
Mobil berhenti di depan rumah dua lantai yang tertutup pagar tinggi. Stella turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah itu, lelaki itu pun berjalan mengikutinya dan langsung menggembok pagar tinggi itu.
Stella :"Mana Marcel? Dimana dia?" Berdiri di ruang tamu.
Oom :"Di kamar yang di sana." Menunjuk sebuah ruangan.
Stella langsung berjalan menuju kamar itu membuka pintu dan mencari Marcel di dalam itu.
Stella :"Marcel, Marcel." Membuka pintu kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu.
Oom :"Hahaha," tertawa. "Pantasan saja Prayoga mencintai mu setengah mati ya," mengunci pintu kamar.
Stella :"Apa maksud mu?"
Oom :"Mana mungkin saya mau merawat suami mu, berjalan mendekati Stella. Itu hanya akal-akalan ku saja," memegang dagu Stella.
Stella :"Kurang ajar kau, awas aku mau keluar." Mendorong oom itu.
Oom :"Kamu tidak akan bisa keluar, cobalah."
Stella :"Tidak, tolong keluarkan aku, tolong."
Oom :"Aku tidak bisa menuruti permintaan mu." Memegang dagu Stella. "Kamu tau kan aku dan keluarga ku sangat membenci keluarga Marcel?"
Stella :"Aku tidak ada hubungan dengan semua itu."
Oom :"Ehh, eh. Kamu itu istrinya Marcelio Chandra, mengambil dan membuat mu menderita di tangan ku itu sudah pasti akan membuat dia dan keluarga nya juga menderita, karena saat ini saya berfikir akan sulit membawa dendam untuk mereka." Memegang tangan Stella.
__ADS_1
Stella :"Kurang ajar kau, awas." Mendorong hingga ia terjatuh.
Stella mencoba membuka pintu tetapi kamar itu telah di kunci, dengan cepat Oom itu berdiri dan mendorong Stella hingga ia terjatuh ke lantai, perut Stella sangat ketakutan. Oom itu memanfaatkan waktu itu, ia langsung mengikat kedua tangan dan kaki Stella. Stella tidak bisa melawan karena perut nya sakit, Stella di ikat di atas kursi kayu dengan kuat.
Oom :"Sebenarnya aku tidak mau menyakiti ku tadinya, tetapi karena tadi kamu melakukanku dengan tidak sopan, inilah hukuman untuk mu."
Stella :"Tolong aku, perut ku sakit sekali." Mencoba membuka ikatan.
Oom :"Itu hanya sakit biasa, kamu tidak akan mati." Membuka kunci kamar.
Lelaki itu keluar dari kamar dan mengunci kembali pintu kamar itu. Stella masih terus berusaha mencoba ikatan tali di tangannya, namun tidak berhasil juga, lalu ia menggeser kursi untuk mengambil hp di dalam tas yang terjatuh di lantai, saat terus berusaha bukan hp yang ia dapatkan. Tubuh Stella yang terikat di kursi jatuh bersamaan dengan kursi ke lantai. Perut nya kali ini benar-benar sakit, ia berteriak memanggil lelaki yang mengurungnya namun lelaki itu tidak datang menghampirinya. Stella menangis menahan rasa kesakitan.
"Tuhan... Tolong aku, perut ku sakit sekali. Marcel, kamu dimana? Tolong aku.. Tolong aku." Ucap Stella sambil meneteskan air mata.
Pintu kamar itu di dorong lelaki yang mengurungnya tadi, ia membawakan baki yang berisi makanan kepada Stella dan memberikannya kepada Stella. Ia mendirikan Stella dan kursinya.
Stella :"Tolong lepaskan aku." Sambil meneteskan air mata.
Oom :"Makan!" Berteriak. "Kalau tidak kamu makan aku akan membuang makanannya sekarang, dan tidak akan memberi mu makan lagi untuk besok."
Stella :"Aku tidak bisa makan dengan tangan terikat seperti ini."
Oom :"Apakah kamu ingin aku suap?" Memegang dagu Stella.
Stella :"Tolong lepaskan aku, perut ku sakit sekali."
Oom :"Tidak! Aku sedang sibuk, kamu makan sendiri." Berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Stella menangis lagi, ia masih mencoba membuka ikatan tali itu. Perutnya sangat lapar, apalagi melihat makanan yang berada di atas kakinya itu. Saat terus mencoba membuka ikatan, makanan itu tumpah ke lantai.
"Nak, kamu kuat ya sayang. Mama akan berusaha untuk bisa keluar dari tempat ini, kamu kuat ya nak." Ucap Stella sambil meneteskan air mata.
Karena perut nya sakit sekali, Stella mencoba menutup mata untuk tidur agar rasa sakit di perut itu reda. Stella tidur cukup lama, ia terbangun pada pukul 18.00 karena suara jeritan keras di telinganya.
Oom :"Apa maksud kamu membuang makanan ha?" Menarik rambut Stella.
Stella :"Saya tidak sengaja, tolong lepaskan saya om."
Oom :"Saya akan melepaskan mu." Memberi senyuman. "Nanti malam pukul 21.00, karena kamu harus menemani ku tidur malam ini dan seterusnya. Nih aku bawa makanan, jangan sampai tumpah lagi. Apa mau aku suapin ke mulut mu?" Memegang dagu Stella.
Stella :"Tidak perlu," mengangkat kepalanya.
Oom :"Ya sudah, selamat makan sayang." Membelai rambut Stella.
Lelaki itu keluar dari kamar dan mengunci pintu itu lagi.
"Aku tidak akan mau menemani nya tidur, aku tidak mau. Saat di melepaskan ikatan ku, aku akan langsung kabur dari sini." Ucap Stella dalam hatinya.
Baki yang berisi makanan yang di letakkan di atas kaki Stella, sudah menjadi dingin. Ia tidak memperdulikan lagi makanan yang ada di atas kakinya. Stella masih berusaha mengambil ponselnya di dalam tas untuk menghubungi seseorang untuk membantunya keluar dari sini, jerih payahnya tidak menghianati nya. Ia berhasil mengambil hp dengan kakinya, meskipun ia kesulitan untuk meletakkan hp di tangannya ia tidak menyerah mencobanya. Hp itu terjatuh lagi ke lantai, Stella pun pasrah. Ia pun punya ide untuk menyalakan hpnya menggunakan kakinya, kemudian ia mengetuk layar hp dengan kakinya dua kali. Layar hp pun menyala, Stella mencari kontak Marcel dan memanggilnya namun Marcel tidak menjawab nya. Stella ingin mengirim pesan kepada Marcel, namun ia sangat kesulitan untuk mengetik satu per satu huruf di ponsel itu, bahkan untuk melihat tulisannya saja mata nya sudah tidak jelas. Stella pun menekan lama tombol voice note dan berbicara agak keras agar terdengar di ponselnya. "Marcel, tolong." Hanya itu voice note yang dapat Stella kirim ke chat pribadinya dengan Marcel. Hp Stella mati, karena daya baterai nya sudah habis.
"Tuhan, tolong keluarkan aku dari sini." Ucap Stella dalam hatinya.
Stella pun menutup matanya agar ia bisa tidur, karena sakit di perutnya belum reda juga. Ia sangat susah untuk memulai tidur, karena posisi yang terikat seperti ini tangan, kaki, bahkan perutnya terasa sakit. Salah satu halnya juga karena ia kepikiran dengan Marcel, Marcel yang tidak menjawab telepon darinya.
"Apa Marcel belum balik? Bagaimana nasib ku? Aku tidak ingin tidur dengan lelaki tua Bangka itu. Kenapa Prayoga setega ini pada ku? Seharusnya jika ia mencintai ku, ia tidak akan membuat ku menderita tetapi kenapa malah sebaliknya. Aku menyesal, mengusir Marcel saat itu. Coba saja aku tidak mengusirnya, mungkin aku tidak berada di sini saat ini." ucap Stella dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah berpikir panjang akhirnya Stella tertidur dengan posisi tubuh yang terikat di atas kursi kayu.