
Di pagi hari yang cerah, Stella datang ke rumah tempat ia tinggal dulu, untuk mengantar surat dari pengadilan. Stella duduk di ruang tamu di lantai satu menunggu marcel.
Beberapa menit kemudian, Marcel berjalan menuruni tangga menghampiri Stella di ruang tamu yang terlihat sangat cantik. Marcel duduk di sofa tepatnya di hadapan Stella. Stella langsung mengambil sebuah amplop dari dalam tas dan memberikannya kepada Stella.
Marcel :"Apa ini?" Membuka amplop.
Stella :"Tolong tanda tangan Sel,"
Marcel :"Hebat kamu ya," melempar surat ke meja.
Stella :"Aku hanya minta kamu menandatangani nya."
Marcel langsung merobek robek amplop dan surat dari pengadilan itu.
Marcel :"Sampai kapan pun aku tidak akan menandatangani nya Stell, kamu mikir panjang dong anak kita Stell, mereka masih kecil, masih membutuhkan kita. Aku sudah minta maaf dan berjanji padamu, aku tidak akan mengulangi nya lagi."
Stella :"Sel, kenapa sih kamu harus mengulangi itu dan itu lagi? Kalau kamu tidak menghianati aku dan berbuat zinah dengan orang lain, aku juga tidak akan mengambil keputusan ini. Kamu tidak menghargai aku ya, aku ini baru melahirkan, aku bisa mengurus agar surat itu selesai dengan cepat, tetapi kamu malah merobeknya."
Marcel :"Intinya sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menandatangani segala jenis surat yang berhubungan dengan penceraian."
Stella :"Terserah kamu, aku tidak akan pernah menyerah. Mana Axel dan Alexa aku ingin bertemu dengannya?"
Marcel :"Di kamar kita,"
Stella berjalan menaiki tangga meninggalkan Marcel yang masih duduk di ruang tamu itu, Stella masuk ke dalam kamar dan menghampiri buah hatinya yang berada di dalam box inkubator. Ia sangat senang melihat perkembangan bayi nya yang sudah tampak meski baru hanya hitungan hari.
Stella :"Sayang mama udah gendut ya sekarang, mama kangen banget sama kalian sayang."
Stella menggendong bayinya Alexa yang tampak gelisah, dan duduk di tepi tempat tidur menyusuinya. Stella menggendong Alexa dengan sangat hati-hati agar tidak ada satu selang pun yang terputus. Stella mengelus-elus punggung dan kepala Alexa dengan penuh kasih sayang. Saat Stella sedang asik menyusui anak nya, Marcel masuk membuka pintu dan berjalan mendekati Stella serta duduk di sampingnya. Marcel mengelus kepala Alexa yang sedang menikmati asi,
Marcel :"Mereka sangat membutuhkan kamu sayang." Mencium kening Stella.
Stella :"Kamu apaan sih?" Mendorong kepala Marcel. "Kita sudah mau bercerai, kamu tidak berhak lagi untuk menyentuh sedikit pun bagian tubuhku." Mengerutkan dahinya.
Marcel :"Serius? Ini kamu menyusui di depan aku." Membelai pipi Alexa.
Stella hanya diam, karena jika ia terlalu banyak berbicara Alexa bisa tersedak dan terbatuk. Setelah Alexa tertidur, Stella meletakkan Alexa ke box inkubator lagi dengan hati-hati. Kemudian ia menggendong Axel, duduk di tepi tempat tidur lalu menyusui Axel.
Setelah beberapa menit, Stella mencium dan meletakkan Axel ke dalam box inkubator.
"Mama pergi dulu ya sayang, nanti malam mama datang ke sini lagi ya, Axel sama Alexa tidur yang nyenyak ya nak." Ucap nya sambil mencium anak-anaknya.
Kemudian Stella mengancing kembali bajunya dan mengambil tas nya,
Stella :"Aku permisi." Berjalan membuka pintu kamar.
Marcel berjalan mengikuti Stella menuruni tangga.
Marcel :"Tinggal dimana kamu?" Sambil berjalan menuruni tangga.
Stella :"Masih di kota ini juga,"
Marcel :"Kamu istriku, tidak pantas jika kita pisah rumah seperti ini."
Stella :"Marcel, kita akan berpisah. Jika kamu memang tidak mau mengurus surat penceraian aku yang akan mengurusnya, aku akan mengurus secepatnya. Nanti malam aku akan ke sini untuk menyusui mereka lagi,"
Marcel :"Apa kamu tidak punya hati ya?" Berhenti di depan pintu.
Stella :"Punya, kalau aku tidak punya hati mungkin aku masih memilih untuk bersama mu sampai saat ini."
Marcel :"Kamu salah, justru jika kamu punya hati kamu masih tetap tinggal di sini, bersama aku, bersama mereka, anak kita. Aku melihat kamu tidak ada rasa ingin bersama mereka sedikit pun, bayi baru lahir apalagi seperti mereka itu masih sangat membutuhkan ibunya."
Stella :"Hanya aku yang tau apa yang ada di dalam perasaan ku, apa kamu tau seberapa hancurnya aku mengambil keputusan ini? Kamu tidak tau Sel." Menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Aku tau mereka masih sangat membutuhkan ku, tetapi aku tidak bisa terus tinggal di sini, aku juga tidak bisa membawa mereka untuk tinggal bersama ku. Aku tidak punya uang untuk membiayai kehidupan mereka, aku mengambil keputusan ini karena aku tau kamu mampu memberikan yang terbaik buat mereka. Aku masih ada pekerjaan Sel, aku permisi." Membuka pintu mobil.
Marcel menarik tangan Stella dan memeluknya.
Marcel :"Aku sangat mencintai mu, aku mencintai anak-anak kita. Tolong pikirkan lagi semuanya, demi masa depan anak-anak dan pernikahan kita."
Stella :"Sel, aku merasa ini yang terbaik buat kita." Melepaskan pelukan.
Stella masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah megah milik Marcel. Sedangkan Marcel berjalan memasuki rumah menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar melihat buah hatinya. Ia melihat bayi nya dari balik kaca box inkubator itu.
"Sayang, papa janji papa akan buat mama kalian balik ke sini, supaya kita bisa bersama-sama, layaknya keluarga lainnya." Ucap Marcel sambil melihati bayi-bayinya yang tertidur pulas. Marcel berjalan keluar kamar dan masuk menuju ruang kerja.
Mulai beberapa hari yang lalu sejak Stella melahirkan, ia tidak bekerja di kantor seperti biasanya. Ia memilih untuk di rumah, menjaga bayi-bayi mereka. Dan untuk beberapa waktu ke depan, ia juga akan bekerja dari rumah saja.
***
Pada pukul 19.00, Stella memarkirkan mobilnya di depan rumah mewah milik Marcel yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya. Stella berjalan memasuki rumah di sambut oleh bi Murti, kemudian Stella di antarkan bi Murti ke kamarnya dan Marcel yang dulu mereka tempati. Sesampai di depan kamar, bi Murti menuruni tangga dan Stella membuka pintu kamar dengan pelan. Ia melihat Marcel sedang mengajak bayi nya mengobrol, Stella berjalan mendekatinya.
"Marcel, aku tau kamu sangat menyayangi mereka. Aku juga ingin kita menjadi keluarga utuh lagi, tetapi kesalahan yang kamu lakukan menghilangkan semua rasa yang pernah ada." Ucap Stella dalam hatinya.
Marcel membalikkan badannya menoleh ke arah Stella.
Marcel :"Stella," memberikan senyuman.
Stella :"Aku mau menyusui mereka." Menunjuk ke dua bayinya yang berada di dalam box inkubator.
Marcel pun duduk di sofa, kemudian Stella mengangkat bayi lelaki nya yang tampan itu. Ia duduk di tempat tidur dan menyusui Axel sambil mengelus-elus kepalanya, secara bergantian kemudian ia menyusui bayi cantiknya yang bernama Alexa itu, setelah bayi-bayinya tertidur pulas, Stella meletakkan kembali ke box inkubator.
Stella :"Bagaimana perkembangan mereka kata dokter?"
Marcel :"Perkembangannya ya semakin baik, kemungkinan untuk bertahan hidupnya sudah 80 persen."
Stella :"Apa mereka sudah bisa memakai botol susu?"
Marcel :"Botol susu? Buat apa?"
Stella :"Ya, buat mereka."
__ADS_1
Marcel :"Ya, aku tau itu. Botol susu itu buat apa mereka?"
Stella :"Buat mereka minum dong, mulai besok rencananya aku ke sini sekali saja. Apa dokternya tidak datang ke sini?"
Marcel :"Kenapa Stell? Stell, mereka masih sangat membutuhkan mu."
Suara ketukan terdengar dari balik pintu kamar, kemudian Marcel membuka kan pintu. Lalu dokter masuk ke dalam kamar dan memeriksa kan keadaan bayi mungil yang terbaring di box inkubator.
Stella :"Mereka baik-baik saja kan dok?"
Dokter :"Perkembangannya semakin hari semakin baik kok Bu, mereka juga cepat beradaptasi dengan keadaan. Apa sudah ada buang air besar hari ini mereka?"
Marcel :"Oh, tadi siang sudah ada Dok. Setelah seminggu, tadi yang pertama."
Dokter :"Keadaan nya sudah seperti bayi biasanya ya. Anak bayi yang baru lahir memang seperti itu cara mengeluarkan kotorannya Pak, Bu, jadi tidak perlu khawatir."
Stella :"Dok, apa saat ini mereka membutuhkan asi?"
Dokter :"Setiap bayi tentu membutuhkan asi Bu, tetapi jumlahnya yang berbeda. Sekarang Axel dan Alexa lebih baik di berikan dalam porsi yang sedikit saja, karena tubuh mereka belum bisa menerima dengan takaran yang banyak."
Stella :"Kira-kira berapa kali sehari ya dok, saya boleh menyusui mereka?"
Dokter :"Boleh pagi, siang dan sore bu. Tetapi dalam jumlah sedikit saja, kenapa Bu? Apa ada masalah dengan asi?"
Stella :"Tidak Dok, karena saya tidak bisa ke sini setiap hari dan setiap waktu."
Dokter :"Apa ibu tidak tinggal di sini?"
Stella :"Tidak dok, untuk sementara waktu ini. Saya ada urusan di luar kota."
Dokter :"Oh begitu, jadi ibu tidak bisa memberikan dalam hitungan hari?"
Stella :"Sebenarnya begitu, tetapi saya akan usahakan setiap hari memberikannya tetapi hanya siang saja, atau pagi saja, apa bisa dok?"
Dokter :"Kalau bisa sekali sehari ibu menyusui mereka Bu, itu tidak apa. Nanti saya akan berikan asupan tambahan dari selang khusus untuk mereka ya Bu."
Stella :"Oh baik, makasih banyak ya dok."
Dokter :"Saya permisi ya Pak, Bu. Besok saya ke sini sore pukul 17.00,"
Marcel :"Iya, baik dok. Terima kasih,"
Dokter berjalan meninggalkan kamar, dan pergi meninggalkan rumah itu.
Marcel :"Stell, tolong dong. Mereka masih butuh kamu, kasihan mereka Stell." Memegang tangan Stella.
Stella :"Sel, aku tidak akan meninggalkan mereka, aku akan tetap terus ke sini, tetapi aku tidak bisa sesering ini. Lagian dokter sudah mengatakan tidak ada masalah kok Sel, aku mau pulang Sel, aku permisi."
Marcel :"Stella, sayang. Ini rumah kamu, kamu mau pulang kemana?" Memeluk Stella. "Aku ingin kita kembali seperti dulu sayang, aku kangen semuanya, aku mau malam ini kamu tidur di sini bersama ku, bersama anak kita." Memeluk Stella dengan kuat.
Stella sendiri juga ingin tidur di sini bersama anak-anaknya, bersama Marcel, tetapi sekarang keadaan sudah beda. Pernikahan sudah di ujung masa penceraian, tidak mungkin bagi Stella untuk terus tinggal bersama Marcel.
Marcel :"Sayang, jangan tolong." Menarik tangan Stella.
Stella :"Sel, aku tidak bisa di sini terus. Besok aku akan ke sini lagi, siang hari. Aku sudah tidak bisa terlalu sering untuk berada di sini."
Marcel :"Sayang, ini rumahmu. Ini sudah malam juga, kamu di sini saja ya, di luar juga hujan deras sayang."
Stella :"Sel, dulu ini memang rumah ku, tetapi sebentar lagi rumah ini bukan lagi milikku. Jangan mengulang perkataan itu lagi, aku capek harus mengulang perkataan yang sudah terlalu sering ku ulang."
Marcel :"Di luar hujan deras, apa kamu berani pulang sendirian ha!" Nada semakin tinggi.
Stella :"Aku pulang tidak sendirian, ada yang menjemput ku. Aku permisi Sel," berjalan keluar kamar.
Stella berjalan menuruni tangga dengan perasaan yang sangat sedih, bahkan air matanya hampir mau menetes di pipinya. Marcel menarik tangan Stella saat menuruni tangga.
Marcel :"Siapa pria itu?" Menunjuk laki-laki yang ada di pintu masuk.
Stella :"Dia teman ku," menarik tangannya.
Marcel :"Aku masih suami mu ya," berjalan menuruni tangga.
Marcel berjalan menghampiri pria yang berdiri menunggu di depan pintu masuk dan menumbuknya. Stella berlari dari tangga dan menarik Marcel.
Stella :"Kamu masuk ke mobil."
Dengan cepat Pria itu berjalan masuk ke dalam mobil.
Marcel :"Kenapa kau membawanya ke sini!" Berteriak.
Stella :"Apa aku pernah memarahi Lesty? Memperlakukan dia dengan kasar setelah apa yang dia lakukan padaku? Apa aku pernah menamparnya? Menjambaknya atau memperlakukannya dengan kasar? Apa pernah Sel?" Berbicara dengan nada keras sambil menangis. "Apa aku pernah memperlakukan Lesty seperti yang kamu lakukan tadi padanya?Bahkan Aku rela pernikahan ku hancur hanya untuk kebahagiaannya, aku rela meninggalkan anak ku yang sedang membutuhkan ku demi kebahagiaan dia, aku rela meninggalkan rumah ini demi kebahagiaannya. Kamu tidak pantas memperlakukan dia seperti itu Sel, dia tidak tau apa-apa. Aku bukan kamu, kamu yang dengan mudah mengancurkan hati orang lain."
Marcel :"Sayang, aku hanya cemburu. Aku minta maaf, aku tidak suka kamu dekat dengannya."
Stella :"Tidak perlu meminta maaf Sel, kamu hanya perlu mengubah sikap kekanak kanakanmu."
Marcel :"Aku cemburu bukan kekanak kanakan."
Stella :"Aku permisi Sel," berjalan keluar dan masuk mobil.
Mobil itu melaju meninggalkan rumah yang berdiri sangat megah itu. Marcel hanya dapat menatapi mobil yang meninggalkannya.
"Semua ini salah ku, aku yang memulai semuanya, tetapi aku benar-benar tidak siap untuk kehilangan Stella, aku mencintainya. Aku sangat mencintainya, bahkan aku tidak ada rasa sedikit pun untuk Lesty, untuk anak yang di perutnya." Ucap Marcel sambil menarik rambutnya.
Marcel berjalan masuk ke rumah menaiki tangga dan masuk ke kamar untuk tidur.
****
Hari terus berganti hari, tetapi hati Stella tetap tidak bisa luluh oleh perkataan Marcel, keputusannya untuk berpisah dengan Marcel sudah sangat bulat.
__ADS_1
Hari ini tepat dua minggu mereka pisah rumah, seperti biasa Stella datang ke rumah tempat ia dulu membangun kisah cintanya yang hanya dalam hitungan bulan untuk memberikan surat perceraian yang ia urus di pengadilan.
Stella memarkirkan mobilnya di depan rumah megah milik Marcel, ia turun dan berjalan langsung masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga. Stella langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuknya, alangkah kaget ia melihat Marcel yang sedang tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya, Stella langsung menutup pintu dan menunggu di ruang keluarga tepat di depan kamar.
Beberapa menit kemudian, Marcel keluar dari kamar dan berdiri di samping sofa tepat di hadapan Stella duduk.
Stella :"Sori, aku tidak sengaja." Berdiri.
Marcel :"Tidak apa, kenapa harus meminta maaf? Aku ini suami mu sayang. Itu anak-anak di dalam, sedang menangis."
Stella :"Aku mau kasih ini," mengambil surat dari dalam tas.
Marcel membuka amplop dan tersenyum sinis.
Marcel :"Apa kamu tidak capek? Apa kamu tidak tau apa yang bakal aku lakukan terhadap surat ini?"
Stella :"Aku ingin kamu menandatangani nya, supaya kamu bisa cepat menikahi Lesty."
Marcel :"Seharusnya kamu tau, apa yang bakal aku lakukan." Merobek-robek surat dan membuangnya ke tong sampah yang ada di sudut ruangan.
Stella hanya berdiri mematung diam di tempat.
Marcel :"Aku tidak akan pernah mau berpisah dari mu, soal Lesty kamu tenang saja, aku akan menikahinya."
Stella :"Aku tidak mau di madu, keputusan aku sudah bulat."
Marcel :"Keputusan aku juga sudah bulat, jika kamu mau melanjutkan mengurus surat penceraian terserah kamu, tetapi aku berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan pernah mau menandatanganinya." Berjalan masuk ke kamar.
Stella juga berjalan masuk ke kamar karena mendengar teriakan tangisan bayi-bayinya. Stella menggendong mereka dengan sangat hati-hati dan menyusui mereka satu per satu hingga mereka kembali tidur. Setelah selesai menyusui, Stella meletakkan mereka kembali ke dalam box.
Stella :"Keadaan Axel dan Alexa sudah membaik, kuali besok aku tidak akan ke sini lagi. Soal surat penceraian, aku tetap akan mengurusnya."
Marcel :"Egois kamu Stell, hanya karena ini kamu tidak ke sini? Mereka masih membutuhkan mu. Lagian kita belum bercerai Stell, kembalilah bersama ke rumah ini."
Stella :"Semenjak surat penceraian kita selesai waktu itu, aku menganggap kita sudah bercerai. Aku permisi," berjalan keluar kamar.
Marcel mengejar Stella menuruni tangga, tampak Lesty yang berdiri di depan pintu utama rumah.
Lesty :"Kamu bilang kalian mau berpisah, kenapa kamu masih di sini?" Melihat Stella.
Stella :"Aku tidak punya waktu," berjalan melewati Lesty.
Lesty menarik tangan Stella dan memegang bahunya.
Lesty :"Apa kau tidak melihat Marcel sedang mengejar mu? Apa kau tidak menghargainya?"
Stella :"Maksud mu apa sih?"
Lesty :"Marcel berlari mengejar mu dari atas, dan kamu mengabaikannya begitu saja."
Stella :"Bukannya itu yang kau inginkan?"
Lesty :"Aku? Kenapa aku?"
Stella :"Apa sih yang kau mau?"
Lesty :"Kenapa kamu masih di sini? Bukan kah waktu itu kamu mengatakan kalian akan bercerai? Kandungan ku sudah semakin besar ini."
Stella :"Ini rumah ku," suara membesar.
Lesty ingin menampar Stella, Marcel pun menahan tangannya sehingga tangannya tidak menyentuh pipi Stella.
Stella :"Selama ini aku sudah berikan apa yang kau mau ya, kau berani menamparku? Kalian emang cocok ya, seorang penghianat dan seorang pelakor bersatu, selamat buat kalian."
Lesty :"Kenapa kau berkata ini rumah mu? Sebentar lagi kau akan tersingkir dari sini."
Marcel :"Cukup Lesty, pergi kau dari sini."
Stella :"Kenapa sekarang seolah aku yang salah ya? Sepertinya kalian menyudutkan ku."
Air mata menetes di pipi Stella, tetapi ia tetap menunjukkan senyuman lebar.
Stella :" Kamu tenang saja. Aku sudah menceraikannya, sebentar lagi dia juga akan menikahi mu. Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang seperti kalian, aku permisi." Stella berjalan memasuki mobil.
Di dalam mobil, air matanya mengalir sangat kencang. Perasaan kecewa, sedih yang selama ini ia tahan pun pecah dengan seketika. Kemudian beberapa menit kemudian, Marcel mengetuk pintu mobil Stella. Stella membukanya, tampak matanya yang bengkak dan pipi yang merah. Marcel memeluk Stella dan menghapus semua air mata yang mengalir. Perasaan Stella tenang ketika berada di pelukan Marcel, tetapi ia tidak ingin berada di pelukan Marcel.
Stella :"Awas Sel." Mendorong Marcel pelan.
Marcel :"Maafin aku ya sayang, maafin dia." Mengelus rambut Stella.
Stella :"Aku tidak apa Sel, aku ingin bertemu Axel dan Alexa." Turun dari mobil.
Marcel :"Pergi lah sayang bersama mereka."
Stella berjalan memasuki rumah, ia tidak memperdulikan Lesty yang berdiri di depan pintu memperhatikannya. Stella berjalan memasuki kamar dan langsung menggendong ke dua bayinya. Air matanya bercucuran di pipinya, tetapi perasaannya sudah membaik ketika menggendong ke dua buah hatinya, ia sangat fokus kepada buah hatinya bahkan Marcel yang masuk ke dalam kamar pun tidak ia ketahui.
"Axel, Alexa cepat besar ya sayang, mama mau pergi dulu, nanti kalau mama punya waktu banyak mama bakal datang lagi, bakal liatin kalian, bakal jagain kalian di sini, sekarang Axel, Alexa sama papa dulu ya sayang. Jadi anak yang baik, jangan nangis ya kalau malam-malam. Mama sayang banget sama kalian nak, maafin mama tidak bisa mengurus kalian untuk saat ini, mama pergi dulu ya Axel, Alexa." Ucap Stella sambil mengelus-elus kening Axel dan Alexa.
Stella meletakkan bayinya di dalam box, saat ia membalikkan badannya, ia sangat kaget melihat Marcel berdiri di hadapannya, Stella memberikan senyuman yang sangat hangat kepada Marcel, kemudian ia memeluk Marcel dengan erat.
Stella :"Makasih ya Sel, aku titip anak-anak." Melepaskan pelukannya.
Marcel :"Sayang, aku ingin kamu memikirkan keputusan mu ini terlebih dahulu."
Stella :"Aku sudah memikirkannya dari jauh hari kok Sel, jika ada waktu aku akan ke sini bertemu mereka, kalau soal susu, kamu tanyakan sama dokter. Berikan susu yang terbaik buat mereka ya," memberikan senyuman.
Marcel :"Aku berharap kamu akan balik ke sini lagi sayang, aku akan menjaga anak kita."
Stella :"Jika ada surat dari pengadilan datang ke sini, aku minta tolong agar kamu menandatangani nya. Aku permisi Sel."
__ADS_1
Stella berjalan keluar kamar, menuruni tangga dan keluar rumah, ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah megah tempat kediaman Marcel itu.