Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Pergi dari rumah


__ADS_3

Sesampai di rumah, Marcel membantu Stella berjalan menaiki tangga masuk ke dalam kamar. Sesampai di kamar Stella duduk di tepi tempat tidur.


Marcel :"Bekas operasi nya masih sakit?"


Stella :"Masih sedikit," menarik nafas panjang.


Marcel :"Makasih ya sayang, buat pengorbanan mu melahirkan anak kita." Mencium kening Stella.


Stella hanya diam tidak merespon perkataan Marcel, beberapa menit kemudian Stella berjalan membuka lemari dan mengeluarkan koper.


Marcel :"Kamu mau kemana sayang?"


Stella :"Bolehkan aku membawa sebagian baju ku yang ada di sini?"


Marcel :"Tidak, tidak kamu mau kemana?" Mengambil koper.


Stella :"Sel," mengambil koper. "Aku mau pergi, aku tidak mau di sini lagi."


Marcel :"Tidak, aku tidak akan membiarkan mu pergi dari sini."


"Ya sudahlah, biarkan saja lah aku di sini dahulu. Lagian aku belum pulih betul, mau kemana aku pergi? " Ucap Stella dalam hatinya.


Marcel :"Sayang, jangan pergi ya." Memeluk Stella.


Stella melepaskan pelukan Marcel, lalu ia mengganti pakaiannya dan berbaring di tempat tidur. Ia meletakkan tubuhnya yang sedang dalam kondisi lemah itu ke atas tempat tidur, pikirannya pun melayang kemana-mana. Marcel menaiki tempat tidur dan berbaring di samping Stella, ia mencium kening Stella berkali-kali.


Marcel :"Sayang, kamu mikirin apa sih?" Mengelus rambut Stella.

__ADS_1


Stella :"Axel dan Alexa akan baik-baik saja kan?" Melihat Marcel.


Marcel :"Iya sayang, mereka akan baik-baik saja. Mereka ada dalam lindungan Tuhan kok, kamu tenang saja ya."


Stella :"Aku kasihan sama mereka, aku merasa belum pantas menjadi ibu Sel."


Marcel :"Eh, jangan bicara seperti itu ya. Tuhan memberikan anak kepada kita, karena kita sudah pantas menjadi orang tua sayang." Membelai rambut Stella.


Stella :"Ya, aku merasa aku gagal jadi orang tua,"


Marcel :"Sayang, kamu tidak gagal."


Stella :"Kalau aku pergi, aku titip mereka ke kamu ya."


Marcel :"Pergi? Kamu mau kemana? Kamu tidak boleh pergi."


Marcel :"Stell, aku bingung ya sama kamu. Kamu itu terlalu baik atau terlalu bodoh sih? Kamu meminta cerai hanya untuk merelakan ku dengan wanita lain?"


Stella :"Karena aku sebagai perempuan merasakan bagaimana hamil tanpa suami Sel, itu akan menjadi bahan omongan orang."


Marcel :"Aku tidak mencintai nya Sel."


Stella :"Sekarang kita tidak perlu membahas soal perasaan Sel, yang kita bahas apa yang sudah terjadi aja. Kita punya anak perempuan kan? Coba kamu pikir jika besar nanti Alexa di hamil oleh seorang pria, tetapi dia tidak bertanggung jawab, pria itu malah meninggalkan Alexa. Bagaimana menurut mu? Apa kamu tidak kasihan padanya? Apa kamu diam saja dengan pria itu?"


Marcel :"Oke, baik. Aku akan menikahi Alexa, tetapi setelah dia melahirkan nanti aku akan menceraikannya."


Stella :"Sel, cukup sekali pernikahan kamu gagal. Pernikahan kamu dengan Lesty tidak boleh gagal lagi, kamu harus mempertahankannya, karena aku sudah merelakan mu bersamanya. Aku tidak ingin kalian berpisah, kamu tidak boleh membohongi perasaan mu, aku tau kamu mencintainya."

__ADS_1


Marcel :"Aku tidak mencintai nya Stella, cukup ya."


Stella :"Jika kamu tidak mencintainya, mana mungkin dia bisa hamil. Seorang lelaki, tidak sembarangan menitipkan benih Marcel. Karena kamu sayang sama dia, makanya kamu meletakkan benih kamu di rahimnya."


Marcel :"Stell, aku benaran tidak mencintainya. Tetapi jika kamu memang mau aku menikahinya, aku akan menikahinya, tetapi selesai dia melahirkan nanti aku akan langsung menceraikannya. Aku juga berjanji selama aku dalam hubungan pernikahan dengannya, aku tidak akan melakukan hubungan suami istri seperti biasanya."


Stella :"Terserah kamu Sel, karena begitu kita bercerai, kamu bukan urusan ku lagi. Tetapi, perlu kamu ingat Sel, semua perkataan yang keluar dari mulut mu sekarang itu tidak akan terjadi. Seperti aku dulu, aku yakin kok kalian akan bahagia nantinya Sel. Sel biarkan aku tidur sendiri di sini."


Marcel :"Kita lihat saja nanti Stell," berjalan keluar kamar."


Mereka pun tidur terpisah dalam satu rumah yang sama.


***


Pagi hari, Marcel terbangun ketika ia melihat Stella sudah memegang sebuah koper yang berisi pakaian.


Marcel :"Kamu mau kemana?" Menarik paksa koper.


Stella :"Aku harus pergi Sel,"


Marcel :"Tidak Stella, tidak."


Stella :"Sel, kita semalam sudah bicara panjang lebar kan? Aku harus pergi Sel, aku sudah memesan taksi."


Marcel :"Apa kamu sudah tidak mencintai ku Stell? Apa kamu tidak mencintai anak kita? Kenapa kamu meninggalkan kami Stell? Besok anak kita akan pulang ke sini, mereka akan di rawat di sini. Apa kamu tidak mau membantu ku merawat mereka?" Memegang kedua lengan Stella.


Stella :"Aku sayang sama kamu, aku sayang sama anak kita, tetapi kita tidak bisa seperti ini terus Sel. Aku tidak mau menjadi wanita egois, aku tidak mau bahagia di atas penderitaan Lesty, aku akan sering-sering ke sini Sel, untuk melihat mereka, aku pergi dulu ya." Menghapus air matanya. "Makasih ya, buat enam bulan kita." Memeluk Marcel.

__ADS_1


Stella pun berjalan memasuki mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkan rumah mewah itu. Perasaan Marcel sangat sangat hancur, pernikahan yang dari dulu ia impikan hancur hanya dalam waktu yang sangat singkat, yaitu enam bulan.


__ADS_2