
"Ngapain Anda mengikuti saya?" Tanya Zahira begitu sopan kepada Adam. Seolah suaminya itu orang asing dan sama sekali tidak dia kenal.
"Yank.. Mas ini suami kamu, kenapa kamu begitu formal bicara sama Mas." Jawab Adam dengan suara melasnya.
"Benarkah anda suami saya? Seingat saya, suami saya tidak pernah membentak ataupun memarahi saya." Sahut Zahira berdiri menghadap ke arah laki-laki tampan itu.
Adam menunduk, dia mengakui kesalahannya.
"Mas minta maaf sama kamu Yank." Pinta Adam setulus hati sambil menarik kedua tangan Zahira namun langsung ditepis oleh perempuan itu.
"Mas ngaku salah karena sudah berbicara kasar. Waktu itu spontan saja keluarnya." Tambah Adam memberi pengertian. Dia masih berusaha memohon pengampunan dari istrinya itu.
Zahira melirik sinis dengan mata yang mengembun. Bibirnya bergetar, hidungnya pun seakan tersumbat oleh air di dalamnya.
"Semudah itukah.. apa anda tahu? Bagaimana malunya saya saat anda membentak saya di depan umum." Ujar Zahira pelan.
"Saya tahu jika saya salah karena sudah menampar orang yang anda kasihi." Zahira semakin sedih jika mengingat hal itu.
__ADS_1
Adam semakin dibuat bersalah, sesakit hati inikah perasaan istrinya. Hingga mengampuni dirinya saja rasanya begitu berat.
"Apa yang harus Mas lakukan supaya kamu menerima permintaan maaf Mas, sayang?" Tanya Adam juga turut sedih.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, anda tidak bersalah sama sekali. Di sini yang salah adalah saya karena sudah merusak momen kebersamaan kalian." Jawab Zahira begitu tegar meski rasanya ingin menangis.
Adam mengusap wajahnya kasar. Kenapa rumit sekali permasalahan mereka ini. Adam menatap nanar wajah sang istri yang berpaling muka darinya. Keduanya saling diam membisu sekarang.
"Yank.. kamu itu salah paham. Diantara Mas dan Citra tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya teman kerja Mas di kantor." Ucap Adam setelah keheningan sesaat.
"Ya Allah.. Citra adalah teman kerja Mas Adam. Kenapa Mas Adam tidak pernah cerita kepadaku?" Ucap Zahira dalam hati. Sungguh tak disangka sama sekali jika suaminya merahasiakan status pertemanannya dengan Citra di kantor, sudah berapa lama Citra bekerja di kantor yang sama dengan Adam.
Zahira meraih gelas diatas meja lalu ia minum air putih itu untuk membasahi kerongkongannya.
Ingin sekali Adam memeluk tubuh rapuh itu namun ia tak punya keberanian. Ia juga ingin berinteraksi dengan calon anaknya sembari memberi usapan lembut.
"Yank.." Panggil Adam yang sudah tidak tahan dengan kediaman ini.
__ADS_1
Laki-laki tampan itu juga naik ke atas ranjang. Dia memijit lembut kedua kaki Zahira, ia tahu pasti sang istri merasakan pegal. Wanita hamil itu memejamkan matanya disaat tangan kekar itu memberi pijatan lembut hingga pikirannya menjadi tenang.
"Punggungnya mau diusap-usap juga." Tawar Adam saat Zahira membuka kedua matanya.
"Tidak usah, lebih baik anda pulang saja. Nanti anda dicari sama kedua orang tua anda." Jawab Zahira mengusir.
Adam menghela nafas kasar. "Yank.. berhentilah memanggil nama Mas dengan sebutan 'anda'." Pintanya.
"Saya mau tidur." Ucap Zahira lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
Adam tidak bisa jika Zahira menganggap dirinya seperti orang asing. Ia pun turut berbaring lalu memeluk tubuh yang sudah ia rindukan itu.
"Maaf.. maafkan Mas Sayang. Mas nggak sanggup jika kamu perlakukan Mas seperti ini." Bisiknya lirih.
.
.
__ADS_1
Bersambung...