
Malam hari Stella bangun dari waktu tidurnya sekian lama. Tubuhnya sudah tidak begitu lemas setelah di pasang infus di tangannya. Dengan mata yang masih sayu, ia melihat keadaan sekelilingnya. Ia sendirian berada di salah satu ruang rawat inap di rumah sakit.
"Apa dia membawa ku ke sini, setelah hampir membunuhku? Bagaimana keadaan anakku? Kenapa perut ku seperti kosong? Apa yang terjadi padanya? Kenapa Marcel belum menemuiku juga? Apa dia memang tidak mencintai ku?" Ucap Stella dalam hatinya sambil meneteskan air mata.
Pintu terbuka, sosok gagah suaminya masuk ke dalam ruangan.
Marcel :"Stella, apa sudah mendingan?" Duduk di kursi di samping tempat tidur pasien.
Stella :"Bagaimana keadaan mereka? Mereka baik-baik saja kan?" Memegang perutnya.
Marcel :"Kamu tenang saja ya, mereka baik-baik saja. Untung saja aku datang cepat menghampiri mu dan membawa mu ke rumah sakit. Sehingga racunnya belum sempat mengotori semua tubuhmu."
Stella :"Bagaimana kamu bisa menemuiku? Apa dia memberi tau mu?"
Marcel :"Tidak, Kamu istirahat saja dulu. Tidak usah terlalu banyak berfikir."
Stella :"Aku ingin tau Sel."
Marcel :"Aku melacak mu dari hp mu," membelai rambut Stella.
Stella :"Apa dia membiarkan mu membawa ku?"
Marcel :"Tidak Stell, penjaga di sekeliling rumahnya banyak sekali. Awalnya aku melawan satu per satu penjaganya, tidak lama kemudian polisi yang aku hubungi datang menangkap mereka semua termaksud lelaki tua itu."
Stella :"Makasih banyak Sel,"
Marcel :"Apa saja yang di lakukannya padamu?"
Stella :"Dia hanya menjambak dan menampar ku saja."
Marcel :"Kurang ajar, apa hanya itu?"
Stella :"Dia juga mengajak ku tidur waktu itu, tetapi tidak jadi karena aku sudah tidur duluan."
Marcel :"Kamu juga dehidrasi Stell, apa dia tidak memberikan mu minuman?"
Stella :"Aku tidak makan dan minum tiga hari Sel, tadi dia memberi ku minuman dan menuangkan racun ke dalamnya."
Marcel :"Dia sudah mendapatkan hukuman Stell, aku berharap dia akan lama di tahan."
Stella :"Sel, kemarin kamu kemana? Aku minta maaf karena sudah mengusir mu"
__ADS_1
Marcel :"Aku menginap di hotel Stell, hotel yang berada di kota XY juga."
Stella :"Tidak seharusnya aku mengusir mu dari rumah mu sendiri Sel, maafkan aku."
Marcel :"Stell, sudah. Saat itu kita memang butuh waktu untuk sendiri, agar kita bisa mengambil keputusan yang tepat, dan aku sudah mendapat keputusannya Stella."
Stella :"Keputusan apa?"
Marcel :"Aku akan mengikuti semua kemauan mu Stell, aku juga tidak mau karena keegoisanku anak itu kehilangan kasih sayang dari ayah kandungnya."
Stella :"Sel," memegang tangan Marcel. "Ini anak kamu," meletakkan di perutnya.
Marcel :"Stell, tidak apa kok." Memberi senyuman. "Aku juga sadar diri kok, mana mungkin aku bisa mendapatkan anak kembar padahal aku tidak punya bibitnya. Kamu cepat sembuh ya," mengelus rambut Stella.
Stella :"Sel, itu anugerah dari Tuhan. Ini anak kamu sel, kamu harus percaya. Apa kamu mau cek DNA ?"
Marcel :"Apa selama kita tinggal di kota XY kamu masih sering menemui Prayoga?"
Stella :"Tidak sering, tapi memang pernah Sel. Saat aku belum bisa menerima mu, aku minta maaf. Dan aku ingat kok, aku tidak pernah melakukan apapun dengannya. Aku sadar Sel, aku juga tidak melakukan hal seperti itu. Mereka hanya ingin memisahkan kita Sel, kamu harus percaya sama ku Sel. Kamu percaya kan?"
Marcel :"Sebenarnya emang benar Stell, dia ingin memisahkan kita. Tetapi ini kalau soal anak ini, maaf aku merasa memang benar aku bukan ayahnya Stell."
Stella :"Sel, kamu ingat waktu kemarin aku USG? Aku di kasih foto hasil USG kan? Fotonya hilang Sel, aku yakin mereka yang mengambilnya saat kemarin Sel. Saat pulang USG kemarin mereka datang kan ke rumah? Di sana aku juga ikut turun kan sel, aku yakin saat aku turun itu fotonya jatuh Sel, dan dia tau aku hamil anak kembar dari foto itu. Soalnya aku tidak ada memberitahu Prayoga Sel, aku sangat yakin dia yang mengambil fotonya Sel. Sel, ini anak kamu. Kamu harus percaya Sel."
Stella :"Tidak Sel, tidak mungkin. Aku tidak akan berhubungan lagi dengannya Sel. Aku juga tidak terlalu memikirkan perkataan nya yang kemarin tentangmu, aku tidak peduli dengan semuanya itu. Karena sekarang aku udah sampai di titik ini Sel, walaupun kamu memang tidak mencintai ku, aku akan berusaha agar kamu mencintai ku Sel."
Marcel :"Sayang, aku mencintai mu. Aku menikahi mu bukan karena ingin membalas dendam, lagian aku saja baru tau kalau Prayoga itu keponakannya. Makasih sudah ada bersama ku sayang, maafkan aku jika tadi aku tidak percaya dengan anak ini."
Stella :"Mereka sangat ingin memisahkan kita Sel,"
Marcel :"Iya Stell, maafkan aku karena kamu menikah dengan ku, kamu mendapatkan hal buruk seperti ini."
Stella :"Ini ujian buat kita sepertinya, agar kita tetap bersama." Memberi senyuman. "Oh ya, tolong jangan kasih tau orang tuaku kalau aku sedang di rawat di rumah sakit ya."
Marcel :"Eh, aku sudah memberi tahu nya Stella, soalnya saat kamu tidak berada di rumah dua hari yang lalu, aku menelpon mereka. Dan tentu aku juga akan mengabari mereka tadi ketika aku sudah menemukanmu."
Stella :"Ya baiklah, mereka benar-benar baik-baik saja kan Sel?"
Marcel :"Iya sayang, mereka baik-baik saja. Apa kamu nyaman di kamar ini?"
Stella :"Nyaman kok, kamu ingat tidak, ini yang ke dua kalinya kamu menemani aku di rumah sakit?"
__ADS_1
Marcel :"Ingat, yang pertama kali saat kamu masih sekolah kan? Yang di tabrak?"
Stella :"Iya," memberikan senyuman. "Saat itu, kita tanpa hubungan dan sekarang kita sudah menikah. Aku tidak pernah menyangka."
Marcel hanya memberikan senyuman dan membelai rambut Stella, pintu ruangan di ketuk lalu seorang lelaki membuka pintu itu dengan pelan. Lelaki itu adalah Prayoga.
Marcel :"Ngapain kau ke sini?"
Prayoga :"Stella, aku ingin berbicara sebentar." Berjalan masuk.
Marcel :"Tidak, tidak. Awas kau!" Mendorong Prayoga.
Prayoga :"Aku ingin bicara sebentar padanya," menunjukkan Stella.
Marcel :"Tidak, aku tidak mengizinkannya."
Stella :"Sel, biarkan saja."
Prayoga :"Aku ingin bicara dengannya sebentar, tolong tinggalkan kami berdua di sini."
Marcel :"Eh kurang ajar kau, kau yang pergi. Dia istriku, aku yang menjaganya di sini. Kalau kau mau ngomong ya ngomong aja."
Marcel duduk kembali di kursi di samping Stella, Prayoga berjalan mendekati Stella.
Prayoga :"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak tau dia melakukan itu pada mu, tolong bebaskan dia Stell. Aku tidak punya siapapun lagi."
Stella :"Itu urusan Marcel, bukan urusan aku."
Prayoga :"Tolong bujuk dia Stell," memegang tangan Stella.
Marcel :"Eh, kurang ajar kau!" meninju wajah Prayoga. "Dia harus mendapatkan pembalasan yang setimpal."
Stella :"Sel," menarik tangan Marcel.
Prayoga :"Aku mohon,"
Stella :"Aku ingin kamu jujur Yog, tolong jujur itu bukan anak mu."
Prayoga :"Stell, tolong aku sekali ini."
Stella :"Aku tidak bisa Yog, semua keputusan ada di tangan Marcel."
__ADS_1
Marcel :"Anak siapapun yang ada di perut Stella, aku tidak akan melepaskan Stella. Karena saat menikah aku sudah mengucapkan janji suci di depan Tuhan dan orang banyak, aku tidak akan meninggalkannya dengan alasan apapun. Dan soal paman mu, itu sudah menjadi hukumannya. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dia sudah mengurung Stella dan tidak memberi makan ataupun minum, bahkan dia berani menampar Stella, dan memberikannya racun. Untung saja tidak terjadi apa-apa padanya, kalau saja terjadi apa-apa dia bisa ku jatuhkan hukuman mati. Sekarang tolong keluar." menarik Prayoga keluar kamar.
Prayoga :"Aku tidak akan melupakan apa yang sudah kalian lakukan pada pamanku." Berjalan meninggalkan kamar.