Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Rutinitas baru


__ADS_3

Adam hanya tersenyum tipis menanggapi candaan adik iparnya itu, ia sama sekali tidak marah ataupun terganggu mungkin itu hanya surat dari teman lama Zahira yang ingin menyampaikan rasa rindunya pada Zahira melalui surat karena tidak punya nomor kontak istrinya.


Dan tak lama Zahira menghampiri mereka sambil mengoleskan lotion di kedua lengannya. Ia tersenyum melihat adik satu-satunya datang kemari, pasti dia sudah diberitahu oleh sang ibu kalau keponakannya sudah pulang.


"Sudah lama Dek?" Tanya Zahira duduk di kursi lain tidak disebelah suaminya.


"Baru aja kok Mbak." Jawab Akmal kemudian memberikan amplop itu pada sang kakak.


"Nih Mbak, ada surat untuk Mbak." Ucap Akmal.


Zahira mengernyit bingung. "Dari siapa?" Tanya Ibu muda itu dengan penasaran.


Akmal menghela napasnya, semua pada tanya dari siapa. Dia saja tidak tahu?


"Nggak tahu Mbak.. karena nggak ada nama pengirimnya." Jawab Akmal kemudian.


Zahira membolak-balikkan amplop itu.


"Buka aja Yank, Mas juga pengen tahu isi suratnya apa." Ujar Adam yang juga sama penasarannya sambil menepuk-nepuk bokong baby Arvind karena bayi mungil itu merengek lirih.


Zahira mengangguk lalu membuka amplop tersebut kemudian membaca kata demi kata yang tertulis di kertas putih itu. Ia tersenyum sumringah sambil mendekap lembaran putih itu.


Sementara Adam mengerutkan keningnya karena Zahira membacanya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri membuatnya semakin curiga akan isi surat itu.


"Apa isinya Yank dan dari siapa?" Tanya Adam sekali lagi.


"Rahasia." Jawab Zahira menggoda Adam sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Yank.." Adam memberikan tatapan tajam pada perempuan itu agar memberitahunya.


Zahira hanya tertawa lalu menyelipkan surat itu ke dalam saku gamisnya membuat Adam mendesah berat.


"Tuh kan Mas.. benar kataku pasti itu pengagum rahasianya Mbak Hira." Akmal yakin kalau tebakannya ini benar, buktinya saja kakaknya itu tidak mau ngaku.


***


Kedua orangtua Zahira menyambangi baby Arvind. Setelah selesai makan malam Bapak langsung mengajak istrinya untuk cepat-cepat datang ke rumah besannya karena sudah tidak sabar untuk melihat cucu pertamanya.


"Cucu Akung lucu sekali, tampan lagi." Ucap Bapak menggendong baby Arvind. Bayi mungil itu hanya mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Jelas dong, Papanya aja tampan banget." Celetuk Zahira memuji ketampanan Adam.


Mereka kini berada di ruang tengah sambil menonton televisi.


Sedari tadi Adam mendiamkan sang istri, ia dalam mode merajuk akibat ulah Zahira yang iseng sekali menggoda laki-laki tampan itu hanya karena selembar surat.


"Mas.." Zahira mengelus lengan Adam dengan mesra.


"Hmm." Sahut Adam cuek membuat perempuan itu tersenyum geli.


Sebenarnya Adam tidak marah ia hanya ingin mengetes saja apakah istrinya ini akan jujur atau tidak.


"Lihat Nak, Papamu begitu cuek sama Mama." Adu Zahira sama baby Arvind.


Yang mana membuat Ayah dan Ibu geleng-geleng kepala. Namun berbeda dengan Bapak dan Ibunya Zahira, mereka justru menatap Adam dengan tatapan penuh selidik takut jika menantunya ini ada masalah serius dengan putrinya.


"Nanti kalau kamu sudah besar jangan ngambekan kayak Papa ya Nak." Ucap Zahira lagi.


Adam menghela napasnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kamu tuh Nduk, senang sekali menggoda suamimu. Jadinya marah kan?" Ujar sang ibu.


"Mereka itu udah biasa San." Sahut Ibu agar kedua besannya ini tidak menganggap serius tentang sikap dingin Adam pada putrinya.


*


Malam semakin larut dan keluarga kecil itu juga sudah terlelap tidur dengan posisi baby Arvind di tengah-tengah mereka. Namun tidak bagi si pria, dia sama sekali belum memejamkan matanya.


Ditatapnya anak dan istrinya itu yang sudah terbuai ke alam mimpi. Adam sangat bahagia melihat pemandangan di sampingnya ini, dimana ada bayi mungil yang menjadi pelengkap hidupnya bersama Zahira.


Adam mengelus lembut pipi baby Arvind. Bayi yang satu hari ini menjadi rebutan bagi kedua orangtuanya karena ingin mengendongnya tanpa ada yang mau mengalah diantara mereka. Lalu dia beralih kepada perempuan yang menjadi ibu dari anaknya.


"Terimakasih Sayang, kalian sudah hadir dalam hidup Mas. Terimakasih banyak dan Mas sangat-sangat menyayangi kalian." Gumam Adam mengecup kening Zahira sekilas.


***


Pagi hari, Zahira sudah menjalani rutinitas barunya sebagai seorang ibu yaitu memandikan si kecil yang sudah bangun dari tidurnya. Ia begitu senang melakoni tugas barunya ini, seperti inikah rasanya sebagai orangtua baru disetiap paginya jika sudah memiliki anak? Pasti senang rasanya..


Namun ada kendalanya juga, baby Arvind menangis saat ia mandikan mungkin anaknya ini sudah lapar.

__ADS_1


"Iya sayang, bentar ya.. Adek belum selesai nih mandinya. Cup.. cup sayang tinggal dikit lagi ya Nak." Ucap Zahira sambil menenangkan baby Arvind yang tangisannya semakin kencang.


Ibu yang berada di dapur harus menghentikan memasaknya begitu mendengar tangisan cucunya. Ia buru-buru masuk ke kamar anaknya. Bertepatan dengan Zahira yang keluar dari kamar mandi.


"Tuh, Uti sampai ke sini, pasti tadi Uti khawatir ya karena Adek nangisnya kenceng banget." Ujar Zahira yang membungkus anaknya dengan handuk kemudian ia pangku baby Arvind untuk diberi ASI dulu sebelum memakaikan pakaiannya.


Sedangkan ibu hanya tersenyum saja lalu membantu Zahira mengambilkan baju Arvind di dalam lemari tidak lupa popok, minyak telon dan bedak juga.


"Sudah ya Nak nanti lagi. Adek harus pakai baju biar nggak kedinginan." Lalu meletakkan baby Arvind di atas kasur. Bayi mungil itu masih mengecap-ngecap mulutnya.


"Bu, biar aku saja. Ibu lanjutkan saja masaknya." Ucap Zahira menghentikan sang mertua yang mau membantu dirinya.


"Ya sudah, ibu tinggal kalau gitu." Jawab Ibu karena masaknya juga penting untuk sarapan pagi mereka.


Kini baby Arvind sudah genteng dan wangi, tinggal Zahira yang harus mandi karena baju yang ia pakai basah terkena air saat memandikan anaknya tadi.


"Adek jangan nangis lagi ya, Mama mau mandi dulu." Sambil menaruh dua guling disisi kiri dan kanan Zahira meninggalkan baby Arvind sendirian.


Adam sudah selesai olahraganya, ia pun masuk kamar dan mendapati anaknya yang bergerak-gerak sendirian tanpa ada yang menemani. Ia tersenyum melihat hal itu.


"Kasihan anak Papa main sendirian, nggak ada temannya." Sambil mencium Arvind.


Namun pandangannya beralih pada amplop yang berada di samping Arvind. Ia pun membuka lalu membaca isinya, hanya raut datar yang ia tampakkan saat membaca surat itu tidak ada ekspresi senangnya.


Zahira sudah selesai mandi dan ia melihat suaminya membaca suratnya yang memang sengaja ia letakkan di dekat anaknya biar suaminya itu membacanya sendiri.


"Aku seneng deh akhirnya Kak Haikal sudah menemukan pendamping hidupnya." Ucap Zahira sambil memeluk punggung Adam.


Ya, surat yang Zahira terima adalah dari Haikal. Disitu tertulis jika Haikal sudah menikah satu bulan yang lalu. Haikal juga bertanya pada Zahira apakah sudah mempunyai anak? Jika sudah, Haikal meminta pada Zahira untuk mengirimi foto anaknya.



Anggap saja ini anak Mas Adam🙏🙏


.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2