Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Jatuh


__ADS_3

Marcel :"Stella, semua akan baik-baik saja, tenanglah. Nanti malam makan malam bersama di sini ya, aku membawa bi Murti ke sini."


Stella :"Bi Murti? Mana?"


Marcel :"Aku sudah antarkan dia ke kamar pembantu di rumah ini,"


Stella :"Kamu sudah sarapan?"


Marcel :"Belum," memainkan ponselnya.


Stella :"Aku ambilin ya, tadi pagi mama udah masak sayur dan daging ayam cabai merah."


Marcel :"Tidak usah Stell, makasih." Memberikan senyuman.


Stella :"Atau mau lontong? Biar kita beli,"


Marcel :"Tidak usah Stell, kasian bi Murti kalau kita tinggalkan sendiri di rumah."


Stella :"Kita ajak bi Murti aja, bi Murti pasti juga belum sarapan."


Marcel :"Bu Murti sudah sarapan tadi di bandara."


Stella :"Di bandara makan apa? Emang ada ya yang bikin kenyang?"


Marcel :"Ada,"


Stella :"Jadi kamu tidak mau sarapan?"


Marcel :"Tidak," menaiki tempat tidur dan berbaring.


Stella :"Sel, aku -"


Marcel :"Stell aku tidur sebentar saja, tolong jangan ganggu ya." Menarik selimut,


Stella :"Oh ya sudah," berjalan mengambil remot AC dan menyalakannya.


Stella membuka pintu kamar dan ia terjatuh.


Stella :"Aduh,"


Marcel turun dari tempat tidur, ia menggendong Stella menaikinya ke tempat tidur.


Marcel :"Stell, kamu kenapa? Kita ke rumah sakit ya,"


Stella :"Tidak usah Sel,"


Marcel :"Apa yang sakit Stell? Apa perut mu baik-baik saja,"


Stella :"Tidak kok, tidak ada yang sakit. Aku cuma berpura-pura jatuh hahaha," tertawa.


Marcel :"Bercanda kamu tidak lucu." Membaringkan badannya.


Stella :"Kamu sih sok cuek padaku, tiba baru jatuh segini saja sudah lebay."


Marcel :"Wajar kan, aku tidak mau terjadi apa-apa pada anakku,"


Stella :"Anak saja?"


Marcel :"Ya," menarik selimut


Stella :"Ih kamu kenapa sih Sel? Kok cuek banget, kamu itu harus sadar kalau kamu tidak bisa hidup tanpa aku." menepuk pipi Marcel,

__ADS_1


Marcel :"Cuek bagaimana? Aku biasa saja. Jangan ke-gr an kamu."


Stella :"Sok sok nanya lagi, tetapi emang benar kan perkataan ku?kamu marah sama aku karena Prayoga ya?"


Marcel :"Tidak, aku tidak marah."


Stella :"Marcel, jangan tidur dong, ini masih pagi loh." Meletakkan kepalanya di atas dada bidang Marcel.


Marcel :"Stell, aku sangat mengantuk"


Stella :"Ya sudah lah." Turun dari tempat tidur dengan wajah kecewa.


Melihat wajah Stella yang murung, Marcel memanggilnya.


Marcel :"Stel, Stel ada apa?" Menarik tangan Stella.


Stella :"Kamu tidur saja Sel, nanti saja kita bahas."


Marcel :"Aku tidak mengantuk lagi, ada apa?" Menarik tangannya.


Stella pun duduk di tepi tempat tidur.


Stella :"Aku mau lanjut S2 boleh tidak?"


Marcel :"Boleh dong, itu kan hak mu."


Stella :"Berarti kamu memperbolehkan ku kan?" Memberi senyuman.


Marcel :"Tetapi jangan sekarang dong, kan kamu lagi hamil."


Stella :"Tadi katanya boleh, gimana sih " membuang mukanya dari hadapan Marcel.


Marcel :"Iya boleh, tetapi tidak sekarang juga. Emang kenapa ingin lanjut S2 tiba-tiba begini?"


Marcel :"Terus kalau dia sudah lanjut S2 kamu mau ikutan juga? Sekampus sama dia juga gitu?"


Stella :"Tidak begitu, dulu aku pernah bilang gelar aku bakal lebih tinggi dari gelarnya."


Marcel :"Kamu mau menyaingi dia? Kalau kamu mau S2 hanya karena alasan seperti itu mendingan tidak usah Stell, tidak ada gunanya."


Stella :"Eh, aku juga pengen punya gelar lagi Sel,"


Marcel :"Tidak sekarang ya Stell,"


Stella :"Ya sudah lah."


Marcel pun membaringkan badannya lagi


Stella :"Ih kamu, jangan tidur dong." Menarik tangan Marcel,


Marcel :"Aku mengantuk,"


Stella :"Tadi katanya sudah tidak, ih gimana sih?" Mengerutkan dahinya.


Terdengar suara ketukan pintu di kamar Stella, ia membuka pintu. Ada sosok bi Murti di depan kamar menunggu pintu terbuka


Stella :"Eh bibi, ada apa?" Membuka pintu dan memberi senyuman.


Bi Murti :"Bibi mau keluar sebentar boleh? Bibi kangen sama saudara bibi."


Stella :"Saudara bibi ada di sini?"

__ADS_1


Bi Murti :"Ada nona, dekat rumah sakit Gelora, bibi jarang sekali berjumpa dengannya karena bibi jarang ke sini."


Stella :"Oh ya sudah bi, pergi saja. Bibi bisa membawa mobil?"


Bi Murti :"Tidak non, bibi naik angkutan umum saja."


Stella :"Eh jangan bi, Stella pesankan ojek online saja ya."


Bi Murti :"Makasih nona,"


Stella masuk ke kamar, mencari hp dan menemukannya di atas meja, ia langsung memesan Ojek online dengan tujuan sesuai alamat yang diberikan bi Murti, akhirnya mereka mendapatkan ojek untuk membawa bi Murti ke rumah saudaranya.


Stella :"Bi, itu Stella sudah bayar ya. Nanti kalau bibi mau pulang kabari Stella, biar Stella pesanan saja."


Bi Murti :"Oh iya nona, terima kasih banyak. Sepertinya ojeknya sudah datang, bibi pergi ya nona." Keluar dari rumah dan menutup pintu.


Stella kembali masuk ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur.


Marcel :"Bi Murti kenapa?"


Stella :"Dia ingin ke rumah saudaranya, kebetulan ada di kota ini juga,"


Marcel :"Loh dia pergi naik apa? kenapa kamu tidak menyuruhku mengantarnya, kan kasian bibi."


Stella :"Ih diam, cerewet banget. Aku Uda pesan ojek online buat bibi kok," memberi senyuman.


Marcel :"Terus kamu sudah bayar atau belum?"


Stella :"Sudah lah, tenang aja Marcel. Aku ini juga manusia yang punya hati, aku sadar bi Murti itu kamu bawa ke sini itu untuk membantuku kan? jadi aku harus berterima kasih padanya."


Marcel :"Jadi kamu berterima kasih padanya saja?"


Stella :"Oh iya, terima kasih ya Marcel terima kasih banyak,"


Marcel :"Sama-sama Stella Alonso." memberi senyuman terpaksa.


Stella :"Senyumnya terpaksa banget," menunjuk mulut Marcel.


Marcel :"Aduh sakit Stella,"


Stella :"Dasar lebay, Sel." menggoyangkan tubuh Marcel.


Marcel :"Ha?"


Stella :"Kamu semalam telpon aku?"


Marcel :"Iya,"


Stella :"Mau ngapain? Kok banyak banget?"


Marcel :"Tertekan itu,"


Stella :"Masa tertekan sebanyak ini? Semalam aku sudah tidur jam 8 malam Sel."


Marcel :"Iya, aku tau kamu tidur pakai tanktop kan?" Membuka matanya


Stella :"Kok tau?"


Marcel :"Mama mu yang bilang, semalam itu emang tertekan tapi aku penasaran juga kamu kenapa tidak mengangkat telpon dariku, ya sudah aku telpon mama mu."


Stella :"Ihh sory ya Sel, aku ketiduran." Mencium pipi Marcel secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa di saat keputusan ku sudah bulat untuk berpisah, kamu berubah menjadi Stella yang sangat aku inginkan?, Dan di saat aku ingin mempertahankan mu, kamu malah tidak memperdulikan ku." Tanya Marcel dalam hatinya.


"Aku pikir Marcel menelfon ku karena kangen, ternyata tertekan, dasar kamu." Ucap Stella dalam hatinya.


__ADS_2