
Stella terbangun dari tidurnya yang cukup lama, perutnya sangat lapar karena sudah 2 hari ia di ikat dan tidak bisa makan. Stella berteriak mencoba mencari bantuan dari luar.
"Tolong tolong tolong," berteriak keras.
Lelaki yang mengurungnya datang menghampirinya di ruangan itu.
Lelaki :"Kau mencari bantuan dengan siapa? Hanya rumah ini yang ada di daerah sini."
Stella :"Tolong lepaskan aku, aku ingin makan."
Lelaki :"Semalam aku memberikanmu makanan, dan kau membuang makanannya. Jadi aku tidak akan memberikanmu makanan lagi. Oh ya, kemana suami mu ya? Masa sudah 3 hari kamu di sini, dia tidak mencari mu."
Stella :"Dia pasti mencari ku,"
Lelaki :"Kalau dia mencari mu, sudah pasti dia akan menemukanmu."a
Stella :"Dia tidak tau aku berada di sini, kalau dia tau dia akan menemui ku,"
Lelaki :"Hahaha, mimpi apa kamu? Dia tidak mencintai mu, bagaimana bisa dia memperdulikanmu? Sudah pasti dia tidak akan menemui mu. Aku kan sudah bilang, dia menikahimu hanya untuk merebut mu dari Prayoga keponakanku. Sebenarnya tingkat kebencian dari keluarga kamu ke keluarganya itu sudah hampir tidak ada, tetapi dia mengibarkan bendera perang lagi. Dia merebut mu dari keponakanku. Ya, tentu saja itu kali ini kami tidak tinggal diam."
Stella :"Aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi dengan kalian, tolong lepaskan aku."
Lelaki :"Aku akan melepaskan mu, jika kamu kembali pada Prayoga. Bagaimana?"
Stella :"Tidak, aku tidak akan melakukannya."
Lelaki :"Itu pilihan mu? Berarti kamu memilih untuk tinggal lebih lama di sini ya?"
Stella :"Marcel akan menjemputmu,"
Lelaki :"Kenapa kamu begitu yakin? Dia tidak akan menjemputmu Stella, aku sudah mengatakannya tadi padamu."
Stella :"Dia pasti menjemput ku."
__ADS_1
Lelaki :"Mari kita buktikan, mana hp mu?"
Stella tidak menjawab, lelaki itu melihat tas yang tergeletak di lantai, ia mengambil tas itu dan mencari hp Stella di dalam nya. Ia mengeluarkan hp Stella dan menyalakannya, namun hp itu tidak menyala karena baterai nya sudah habis. Lelaki itu berteriak memanggil salah seorang penjaga untuk mengambilkan charger hp, lalu penjaga itu membawakannya dan memberikannya pada lelaki itu. Lelaki itu mencolokkan charger di stopkontak yang ada di kamar itu, kemudian hp itu menyala.
Lelaki :"Apakah hp ini pemberian Marcel?" Mengangkat hp. "Pantasan saja kamu betah dengannya, dia memberi mu barang-barang mewah. Ternyata kamu cewek matre ya, berapa kode hp mu ini?"
Stella :"Aku tidak mengingatnya,"
Lelaki :"Berapa?" Berteriak sambil menarik rambut Stella.
Stella :"Aku tidak mengingatnya."
Lelaki :"Berapa?" Berteriak semakin keras dan menarik rambut Stella.
Stella :"030303," meneteskan air mata.
Lelaki :"Tidak usah menangis," mengusap air mata Stella dan memberikan senyuman jahat. "Aku ingin menunjukkan pada mu jika suami mu itu tidak mencintai mu agar kamu bisa meninggalkannya."
Lelaki :"Oh ternyata kamu sudah menghubungi nya kemarin? Tetapi dia tidak datang ke sini juga hahaha, oh dia sempat menelpon mu juga ternyata kemarin, tetapi hari ini dia tidak ada menghubungi mu sih. Sudahlah percaya saja padaku, dia tidak akan menemui mu."
Stella :"Dia akan menemui ku,"
Lelaki :"Ya sudah, mari kita buktikan. Aku telepon ya," menekan tombol panggilan.
Lelaki itu menelpon Marcel dari via WhatsApp, kemudian ia menyalakan speaker agar Stella juga mendengar suara Marcel. Nada tunggu sudah berdering, kemudian suara Marcel muncul.
Marcel :"Halo, halo kamu dimana Stell?"
Lelaki :"Saya bukan Stella, saya ini Dery, ingat?" Menyebutkan namanya.
Marcel :"Apa mau mu? Berapa uang yang kau inginkan?"
Lelaki :"Ha? Astaga Stella apa kamu mendengarkannya? Dia membayar mu dengan uang," berbicara kepada Stella. "Apa istrimu bisa di bayar dengan uang Marcel?"
__ADS_1
Marcel hanya diam, iya tidak menjawabnya. Hanya suara tarikan nafasnya yang terdengar.
Lelaki itu mengubah panggilan itu menjadi Vidio call.
Lelaki :"Lihat istrimu ini," menekan kamera belakang lalu tampak Stella di layar.
Marcel :"Kurang ajar kau, dimana kau? Apa yang kau inginkan?"
Lelaki :"Tidak usah sok perduli padanya, ya sudah. Aku sedang sibuk." Mematikan telepon.
Lelaki itu meletakkan hp Stella di atas meja, lalu ia pergi meninggalkan Stella dan mengunci kamarnya. Namun tidak lama kemudian, lelaki itu datang membawakan segelas minuman kepada Stella.
Lelaki :"Apakah kau haus?" Memberikan gelas.
Stella hanya diam tidak merespon lelaki itu.
Lelaki :"Minumlah, kau sudah tidak makan dan minum selama 3 hari nanti kau bisa mati hahahaha." Tertawa "Aku tidak mau kau mati sebelum suamimu sampai di sini. Eh, tetapi sepertinya dia memang tidak akan ke sini. Karena dia kan tidak mencintai mu, jadi aku ingin memberi pilihan kepadamu. Pilihan pertama, apakah kamu mau kembali pada Prayoga sekarang? Pilihan ke dua, apakah kau akan tetap bersama suamimu? Jawab sekarang juga." Memegang dagu Stella.
Lagi, lagi Stella hanya diam. Ia sudah bosan meladeni lelaki yang tidak ada untungnya juga jika ia menjawabnya.
Lelaki :"Jawab!" Berteriak sambil menarik rambut Stella. "Jawab!" Berteriak dan menarik rambutnya semakin kuat.
Stella :"Aku akan tetap bersama Marcel."
Lelaki :"Oke, baiklah." Menuangkan bubuk ke dalam gelas. "Minumlah," memberikan gelas ke mulur Stella.
Stella menutup mulutnya rapat-rapat karena ia tahu bahwa itu adalah racun, lelaki itu terus memaksa Stella untuk membuka mulutnya. Stella tetap menutup mulutnya rapat, lelaki itu pun dengan paksa membuka gelas dan memasukkan air dalam gelas ke mulut Stella. Ada sebagian air yang masuk ke mulut Stella, dan sisanya tumpah di lantai.
Beberapa menit kemudian, Stella mulai merasakan reaksi racun yang sudah mengalir di tubuhnya. Kepadanya sangat pusing, ia seperti sedang di atas kapal di tengah ombak. Perutnya juga terasa sangat sakit, bahkan ia ingin muntah-muntah.
"Tolong aku Tuhan, tolong. Nak, kamu kuat ya." Ucap Stella dalam hatinya.
Stella sudah pasrah dengan keadaan, tubuhnya kini sudah sangat lemah. Bahkan untuk menggerakkan tangan dan kakinya saja ia sudah tidak sanggup. Hanya bantuan yang dapat menolongnya sekarang ini, jika bantuan itu terlambat saja, Stella akan pergi untuk selamanya bersama anaknya. Hp Stella yang berada di atas meja berdering lagi, namun ia tidak bisa menjawab telepon itu dan lelaki itu pun hanya tertawa melihat teleponnya. Keringat bercucuran di keningnya, tiba-tiba merasakan panas terbakar di dalam tubuhnya, nafasnya juga sudah sesak. Tubuh Stella kini diam, matanya pun tertutup. Lelaki itu pergi meninggalkan Stella, lalu tidak lupa mengunci kamar.
__ADS_1