekarang sudah jam berapa." Menunjuk jam tangannya.


Stella :"Owh, sudah jam sepuluh." Melihat jam tangan miliknya, "Terus ada masalah apa ya?" Meletakkan rambut ke belakang telinga.


Mila :"Ha? Kamu tidak sadar apa kesalahan mu? Kamu baru bekerja beberapa hari tetapi sudah banyak sekali masalah ya dengan perusahaan ini."


Stella :"Masalah? Masalah apa ya? Kalau saya dan anda itu bukan masalah perusahaan tetapi itu masalah pribadi, dan jangan pernah menyangkut pautkan masalah perusahaan dan masalah pribadi. Kalau saya mencuri keuangan perusahaan, berbuat curang atau yang lainnya, itu baru yang di katakan masalah, saya juga tidak pernah mencari masalah tetapi anda yang memancing bukan?" Memberi senyuman sinis.


Mila :"Oh oh oh, Kamu tidak tau? Ketika kamu bermasalah dengan saya itu sama saja anda bermasalah dengan perusahaan."


Stella :"Oh ya? Kenapa begitu ya? Saya jadi takut." Meletakkan tangannya di jantungnya.


Mila :"Saya orang penting di sini, dan kamu itu hanya akutansi, sudah banyak karyawan disini saya banting dari perusahaan ini karena punya masalah dengan saya. Jadi kamu tidak usah macam-macam, saya bisa saja mengadukan kamu sekarang. Dengan alasan baru mulai bekerja namun sudah tidak hadir kemarin untuk bekerja, dan sekarang kamu datang telat sekali, tetapi saya tidak mau melakukan itu karena saya ingin melihat seberapa keahlian seorang mantan pembantu Pak Marcelio Chandra sehingga ia bisa menjadi karyawan tetap di sini."


Mila :"Ya sudah saya berharap kamu melaporkan yang semua kamu ketahui tentang saya kepada Pak Marcel, dan mari kita lihat apakah saya akan tersingkir atau tidak, saya permisi."


Stella berjalan meninggalkan Mila, ia berjalan menuju ruang Pantry, ruangan sedang kosong karena biasanya hanya di isi saat jam istirahat, ruangan ini menjadi tempat berkumpulnya karyawan-karyawan untuk bersosialisasi ataupun untuk makan. Stella mengambil gelas dan mengambil air hangat dari dispenser. Ia mendudukkan badannya di kursi, perutnya terasa sakit.


"Apa ini efek dari kehamilan ku ya? Asal aku marah dan sedang emosi, pasti perut ku langsung terasa sakit." Ucap Stella dalam hati sambil menegukkan minumannya.


Hpnya yang berada didalam tas berdering, ia langsung mengangkat telepon tersebut.


Marcel menelpon Stella dan meminta Stella untuk datang ke ruangannya, Stella pun langsung memasuki lift untuk menuju ruangan Marcel. Ia segera masuk ke dalam ruangan, dan duduk di sofa.


Stella :"Tidak jadi ya?"


Marcel :"Jadi" duduk mendekati Stella. " Tetapi waktunya di undur setelah makan siang nanti."


Stella :"Kamu kenapa tidak bilang tadi? Aku tidak perlu ke sini sekarang."


Marcel :"Karena aku baru buat keputusan barusan, soalnya dari tadi kamu belum sampai di sini." Berjalan menuju meja.


Marcel :"Ni kamu sarapan dulu." Memberikan tempat makanan. "Tadi pagi aku suruh bibi masak ini." Membukakan rantang makanan.


Stella pun mengambil rantang makanan dari tangan Marcel, matanya berbinar binar melihat makanan yang ada di rantang-rantang itu. Ada udang, cumi dan juga kepiting.


Marcel :"Tidak, kamu sarapan dulu."


Stella :" kok masih panas? Bibi baru antar ya?"


Marcel :"Tidak, itu aku yang membawanya dari rumah, aku kan juga baru berangkat kerja."


Stella :"Oh ya?"


Marcel :"Iya, begitu kamu pergi aku langsung pergi."


Stella :"Kamu udah makan?"


Marcel :"Kamu makan saja dulu. Aku bisa cari makanan nanti."


Stella :"Emang yang mau kasih ini ke kamu siapa? Aku mau makan semuanya nih."


Marcel :"Oh iya aku lupa kalau kamu itu tidak pernah memperdulikan ku."


Stella langsung menyantap makanan dengan lahap, saat sedang asik menikmati makanan, pintu ruangan dibuka oleh Mila si sekretaris Marcel. Begitu terkejutnya Mila ketika melihat Stella makan dengan santai di ruangan Marcel.


Mila :"Pagi Pak, ini ada dokumen untuk ditandatangin." Memberikan map yang berisi dokumen.


Marcel :"Terima kasih, silahkan duduk." Mengambil map


Mila :"Saya ingin menyampaikan sesuatu Pak,"


Marcel :"Ada apa? Sampaikan lah." Melihat Mila sambil menandatangi satu per satu dokumen.


Mila :"Bagaimana jika seorang karyawan yang baru bekerja sudah mempunyai tingkah yang tidak pantas?" Melihat sinis ke arah Stella yang duduk di sofa.

__ADS_1


Marcel :"Seperti apa contohnya?" Melihat Stella.


Mila :"Datang terlambat dan baru setengah hari keterima besoknya sudah tidak datang bekerja dan dia tidak ada izin kepada atasan, Ia menjadikan kantor ini seperti tempat bermain datang semaunya saja Pak, apa yang akan di lakukan terhadap karyawan itu?"


Marcel :"Oh ya? Siapa dia?"


Mila :"Dia Stella pak, orang yang sedang makan di sofa ruangan bapak." Melihat Stella.


Stella :"Emang salah ya kalau saya makan di ruangan nya? Kamu iri sama saya? Kamu tidak pernah ya makan di sini?" Menutup makanan dan meletakkan di atas meja lalu Berjalan dan duduk di samping Mila.


Mila :"Bapak bisa dengar betapa tidak sopan dia kepada atasan."


Stella menatap Marcel dengan tatapan sinis, " lihat saja Marcel, jika kamu tidak membelaku aku tidak akan mau bersama dengan mu lagi." Ucap Stella dalam hatinya.


Marcel :"Tetapi saya lihat Stella ini bukan orang yang seperti itu, memang kemarin dia tidak masuk bekerja tetapi dari mana kamu tau kalau dia tidak izin?"


Mila :"Saya bertanya kepada bos nya pak."


Marcel :"Oh, dia memang tidak izin dengan bos nya. Dia meminta izin dengan saya, dan hari ini dia masuk terlambat karena dia ada urusan penting. Saya rasa kamu tidak perlu mengadukan semua perbuatan-perbuatan karyawan karena saya sudah mengetahui mereka satu per satu, dan bagaimana kamu akan di hormati oleh bawahan mu ketika perbuatan mu seperti ini? Oh ya sebentar lagi saya akan melakukan pengurangan karyawan dan saya rasa kamu adalah salah satu dari nya."


Mila :"Ha apa Pak? Saya? Salah saya apa Pak? Saya memberitahu bapak karena saya ingin perusahaan ini mendapatkan karyawan yang terbaik Pak karena saya merasa bapak tidak sempat memantau mereka satu per satu."


Marcel :"Tetapi kenapa yang selalu kamu pantau hanya Stella?"


Mila :"Karena perilaku dia yang paling buruk Pak."


Stella :"Sebenarnya kamu punya masalah apa sih sama saya? Kamu suka ya sama Marcel? Saya merasa semenjak saya masuk perusahaan ini saya sangat di perlakukan tidak pantas oleh mu. Saya bisa menuntut kamu loh atas perbuatan tidak menyenangkan."


Mila :"Saya suka ataupun tidak itu hak saya ya -"


Stella :"Saya tau itu hak kamu, saya hanya ingin tau supaya saya bisa ambil sikap, kalau kamu memang menyukainya saya akan menjauhinya. Soalnya selama ini kamu seperti nya sangat cemburu."


Mila :"Saya permisi pak," membawa map yang berisi dokumen yang telah di tanda tangani Marcel.


Stella :"Hei, saya belum selesai berbicara."


Mila keluar dari ruangan Marcel.


Marcel :"Aku akan memecatnya jika itu membuat mu nyaman berada di sini"


Stella :"Makasih, aku sangat mengantuk."


Marcel :"Kamu mau tidur?"


Stella :"Iya, aku pulang dulu lah ya."


Marcel :"Eh tidak usah, Sini aku mau tunjukan ruang yang pasti kamu tidak tau," berdiri dan memegang tangan Stella.


Stella :"Ruangan apa?" Berjalan


Marcel menggeser pintu yang berbentuk lemari, tampak sebuah ruangan di balik pintu itu.


Stella :"Ih aku pikir ini lemari loh,"


Marcel :"Iya memang, aku mendesain dengan efek tiga dimensi sehingga orang tidak mengetahuinya. Kamu tidur di sana, kalau dulu aku pulang lama itu karena aku tertidur di sini."


Stella dan Marcel pun memasuki ruangan itu, Marcel menggeser pintu itu dan menguncinya. Stella menatapi dengan takjub ruangan itu, ruangan ini dilengkapi oleh spring bed beserta bantal dan selimut, AC, sofa dan televisi. Lalu Stella melepaskan sepatunya dan menaiki tempat tidur.


Stella :"Apa ada wanita yang pernah masuk ke sini?" Melihat Marcel.


Marcel :"Tidak, tidak ada seorangpun yang pernah masuk ke sini kecuali aku, aku bukan lelaki seperti itu," memberi senyuman.


Stella :"Serius?"


Marcel :"Iya sayang." Mencium Stella. "Apa aku boleh melakukannya?" Melempar dasinya dan membuka bajunya.

__ADS_1


Stella menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman.


Semangat membara di tubuh Marcel, ia langsung membuka celananya, kini tubuhnya hanya memakai celana dalam dan singlet. Ia menaiki tempat tidur dan membuka pakaian yang di kenakan Stella. Kini tubuh mereka bersatu, Stella masih tampak kesakitan karena ini masih kali ke dua dirinya dan Marcel bersatu.


__ADS_2