
Adam memandang perempuan yang ada di hadapannya ini dengan wajah datar dan tatapan tajam penuh intimidasi. Sementara perempuan itu melebarkan sebuah senyuman ramah kepada para pria yang sedang menatapnya.
"Perkenalkan dia adalah rekan baru kalian, jika tidak ada yang dia pahami dalam bekerja, kalian bisa membantunya." Suara tegas sang atasan.
Sontak saja para pria yang ada di ruangan itu langsung bertepuk tangan, senang menyambut kedatangan rekan baru mereka yang ternyata seorang gadis cantik terlebih lagi di ruangan itu semuanya laki-laki. Sebut saja untuk cuci mata buat mereka, di saat dilanda kebosanan dalam mengerjakan tugas yang menumpuk.
Tentu saja ke tiga pria itu begitu antusias memperkenalkan diri masing-masing kepada Citra kecuali Adam dan Andi. Ya, perempuan itu adalah Citra, gadis yang selama ini masih mengejar Adam. Entah bagaimana caranya Citra bisa satu ruangan dengan Adam di kantor ini padahal masih ada divisi lainnya di tempat itu.
"Dam.. ini sebuah bencana untukmu. Kenapa cewek ganjen ini bisa bekerja di tempat ini, terlebih lagi satu ruangan sama kita." Ucap Andi pelan setelah tersadar dari rasa terkejutnya.
Andi tidak bisa membayangkan hari-hari bekerja mereka selanjutnya, yang pasti akan menjadi sangat suram dengan hadirnya cewek ganjen itu yang jadi rekan baru mereka saat ini. Apalagi Citra tidak ada kapok-kapoknya mendekati Adam.
"Bagaimana bisa.. dia bekerja di tempat ini." Gumam Adam sambil memijit pelan pangkal hidungnya.
"Mulai sekarang, kamu sudah bisa bekerja di ruangan ini!" Kata sang atasan mempersilahkan Citra untuk duduk di meja kubikel yang berada di samping pria bertubuh sedikit gemuk.
"Terimakasih Pak." Sahut Citra sopan lalu berjalan ke meja kubikelnya setelah sang atasan pergi.
"Dam, Ndi.. kalian tidak mau kenalan sama Citra?" Tanya salah satu rekan Adam yang bernama Hadi.
"Kami sudah kenal." Jawab Andi cuek.
Jujur Andi sangat malas mendengar nama Citra disebut. Dia pun kembali ke meja kubikelnya melanjutkan pekerjaannya.
"Kalian kenal dimana?" Tanya Hadi lagi yang sangat penasaran.
Tapi sayang pertanyaan nya tidak di jawab oleh Andi maupun Adam. Membuat pria itu geleng-geleng kepala dan memutuskan tidak bertanya lagi.
Citra langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Adam bermaksud untuk meminta bimbingan mengerjakan berkas yang tidak ia ketahui sebagai awalan.
"Adam.. bisakah kamu mengajari aku cara mengerjakan berkas ini?" Pintanya sambil meletakkan beberapa kertas di meja lalu menunjukkan kepada Adam.
Adam menghela napasnya untuk mengontrol emosinya sebab Citra berani sekali mendekatinya dengan alasan meminta bantuan.
"Kalau bagian ini bukan urusanku. Kamu bisa tanya pada Roni." Ucap Adam dingin menunjuk Roni teman kerjanya yang memakai kacamata.
Citra pun menoleh ke arah Roni, dengan berat hati ia pun melangkahkan kakinya menuju ke meja laki-laki yang memakai kacamata itu.
"Dasar cewek ganjen, pintar sekali modusnya." Umpat Andi dalam hati.
***
"Assalamu'alaikum." Ucap Bapak Zahira.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira dan Ibu bersamaan.
"Lho, ada putri Bapak di sini." Ucap Bapak melihat Zahira yang sedang membaca novel duduk bersama istrinya di ruang tamu.
__ADS_1
"Iya Pak." Jawab Zahira sambil tersenyum.
Laki-laki paruh baya itu mengangguk dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah kotor, disusul oleh Ibu Zahira yang juga akan membuatkan kopi hitam kesukaan sang suami sekalian mencuci baju kotornya juga.
"Tumben siang-siang kamu ke sini Nduk?" Tanya Bapak setelah usai mandi dan duduk di hadapan sang anak.
"Hira udah di sini sejak tadi pagi Pak, tapi Bapak udah pergi ke sawah." Jelas Zahira sambil makan cemilan di toples.
"Kopinya Pak." Ibu Zahira meletakkan secangkir kopi di meja.
Bapak mengangguk lalu menyeruput kopinya setelah ia tiup dulu.
"Pak.. putri kita saat ini tengah hamil muda lho." Ujar Ibu memberitahu sang suami.
"Alhamdulillah.." Sambut Bapak senang.
Zahira dan ibu sama-sama tersenyum.
"Sudah berapa bulan usia kehamilan kamu, Nduk?" Tanya Bapak.
"Baru dua minggu kok Pak." Jawab Zahira.
"Dijaga baik-baik ya kandungan kamu dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang berat-berat." Wejangan Bapak.
"Iya Pak. Hira sama sekali tidak melakukan kegiatan apa-apa kok selama hamil ini." Jawab Zahira.
Zahira pun berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau makan siang nanti Emak buatkan aku pepes pindang." Pinta Zahira.
***
"Dam.. mau makan siang dimana?" Tanya Andi.
Mereka semua sudah keluar dari ruangan untuk mengisi perut mereka.
"Di kantin saja." Jawab Adam singkat.
"Oke." Sahut Andi menyetujui.
Tidak ketinggalan, Citra juga mengikuti langkah Adam, Andi dan yang lainnya menuju kantin kantor. Mereka kini sudah duduk di bangku kantin dan memesan makanan.
"Hari ini kita makan apa ya Dam?" Andi bingung memilih menu yang sudah tersedia.
"Aku makan Nasi timbel saja." Sahut Adam tanpa harus memilih dulu.
Andi mengangguk. "Ya sudah, aku juga pesan Nasi timbel kalau gitu." Ujar Andi menyamakan menu makan siangnya seperti Adam.
__ADS_1
Andi juga bertanya kepada teman-temannya kecuali kepada Citra, lalu ia berdiri dan menyebutkan semua pesanan mereka kepada pegawai kantin.
"Citra.. kamu mau makan apa?" Tanya Roni.
Karena Citra sedari tadi diam saja dan belum memesan menu makan siangnya. Citra sibuk menatap Adam yang kini duduk di hadapannya dengan penuh kekaguman.
"Eh, kamu tadi bilang apa?" Citra menoleh ke arah Roni karena merasa dirinya disebut.
"Kamu mau makan apa? Kita-kita sudah pesan makanan tinggal kamu sendiri yang belum." Ujar Roni.
"Adam.. kamu pesan makanan apa tadi?" Citra bertanya kepada Adam dan mengabaikan Roni.
Andi memutar malas kedua matanya. Pintar sekali dia mencari perhatian Adam. Sementara Adam, dia sibuk berchating ria dengan sang istri. Mengingatkan agar jangan lupa untuk makan siang dan menanyakan sekarang lagi apa.
"Adam.." Panggil Citra lagi.
Seketika Adam mendongak. "Ada apa." Sahut Adam dengan wajah datar.
Citra langsung tersenyum karena Adam mau menyahuti omongannya.
Tapi, tiba-tiba pegawai kantin datang menyuguhkan pesanan mereka hingga Citra dibuat kesal karena omongannya harus terjeda.
"Makan Dam.. jangan bicara lagi." Tutur Andi sambil melirik sinis ke arah Citra.
"Adam pesan Nasi timbel." Jawab Roni kemudian, yang merasa kasihan dengan Citra karena di acuhkan oleh Adam dan Andi.
Citra pun segera bangkit dari duduknya lalu memesan menu makanan yang sama dengan Adam. Lima menit kemudian makanan dia sudah tersaji dan Citra langsung menyantapnya.
Disela-sela makan mereka teman Adam yang bernama Hadi bertanya kepada Adam.
"Dam.. kamu belum menjawab pertanyaan ku. Aku masih penasaran, kamu dan Andi kenal Citra dimana sih?" Tanya Hadi menatap Adam dan Andi bergantian.
"Iya." Sahut yang lainnya yang juga penasaran.
"Dia junior kita waktu di kampus dulu." Jawab Andi sedikit acuh.
Mereka semua manggut-manggut.
"Pantas saja, tadi kalian berdua tidak mengenalkan diri kalian kepada Citra." Sahut Roni.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1