
"Ayo, kita masuk Bu." Ajak Ayah kepada sang istri.
Ibu mengangguk, menyusul mereka di ruang tengah di mana Zahira dan Adam duduk di sana di susul Andi dan juga Mila.
Ibu menghampiri sang menantu. Mengambil duduk di samping Zahira sambil mengusap lengan Zahira.
"Kamu kenapa Nak?" Tanya Ibu dengan perasaan khawatir setelah Zahira duduk di sofa namun bersandar di dada Adam.
Zahira menggeleng. "Aku juga nggak tahu Bu, tapi kepalaku pusing sekali. Perutku juga rasanya seperti di aduk-aduk." Jawab Zahira dengan suara lirih.
Ibu pun mengernyit bingung lalu memandang Adam. "Tadi Zahira habis muntah Bu." Ujar Adam menjawab kebingungan sang Ibu lalu ibu manggut-manggut paham.
"Mungkin Mbak Hira masuk angin kali Bi." Sahut Mila menimpali omongan Adam.
Hingga pandangan semua orang kini beralih kepada Mila. "Eh, i-itu h-hanya menurutku saja. Tadi kan kami bermain air sampai baju yang kita pakai basah kuyup semua." Ucap Mila dengan canggung karena di tatap oleh mereka.
Andi tersenyum lalu geleng-geleng kepala melihat sang kekasih yang menjadi gugup.
"Mas.. aku mau minum teh hangat." Ucap Zahira mendongak menatap wajah Adam.
Adam mengangguk. "Mas buatkan kalau gitu." Kata Adam.
Tapi Zahira menggeleng. "Mas jangan kemana-mana tetap di sini aja." Larang Zahira, tidak mau di tinggalkan Adam walau itu cuma sebentar.
"Katanya kamu minta teh hangat?" Tanya Adam dengan sabar.
"Iya, tapi kan bisa Mas nyuruh yang lain." Jawab Zahira menunjukkan sikap manjanya sekarang, hingga membuat Adam menghela napasnya di udara.
"Biar Ibu yang buat Teh hangatnya Nak.. kamu temani saja istrimu." Ucap Ibu.
Adam mengangguk. "Terima kasih ya Bu." Ucapnya.
"Bibi, aku bantu juga ya." Tawar Mila.
"Ya sudah, ayo kita ke dapur." Ajak Ibu mengangguk.
Mila dan Ibu pun berjalan ke dapur.
"Dam, apa kamu tidak mau memanggil Dokter untuk meriksa keadaan istrimu sekarang?" Tanya Ayah yang sedari tadi hanya diam.
"Nanti Mas telpon Dokter ya." Ucap Adam kepada Zahira.
Zahira menggeleng. "Nggak mau Mas.." Zahira merengek sambil memeluk erat tubuh Adam. Membuat Andi menganga melihat manjanya Zahira.
"Nih anak kenapa sih, aneh bener?" Andi bertanya-tanya dalam hati.
"Tubuh kamu lemas gini Yank. Mas telfon Dokter sekarang ya." Bujuk Adam.
"Aku nggak apa-apa Mas.. benar kata Mila paling aku lagi masuk angin." Jawab Zahira meyakinkan Adam.
Tak berapa lama Ibu dan Mila datang membawa nampan berisi enam cangkir teh hangat.
"Ini, Ibu buatkan teh hangat untuk kalian semua." Ibu meletakkan minuman yang baru ia buat di atas meja.
"Makasih Ibu," Ucap Zahira sambil tersenyum lalu melepas pelukannya dari tubuh Adam dan meminum teh hangatnya pelan-pelan.
Mereka semua juga meminum teh hangat buatan Ibu dan Mila.
"Gimana? Udah mendingan sekarang?" Tanya Adam membuat Zahira mengangguk.
__ADS_1
"Iya, lumayan kok Mas." Jawab Zahira tersenyum manis.
"Dam.. maaf aku nggak bisa lama di sini. Kami harus pulang." Ucap Andi.
"Kenapa buru-buru sih Nak, di sini saja bentar." Sahut Ibu.
"Kami juga mau istirahat Bu, lagian sudah sore. Kami harus menyegarkan tubuh kita yang udah lengket banget nih." Jawab Andi.
Ibu mengangguk mengerti. "Ya udah." Ucapnya.
"Dek, kita pulang. Barang-barang yang kamu beli tadi jangan lupa dibawa." Ujar Andi.
"Iya Kak." Jawab Mila dengan anggukan kepala.
"Aku pulang dulu Dam, besok jangan lupa kita datang sama-sama ke resepsi pernikahan Bowo." Pamit Andi, sebelum pulang ia mengingatkan Adam.
"Iya, aku tidak akan lupa." Jawab Adam.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Andi dan Mila.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Mereka bersamaan.
***
Malam harinya setelah makan malam. Zahira bersandar di kepala ranjang, menonton drama China favoritnya. Ia senyum-senyum sendiri saat ada adegan yang lucu menurutnya.
Adam yang baru keluar dari kamar mandi namun melihat sang istri tengah senyum-senyum sendiri dengan ponsel menjadi curiga lalu mendekat ke arah Zahira, mendudukkan dirinya di samping sang istri.
"Senyum-senyum sendiri lagi lihat apa kamu?" Tanya Adam dengan nada dingin.
"Lagi lihat adegan yang lucu Mas." Jawab Zahira tanpa memandang Adam.
Adam geleng-geleng kepala. "Nggak bosen apa nonton Drama China terus." Imbuhnya.
"Mas mau keluar, apa mau ikut?" Tanya Adam.
"Ke mana?" Tanya Zahira lalu menjeda video yang ia tonton.
"Ke mini market." Jawab Adam beranjak dari duduknya mengambil jaket di lemari.
"Ikut.." Jawab Zahira dengan semangat lalu mengambil kerudung segi empatnya di lemari kemudian memakai riasan sedikit agar tetap segar wajahnya.
"Emang Mas mau beli apa?" Tanya Zahira sambil memakai pemerah bibir melirik Adam dibalik kaca rias
"Mau ambil uang di ATM kalo kamu mau belanja ya silahkan." Jawab Adam menyemprotkan parfum di tubuhnya.
Mata Zahira langsung berbinar. "Ok, kebetulan sabun dan sejenisnya di kamar mandi juga udah pada habis tuh." Ucap Zahira.
"Sudah kan? Ayo pergi." Ajak Adam setelah memasukkan dompet ke dalam saku celana dan membawa kunci motornya.
"Kalian mau ke mana lagi?" Tanya Ibu yang tengah ngobrol bersama Ayah di teras.
"Ke mini market Bu." Jawab Adam singkat.
"Kamu ikut juga Nak, nanti kamu masuk angin lagi lho.." Ujar Ibu kepada Zahira.
"Tenang aja Bu, aku udah tidak apa-apa." Jawab Zahira santai.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Hati-hati.. ingat Nak, jangan ngebut-ngebut kasian menantu Ibu." Pungkas Ibu membuat Adam mengangguk.
__ADS_1
"Ibu mau nitip sesuatu? Ayah mungkin?" Tanya Zahira.
"Tidak ada Nak." Jawab Ibu dan Ayah bersamaan.
Zahira manggut-manggut. "Baiklah jika tidak ada yang kalian inginkan. Kami pergi dulu ya.. Assalamu'alaikum." Ucap Zahira.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah dan Ibu.
Di sepanjang jalan yang di lewati Adam, Zahira sama sekali tidak berhenti mengajak sang suami mengobrol.
"Mas nanti kalau udah dari mini market kita beli martabak telur ya." Pinta Zahira memeluk punggung Adam.
"Iya." Jawab Adam singkat.
Setelah sampai di mini market Adam dan Zahira segera masuk ke dalam.
"Kamu pilih saja barang apa yang ingin kamu beli, nanti Mas susul." Kata Adam.
Zahira mengangguk. "Iya, tapi jangan lama-lama." Jawabnya.
"Tidak akan." Sahut Adam lalu meninggalkan Zahira menuju ke mesin ATM.
Saat Adam berada di mesin ATM dan menarik sejumlah uang tunai, ada sepasang mata lentik yang memperhatikan Adam di dalam mini market itu. Ia pun menghampiri Adam.
"Sayang.." Sapa Citra dengan suara manjanya bahkan memeluk lengan Adam.
Tentu saja Adam dibuat terkejut. Sontak Adam melepaskan tangan Citra di lengannya.
"Dasar gadis tidak *aras!" Hardik Adam dengan sorot mata tajam.
Seketika nyali Citra langsung menciut. Beberapa orang yang berada di mini market itu langsung menatap mereka berdua. Zahira yang tadinya belum terlalu jauh dari jangkauan Adam juga ikutan menoleh saat suara Adam terdengar begitu keras.
"Citra!!" Zahira mengepalkan kedua tangannya kemudian menghampiri keduanya.
"DASAR GADIS TIDAK PUNYA ETIKA, SUDAH TAHU SUAMI ORANG, MASIH SAJA MAU DI EMBAT. MAU JADI PELAKOR KAMU.." Kemarahan Zahira sudah tidak bisa di bendung lagi bahkan nafasnya naik turun membuat Adam memeluk tubuh Zahira dari samping.
"Sepertinya kamu melupakan peringatan Saya yang dulu ya?" Tanya Adam dengan geram.
Citra menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Adam ataupun wajah Zahira.
Beberapa pengunjung yang kebetulan para ibu-ibu juga mencibir Citra, mereka geram melihat dan mendengar jika ada pelakor di hadapan mereka secara langsung.
"Pelakor kok nggak ada kapoknya."
"Bikin malu kaum hawa aja, seperti nggak ada pria lain apa yang masih lajang?"
"Wah.. nggak bisa dibiarin nih ibu-ibu. Kita harus hati-hati jaga suami kita."
"Udah Neng, bawa ke kantor polisi aja, biar tahu rasa dia. Pelakor seperti dia harus kita hempaskan."
Citra yang diserang habis-habisan oleh para ibu-ibu itu langsung pergi begitu saja sambil menahan air matanya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Bantu like,komen, vote dan hadiah
Biar Author tambah semangat.