Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Tersingkir


__ADS_3

Setelah Adam hilang dari pandangan, Zahira kembali masuk ke dalam ia melihat Ibu mertuanya sedang mengangkat piring-piring untuk dibawa ke dapur. Zahira pun bergegas mendekati sang Ibu.


"Ibu, sini biar aku saja yang beresin, lebih baik Ibu sekarang ke kamar. Mungkin Ayah juga mau berangkat mengajar." Zahira mencegah tangan ibu yang hendak melangkah.


Ibu pun meletakkan kembali tumpukan piring di atas meja.


"Ya sudah, kamu lanjutkan sendiri ya Nak." Ucap Ibu.


Zahira membawa piring-piring kotor itu ke dapur, segera mencucinya hingga bersih sedangkan lauk pauk yang masih tersisa ia letakkan ke dalam lemari tempat menyimpan makanan. Setelah semua sudah beres Zahira beralih pada tumpukan pakaian kotor yang belum ia cuci. Satu persatu ia masukkan pakaian kotor tersebut ke dalam mesin cuci. Beberapa menit kemudian Zahira mengangkat cuciannya yang sudah ia keringkan lalu ia jemur di halaman samping rumah.


Dengan bersenandung ria Zahira menjemur semua pakaian milik sang suami dan kedua mertuanya.


Namun saat akan masuk ke dalam ia melihat halaman depan rumah yang belum ia sapu, dengan semangat Zahira pun menyapu rontokan daun-daun kering tersebut dan ia masukkan ke dalam tempat sampah.


"Hah.. capek juga badanku." Keluh Zahira merebahkan tubuh rampingnya di kasur lalu memukuli punggungnya yang pegal akibat efek dari menstruasi.


"Lebih baik ke rumah Emak deh, di sana nanti aku bisa ketemu si gembul Bagas. Daripada di rumah bosan nggak tahu harus apa." Gumam Zahira lalu ia bangkit dari tidurannya dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja rias.


Zahira yang melihat ibu mertuanya sedang menonton TV dengan setoples cemilan di hadapannya. Ia pun berjalan mendekat dan memeluk tubuh sang Ibu mertua dengan sayang. Tubuh Ibu sampai bergoyang akibat ulah Zahira yang memeluk dengan tiba-tiba.


"Eh..." Kaget Ibu menoleh pada sang menantu, Ibu pun tersenyum lalu geleng-geleng kepala.


"Ibu.. hari ini aku mau ke rumah Emak, boleh ya?" Ucap Zahira dengan menampilkan senyum manisnya setelah ia melepas pelukannya.


"Ya boleh dong Nak, kalau mau pergi ke rumah Ibu kamu. Ibu nggak akan nglarang." Jawab Ibu mertua Zahira.


"Oh.. terima kasih Ibu." Balas Zahira tersenyum senang, Ia pun memberi ciuman di pipi kiri sang Ibu mertua.


"Aku pergi, Assalamu'alaikum Ibu." Pamit Zahira.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu.


***

__ADS_1


Zahira masuk begitu saja ke dalam rumahnya setelah mengucap salam. Ternyata Ibu Zahira sedang di belakang sepertinya sedang mencuci baju sampai ia tidak mendengar ucapan salam dari sang anak sulungnya itu.


"Emak!!" Panggil Zahira sambil berteriak.


Ibu Zahira menoleh. "Kamu tuh Nduk.. masuk rumah kok nggak ngucap salam dulu." Protes sang ibu kepada Zahira.


"Zahira udah ngucap salam Mak.. tapi Emak aja yang nggak dengar." Jawab Zahira lalu duduk di kursi kecil sambil melihat Ibunya yang mencuci baju.


"Kamu tadi ke sini sudah pamit sama Ibu mertuamu kan?" Tanya Ibu Zahira.


Jangan sampai putrinya ini keluar rumah tanpa persetujuan dari sang Ibu mertua, meskipun di tinggal suami bekerja tapi Zahira tetap harus memberitahu mertuanya jika ia mau pergi keluar, karena bagaimana pun mereka masih satu rumah berbeda lagi jika mereka pisah rumah.


"Sudah kok Mak.." Jawab Zahira dengan menganggukkan kepalanya.


"Yo wes jika kamu sudah diberi izin, jangan asal main pergi gitu aja. Dia itu surga suamimu." Tutur Ibu.


Zahira hanya tersenyum diberi nasehat oleh ibu kandungnya.


"Nduk.." Panggil Ibu.


"Kamu tidak pakai KB kan selama pernikahan kalian ini?" Sambil melanjutkan mengucek bajunya.


Zahira tersenyum lucu. "Emak ini kayak Mas Adam, takut banget aku pake KB. Enggak kok Mak.. anak manismu sama sekali nggak pernah makai itu karena aku juga pengen cepat-cepat punya anak." Ibu pun bernafas lega.


"Syukurlah.. Emak do'akan semoga kalian secepatnya diberi keturunan sama gusti Allah." Do'a Emak pada putrinya.


"Amin.. ya rabbal alamin.." Jawab Zahira.


"Kamu tunggu di depan sana, Emak mau jemur cucian ini dulu." ucapnya.


Zahira menunggu sang Ibu tercinta di teras depan sambil melihat-lihat sekeliling rumahnya yang sudah hampir satu bulan ini ia tinggalkan.


"Bagas.." Zahira berteriak begitu melihat baby Bagas di gendong Mbak Susi yang kebetulan ibu dan anak itu di luar rumah.

__ADS_1


Ia pun melambaikan tangannya agar bayi gembul itu menghampirinya. Mbak Susi tersenyum melihat Zahira yang ada di rumah orang tuanya ia pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Zahira.


"Ah.. onty kangen banget sama kamu gembul." Zahira mencubit gemas pipi baby Bagas ia juga memberikan ciuman di kedua pipi baby lucu itu.


Baby Bagas hanya bisa tertawa, ia merasa kegelian akibat di ciumi oleh Zahira. Bayi gembul itu juga menepuk-nepuk wajah Zahira dan merentangkan kedua tangannya agar di gendong, nampaknya ia juga merindukan sang onty.


"Sini onty gendong. Uhh.. beberapa hari nggak ketemu tambah berat aja bobot kamu." Zahira memangku bayi laki-laki itu.


Mbak Susi juga ikutan duduk di samping Zahira. Baby Bagas sangat anteng di pangkuan Zahira, Bayi gembul itu juga menepuk-nepuk tangannya sendiri sambil bergumam tidak jelas ala bahasa bayi.


"Mbak lihat-lihat, semenjak kamu menikah. Kamu makin cantik aja ya Ra." Ucap Mbak Susi memandangi wajah Zahira dengan seksama.


"Hehe... masa sih Mbak. Menurutku kok biasa-biasa aja, nggak ada yang berubah." Sanggah Zahira karena merasa malu sudah dibilang cantik seraya meraba pipinya.


"Iya, Mbak nggak bohong. Pasti kamu bahagia banget ya menikah sama Adam. Adam juga sepertinya sangat memanjakan kamu." Ungkap Mbak Susi.


"Alhamdulillah, aku sangat bahagia sekali Mbak dengan pernikahan ini, dan tebakan Mbak Susi memang sangat benar, Mas Adam sangat-sangat memanjakan aku." Akui Zahira dengan senyuman.


Bagaimana tidak, Adam teramat mencintai Zahira. Maka dari itu segala keinginan Zahira akan langsung dituruti oleh laki-laki tampan itu. Bagi Adam kebahagiaan Zahira adalah kebahagiaan dia juga.


"Ra.. entah mengapa saat Mbak lihat Haikal kok wajahnya selalu murung ya. Dia seperti tidak punya semangat gitu. Harusnya kan dia senang karena sudah lama nggak kembali lagi ke sini." Terang Mbak Susi yang tiba-tiba membicarakan Haikal.


"Aku juga nggak tahu Mbak." Jawab Zahira seadanya.


Karena Zahira tidak tahu harus berkata apa tidak mungkin juga Zahira mengatakan yang sebenarnya pada Mbak Susi terkait masalahnya dengan Haikal.


"Juga saat berpamitan pada para tetangga untuk kembali ke Sumatera bersama kedua orang tuanya, dia sepertinya sangat berat untuk meninggalkan kampung ini. Kayak nggak rela gitu." Ingat Mbak Susi sewaktu Haikal dan keluarganya harus kembali.


"Kamu tahu nggak Ra, apa penyebabnya?" Mbk Susi masih saja bertanya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2