
Di jam pulang kerja Adam tidak langsung pulang, melainkan berkumpul dulu dengan rekan-rekannya di cafe dekat kantor. Mereka memesan kopi juga berbincang-bincang untuk melepas rasa lelah setelah seharian otak mereka digunakan untuk berpikir. Apalagi besoknya weekend jadi mereka bisa sesantai mungkin.
Adam melirik jam di tangannya, ternyata sudah menunjukkan pukul 17:15 itu berarti ia harus menyudahi acara berkumpulnya sore itu.
"Sepertinya kita harus sudahi dulu obrolan ini." Ucap Adam kepada semua teman-temannya.
Mereka semua menoleh ke arah Adam.
"Emang kenapa Dam?" Tanya Andi heran.
"Sudah jam lima lebih, kalian nggak mau pulang apa? Bentar lagi waktu Maghrib." Jelas Adam.
Mereka semua melihat jam di tangan masing-masing.
"Ah iya, ternyata lama juga kita di sini. Saking asyiknya sampai kita tidak tahu waktu." Sahut salah satu teman Adam.
Mereka mengangguk membenarkan.
"Iya kamu benar." Timpal laki-laki yang pakai kacamata.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Ini uangnya tolong kalian bayar ke kasir. Hari ini biar aku saja yang traktir." Adam memberikan selembar uang berwarna merah kepada salah satu temannya.
"Wih, terima kasih banyak ya Bro untuk traktirannya hari ini." Ucap Andi dengan senang.
Jika setiap kali berkumpul seperti ini, Adam juga seringkali mentraktir mereka.
"Makasih ya Dam." Sahut laki-laki berkacamata itu lagi.
"Iya, sama-sama. Aku duluan." Pamit Adam lalu berdiri dari duduknya.
"Hati-hati Dam." Ucap salah satunya sebelum Adam pergi.
Adam hanya mengangguk sebagai jawaban dan meninggalkan mereka ber-empat.
***
Adam tiba di rumahnya pukul enam kurang, buru-buru ia masuk ke kamarnya untuk mandi dan juga melaksanakan sholat Maghrib. Selesai dengan sholatnya, Adam memutuskan keluar dari kamar. Menjumpai kedua orang tuanya yang lagi asyik menonton televisi.
"Tumben Bu rumah kok sepi." Ucap Adam seraya mendudukkan dirinya. Matanya berpendar mencari keberadaan Zahira.
"Sepi gimana maksud kamu Nak?" Tanya sang Ibu yang pura-pura tidak tahu dengan apa yang diucapkan sang putra.
"Kenapa cuma ada Ayah dan Ibu saja." Jawab Adam tanpa menyebut nama Zahira.
"Memangnya harus ada siapa lagi? Biasanya juga kan gitu, cuma ada Ayah dan Ibu." Ucap Ibu dengan santainya.
Sedangkan Ayah dia mengulum senyum mendengar sang istri yang sedang mengerjai putranya.
Adam menghela nafasnya. "Maksud Adam Zahira Bu." Jawab Adam kemudian.
__ADS_1
"Oh.. Zahira, ngomong dong dari tadi kalau kamu cari istrimu..." Ibu menjeda ucapannya sejenak. "Zahira pergi ke rumah orang tuanya." Sambung Ibu lagi.
Kening Adam berkerut. "Ke rumah orang tuanya, ngapain Bu?" Tanya Adam penasaran.
"Katanya sih mau tidur di sana." Jawab Ibu singkat.
"Apa Ibu tahu alasan Zahira tidur di rumah orang tuanya?" Desak Adam karena takut kalau sang istri bakalan meninggalkan dirinya.
Ibu menggelengkan kepalanya. "Ibu tidak tahu soalnya Ibu tidak nanya. Yang jelas tadi istrimu bilang pada Ibu kalau mau tidur di rumah Ibunya." Ujarnya.
Ibu sengaja tidak memberitahu detailnya pada Adam. Biar putranya itu tahu rasa, karena tadi pagi sudah berani mengabaikan menantunya di depan matanya.
"Jadi untuk malam ini, kamu harus tidur sendiri ya Nak tanpa di temani istrimu." Sahut Ayah memanas-manasi Adam.
***
Setelah selesai melaksanakan sholat Maghrib, Zahira mengajak Akmal untuk makan malam. Kali ini Zahira memasak bakwan jagung, ikan asin dan juga sambal terong. Sedang untuk nasinya Zahira membuat nasi jagung. Zahira pun menatanya di atas tikar di depan televisi.
"Akmal ayo kita makan, makanannya udah siap!!" Zahira berteriak memanggil Akmal yang berada di dalam kamar.
Akmal segera keluar dari kamarnya.
"Wah, makan enak nih." Ucap Akmal melihat masakan yang Zahira buat. Akmal pun duduk di depan Zahira sambil bersila.
"Iya dong bakwan jagung sama sambel terong kan kesukaan kamu, jadi Mbak sengaja buat ini." Balas Zahira tersenyum melihat reaksi adiknya.
"Makasih ya Mbak ku sayang." Ucap Akmal dengan senyum lebarnya.
"Enak aja ngatain Akmal bandel, mana pernah Akmal seperti itu." Ucapnya tidak terima.
"Pura-pura lupa, sebelum Mbak nikah kamu kan usil banget sama Mbak, hayo ngaku?" Todong Zahira.
"Hehe.. itu kan dulu Mbak, tapi sekarang kan udah nggak lagi.'' Jawab Akmal sambil cengengesan.
"Iya udah nggak, karena Mbak udah nggak tinggal di sini lagi." Jawab Zahira sinis.
"Nah, itu sudah tahu." Sahut Akmal enteng lalu mencomot bakwan jagung yang sudah menggugah seleranya.
"Eh iya, ngomong-ngomong Mas Adam kok nggak ikut ke sini Mbak?" Tanya Akmal.
"Enggak!" Jawab Zahira singkat.
"Kenapa?" Tanya Akmal.
"Udah, jangan bicara mulu kamu. Ayo makan Mbak udah lapar." Sambungnya.
Akmal hanya mengangguk dan tidak bicara lagi. Akmal makan sangat lahap karena masakan Zahira memang sangat enak. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Zahira sengaja menutup pintu rumahnya kerena hanya ada mereka berdua di rumah.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"Mbak, ada yang ngetuk pintu tuh." Kata Akmal di sela-sela makannya.
"Biar Mbak yang buka, kamu lanjutkan saja makanmu." Ucap Zahira sembari meletakkan piringnya.
Akmal mengangguk.
Zahira beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan melihat siapa yang datang. Saat membuka pintu..
"Mas Adam.." Ucapnya terkejut.
Ternyata Adam yang mengetuk pintu rumah Zahira, ia bermaksud untuk mengajak Zahira pulang. Kenapa istrinya ini kekanakan sekali harus tidur di rumah mertuanya. Apalagi tidak meminta izin darinya, pikir Adam.
"Hmm." Jawab Adam. "Ngapain tidur di rumah Emak mau kabur kamu?" Tanya Adam dengan raut wajah datar.
"Enggak, siapa yang kabur. Orang aku tidur di sini mau menemani Akmal soalnya Emak sama Bapak pergi ke rumah Pak Dhe." Jawab Zahira.
"Emak dan Bapak pergi?" Adam menaikkan sebelah alisnya.
"Iya." Zahira mengangguk. "Mereka nginap di rumah Pak Dhe selama dua hari, jadi aku sengaja tidur di sini tuh biar Akmal nggak pergi kelayapan." Jelas Zahira.
Adam menghela nafas lega ternyata Zahira tidak kabur dari rumah. "Terus kenapa kamu tidak ngabari Mas?" Tanya Adam sambil menyentil kening Zahira.
Pletak..
"Aduh." Zahira mengusap keningnya yang terasa sakit akibat sentilan dari laki-laki tampan itu.
"Hobi banget sih nyentil keningku, emang nggak sakit apa." Kesal Zahira.
"Sengaja, itu hadiah buat kamu mau tidur di rumah Emak tanpa pamit pada suami." Jawab Adam sembari tersenyum tipis.
"Hadiah kok sentilan yang lain kek." Gerutu Zahira sebal.
"Jawab dulu, kenapa kamu tidak beritahu Mas kalau mau tidur di sini." Ucap Adam.
"Lho, emang Mas Adam nggak di kasih tahu sama Ibu apa, kalau aku bakal nginap di rumah Emak?" Tanya Zahira dengan wajah bingungnya.
Adam menghela nafasnya sesaat, ternyata dia sedang di bohongi oleh ibunya. Pantas saja Ibunya itu tenang sekali saat Zahira tidak di rumah.
"Ibu tidak cerita yang sebenarnya." Jawab Adam.
Akmal yang sedari tadi menunggu Zahira merasa heran, sebenarnya siapa sih yang datang sampai kakaknya itu tidak balik-balik. Karena sangat penasaran Akmal pun memutuskan untuk melihat ke depan.
"Mas Adam, kenapa nggak disuruh masuk Mbak? Malah berdiri aja di depan pintu." Ucap Akmal melihat kedua kakaknya.
Membuat Adam dan Zahira menoleh bersamaan ke arah remaja itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...