Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Perintah Marcel


__ADS_3

Makanan di antar ke meja Stella, Stella langsung menyantap makanan dengan lahap hingga habis. Setelah itu Stella berjalan meninggalkan KFC, ia keluar dari mall menuju parkiran, ia masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya.


***


Pada pukul 15.00, Marcel memainkan ponselnya. Ia membuka akun instagramnya, lalu menekan cerita yang Stella posting.


"Ini KFC kan? Dia pergi ke sana ? Sama siapa?" Tanya Marcel dalam hatinya.


Marcel menelpon bi Murti untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.


Marcel :"Halo bi, Stella ada di rumah?"


Bi Murti :"Tidak Tuan, nona lagi ke mall."


Marcel :"Sama siapa bi? Sejak jam berapa ya Bi?"


Bi Murti :"Sendirian Tuan, tadi sejak sekitar jam 12 sepertinya tuan."


Marcel :"Mau ngapain Bi?"


Bi Murti :"Tadi dia bilang dia bosan di rumah Tuan."


Marcel :"Bi tolong bibi nasehati dia, suruh dia jangan kecapean."


Bi Murti :"Baik tuan."


Marcel :"Nanti kalau dia sudah pulang, tolong beri tau saya bi."


Bi Murti :"Baik tuan."


Marcel mematikan ponselnya. Ia melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja kantornya.


***


"Kenapa aku merasa sepi? Padahal di sini sedang ramai." Ucap Stella dalam hatinya.


Stella melajukan mobilnya menuju rumah nya. Sesampai di rumah, Stella langsung membaringkan badannya di tempat tidur, ia mengambil ponsel dari tasnya lalu membuka akun Instagram nya.


"Marcel sudah melihat cerita Instagram ku, tetapi dia tidak menekan like di postingan ku. Apa foto ku tidak muncul di beranda nya? Atau dia sengaja tidak menekan like? Ah yasudah lah itu tidak penting." Ucap Stella dalam hatinya.


Stella meletakkan hp nya di atas meja, ia menutup matanya dan menarik selimut. Ia tidur dengan cepat, karena tubuhnya sudah merasa sangat lelah.


Saat ia tinggal di kota XX ini hanya tidur saja yang ia lakukan, ia pun tidak mengerti dengan yang ia alami, berasal dari kandungannya atau karena ia memang sudah terbiasa tidur sejak menikah dengan Marcel.


***


Marcel menelpon bi Murti meminta kabar tentang Stella.


Marcel :"Halo Bi, apa Stella sudah pulang?"


Bi Murti :"Sudah Tuan, barusan saja nona pulang."


Marcel :"Oh baiklah bi, apa dia sudah makan siang?"


Bi Murti :"Kurang tau Tuan, tadi pagi nona sarapan hanya sesendok saja."


Marcel :"Astaga, Bi suruh dia makan sekarang Bi, tetapi bibi jangan bilang ini perintah saya dan jangan matikan telepon nya Bi, saya mau dengar dia."


Bi Murti :"Baik Tuan,"


Bi Murti berjalan ke kamar Stella, dan membuka pintu.

__ADS_1


Bi Murti :"Tuan, nona sedang tidur."


Marcel :"Bangunkan saja Bi, daripada sakit."


Bi Murti :"Baik tuan," mendekati Stella.


Bi Murti :"Nona, Nona." Mengguncangkan tubuh Stella.


Stella :"Kenapa bi?" Membuka matanya.


Bi Murti :"Bibi khawatir, apa nona sudah makan siang?"


Stella :"Sudah Bi, tadi Stella makan di KFC."


Bi Murti :"Ooh begitu, bibi pikir Nona belum makan siang."


Stella :"Bi, tolong buatkan jus alpukat dong, Stella lagi pengen minum jus alpukat."


Bi Murti :"Baik nona, tetapi bibi beli buah alpukat dulu ya. Soalnya di kulkas tidak ada buah alpukat nona."


Stella :"Ya sudah lah Bi, tidak usah."


Bi Murti :"Tidak apa nona, bibi beli sebentar."


Stella :"Tidak usah Bi, Stella sudah tidak ingin minum kok." Memberi senyuman.


Bi Murti :"Ya sudah bibi mau balik ke kamar bibi ya non."


Stella :"Boleh tolong ambilkan air hangat bi? Stella haus."


Bi Murti :"Tentu boleh nona, apa tidak air biasa saja nona?"


Stella :"Stella pengen nya air hangat bi."


Stella :"Iya juga bi, soalnya selama ini Stella tidak pernah mau minum air hangat."


Bi Murti :"Bawaan adek bayi namanya, ya sudah bibi ambil sebentar ya."


Bi Murti keluar dari kamar Stella, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat yang di minta oleh Stella. Ia mengeluarkan ponselnya dari kantong bajunya.


Bi Murti :"Halo tuan, Nona sudah makan."


Marcel :"Iya bi, tadi saya sudah dengar. Telepon nya jangan di matikan ya Bi, nanti tolong ajak dia mengobrol, saya mau mendengarnya."


Bi Murti :"Mengobrol apa tuan?"


Marcel :"Terserah bibi saja,"


Bi Murti :"Baik tuan, saya mau antar minuman nya ini."


Marcel :"Oh ya Bi, nanti bibi tolong pesankan jus alpukat lewat ojek saja ya, nanti saya transfer duitnya buat sekalian keperluan Stella selama di sana."


Bi Murti :"Baik tuan."


Bi Murti berjalan kembali ke kamar Stella dan memberikan air hangat kepada Stella.


Stella :"Makasih ya Bi," mengambil gelas dari tangan Bi Murti lalu mendudukkan badannya.


Bi Murti :"Sama-sama, apa nona mau tidur?"


Stella :"Iya, kenapa bi?"

__ADS_1


Bi Murti :"Bibi mau di sini, soalnya di sana sepi Non. Bibi mau cerita-cerita."


Stella :"Oh ya sudah, Bibi di sini saja. Stella tidur juga karena tidak ada kegiatan kok Bi."


Bi Murti :"Makasih ya Non, lebih enak di sini atau di rumah Nona?"


Stella :"Rumah Stella kan ini Bi,"


Bi Murti :"Ini namanya rumah orang tua Nona, rumah nona ya di kota XY,"


Stella :"Itu rumah Marcel Bi, bukan rumah Stella."


Bi Murti :"Iya, tuan kan suaminya Nona. Dia beli rumah itu buat tempat tinggal Nona,"


Stella :"Iya Bi, tetapi setelah kami berpisah nanti itu bukan milik Stella lagi."


Bi Murti :"Nona jangan berkata seperti itulah, Bibi sedih."


Stella :"Kenapa bibi yang sedih haha?" Tertawa.


Bi Murti :"Apa nona tidak sedih?"


Stella :"Stella biasa saja Bi,"


Marcel mendengar perkataan Stella itu hatinya seperti tertusuk duri.


Bi Murti :"Nona sedih, nanti nona tidak punya majikan yang baik seperti Nona dan tuan Marcel."


Stella :"Bi, kita berdoa ya semoga apapun yang terjadi kedepannya itu sudah menjadi yang terbaik, terbaik buat Stella, buat Marcel dan buat bibi juga. Minggu depan saat Marcel balik ke sini, Bibi ikut Marcel saja. Stella di sini ada yang temani kok Bi, lagian pembantu tidak ada di sini karena kebetulan lagi cuti."


Bi Murti :"Bibi berdoa apapun yang terjadi akan baik-baik saja. Bibi di sini hanya di tugaskan oleh Tuan. Nona, apakah Bibi boleh tau Prayoga itu siapa?"


Stella :"Prayoga itu mantan Stella Bi, kami pernah menjalin hubungan selama 3 tahun, dan menjadi teman dalam 1 tahun. Kami sudah saling kenal selama 4 tahun."


Bi Murti :"Pekerjaan dia apa?"


Stella :"Kalau dari gelar yang ia dapat ia seorang sarjana hukum Bi, sekarang dia menjadi pengacara, tetapi dia dulu sempat menjadi wakil direktur menggantikan posisi Stella, dan sebelumnya dia pernah memegang perusahaan orang tuanya."


Bi Murti :"Ooh, berarti Nona dulu sempat satu kantor dengannya ya?"


Stella :"Tidak Bi, tidak pernah. Saat itu Stella mengundurkan diri dari perusahaan karena Stella akan ikut dengan Marcel ke kota XY, kebetulan Direktur utama perusahaan itu percaya dengan Stella, ia mempercayakan Stella untuk memilih orang yang akan menggantikan jabatan Stella, lalu Stella memilih Prayoga karena sebelumnya saja dia juga sudah memegang perusahaan."


Bi Murti :"Bibi tidak mengerti, kalau dia memegang perusahaan orang tuanya, kenapa nona memilih dia menggantikan posisi Nona?"


Stella :"Saat itu perusahaannya sudah bangkrut Bi,"


Bi Murti :"Ooh begitu,"


Stella :"Saat Stella dulu kenal sama Prayoga, dia masih di titik nol Bi, dia belum menjadi apa-apa. Sampai Prayoga berhasil dan sukses Stella masih bersamanya, keberhasilan dia membutuhkan waktu 4 tahun, dan saat-saat itu Stella selalu ada bersama nya Bi, dan dia juga ada di saat Stella seperti itu, saat Stella hanya menjadi seorang karyawan dia sudah ada, sampai Stella di angkat menjadi wakil direktur dia masih ada bersama Stella."


Bi Murti :"Bibi sudah mulai mengerti Nona, pasti hal ini yang membuat Nona sulit melupakannya, kan?"


Stella :"Iya, ini salah satunya Bi. Sedangkan Marcel Bi, Stella datang kepadanya saat dia sudah sukses, Stella tidak pernah ada di saat dia membangun usahanya. Dia juga tidak pernah ada saat Stella masih nol Bi. Stella menikah dengannya seperti memetik buah di pohon orang, Stella tinggal menikmati hasil tanpa menanam Bi." Memberikan senyuman.


Bi Murti :"Nona," memegang bahu Stella. "Nona tidak seperti wanita di luar sana, Nona sangat berbeda."


Stella :"Apa Bibi mau tidur?"


Bi Murti :"Bibi tidak mengantuk Nona,"


Stella :"Ooh, Stella ingin tidur Bi, nanti malam Stella ada urusan takutnya Stella kelelahan jika tidak tidur."

__ADS_1


Bi Murti :"Nona tidur saja, Bibi mau menonton televisi."


Stella membaringkan badannya di tempat tidur, Bi Murti berjalan meninggalkan kamar Stella dan menyalakan televisi di ruang tamu.


__ADS_2