Tetanggaku Di Hatiku

Tetanggaku Di Hatiku
Fake chat


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Stella langsung masuk menaiki tangga masuk ke dalam kamar, sedangkan Marcel menunurkan telebih dahulu barang belanjaan dan membawakannya ke kamar.


Marcel :"Letakkan dimana yang?"


Stella :"Terserah kamu ajalah." Menarik selimutnya.


Marcel :"Kamu kenapa? Sakit lagi?"


Stella :"Mual banget,"


Marcel :"Makan siang dulu ya baru tidur."


Stella :"Tidak ah, nanti aku muntah lagi. Kamu keluar dong, jangan di sini."


Marcel :"Lah, kenapa?"


Stella :"Aku sedang tidak mau melihatmu, makin mual aku."


Marcel :"Hahaha, kok kayaknya anak papa nih jahat banget ya sama papanya sendiri." Mencium perut Stella.


Stella :"Sel, keluarlah."


Marcel :"Aku mau nge-gym dulu di atas ya, kalau ada apa-apa telpon aja aku ya,"


Stella :"Gak, gak. Sini hp mu,"


Marcel :"Astaga sayang, aku berolahraga aja loh."


Stella :"Ini kamu bawa hp ku aja,"


Marcel :"Nanti telpon ya kalau butuh aku," mencium kening Stella.


Marcel berjalan meninggalkan Stella di dalam kamar, Stella berbaring sambil melihat peralatan yang ia beli tadi untuk kedua calon bayi nya. Stella berjalan menuju tempat Marcel meletakkan peralatan itu dan duduk di karpet itu sambil mengeluarkannya dari dalam plastik.


Stella mengeluarkan semua bedong bayi yang ia beli, lalu ia melipatnya dengan rapi.


"Sehat terus ya sayang," ucap Stella sambil memegang perutnya.


Lalu Stella mengeluarkan bantal-bantal yang ia beli tadi untuk ke dua bayinya. Lalu ia meletakkannya di atas tempat tidurnya. Ia mengambil ponsel Marcel dan mencari tempat tidur ataupun box bayi untuk bayi kembarnya. Kemudian ia meng- screenshootnya. Ia kembali membuka wa di hp Marcel, ia menyesal sudah menyuruh Marcel keluar dari grup SMK itu.


"Kenapa dari dulu rasa cemburu ku tidak pernah bisa hilang? Terlalu berlebih, dan tidak ada gunanya. Ini sama saja, aku memutus hubungan persaudaraan Marcel dengan teman-temannya, tetapi di satu sisi aku tidak ingin Marcel mendekati cewek itu lagi. Kenapa sih Marcel tega gituin aku? Coba aja aku manggil sayang sama cowok lain, pasti dia akan cemburu juga meskipun hanya bercanda." Ucap Stella dalam hatinya sambil mengelus-elus perutnya.


Stella keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga, menuju ruang makan. Bi Murti langsung menyiapkan makanan untuk Stella, dan meletakkannya di depan Stella. Stella pun langsung menyantap makanan dengan lahap. Marcel duduk di sampingnya membelai rambutnya,


Stella :"Ih kamu, baju mu mana? Keringkan sana badanmu."


Marcel :"Baju ku basah, kena keringat." Memeluk Stella.


Stella :"Ih, kamu sana." Mendorong Marcel.


Bi Murti dan Yati yang melihatnya hanya bisa menahan tawa, tetapi mulut mereka tetap tidak bisa berbohong, senyuman terpancar dari mulut mereka.


Marcel :"Bi Murti jangan lihatin dong, sana pergi kalian bi."


Bi Murti dan Bi Yati pergi meninggalkan ruang makan itu.


Marcel lagi dan lagi memeluk dan mencium Stella.


Stella :"Ih, kamu sanalah ah." Mendorong Marcel hingga hampir terjatuh.


Marcel :"Ih, kamu kasar banget."


Stella :"Keringkan badanmu, aku sudah mandi ha jadi basah lagi."

__ADS_1


Marcel :"Kan sudah basah juga nya" memeluk Stella lagi.


Stella :"Iih," mendorong Marcel.


Stella berlari menuju westafel dan memuntahkan makanannya, Marcel mengambil air hangat dan memberikan kepada Stella. Ia memijat-mijat kepala Stella dengan lembut hingga ia berhenti muntah. Stella menegukkan air putih hangat yang ia berikan, lalu ia berjalan kembali duduk di ruang makan, Marcel pun duduk kembali di sampingnya.


Stella :"Kamu pergi lah sana, keringkan badan mu nanti aku muntah lagi." Melihat Marcel dengan tatapan sinis.


Marcel :"Aku tidak bau loh, biasanya keringat ku juga seperti ini kamu biasa saja."


Stella :"Sana pergi, jangan banyak bicara."


Marcel :"Kamu istirahat saja ke kamar, biar enakkan."


Stella :"Nanti saja, aku masih lemas."


Marcel :"Biar aku gendong."


Stella :"Badan kamu basah, sana pergi lah Sel."


Marcel :"Aku keringkan badan dulu ya, nanti aku gendong kamu ke atas."


Stella :"Terserah kamu lah, sana cepat."


Marcel pun berjalan menaiki tangga, bi Murti menyapanya.


Bi Murti :"Tuan, itu karena Nona lagi hamil. Itu hal wajar kok Tuan."


Marcel :"Iya Bii, saya tau. Tetapi itu juga karena anak yang di dalam perutnya juga tidak suka pada saya ya?"


Bi Murti :"Tidak lah Tuan, lagian itu hanya sebentar saja Tuan."


Marcel :"Ooh, iyalah Bi. Makasih ya Bi," berjalan menaiki tangga.


Stella :"Parfum mu menyengat sekali, ganti baju mu Sel. Tolong Sel, aku tidak bisa menciumnya."


Marcel langsung membuka bajunya dan ia meletakkan baju itu di keranjang baju kotor.


Marcel :"Masih bau yang?"


Stella :"Bawa baju nya ke bawah, letakkan di tempat mesin cuci."


Marcel pun membawa bajunya yang ia letakkan di keranjang pakaian kotor itu ke dalam mesin cuci yang berada di lantai 1, ia kembali menaiki tangga masuk ke dalam kamar. Ia mengambil minyak zaitun dan memijat kepala Stella, semenjak hamil Stella sangat suka memakai minyak zaitun, makanya ia tidak takut membalurkan minyak zaitun di kepala Stella.


Marcel :"Masih bau?"


Stella :"Masih." Mengelus perutnya.


Marcel :"Aku keluar aja ya, biar tidak bau. Kamu tidur ya," mencium kening Stella.


Marcel membuka pintu kamar itu dan berjalan keluar.


Stella :"Eh, hp ku mana?"


Marcel :"Itu." Menunjuk meja.


Marcel berjalan keluar kamar, menuruni tangga dan makan di ruang makan.


"Suami ku dewasa sekali, dia sangat mengerti keadaan ku." Ucap Stella dalam hatinya.


Stella menutup matanya, dan ia tertidur cukup lama.


***

__ADS_1


Saat Marcel tertidur, Marcel masuk ke kamar. Ia melihat Stella yang sangat nyenyak tidur dan suhu di kamar sangat dingin. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia duduk di tepi tempat tidur dan memandangi Stella lama, ia mengelus-elus perut Stella. Saat ia ingin mencium Stella, Stella tiba-tuba bersin dan terbangun. Marcel langsung berjalan keluar.


Marcel :"Eh sori yang." Berjalan menjauh dari Stella.


Stella pun melanjutkan tidurnya lagi, Marcel mengintip-intip dari pintu saja untuk memastikan Stella baik-baik saja. Lalu ia beristirahat di ruang keluarga yang berada di depan rumahnya dan menyalakan AC. Beberapa menit kemudian pun ia tertidur.


****


Pada pukul 19.00, Marcel baru bangun dari tidur nyenyak nya. Ia mendengar suara ketawa keras dari kamarnya, Marcel pun membuka pintu mengintip.


Marcel :"Yang, aku boleh masuk?"


Stella :"Masuklah."


Marcel duduk di sofa tepat di samping Stella, ia sedang menonton film komedi.


Marcel :"Mau aku pijatin?"


Stella :"Boleh, pakai minyak zaitun ya."


Marcel pun mengambil minyak zaitun dari atas tempat tidur dan kembali duduk di sofa, lalu ia memijat Stella.


Marcel :"Kok begitu aku masuk, kamu berhenti tertawa?"


Stella :"Kan aku sudah tidak menonton lagi." Melihat ponselnya.


Stella asik kepada ponselnya, Marcel melihat Stella yang asik chatingan.


Marcel :"Yang, apaan sih? Kok senyum-senyum."


Stella hanya diam dan tetap fokus ke ponselnya.


Marcel :"Yang, apaan sih? Kok panggil sayang-sayang." Menarik ponsel Stella.


Stella :"Ih, kamu nih." Menarik ponselnya. "Kan hanya bercanda,"


Marcel :"Apaan bercanda manggil sayang."


Stella :"Kenapa sih? Kamu cemburu? Jangan salahkan aku dong, kamu juga bercanda sama teman kamu manggil sayang."


Marcel :"Aku sudah keluar dari grup kan? Apa lagi yang di permasalahkan."


Stella :"Ya tetap aja jadi masalah, kamu bisa manggil sayang sama teman kamu ya aku juga bisa."


Marcel :"Terserah kamu lah, kayak anak kecil." Berjalan meninggalkan Stella dan mengambil kunci mobil.


Marcel melajukan mobil nya kencang, Stella tidak mengejarnya agar ia bisa mengoreksi dirinya.


"Biar kamu tau bagaimana rasanya di giniin Sel." Ucap Stella dalam hatinya sambil melihat mobil yang melaju dari balik jendela.


Stella kembali duduk di sofa, lalu ia mengembalikan aplikasi fake chat nya itu.


"Sedangkan aku masih pakai fake chat aja dia sudah begitu, apalagi kalau benaran ya. Lagian aku mana mungkin begitu, emang aku kayak dia." Ucap Stella dalam hatinya.


Stella melanjutkan menonton filmnya, saat sedang asik nenonton, mama nya menelpon nya.


Stella :"Halo Ma."


Mama :" Stella, kamu jangan kayak anak kecil lah, kamu sudah menikah."


Stella :"Kenapa ma? Emang aku salah apa?"


Mama :"Kamu kelahi sama Marcel kan? Tadi Marcel bilang sama mama, kamu jangan begitulah. Mama malu sama orang tua Marcel, kayak tidak pernah di ajarin kamu. Selalu aja buat masalah, kamu itu sebentar lagi bakal jadi orang tua. Hilangkan sikap kayak anak kecil itu. Gak ngerti mama sama kamu, pemikiran masih kayak anak kecil. Malu mama punya anak sama kamu, kenapa menangis, udah kamu salah kamu menangis." Mematikan teleponnya.

__ADS_1


Air mata Stella mengalir dengan cepat, ia menangis sampai nafas nya sesak. Kepalanya ia letakkan di atas tempat tidur, air mata tidak reda juga. Stella mencari tali di gudang, lalu ia berjalan menaiki tangga untuk ke lantai 4, di lantai 4 ia menarik kursi dan menggantungkan tali di gantungan yang tinggi. Kemudian ia menaiki kursi, dan meletakkan kepalanya di dalam tali, lalu ia mendorong kursi itu.


__ADS_2