Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Hari bahagia Andi.


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Pagi hari. Entah kenapa tiba-tiba baby Arvind menangis terus, tidak mau diam. Padahal hendak Zahira mandikan sebab nanti jam setengah sembilan akad nikah Andi akan dimulai di kediaman laki-laki itu. Bukan di rumahnya Mila karena itu atas permintaan dari kedua orangtua Andi sendiri dan orangtua Mila juga tidak keberatan jika acara pernikahan putri mereka diadakan di sana.


"Kamu kenapa sih Nak dari tadi nangis terus nggak mau minum susu juga." Keluh Zahira sambil menimang-nimang Arvind.


Sementara Adam, laki-laki tampan itu belum juga kembali setelah mengantar sang ibu ke rumahnya Andi karena Ibu juga turut membantu di sana.


Kalau begini Zahira ingin menangis juga jika Arvind tak mau diam, masih meraung-raung.


"Papamu juga kenapa lama sekali ngantar Utimu." Gusar Zahira lalu duduk di ranjang karena capek berdiri terus.


"Oek.. oek.. oek.." Arvind tetap menangis.


Zahira mengecek suhu tubuh Arvind takutnya jika anaknya ini demam namun badan Arvind biasa-biasa saja tidak panas sedikitpun. Lalu kenapa bayi ini masih saja menangis?


Tidak begitu lama Adam sudah kembali dan langsung masuk kamar begitu mendengar suara tangisan anaknya.


"Ada apa?" Tanya Adam mendekati Zahira.


"Nggak tahu Mas, sejak kamu tinggal tadi Arvind udah nangis. Nggak berhenti sampai sekarang." Jawab Zahira seraya menepuk-nepuk bokong Arvind.


"Sini biar Mas yang gendong." Pinta Adam sambil mengulurkan kedua tangannya. Siapa tahu anaknya bisa tenang.


Zahira menyerahkan Arvind kepada Adam dan ajaibnya bayi lucu itu langsung terdiam setelah berada digendongan sang Papa.


Adam tersenyum simpul. "Oh.. berarti tadi Arvind nyari Papa ya karena bangun tidur tidak Papa gendong." Ucapnya. Ternyata anaknya mencari dirinya.


Zahira memanyunkan bibirnya. "Nak, kamu kok manja banget sih sama Papa. Harusnya kan manja sama Mama." Zahira sedikit cemburu.


Adam tertawa. "Mama kamu cemburu Nak." Ujar Adam pada Arvind yang mana bayi tampan itu malah tersenyum seperti mengejek sang Mama.


Mata Zahira pun membola melihat senyum Arvind.


"Eh, kamu ngejek Mama ya. Rasakan ini." Karena gemas Zahira menciumi seluruh wajah anaknya.


Adam geleng-geleng kepala melihat tingkah Zahira apalagi memeluk dirinya juga sehingga ia tidak bisa gerak.


"Oek..." Arvind pun menangis.


"Ih, kamu curang Nak, masa Mama cium kamunya malah nangis lagi." Protes Zahira.


"Cup.. Mama nakal ya." Ucap Adam lalu menidurkan Arvind di ranjang dan memberi kode pada Zahira agar memberi Arvind Asi.


Zahira mengangguk. "Iya, aku tutup pintunya dulu."


Zahira membuka kancing bajunya dengan posisi tidur miring, seolah mengerti Arvind langsung menyambutnya. Adam juga ikut berbaring disisi Arvind.


"Jagoan Papa mau cepet gede ya, sampai lupa kalau itu juga milik Papa." Celetuk Adam.


Zahira pura-pura tidak mendengar dengan perkataan konyol itu.


"Mas, kamu mandi sana nanti giliran Arvind. Aku nggak mau ya ketinggalan di ijab qabulnya Kak Andi." Zahira mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh suaminya mandi.


Adam melihat jam dinding. "Entar dulu Yank, baru juga jam setengah delapan." Jawab laki-laki itu santai.


"Nggak, harus sekarang." Sambil menarik tangan Adam.


Terpaksa Adam bangun. "Kamu ini, bilang aja kalau malu." Ucapnya lalu masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk.

__ADS_1


Zahira geleng-geleng kepala gini nih akibatnya jika punya suami yang mempunyai kepribadian ganda, kadang dingin kadang absurd juga. Lalu beralih ke lemari mengambilkan Adam baju batik yang warnanya ia senadakan dengan warna gamisnya.


"Mas, pakaian kamu sudah aku siapkan ya." Zahira menunjuk dengan dagunya ke arah ranjang ketika Adam sudah selesai mandi.


Giliran ia yang memandikan Arvind.


"Nah, sekarang Adek sudah bersih tinggal pakai baju baru." Sambil membaluri tubuh Arvind dengan minyak telon setelah ia keringkan dengan handuk.


Kedua kaki mungil Arvind bergerak-gerak lincah saat Zahira memasang pakaian di tubuh bayi lucu itu.


"Adek senang ya diajak pergi kondangan, dari tadi banyak tingkah." Kemudian memberi bedak di wajah Arvind tak lupa parfum baby juga ia semprotkan di sebagian baju Arvind.


"Nah, selesai. Hmm.. wanginya anak Mama. Nanti kalau besar pasti banyak yang naksir." Tak lupa memfoto anaknya lalu ia buat status di aplikasi warna hijau.


"Mas, kamu jaga Arvind ya. Aku mau mandi." Ujarnya pada Adam yang tengah menerima telpon di depan jendela.


Adam menoleh sebentar. "Baiklah sampai ketemu nanti." Ucap Adam dengan seseorang di seberang sana lalu mematikan sambungannya.


Adam mendekat ke ranjang dimana Arvind sudah ganteng dan wangi.


"Kita tunggu Mama diluar ya Nak." Tangan mungil Arvind memegang pipi Adam. Bayi lucu itu sangat senang jika sang Papa kembali menggendongnya.


***


Andi kini gugup menunggu akad nikahnya yang akan dimulai beberapa menit lagi.


"Duduk Ndi, nggak capek apa dari tadi mondar-mandir terus, kayak setrikaan kamu." Canda Adam menemani Andi di depan kamarnya.


Di dalam kamar Andi, Mila sedang dirias dengan di temani oleh Zahira, Risma, Mikha dan Dini.


"Gue gugup banget Dam. Nih lihat tangan gue aja sampai dingin." Menunjukkan kedua telapak tangannya.


"Dibuat santai aja." Jawab Adam.


"Lo dulu gugup nggak?" Tanya Andi lalu duduk di samping Adam. Ia cukup penasaran apakah Adam juga sama dengan dirinya.


"Tidak." Jawab Adam singkat.


"Serius?" Andi masih belum yakin.


"Serius, ngapain juga aku bohong. Jika kamu gugup seperti ini yang ada kamu tidak akan fokus sama ijab qabul-mu." Jelas Adam.


"Hallo Bro.." Sapa Roni datang bersama Hadi. Dan Citra yang menggandeng lengan Tholib.


"Kenapa kamu Ndi, wajahmu tegang amat?" Tanya Hadi.


"Lagi gugup dia." Adam yang menjawab.


Mereka ber-empat mengulum senyum. Seorang Andi yang pecicilan ternyata bisa gugup juga.


"Ndi, penghulu sudah datang." Ayah menyuruh Andi untuk ke ruang tamu dimana penghulu sudah menanti di ruangan itu.


Andi berdiri dari duduknya begitu juga Adam.


"Rileks." Ucap Adam menepuk bahu sahabatnya itu.


Kini Andi sudah duduk di depan penghulu dengan terus merapalkan do'a di dalam hati agar lancar dalam pengucapan.


"Bisa panggilkan mempelai wanitanya." Perintah Pak penghulu.

__ADS_1


Ibu Andi undur diri untuk memanggil calon menantunya. Mila keluar dengan diapit oleh Risma dan Dini. Sedangkan Zahira berada di belakangnya bersama Mikha, batita imut itu tidak mau jauh-jauh dari baby Arvind.


Zahira langsung duduk di samping suaminya dengan Mikha yang minta dipangku Adam. Mikha tak henti-hentinya mengganggu Arvind, ada saja ulah batita imut itu. Seperti mencubit pipi lah, tangan Arvind ia cium-cium lah, untung saja baby Arvind anteng tidak terusik sama sekali. Hingga..


"Bagaimana para saksi?" Tanya Pak Penghulu.


"Sah...." Serentak semua orang menjawab kata 'sah'.


"Alhamdulillah.."


Andi begitu bahagia, dengan satu tarikan nafas ia berhasil mengucapkan ijab qabulnya dengan lancar tanpa harus mengulang. Kini ia sudah resmi berstatus sebagai seorang suami sekarang.


"Kamu benar-benar cantik Dek." Bisik Andi mesra di telinga Mila membuat perempuan itu menunduk malu. Hah.. Rasanya Andi sudah tidak sabar?


Mereka pun menandatangi buku nikah kemudian memasang cincin di jari manis seraya bergantian. Andi mengecup kening Mila begitu lama hingga mendapat protesan dari teman-temannya.


"Woy.. udah dong cium keningnya.. bisa luntur tuh bedak kelamaan Lo sosor!" Seloroh Roni yang duduknya tidak jauh dari kedua pengantin itu.


"Bukan cuma luntur tapi bolong juga." Timpal Hadi.


"Haha..." Hingga mengundang gelak tawa semua orang.


"Ck.. kalian, baru juga bentar udah dibilang lama." Kesal Andi.


Setelah itu, kedua pengantin digiring keluar untuk naik ke pelaminan yang telah tertata indah. Semua tamu juga sudah menempati kursi-kursi yang disediakan. Acara pun dimulai dengan MC yang memandu jalannya resepsi berlangsung. Andi dan Mila bak seorang raja dan ratu dalam sehari. Kedua orangtua mempelai juga tak kalah bahagianya.


*


Saatnya makan. Perut Zahira sudah keroncongan minta diisi. Sementara Arvind berada di dekapan sang Papa, bayi mungil itu sudah tertidur sejak acara resepsi di mulai.


"Mas, makan yuk. Lapar aku." Ajak Zahira sambil memandang tamu-tamu yang mengantri di meja prasmanan.


"Kamu saja yang ambil, nanti Arvind bangun lagi." Ujar Adam tidak mau beranjak dari duduknya.


"Kamu nggak lapar Mas?" Tanya Zahira heran.


"Ya lapar Sayang, sekalian kamu ambilin juga buat Mas." Titah Adam.


Zahira mengangguk.


"Makanannya terserah aku ya." Zahira bangun dari duduknya menuju meja prasmanan yang tersaji. Memilih makanan untuk dirinya dan suaminya.


"Eh Sorry." Ucapan maaf dari seorang laki-laki yang tidak sengaja memegang tangan Zahira ketika berbarengan memegang centong nasi.


Zahira menoleh. "Oh.. tidak apa-apa Mas." Jawabnya sambil tersenyum ramah.


Laki-laki itu kikuk sendiri sambil mengusap tengkuknya, kenapa bisa sampai bersentuhan segala. Apalagi melihat senyum manisnya Zahira membuat ia...


"Silahkan anda dulu yang ambil." Menyuruh Zahira untuk mengisi piringnya dengan nasi.


"Iya Mas." Angguk Zahira.


.


.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2