Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Di kota XX H-1


__ADS_3

Mama :"Hai, Stella." Berteriak dari teras rumah.


Stella pun membalikkan badannya menuju arah suara terdengar dan berjalan mendekatinya.


Stella :"Hai Tan," memberi senyuman dan menyalam Mama Marcel.


Mama :"Kok tidak ada mampir ke sini sih?" Mukanya cemberut.


Stella :"Iya Tan, sori banget ya. Semalam aku pusing banget, badan aku juga lemas Tan."


Mama :"Oh hahaha, sekarang gimana apa masih lemas?"


Stella :"Udah mendingan Tan, ada yang mau di bantu Tan?"


Mama :"Syukurlah, tidak kok. Tante hanya pengen jumpa sama kamu, nanti malam kita makan bareng ya ajak keluarga kamu juga."


Stella :"Oh iya Tan, Stella mampir ke rumah Tante nanti malam ya, nanti Stella juga tidur sini kok. Sekarang Stella mau siap-siap pergi Tan."


Mama :"Oh iya tidak apa, mau kemana kalian?"


Stella :"Mau ke rumah teman Tan,"


Mama :"Oh ya sudah. Kamu jaga kesehatan loh Stella, usia kandungan kamu masih muda."


Stella :"Iya Tan, Stella mau ke rumah dulu ya Tan."


Mama :"Oh iya Stell."


Marcel :"Marcel juga mau ke sana ya ma."


Mama :"Iya."


Mereka pun berjalan memasuki rumah Stella.


Stella :"Ma, nanti malam di undang makan di rumah Marcel."


Mama :"Makan malam?"


Stella :"Iyalah ma,"


Mama :"Kamu nanti malam tidur di sana Stella, jangan di sini terus."


Stella :"Iya emang ma, aku mau mandi dulu ya, aku mau pergi."

__ADS_1


Mama :"Iya,"


Stella pun masuk ke dalam kamarnya, ia membuka koper nya dan mengambil salah satu pakaiannya.


Stella :"Besok kamu jadi pulang kan?" Mengambil pakaian.


Marcel :"Jadi, kelihatannya kamu senang sekali ya."


Stella :"Aku memang senang," memberikan senyuman. "Kalau bisa tinggal di sini aja kita haha,"tertawa.


Marcel :"Cepat mandi sana,"


Stella masuk ke kamar mandi untuk mandi. Marcel memainkan ponselnya sambil menunggu Stella. Selesai mandi Stella langsung mengenakan pakaian, mereka pun langsung berangkat ke rumah Milka.


***


Sesampai di rumah Milka, Gilang suaminya Milka membuka pagar rumah, Marcel dan Stella pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, betapa terkejut nya Stella, ketika melihat ada Prayoga di hadapannya. Marcel juga terlihat terkejut, ia bingung apa hubungan antara Milka, Gilang dengan Prayoga. Namun di sisi lain, Marcel dapat memperhatikan untuk mengetahui apakah Stella masih menaruh hatinya pada Prayoga. Stella dan Marcel menyalam Prayoga yang duduk di sofa, lalu mereka duduk di sofa. Stella hanya diam, tetapi dari matanya tampak tatapan yang sangat jelas tentang isi hatinya, ia belum bisa melupakan Prayoga sepenuhnya. Ruang tamu sedang ramai namun keadaan hening, Milka pun mengajak mereka berbincang.


Milka :"Eh kapan balik ke kota XY lagi Stella?"


Stella :"Marcel besok, aku belum tau."


Gilang :"Loh kenapa ada niatan tinggal di sini lagi?" Membuka cemilan


Milka :"Ooh kirain haha."


Marcel :"Lagi sibuk ya?" Melihat Gilang dan Prayoga.


Gilang :"Oh tidak sedang santai bang, ini kebetulan Minggu depan ada sidang, pengacara aku dia." Menunjuk Prayoga.


Marcel :"Sidang apa?" Wajahnya heran


Gilang :"Kemarin itu kan aku kena masalah korupsi uang kantor aku sempat mau di jebloskan ke penjara, kalau tidak ganti rugi."


Milka :"Iya, mana lah mau ganti rugi kalau tidak salah kan."


Marcel :"Jadi kalian tidak ganti rugi?"


Gilang :"Tidak lah, makanya di tuntut begini, tapi kalau kita tidak salah ngapain takut ya kan."


Marcel :"Iya, betul juga. Oh pengacara ya?" Melihat Prayoga.


Prayoga :"Iya, aku pengacara."

__ADS_1


Marcel :"Bukannya dulu Stella sempat kasih jabatan wakil direktur ke kamu ya?"


Prayoga :"Oh iya sempat, tetapi sebulan kemudian aku berhenti karena tidak cocok,"


Milka :"Dia lebih handal jadi pengacara bang haha."


Marcel :"Ooh,"


Gilang :"Apa banyak dapat job?" Melihat Prayoga.


Prayoga :"Dapat banyak haha, rata-rata kasus penceraian," melihat Stella dengan tatapan menyindir.


Milka :"Penceraian pakai pengacara juga ya?"


Gilang :"Iyalah dek, gimana nya kamu nih haha."


Milka :"Loh berarti mendukung penceraian dong?" Melihat Prayoga.


Prayoga :"Sebenarnya kita juga tidak pengen menambah kasus penceraian di negara ini ya kan, tetapi bagaimana lagi kalau tidak ada kasus tidak ada uang, aku juga tidak bisa mendukung supaya tidak bercerai kan? Mereka bercerai juga punya alasan yang kuat."


Milka :"Ooh biasanya apa saja alasannya?"


Prayoga :"Biasanya atas dasar perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga."


Milka :"Ooh,"


Prayoga :"Dan rata-rata penceraiannya itu usia nya masih muda, masih 25 tahun kebawah."


Milka :"Masih muda banget ya,"


Prayoga :"Iya, rata-rata umur segitu, kebanyakan karena di jodohkan dan tidak cocok makanya bercerai." Melihat Stella. "Aku mau balik dulu ya, ada urusan yang lain"


Gilang :"Oh iya," berdiri.


Prayoga pun menyalam Milka, Gilang, Marcel dan Stella, saat menyalam Stella tangan Stella terasa dingin.


Prayoga :"Stella, kenapa telapak tangan mu begitu dingin?" Memegang telapak tangan.


Marcel :"Kamu sakit Stella?" Menarik tangan Stella dan memegang telapak tangannya."


Stella :"Tidak apa, aku tidak apa." Menarik tangan nya dan duduk di sofa.


Prayoga :"Aku permisi dulu ya," melihat semua orang di ruangan itu dan tatapan terakhir melihat ke arah Stella.

__ADS_1


Ia melihat Stella dengan tatapan sangat dalam, Marcel juga melihat tatapan Prayoga kepada Stella.


__ADS_2